Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Pengaruh Petuah bobeto Terhadap Kearifan Setempat Kampung Kalaodi, Kota Tidore Kepulauan Teng, Ichsan Sukarno; Nugroho, Agung Murti; Kusdiwanggo, Susilo
RUAS Vol. 19 No. 2 (2021)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2021.019.02.4

Abstract

Indigenous advice are one of the sources of local wisdom somewhere.  Local wisdom becomes an important issue in sustainable environmental control. This research aims to analyze and explain the local wisdom of Kalaodi Village, Tidore Islands City which is influenced by Bobeto indigenous advice.  The research method used is descriptive with the variables of village place, customary rules, collective memory and spatial system. The research procedure includes the stages: describing the topic of information related to advice and object selection; questioning matters related to advice through informants' memories; the decomposition of the information obtained becomes the focus of the problem; data collection and recording field data through observation and interviews; data analysis and writing the results. The results showed Bobeto indigenous advice to be the main factor influencing the local wisdom of Kalaodi Village, Tidore Islands City 
Elemen Arsitektural Astana Sunda Kasepuhan Ciptagelar Laksana, Noeviyanti Indah; Wulandari, Lisa Dwi; Kusdiwanggo, Susilo
RUAS Vol. 19 No. 2 (2021)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2021.019.02.5

Abstract

Kasepuhan Ciptagelar is a kasepuhan who still holds the ngalalakon tradition. Based on the traces of the movement, the artifacts left are not only settlements or houses but also artifacts that are outside the settlements in the form of astana (tomb). Physically, this astana has differences from other tombs because the astana adapts to environmental conditions. This study aims to identify the architectural elements of Astana Sunda Kasepuhan Ciptagelar, to determine its characteristics. The research method is a qualitative research with descriptive analysis. The results show that the architectural elements of Astana Sunda Kasepuhan Ciptagelar are influenced by Sundanese culture, nature and the environment, with the main character is the use of natural materials around the. The basic form of plan is rectangle, with or without pangkemit. All astana have woven bamboo walls, rectangle windows and doors in several variants, roof in the form of parahu kumureb and Suhunan Jolopon. The original roof are made of palm-fibers, and the ceiling under the roof are using woven bamboo.
The Bilbao Effect in Indonesia: Architectural Representation and the New Image of Banyuwangi City Kusdiwanggo, Susilo; Azizah, Alya Lailatul
Local Wisdom Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol. 18 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v18i1.15832

Abstract

This study analyzes the role of architectural representation in the city branding strategy of Banyuwangi Regency, which has undergone a transformation from a mystical city to a cultural city. The objective of this study is to comprehend the process of spatial representation through public architectural design developed during the leadership of Regent Azwar Anas (2010–2021). Utilizing a qualitative narrative approach within a constructivist paradigm and deductive reasoning, this study examines five iconic architectural projects revitalized in Banyuwangi and conducts in-depth interviews with six architects and project managers. A thorough examination of the data, employing open coding, axial coding, and selective coding techniques, revealed that architecture was strategically employed as a medium for transforming the city's identity through three main narratives: the local Bilbao effect shaping visual appeal; the representation of Osing culture through symbolic elements in building design; and the transformation of public perception through the revitalization of public spaces. The discussion establishes a connection between these narratives and the theories of the circuit of culture and urban cultural terraforming, thereby asserting that architectural representation is not merely aesthetic but also political, social, and cultural. These findings contribute to our expanded understanding of city branding as a multidimensional process and generate opportunities for further study on community involvement and the role of spatial policies in the production of urban identity. Keywords: Banyuwangi; Bilbao effect; City branding; City identity; Cultural representation; Iconic architecture; Revitalization of public spaces.
Konsep Pola Permukiman Spasial di Kasepuhan Ciptagelar Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Permukiman Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2016.11.29-42

Abstract

Leluhur Ciptagelar yang dikenal sebagai komunitas Pancer Pangawinan adalah masyarakat adat berdasarkan pada budaya padi, yaitu masyarakat yang masih memiliki keyakinan, kepercayaan, dan religi pada padi. Mentalitas asli leluhur Ciptagelar adalah berbudaya padi huma dengan paparakoan sebagai atribut, karakternya, dan jejak spasial masyarakat peladang. Ngalalakon adalah satu bentuk sistem kepercayaan budaya padi yang wajib dijalankan. Ngalalakon merupakan aktivitas memindahkan permukiman ke titik nadir. Budaya bermukim dipengaruhi oleh ritual ngalalakon ini. Bagaimanakah konsep pola spasial permukiman dari leluhur Ciptagelar yang berbasis budaya padi dan selalu berpindah ? Tulisan ini bertujuan menggali konsep dasar yang melandasi pola spasial permukiman pada masyarakat budaya padi di Kasepuhan Ciptagelar. Melalui metode etnografi, unit-unit informasi dianalisis secara thick description dan domain analysis hingga membangkitkan konsep spasial sebagai salah satu tema kulturalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparakoan huma menjadi rujukan dasar atas konsep pola spasial permukiman di Kasepuhan Ciptagelar. Pola spasial permukiman Kasepuhan Ciptagelar tidak semata berorientasi pada pembangunan fisik saja, melainkan juga sebagai usaha membangun keyakinan untuk peningkatan dan penyempurnaan diri. Peran dan kehadiran Leuit Jimat menjelaskan bahwa permukiman Ciptagelar merupakan refleksi dan bentuk penyempurnaan atau akumulasi terkini dari pencapaian puncak-puncak kebudayaan padi dari generasi Ciptagelar sebelumnya.
Leuit Bukan Sekadar Lumbung Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 9 No. 4 (2020): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.355 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v9i4.78

Abstract

Sosok leuit yang eksotis sering mengelabuhi dan menyilapkan mata orang yang melihatnya. Terlebih saat pandangan pertama. Terutama bagi mereka yang berkacamata tektonika semata. Semua dianggap sama, padahal sebenarnya berbeda. Terjebak dalam persepsi bentuk wadah fisik saja. Dalam anggunnya, leuit memendam sarat makna, khas kebudayaan Nusantara. Khazanah arsitektur yang tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut saja. Diperlukan pengalaman kehadiran untuk membaca sosok leuit. Perpaduan waktu-pelaku-laku yang senantiasa berulang ternyata membangun kesadaran akan kehadiran [konsep] ruang, hingga pada titik tertentu menyibak nilai-nilai dasar dibaliknya, baik filosofis maupun spiritualitasnya. Darinya diperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal itu jika dienkripsi dengan benar akan menghasilkan pengetahuan yang besar.
Diskursus Keselamatan dan Kesehatan pada Ruang Publik Perkotaan dan Permukiman Kusdiwanggo, Susilo; Sholihah, Qomariyatus
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 12 No. 1 (2023): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v12i1.81

Abstract

Kecelakaan kerja tidak lagi berada di wilayah kerja, melainkan merambah pada domain publik. Kondisi seperti ini membawa pergeseran besar sudut pandang bahwa kecelakaan kerja tidak lagi berdampak pada pekerja dan perusahaan, melainkan berimbas juga pada masyarakat atau publik dalam skala yang lebih luas. Diskursus ini memuat bagaimana peran perencana dan perancang kota melalui kriteria dan karakteristik yang penting dan tepat dapat mendukung secara preventif sekaligus akses mitigasi dalam menjamin keselamatan dan kesehatan ruang publik perkotaan. Refleksi yang muncul adalah perbaikan keamanan dan kesehatan ruang publik perkotaan tidak terjadi melalui penegakan peraturan yang kecil dan parsial, melainkan melalui upaya jangka panjang untuk membangun dan memelihara ruang demi mencegah bencana dan kecelakaan dalam menangani keselamatan dan kesehatan publik.
Boeh: Elemen Busana Penentu Hierarki Ruang Perempuan pada Masyarakat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar Astutik, Puji; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 9 No. 3 (2020): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v9i3.105

Abstract

Ketika berinteraksi dengan padi dan turunannya, masyarakat budaya padi (padi culture) Kasepuhan Ciptagelar selalu mengelola secara ritual dalam satu siklus yang terus berulang. Terdapat relasi signifikan antara waktu, pelaku dan aktivitas memperjalankan padi. Urutan konstelasi ini menghadirkan teritori dan ruang yang baik secara fisik maupun metafisik bagi laki-laki dan perempuan. Ruang perempuan hadir pada saat ritual padi dilaksanakan. Kehadirannya dikenali secara langsung dari busananya. Boeh, elemen busana dari relasi sakuren domain budaya busana menandakan pemakainya sebagai pemimpin ritual sekaligus entitas ke-3 dari relasi sakuren. Setiap realitas menunjukan hierarki ruang perempuan yang berjenjang. Dengan menggunakan metode kualitatif-eksplanatif melalui paradigma empiris, dengan hipotesis penelitian. Penelitian antropologi-arsitektur ini bertujuan untuk menguji teori domain budaya busana yang dipakai pada saat ritual sebagai penentu hierarki ruang perempuan. Hasil penelitian membuktikan dan memperkuat hipotesis, bahwa domain budaya busana yang menghadirkan boeh pada perempuan saat ritual menunjukan hierarki tertinggi dari ruang perempuan.
Strategi Adaptasi Model Rumah Panggung Permukiman Tepi Sungai Musi Palembang Wicaksono, Bambang; Anwar, Widya Fransiska Febriati; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 9 No. 3 (2020): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v9i3.109

