Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

KEBERLANJUTAN SOSIAL-EKONOMI DESA WISATA ADAT OSING DI KEMIREN BANYUWANGI Cayarini, Filomina Dwi; Giriwati, Novi Sunu Sri; Azis, Sri Utami; Kusdiwanggo, Susilo
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 23 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v23i2.6950

Abstract

Keberlanjutan sosial-ekonomi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata, apalagi di era pandemi saat ini. Faktanya pariwisata adat atau budaya menjadi pemasukan terbesar ekonomi negara-negara berkembang non-barat. Namun adanya pandemi Covid-19 membuat penurunan jumlah wisatawan mancanegara termasuk wisatawan yang menuju Indonesia. Desa Wisata Adat Osing merupakan desa wisata adat di Kabupaten Banyuwangi yang merasakan dampak dari pandemi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa atau mengkaji keberlanjutan soial-ekonomi pada Desa Wisata Adat Osing Kemiren yang kemudian dihubungkan dengan keaadaan pandemi Covid-19 saat ini. Adapun metode yang digunakan berupa deskriptif-kualitatif, dengan menambahkan analisa mengenai keberlanjutan sosial-ekonomi yang dilihat dari parameter SDGs dalam mendukung keberlanjutan. Hasil dari studi ini mendapatkan bahwa Desa Wisata Adat Osing sudah mengarah pada keberlanjutan sosial-ekonomi namun pada era New Normal ini perlu ditingkatkan strategi-strategi yang lebih mapan dalam menunjang perekonomian serta kondisi sosial masyarakat setempat agar keberlanjutan sosial-ekonomi pada desa tersebut lebih terjamin.Kata kunci: Desa Wisata Adat, Desa Kemiren, Keberlanjutan Sosial-Ekonomi, Pariwisata
The Impact of Maritime Culture Assimilation on the Architecture of Gili Iyang Communities Yusran, Yusfan Adeputera; Hilmy, Ayu Nur Izzati; Kusdiwanggo, Susilo
Local Wisdom Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol. 17 No. 1 (2025): January 2025
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v17i1.13032

Abstract

Indonesia's cultural diversity provides a unique backdrop for understanding the dynamics of cultural assimilation, especially on Gili Iyang Island in Sumenep, Madura, where migration has shaped social and architectural aspects. This study explores the influence of cultural adaptation on architecture among the Bugis-Makassar, Buton-Binongko, and Sumenep-Madura communities on Gili Iyang Island. Utilizing a case study method, this research focuses on how these maritime-oriented communities adjust and modify architectural aspects in response to cultural interactions. The findings indicate that the assimilation affecting the architecture of Gili Iyang Island includes: (1) spatial organization and division from east to west and north to south, reflecting a balance between gender aspects and spiritual symbolism; (2) color concepts based on natural elements such as brown (earth), green (sea), blue (sky), and red-orange (fire); (3) ornaments inspired by the surrounding environment including plants, animals, and repetitive geometric patterns; (4) courtyards serving as the focal points for orientation and transition between buildings; (5) buildings that are closely spaced
Rekonstruksi Ingatan Kolektif pada Umah Pitu Ruang Reje Baluntara di Desa Toweren Kabupaten Aceh Tengah Gayo, Salsabila; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suku Gayo merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia yang memiliki peninggalan budaya dan ciri khas yang beragam, salah satunya yang masih tersisa saat ini adalah Umah Pitu Ruang, tepatnya Umah Pitu Ruang Reje Baluntara yang berada di Desa Toweren Kabupaten Aceh Tengah. Saat ini, rumah berusia ratusan tahun tersebut sudah dijadikan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah setempat. Rumah ini dulunya dihuni oleh keluarga dari Reje Bukit hingga generasi keempat. Untuk memperoleh informasi mengenai Umah Pitu Ruang Reje Baluntara ini, diperlukan ingatan kolektif atau collective memory, untuk merecall kembali ingatan pada masa lalu melalui narasumber atau key-person yang pernah tinggal di rumah tersebut. Oleh karena itu, metode yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi literatur. Adapun tujuan akhir pada penelitian ini adalah menghasilkan suatu temuan atau konsep yang berkaitan dengan ingatan kolektif dari Umah Pitu Ruang Reje Baluntara serta hubungan kekerabatan dan keterkaitannya dengan beberapa keluarga yang tinggal di dalam satu rumah tersebut. Kata kunci: ingatan kolektif, umah pitu ruang, suku gayo, hubungan kekerabatan
Cultural Aspects in Sustainable Development: The Dayak Tribe in East Kalimantan Hardian*, Gagas Tegar; Kusdiwanggo, Susilo; Arsita, Ema Dwi
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 7, No 1 (2024): Januari, History of Education, and Social Science
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v7i1.37360

Abstract

Sustainable development is the goal of the SDG's, where cultural aspects can influence other aspects of life. Tribes in Indonesia also help to achieve SDG's from a cultural aspect, one of which is the Dayak Tribe. The Dayak tribe has local wisdom in the form of culture that is maintained to carry out the process of life. The Dayak tribe maintains various cultures that continue to this day as a form of concern for the surrounding environment. The cultural aspects applied by the Dayak people in carrying out their lives as a form of sustainable development. This research is a descriptive study through a library approach. The theory in this study uses cultural aspects in sustainable development. The findings of this research relate the cultural aspects that support the achievement of the cultural pillars as the 4 pillars of the SDGs.
Connectivity and Spatial Integration of Waste Bank Unit Using Space Syntax : (Case: The Klampok Kasri 2 Waste Bank Unit in Malang, Indonesia) Audri, Delia Suci; Kusdiwanggo, Susilo; