Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

ARSITEKTUR BIOMORFIK PADA PERANCANGAN TAMAN FLORIKULTURA DI KOTA DENPASAR I Kadek Mahardika; Ida Bagus Idedhyana; Ayu Putu Utari Parthami Lestari
Jurnal Teknik Gradien Vol 15 No 01 (2023): JURNAL TEKNIK GRADIEN
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknik gradien.v15i01.1015

Abstract

The floriculture garden plays an important role in the preservation of plants, especially ornamental plants and also plays a role in overcoming the problem of global warming and contributes to the provision of urban green open spaces. The unwise exploitation of the existing biodiversity is one of the reasons for increasing greenhouse gas emissions in Indonesia. In addition, there is also a phenomenon of reduced open space in urban areas due to land conversion due to the high population growth in Indonesia. This is in accordance with the current condition of the city of Denpasar which has become an urban city with the most populous population in the province of Bali. This phenomenon makes the area of ​​Denpasar City Public green open space less than the ideal standard. On the other hand, there are still many types of ornamental plants in Indonesia that have not been conserved. Thus, it is necessary to procure a Floriculture Park in Denpasar City to overcome the problem of the number of ornamental plants that have not been conserved, global warming that occurs, and the reduction of green open space in urban areas. This design also aims as a recreational and educational facility. The basic concepts used are recreational, conservation and educational. While the chosen design theme is a biomorphic architectural theme with sustainable forms, structures and materials. The design method used is data collection techniques in the form of library research, observation and comparative studies, as well as data processing methods, namely analysis, synthesis and transformation methods. The results of the design of the Floriculture Park in Denpasar City are explained into three principles of biomorphic architecture. The first principle is the principle of form, namely the form of mass based on ecology and metaphor of natural forms. The second principle is the principle of structure and material, its application is the use of structures with organic shapes, while in terms of materials the application is by selecting natural (local) materials and materials that support a curvilinear shape. The third principle is the principle of sustainability, the application of which is to maximize the use of natural energy into buildings.
SENTRA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH INDUSTRI KERAJINAN DI BALI BERTEMA ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR I Wayan Juliartawan; Ayu Putu Utari Parthami Lestari; Ngakan Putu Ngurah Nityasa
Jurnal Anala Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.10.2.1290.1-8

Abstract

Di Bali, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan usaha penting yang menopang kehidupan masyarakat dalam mendukung sektor pariwisata. Bali sudah memiliki beberapa sentra seni hanya saja fasilitas yang dimiliki belum lengkap. Melihat begitu banyaknya orang yang menekuni UMKM di bidang industri kerajinan dan kurangnya fasilitas yang sudah ada maka perlu dirancang Sentra UMKM di bidang industri kerajinan yang baru, dengan tujuan memusatkan pelaku UMKM industri kerajinan yang ada di Bali dan akan mampu menjadi sarana untuk mengangkat perekonomian dan potensi UMKM yang ada. Sentra UMKM Industri Kerajinan merupakan Pusat kegiatan bisnis di kawasan tertentu yang bertujuan menghasilkan barang atau produk kerajinan dengan proses pembuatanya menggunakan keterampilan tangan manusia. Sentra ini akan mewadahi kegiatan seperti : pemasaran, demo produksi, pelatihan, koleksi, apresiasi dan food court serta dilengkapi dengan koperasi. Berdasarkan fungsinya, perancangan Sentra menggunakan konsep dasar Promotif, Edukatif yang Rekreatif. Tema yang akan dipergunakan adalah Arsitektur Neo Vernakular. Lokasi perancangan Sentra UMKM Industri terletak di Br. Samu, Desa Singapadu Kaler, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Berdasarkan analisa ruang, luas lahan yang direncanakan seluas 28.591,40m². Konsep perencanaan site mengacu pada site yang sudah dipilih dengan tetap mempertimbangkan lingkungan sekitar baik iklim, kebisingan, klimotologi, topografi dan build up area. Konsep perencanaan penampilan bangunan, struktur dan utilitas mengacu pada konsep dasar dan tema rancangan. Konsep perencanaan harus tetap mengacu norma-norma atau aturan yang berlaku serta tetap mengedepankan sisi keamanan dan kenyamanan sehingga dapat merencanakan suatu Sentra UMKM Industri Kerajinan di Bali. In Bali, Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) are important businesses that support people's lives in supporting the tourism sector. Bali already has several art centers, it's just that the facilities owned are not complete. Seeing so many people pursuing MSMEs in the handicraft industry and the lack of existing facilities, it is necessary to design an MSME Center in the field of the new handicraft industry, with the aim of concentrating msme players in the handicraft industry in Bali and will be able to become a means to lift the economy and potential of existing MSMEs. The Handicraft Industry MSME Center is a center for business activities in certain areas that aims to produce goods or handicraft products with the manufacturing process using human hand skills. This center will accommodate activities such as: marketing, production demos, training, collections, appreciation and food courts and is equipped with cooperatives. Based on its function, the design of the Center uses the basic concepts of Promotive, Creative Educational. The Tema to be used is Neo Vernacular Architecture. The design location of the Industrial MSME Center is located in Br. Samu, Singapadu Kaler Village, Sukawati District, Gianyar Regency. Based on space analysis, the planned land area is 28,591.40m². The concept of site planning refers to the site that has been selected while still considering the surrounding environment, both climate, noise, climatology, topography and build up area. The concept of planning the appearance of buildings, structures and utilities refers to the basic concepts and themes of the design. The planning concept must still refer to the applicable norms or rules and still prioritize the safety and comfort side so that it can plan a Handicraft Industry MSME Center in Bali.
PERANCANGAN RUMAH SAKIT PARU DI DENPASAR I Gede Indra Kamiana Putra; Ida Bagus Idedhyana; Ayu Putu Utari Parthami Lestari
Jurnal Teknik Gradien Vol 15 No 02 (2023): JURNAL TEKNIK GRADIEN
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknik_gradien.v15i02.1097

Abstract

Pulmonary Special Hospital is a hospital that provides health services based on pulmonary special disciplines and special medical treatment for pulmonary organs with disabilities, sleep disorders, and allergies. The number of lung disease sufferers in Bali Province has increased after Covid-19. Currently, the Province of Bali does not yet have special treatment and healing facilities for lung diseases. Handling of lung disease is still handled by public hospitals, both government and private, operating in Bali. Lung disease patients need adequate facilities and infrastructure and good building circulation. Thus, it is necessary to procure large-scale public health facilities in the form of a Lung Hospital, a class A special hospital that accommodates patients with lung disease in the Province of Bali. The design method used is the data collection technique in the form of literature studies, observation, and comparative studies, as well as data processing methods namely methods of analysis, synthesis, and transformation. The results of the design of the Lung Hospital in Denpasar refer to the basic concept of Healing Architecture with an architectural theme, namely Green Architecture. Green Architecture is applied to the use of parks and lung hospital technology.
GELANGGANG REMAJA DI GIANYAR Saidi, Agus Wiryadhi; Lestari, Ayu Putu Utari Parthami; Dhipta, I Made Gede Ardiana
Jurnal Teknik Gradien Vol 13 No 1 (2021): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v13i1.744

Abstract

Kegiatan non-akademis dapat menjadi penyeimbang kegiatan akademis sehingga tercipta harmoni di dalam pribadi dan sosial remaja. Kabupaten Gianyar memiliki potensi kegiatan non-akademis berupa 15 cabang olahraga aktif dan 104 kesenian yang dilestarikan pada tahun 2016. Jumlah remaja Kabupaten Gianyar usia 10-22 tahun sebanyak 19,41% atau 96.973 jiwa pada tahun 2016. Tujuan dari Gelanggang Remaja di Gianyar adalah untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, menyehatkan remaja, menciptakan komunitas non-akademis, mempertahankan dan meningkatkan keberagaman kegiatan sosial dan ekonomi. Metode yang dipergunakan adalah dengan mengumpulkan data, melakukan analisa terhadap kegiatan yang akan diwadahi berdasarkan teori dan data lapangan. Adapun fasilitas yang akan disediakan adalah fasilitas lapangan olahraga serbaguna, kesenian, ilmiah, kerohanian, rekreasi, sosialisasi, fasilitas penunjang dan pengelola. Lokasi yang terpilih untuk Gelanggang Remaja adalah di kabupaten Gianyar, Kecamatan Blahbatuh karena memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi, topografi relatif datar, terletak dekat dengan kecamatan Gianyar, Sukawati dan Ubud. Tapak terpilih terletak di jalan By Pass Dharma Giri karena memiliki sarana dan prasarana yang mendukung, pelayanan umum yang baik, potensi pengembangan tapak yang baik, transportasi umum yang memadai, kelancaran lalu lintas yang baik. Konsep dasar yang dipergunakan adalah energik (bersemangat), komunikatif (mudah dipahami) dan kreatif (memiliki nilai lebih). Tema yang dipergunakan adalah Neo-vernacular yaitu penerapan bentuk-bentuk modern yang berakar pada elemen-elemen fisik dan non-fisik arsitektur tradisional.
