Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Peran Procalcitonin sebagai Penanda Inflamasi Sistemik pada Sepsis Dharaniyadewi, Dana; Lie, Khie Chen; Suwarto, Suhendro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terapi antibiotika awal dan tepat merupakan faktor yang penting untuk kesintasan pasien sehingga diperlukan pemeriksaan yang cepat dan akurat untuk deteksi adanya bakteri di sirkulasi. PCT merupakan biomarker yang paling sering dipelajari dan rutin digunakan dalam praktik klinik dan rekomendasi saat ini di beberapa negara. Kadar PCT serum meningkat pada sepsis. Kadar PCT normal di bawah 0,5 ng/mL dan kadar PCT > 2 ng/mL memiliki risiko tinggi untuk sepsis. PCT lebih unggul daripada CRP untuk diagnosis dan prognosis sepsis pada pasien kritis tetapi penggunaannya harus tetap diiringi dengan penilaian secara klinis. Hal ini terutama penting pada awal infeksi atau pasien dengan infeksi fokal dan pasien pembedahan. PCT mungkin lebih baik untuk menyingkirkan diagnosis sepsis daripada untuk diagnosis sepsis itu sendiri pada pasien kritis terutama jika dilakukan pemeriksaan PCT serial. Pemeriksaan PCT juga dapat digunakan untuk membantu dalam penggunaan antibiotika. Pemeriksaan PCT dapat digunakan untuk menghindari penggunaan antibiotika yang tidak diperlukan pada pasien kritis dengan gejala SIRS tanpa infeksi; walaupun demikian, emeriksaan PCT tetap harus diinterpretasikan sesuai dengan temuan klinis dan parameter laboratoris lainnya.
Faktor Risiko Methicillin Resistant Staphylococcus aureus pada Pasien Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak di Ruang Rawat Inap Putra, Mochamad Iqbal Hassarief; Suwarto, Suhendro; Loho, Tonny; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Infeksi kulit dan jaringan lunak (IKJL) oleh MRSA di ruang rawat inap merupakan masalah nosokomial yang meningkat prevalensinya setiap tahun. Hal tersebut akan meningkatkan angka mortalitas, biaya dan lama rawat bila tidak dikelola dengan baik. Faktor-faktor risiko terjadinya infeksi MRSA pada pasien IKJL di ruang rawat inap penting untuk diketahui agar dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan dan pengendalian terhadap faktor-faktor risiko tersebut sehingga pada gilirannya diharapkan kejadian MRSA pada pasien IKJL dapat dicegah atau dikendalikan. Tujuan: Mengetahui proporsi IKJL oleh MRSA dan mempelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko terinfeksi MRSA pada penderita IKJL di ruang rawat inap Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Metode: Penelitian ini menggunakan studi kasus kontrol. Data dikumpulkan dari catatan rekam medis pasien rawat inap RSCM yang memiliki IKJL. Kelompok kasus adalah subjek dengan IKJL oleh MRSA, kelompok kontrol adalah subjek dengan IKJL oleh non-MRSA. Analisis bivariat dilakukan pada 9 variabel bebas yaitu pemakaian antibiotik sebelum kultur, infeksi HIV, IVDU, penggunaan kortikosteroid, prosedur medis invasif, DM, keganasan, riwayat hospitalisasi dan ruang rawat. Semua variabel yang mempunyai nilai p Hasil: Selama periode penelitian, proporsi MRSA pada pasien IKJL yang dilakukan kultur di ruang rawat inap adalah 47% (IK 95% 42%- 52%). Terdapat 171 pasien yang memenuhi kriteria, 71 pasien terinfeksi MRSA (kasus) dan 100 pasien terinfeksi non-MRSA (kontrol). Berdasarkan hasil analisis multivariat terdapat tiga variabel yang memiliki kemaknaan secara statistik, yaitu keganasan (OR 6,139; IK 95% antara 1,81-20,86; p=0,004), antibiotik quinolone (OR 4,592; IK 95% antara 2,06-10,23; p Simpulan: Keganasan, penggunaan antibiotik quinolone dan prosedur medis invasif merupakan faktor risiko IKJL oleh MRSA di ruang rawat inap.
Pengaruh Penggunaan Antibiotika Terhadap Lama Hari Sakit dan Lama Kehilangan Hari Kerja pada Pasien Infeksi Pernapasan Akut Bagian Atas pada Pelayanan Kesehatan Primer Gunawan, Gunawan; Suwarto, Suhendro; Rumende, Cleopas Martin; Harimurti, Kuntjoro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi infeksi saluran pernapasan bagian atas akut (ISPA) di komunitas masih tinggi dan menyebabkan morbiditas dan penurunan kualitas hidup masyarakat secara luas. Etiologi tersering dari infeksi pernapasan akut di luar negeri adalah virus, selain itu terdapat etiologi bakteri yang memerlukan terapi antibiotika yang spesifik. Penggunaan antibiotika untuk infeksi pernapasan akut berlebihan, dan hal ini menyebabkan peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola etiologi infeksi pernapasan akut, kesesuaian pemberian antibiotika dan perbedaan rerata lama sakit dan lama kehilangan hari kerja. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pengambilan data secara potong lintang dan kohort prospektif dengan sampel yang diambil secara berurutan dari pasien ISPA yang berobat ke Puskesmas Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur dan KDK “Kayu Putih” serta “Kiara” pada bulan Agustus hingga Desember 2011. Pada 100 pasien ISPA yang berobat dilakukan pemeriksaan kultur resistensi bakteri dan uji antigen influenza melalui swab tenggorok dan nasofaring, dan pemeriksaan darah perifer rutin. Perbedaan lama hari sakit dan lama kehilangan hari kerja dianalisa menggunakan uji beda dua median Mann Whitney karena data berdistribusi bukan normal. Hasil: Hasil kultur bakteri positif pada 34% pasien ISPA, hasil uji antigen influenza positif untuk influenza A pada 3% pasien, dan 63 % pasien belum diketahui penyebabnya. Hasil kultur bakteri terbanyak berturut-turut adalah Klebsiella pneumonia (47,1%), Streptococcus pyogenes (14,7%) dan Staphylococcus aureus (14,7%). Jenis antibiotika terbanyak yang mengalami resistensi adalah ampicillin (20 isolat), tetracycline (8 isolat), benzylpenicillin (4 isolat), amoxicillin/clavulanic acid (3 isolat). Kesesuaian pemberian antibiotika dengan hasil kultur bakteri ditemukan pada 56 pasien ISPA (56%). Median lama hari sakit pada kelompok pasien ISPA yang mendapatkan pengobatan antibiotika tidak berbeda dibandingkan dengan tanpa pengobatan antibiotika (4 hari dengan 3,5 hari; p=0,054). Median lama kehilangan hari kerja pada kelompok pasien ISPA yang mendapatkan pengobatan antibiotika tidak berbeda dibandingkan dengan tanpa pengobatan antibiotika (1 hari dengan 1 hari; p=0,629). Simpulan: Penyebab infeksi saluran pernapasan akut bagian atas pada penelitian ini adalah bakteri sebanyak 34% dengan bakteri Gram negatif terbanyak adalah Klebsiella pneumonia dengan antibiotika yang sensitif dengan antibiotika golongan Penicillin beta laktamase dan golongan aminoglikosida serta makrolid, virus influenza A sebanyak 3% dan etiologi yang belum diketahui sebanyak 63%. Proporsi kesesuaian penggunaan antibiotika di Puskesmas Kecamatan Pulogadung dan Klinik Kedokteran Keluarga Kayu Putih serta Kiara sebesar 56%. Pemberian antibiotika tidak memberikan perbedaan lama hari sakit dan lama kehilangan hari kerja.
Parameter Akhir Resusitasi Makrosirkulasi dan Mikrosirkulasi pada Sepsis Berat dan Renjatan Septik Sinto, Robert; Suwarto, Suhendro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepsis berat dan renjatan septik telah menjadi masalah kesehatan yang utama di seluruh dunia. Untuk menekan angkamortalitas dini, upaya resusitasi yang dilakukan pada keadaan sepsis berat dan renjatan septik harus ditujukan padapencapaian target parameter makrosirkulasi maupun mikrosirkulasi, khususnya yang telah terbukti berhubungan denganmortalitas dini. Parameter tersebut meliputi tekanan vena sentral, rerata tekanan arteri, produksi urin, saturasi oksigen venasentral, hematokrit, laktat, bersihan laktat, dan ekses basa standar. Kelebihan dan keterbatasan tiap parameter harusdipahami dengan baik dalam upaya interpretasi yang tepat terhadap hasil pemeriksaan parameter tersebut.
Effects of cholecalciferol supplementation on depressive symptoms, C-peptide, serotonin, and neurotrophin-3 in type 2 diabetes mellitus: A double-blind, randomized, placebo-controlled trial Putranto, Rudi; Setiati, Siti; Nasrun, Martina W.; Witjaksono, Fiastuti; Immanuel, Suzanna; Subekti, Imam; Harimurti, Kuntjoro; Siswanto, Agus; Shatri, Hamzah; Suwarto, Suhendro; Megantara, Marcelino A.
Narra J Vol. 4 No. 3 (2024): December 2024
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v4i3.1342

Abstract

The coexistence of depression and type 2 diabetes mellitus (T2DM) can significantly worsen disease prognosis and lower quality of life. Emerging evidence suggests that vitamin D deficiency contributes to the progression of T2DM and is closely associated with the development of depression. The aim of this study was to investigate the effects of cholecalciferol on depression in patients with T2DM, exploring its mechanisms by analyzing its impact on C-peptide, serotonin, and neurotrophin-3 levels. A double-blind, randomized, placebo-controlled clinical trial was conducted at Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta, Indonesia, from April 2021 to September 2022. Patients with T2DM and depressive symptoms were randomly assigned to two groups: received 4000 IU of cholecalciferol daily and received a placebo for 12 weeks. Depression was assessed using the Beck Depression Inventory-II (BDI-II) before and 12 weeks after the intervention. The levels of C-peptide, serotonin, and neurotrophin-3 were measured at the end of the fourth week of intervention using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method. Between-group comparisons were made using independent Student t-tests and Mann-Whitney U tests. Paired Student t-tests or Wilcoxon tests were applied for within-group comparisons between pre- and post-intervention. A total of 70 T2DM patients with depression were included in this study, comprising 38 patients in the cholecalciferol group and 32 in the placebo group. C-peptide levels increased significantly in the cholecalciferol group compared to the placebo group (p=0.006). No significant differences were observed in serotonin and NT-3 levels between the cholecalciferol group compared to the placebo group. The cholecalciferol group had a significantly greater reduction in BDI-II scores compared to the placebo group (p<0.001). This trial highlights that taking cholecalciferol might help ease mild to moderate depression symptoms in patients with T2DM by enhancing c-peptide levels, though its effects on serotonin and neurotrophin-3 are still unclear.