Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Evaluasi Pemenuhan Kebutuhan Aksesibilitas Jalur Pedestrian bagi Penyandang Disabilitas di Kawasan Pumpunan Moda CSW ASEAN Dicky Prayoga; Istijabatul Aliyah; Candraningratri Ekaputri Widodo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i2.72092.12-27

Abstract

Seiring dengan masifnya pembangunan fasilitas publik di perkotaan saat ini, inklusivitas fasilitas publik bagi penyandang disabilitas dalam pemenuhan kebutuhan aksesibilitas seringkali terabaikan. Untuk memenuhi kebutuhan aksesibilitas tersebut, dibutuhkan evaluasi fasilitas publik yang mempertimbangkan kebutuhan dan hambatan penyandang disabilitas. Ketersediaan jalur pedestrian sebagai salah satu fasilitas publik belum dapat mengakomodasi pergerakan penyandang disabilitas dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting jalur pedestrian dalam pemenuhan kebutuhan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas di Kawasan Pumpunan Moda CSW ASEAN yang merupakan salah satu kawasan yang direncanakan sebagai kawasan transit sesuai RTRW DKI Jakarta 2011-2030. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif untuk mengevaluasi nilai aksesibilitas jalur pedestrian bagi penyandang disabilitas. Evaluasi kondisi eksisting jalur pedestrian dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan lebar, konektivitas, dan fasilitas pendukung jalur pedestrian, serta fasilitas khusus penyandang disabilitas yang terhubung secara langsung dengan jalur pedestrian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan aksesibilitas jalur pedestrian bagi penyandang disabilitas, seperti ketidaktersediaan jalur pedestrian yang cukup lebar, fasilitas khusus yang tidak ramah penyandang disabilitas, dan terputusnya jalur pedestrian oleh fungsi penggunaan lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting jalur pedestrian memiliki nilai aksesibilitas dalam kategori sedang dalam pemenuhan kebutuhan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Hal tersebut menjadikan Kawasan Pumpunan Moda CSW ASEAN belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas.
Pengaruh Karakteristik Pergerakan Penumpang Commuter Line Yogyakarta-Surakarta terhadap Pemilihan Moda Feeder Marshelyna Yudha Arnanda; Ratri Werdiningtyas; Candraningratri Ekaputri Widodo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 2 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v7i2.91086.81-89

Abstract

Tingginya jumlah komuter Kota Yogyakarta pengguna Commuter Line Yogyakarta-Surakarta yang menuju Kota Surakarta dihadapkan pada pemilihan moda feeder untuk menjangkau lokasi destinasi dari stasiun tujuannya di Kota Surakarta. Banyaknya pengguna transportasi umum pribadi dibandingkan pengguna transportasi umum massal diantara komuter memunculkan pertanyaan apa yang menjadi pengaruh dalam pemilihan moda oleh komuter pengguna Commuter Line  dari Yogyakarta menuju Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh karakteristik pergerakan terhadap pemilihan moda oleh komuter. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda dengan variabel dependen yaitu jenis pemilihan moda transportasi dan variabel independen yaitu karakteristik pergerakan komuter. Sampel penelitian ini adalah komuter KRL Yogyakarta-Surakarta yang menggunakan moda transportasi umum dalam melakukan pergerakannya di Kota Surakarta. Teknik pengambilan data yang digunakan yaitu penyebaran kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pengaruh pemilihan moda feeder berdasarkan karakteristik pergerakan komuter di Stasiun Purwosari, Stasiun Solo Balapan, dan Stasiun Solo Jebres.
Faktor Pendukung Keberhasilan Pelaksanaan Program KOTAKU di Kabupaten Klaten (Studi Kasus: Kelurahan Bareng dan Desa Merbung) Tri Wahyuni; Kusumastuti Kusumastuti; Candraningratri Ekaputri Widodo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i2.72867.125-139

Abstract

Permukiman kumuh merupakan salah satu prioritas nasional menurut UU Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2005-2025. Permukiman kumuh ditentukan dari kondisi bangunan gedung, jalan lingkungan, penyediaan air minum, drainase lingkungan, pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan, dan proteksi kebakaran. Pemerintah Indonesia menangani permukiman kumuh melalui program Kota Tanpa Kumuhatau KOTAKU. Keberhasilan dari program KOTAKU dilihat dari ketercapaian tujuan program yang terangkum dalam nilai pada Key Performance Indicators (KPI). Jawa Tengah merupakan provinsi dengan luasan kumuh terluas di Indonesia, dimana Kabupaten Klaten merupakan salah satu kabupaten di dalamnya yang paling berhasil mengurangi luas permukiman kumuh sebesar 88,7% hingga tahun 2021. Dua kelurahan/desa yang memiliki indeks tercepat dalam penanganan permukiman kumuh di Kabupaten ini ialah Kelurahan Bareng dan Desa Merbung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dalam pelaksanaan program KOTAKU di Kabupaten Klaten di kedua desa tersebut yang dilaksanakan dengan pola pemugaran. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif dan tekniik analisis skoring. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa faktor-faktor pendukung keberhasilan program di Kelurahan Bareng adalah struktur kelembagaan, status legalitas lahan, ketersediaan lahan, karakteristik kebijakan, anggaran, tahapan pelaksanaan program, dan kinerja Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP). Di sisi lain, faktor-faktor pendukung di Desa Merbung adalah partisipasi masyarakat, struktur kelembagaan, ketersediaan lahan, status legalitas lahan, anggaran, semua tahapan pelaksanaan program, pemeliharaan prasarana, serta pelaksanaan kegiatan pembangunan kemandirian masyarakat.
The Development of Industrial Agglomeration in Industrial Designation Areas and its Impact on Land Use Change (Case Study: Pringsurat Subdistrict and Kranggan Subdistrict, Temanggung Regency) Fadhilla Nur Laila; Paramita Rahayu; Candraningratri Ekaputri Widodo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v6i2.87041.1-15

Abstract

Industrial agglomeration refers to the clustering of industries in a specific region, where they are in close proximity and have interconnections. This phenomenon not only stimulates the growth of industrial activities, but also influences the development of other economic sectors. As industrialization expands, it gradually extends into rural areas that usually have abundant undeveloped land primarily used for agriculture. Consequently, this trend prompts a transition from agricultural to industrial land use. Pringsurat subdistrict and Kranggan subdistrict are located in Temanggung Regency, Central Java Province. Both of these subdistricts are designated as Industrial Designation Areas (KPI) according to the Temanggung Regency Spatial Plan 2011-2031. The plan has implications for the rapid development of large and medium industries. The purpose of this study is to examine the growth of industrial agglomeration in Pringsurat subdistrict and Kranggan subdistrict and their impact on agricultural land conversion. This research was conducted from 2023 to 2024 and utilizing data from 2021 and 2022. The approach of this research is descriptive quantitative and utilizes spatial analysis with Geographic Information Systems (GIS) and descriptive analysis techniques. Based on the results of the analysis, there is an agglomeration of large and medium industries in Pringsurat subdistrict and Kranggan subdistrict. The growth of agglomeration encourages the establishment of new industries and industry linkages. Furthermore, agglomeration growth has led to changes in land use, an increase in the variety of land uses, and an increase in land prices. Results of the analysis also show that there are regulatory changes in the development of industrial agglomeration that will affect to local government decision in the future.