PERANCANGAN HOTEL WISATA ALAM DI KABUPATEN BANGLI Lestari, Ayu Putu Utari Parthami; Adnyanegara, I Gusti Bagus; Putra, I Kadek Wahyu Purnama
Jurnal Teknik Gradien Vol 13 No 1 (2021): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v13i1.745

Abstract

Bali adalah salah satu tujuan wisata salah satu daya tarik Bali adalah karena kebudayaannya dan keindahan alamnya. Kabupaten Bangli adalah sebuah kabupaten yang ada di provinsi Bali yang menawarkan keindahan alam dan wisata alam yang banyak diminati wisatawan. Namun dari potensi alam Kabupaten Bangli tersebut masih kekurangan fasilitas akomodasi untuk para wisatawan. Untuk menunjang kebutuhan sarana dan prasarana pariwisata di Bangli maka perlu dibangun Hotel Wisata Alam di Kabupaten Bangli guna mewadahi kebutuhan akomodasi wisatawan yang ingin berlibur. Kondisi Kabupaten Bangli yang sebagian besar adalah dataran tinggi dan menjadi daerah tujuan wisata. Maka konsep dasar yang cocok untuk Hotel Wisata Alam ini adalah Rekreatif dan Ramah Lingkungan. Rekreatif yang berarti, memulihkan atau menyegarkan kembali tubuh atau pikiran. Konsep Ramah Lingkungan atau tidak berbahaya bagi lingkungan. Jadi konsep dasar ini diharapkan menghadirkan akomodasi yang menawarkan daya tarik yang berbeda dan selaras dengan alam. Dengan didukung tema Arsitektur Hijau yang berusaha untuk meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh moderasi. Terdapat 3 fasilitas yang ditawarkan di Hotel Wisata Alam ini yaitu fasilitas utama, fasilitas penunjang dan fasilitas serfis. Terdapat juga fasilitas di luar hotel hasil kerja sama antara pengelola hotel dengan masyarakat sekitar yaitu kebun agro dimana para wisatawan bebas mengunjungi kebun sambil berwisata agro. Total luas besaran ruangan Hotel Wisata Alam ini 21.329 m2 dan membutuhkan luas site 37.800 m2 berdasarkan peraturan pemerintah dengan sirkulasi dan ruang terbuka hijau. Lokasi site berada di Jalan Windhu Sara Desa Kedisan Kintamani Bangli. Karakter site secara umum memiliki tingkatan kebisingan rendah beriklim dingin, berkontur teras sering berundag undag dengan luas site sebesar 46.685 m2. Pada site akan direncanakan 1 entrance dengan tujuan memudahkan untuk akses keluar masuk. Melalui program ruang dan program tapak kemudian ditemukan konsep perancangan. Konsep perancangan terdiri dari dari konsep site, konsep bangunan, konsep struktur dan konsep utilitas.
PUSAT PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN KESENIAN TRADISIONAL LOMBOK DI PRAYA Ari Hidayat; Made Mariada Rijasa; Ayu Putu Utari Parthami Lestari
Jurnal Anala Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.1.1474.1-13

Abstract

Secara umum, kebudayaan NTB terdiri dari tiga suku asli utama, yakni suku sasak di Lombok, suku Mbojo di Bima dan Dompu, suku Samawa di Sumbawa. Kebudayaan suku sasak di Lombok mengalami penurunan minat generasi muda untuk menekuni kesenian tradisional. Untuk menyokong pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional maka dibutuhkan gedung Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Lombok di Praya, karena jarangnya pertunjukan menyebabkan tradisi Lombok ini berangsur-angsur dilupakan sehingga kepandaian-kepandaian teknik tradisionil yang merupakan salah satu ciri kepribadian setempat, juga terdampak. Agar bisa merangkum kebudayaan Lombok, dan dapat mempermudah akses wisatawan untuk melihat sekaligus mengenal kebudayaan Lombok. Fasilitas ini juga bertujuan untuk memberi informasi sekaligus pengembangan, pelestarian dan juga memperkenalkan kebudayaan Lombok sesuai dengan aspek kebudayaan Lombok meliputi keseniaan serta bangunan adat Lombok merupakan bagian dari wujud kebudayaan. Melalui metode desktiptif pada studi kasus di taman budaya NTB. Kata kunci: Pusat Kesenian, Kesenian tradisional Lombok, Neo Vernakular
SKATEPARK DI KOTA TABANAN DENGAN KONSEP DASAR PERANCANGAN BRAVE AND DYNAMIC SOLIDARITY I Gusti Ngurah Agung Suardiarta; Made Mariada Rijasa; Ayu Putu Utari Parthami Lestari
Jurnal Anala Vol 12 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.2.1575.1-11

Abstract

Kabupaten Tabanan memiliki peminat olahraga Skateboard yang cukup tinggi namun hal ini belum diimbangi dengan fasilitas yang layak untuk bermain Skateboard sehingga para skater Tabanan masih kesulitan mencari arena untuk berlatih dan bertanding. Hal ini dapat diamati dari banyaknya skater yang terpaksa memanfaatkan fasilitas umum sebagai arena bermain skateboard seperti area parkir, kantor – kantor pemerintah, jalanan, sekolah dan gedung – gedung olahraga yang tidak memiliki fasilitas yang sesuai. Hal ini juga dianggap akan mengganggu serta berbahaya bagi pengguna lainnya dan tentunya akan merusak fasilitas umum, sehingga kemudian memunculkan anggapan skateboard adalah kegiatan dengan citra negatif. Dengan adanya perancangan skatepark ini diharapkan dapat mewadahi serta memfasilitasi segala aktivitas para skater dan kebutuhan seperti skatepark indoor- outdoor yang berstandar internasional, skateshop, hingga tempat penyelenggaraan event yang menarik perhatian pengunjung. Konsep dasar yang dipilih yaitu brave and dynamic solidarity didukung dengan tema dekonstruksi akan memunculkan bentuk bangunan yang berbeda dan dinamis serta menggabungkan arsitektur lokal dengan material dan ukuran yang berbeda. Selain itu, dengan adanya skatepark ini juga diharapkan dapat memberikan sarana/ wadah yang nyaman dan aman bagi para skater untuk mengembangkan serta mengasah skill/ kemampuan mereka serta menjadi salah satu aspek dalam penyelesaian permasalahan kota yang ada di Kabupaten Tabanan, Bali.
MENGUKUR DAMPAK IMPLEMENASI PERDA BALI NO. 3 TAHUN 2005 TERHADAP KEBERLANJUTAN PENGEMBANGAN AKOMODASI PARIWISATA DI UBUD Sulandari, Sri; Parthami Lestari, Ayu Putu Utari; Adnyana, Yudistira; Astawa, I Wayan
Kebijakan : Jurnal Ilmu Administrasi Vol. 15 No. 02 (2024): Volume 15 No. 02 Juni 2024
Publisher : Program Magister Ilmu Administrasi dan Kebijakan Publik, Pascasarjana, Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/kebijakan.v15i02.15195

Abstract

Pariwisata di Bali, terutama di Ubud, telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Namun, pertumbuhan ini juga membawa potensi ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan, budaya, dan sosial di daerah tersebut. Untuk mengatasi tantangan ini, Pemerintah Bali telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Bali No. 3 Tahun 2005 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali. Perda ini mencakup regulasi terkait dengan pengembangan akomodasi pariwisata, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan. Penelitian ini memiliki urgensi yang signifikan dalam konteks pembangunan berkelanjutan di Ubud dan destinasi pariwisata Bali pada umumnya. Keberlanjutan pengembangan akomodasi pariwisata adalah isu yang sangat relevan mengingat perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pelestarian budaya. Penelitian ini juga dapat memberikan panduan bagi pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, pelaku bisnis pariwisata, dan masyarakat lokal, untuk memperbaiki regulasi dan praktik-praktik yang ada, serta mempromosikan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan memahami fenomena terkait implementasi Perda Bali No. 3 Tahun 2005 dan dampaknya pada pengembangan akomodasi pariwisata di Ubud. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara terstruktur, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data kualitatif dianalisis dengan langkah-langkah seperti pengolahan data, pembacaan keseluruhan data, pengkodean data, deskripsi tema-tema yang ditemukan, interpretasi data, dan pembuatan laporan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara keseluruhan, implementasi Perda Bali No. 3 Tahun 2005 telah memberikan dampak yang positif bagi pengembangan pariwisata dan perekonomian di Ubud, sambil tetap memperhatikan pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Hal ini menunjukkan pentingnya kebijakan yang berpihak pada pembangunan berkelanjutan dan memperhatikan kebutuhan lokal dalam pengembangan pariwisata.
REDESAIN TENGARAN KECAMATAN BLAHBATUH GIANYAR LESTARI, AYU PUTU UTARI PARTHAMI; MARDANA, I KADEK YUDI
GANEC SWARA Vol 18, No 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Universitas Mahasaraswati K. Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35327/gara.v18i1.781

Abstract

In general, landmarks are unique physical forms that can be used as a guide for users of an area to facilitate orientation and also help develop the character of an area. This goal can be realized more easily if the physical (architectural) elements also reflect the local cultural values of the area. Landmarks are a crucial aspect of the city structure as they help individuals orient themselves and understand the city as a whole from a particular point. Landmarks can be various structures such as monuments, statues, buildings, towers, places of worship, and others. The importance of landmarks as reference points for observers to spatial locations has been considered in regional planning, as is the case in Gianyar, Bali. In Blahbatuh District, Gianyar, there is a landmark in the form of Hanoman statue made by KKN students. However, the statue is considered to be made without thinking about the history or characteristics of the village, so there is a need for a redesign design to improve the quality of urban life both in terms of the environment and society. The problems that occur will be observed and then analyzed. The approach applied was a descriptive qualitative one involving theoretical explanations of landmarks as well as direct observation of the objects observed. By analyzing the characteristics of the environment, aesthetic needs, and landmark functions, this research produces design recommendations that also consider aspects of beauty, local identity, and sustainability. The proposed design is a 9m high statue of Dewi Sri, as a reminder that the neighborhood is a rice producer. This design replaces the previous Hanoman Statue which was deemed less reflective of the locality context. The design results are expected to be a reference for the development and revitalization of the area, as well as increasing the attractiveness and uniqueness of local tourist destinations. Hopefully, this research can also play a role in advancing sustainable architecture and design in rural areas
MEMBUAT ATAU MERANCANG? Lestari, Ayu Putu Utari Parthami; Witari, Made Ratna; Silantara, I Gede Gandhi
Jurnal Teknik Gradien Vol 16 No 02 (2024): JURNAL TEKNIK GRADIEN
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknik_gradien.v16i02.1300

Abstract

Understanding the terms making and designing has long been a hot topic of discussion. Tim Ingold said they had influenced understanding and practice in anthropology, archaeology, art, and architecture. The main focus of this paper is to examine how Ingold connects the process of “making” with environmental adaptation and material influences. This research utilizes a literature review of Ingold's major works, especially Making: Anthropology, Archaeology, Art, and Architecture (2019), and compares it with other theories that emphasize the concept of design in the context of modern design. Ingold argues that “making” is a creative process that involves a direct and dynamic interaction with materials and the environment, the outcome of which develops through human engagement with the physical environment. In contrast, “designing” in modern design focuses more on planning, precision, and efficiency, with the process structured before making even begins. Ingold's critique of modern design invites designers, especially architects, to refocus on direct engagement with materials and the environment. This making approach offers new insights for a more adaptive modern design practice, especially in green architecture and community-based design.