Abstract

Bentuk eksistensi rumah di tepi sungai Musi berupa rumah-rumah panggung. Perkembangan rumah panggung tepi Sungai Musi di pengaruhi peranan eksistensi sungai Musi. Pilihan membangun rumah panggung merupakan bentuk adaptasi masyarakat yang tinggal dan menetap pada permukimannya. Berbagai strategi adaptasi oleh masyarakat tidak terlepas dari kondisi tanah dan kondisi geografi sungai Musi yang selalu tergenang air. Ketinggian tiang rumah tersebut merupakan salah satu strategi adaptasi terhadap pasang-surut air sungai Musi pada musim hujan. Kondisi sungai Musi mengalami perubahan oleh geografi sungai cenderung membuat masyarakat berupaya mengatur kondisi tersebut (Adjustment) agar dapat memenuhi kebutuhan penghidupannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya dari kecenderungan masyararakat permukiman tepi sungai Musi dalam beradaptasi dengan lingkungan yang di atur oleh alam dan upaya merubah lingkungan sebagai cara mempertahankan lingkungan permukiman. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi literatur. Analisis dilakukan secara kualitatif pada variabel bangunan, masyarakat, dan produk dari identifikasi permukiman tepi sungai. Hasilnya menunjukkan bahwa rumah di tepi sungai mengalami perubahan fisik pada bangunan, baik dari segi fungsi maupun bahan bangunan.
Perubahan Orientasi Permukiman Tepi Sungai sebagai Pengaruh Eksistensi Sungai Musi Palembang Wicaksono, Bambang; Siswanto, Ari; Kusdiwanggo, Susilo; Anwar, Widya Fransiska Febriati
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 3 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v9i3.126

Abstract

Eksistensi Sungai Musi pada awalnya menjadi orientasi bangunan rumah yang menghadap ke sungai. Ruang air mulai di persempit dengan kehadiran bangunan baru yang menempati area diatas lahan yang tertutup air. Perubahan budaya sungai ke darat berpengaruh kepada kehadiran bangunan baik yang lama maupun yang baru. Hal ini menyebabkan hilangnya potensi lokal dan identitas arsitektur lokal dan berakibat hilangnya eksistensi sungai tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh eksistensi sungai Musi dalam perubahan orientasi permukiam tepi sungai dari ruang air ke ruang darat. Untuk mencapai tujuan tersebut, studi mengidentifikasi jejak arsitektur permukiman, mengekplorasi aktivitas dan gagasan masyarakat tepian sungai. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Analisis dilakukan secara kualitattif terhadap variabel, orientasi, posisi, bentuk, dan tata letak hunian tepi sungai. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tepian sungai yang dibangun pada area aliran anak sungai masih memiliki orientasi ke sungai. Sedangkan rumah yang dibangun pada area yang dekat dengan jalan bergeser lebih orientasi ke darat. Studi menyimpulkan bahwa Perubahan orientasi permukiman tepian sungai disebabkan oleh perubahan eksistensi Sungai Musi Palembang.
Disiplin Keilmuan Arsitektur Nusantara Riwayatmu Nanti Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 3 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.235

Abstract

Arsitektur bertalian erat dengan budaya. Dalam kategori pokok budaya itu sendiri, arsitektur bukan salah satu pensubstansinya. Tidak pula bisa dipungkiri bahwa kajian arsitektur (vernakular Nusantara) masih menggunakan perspektif sosiologis, antropologis, arkeologis, etnografis, maupun fenomenologis secara masif. Posisi ini menjadikan disiplin arsitektur bukan sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Disiplin arsitektur harus menggandeng atau bahkan meminjam bidang studi lain sebagai sarana bidang studinya. Di sisi lain, diskursus dan kesadaran membangun Arsitektur Nusantara terbaca semakin menguat, hingga seolah menjadi gerakan dekonstruktif untuk menemukan wajah disiplin keilmuan atau bidang studi baru. Persoalannya adalah, apakah disiplin atau bidang studi Arsitektur Nusantara itu sudah dan/atau sedemikian genting sehingga harus bangkit sebagai disiplin keilmuan baru saat ini? Artikel ini mendeskripsikan bagaimana perspektif sosiologis, antropologis, arkeologis, etnografis, maupun fenomenologis bekerja di seputar arsitektur vernakular. Dengan meninjau cara kerja perspektif tersebut, diperoleh posisi melihat Arsitektur Nusantara yang lebih jernih.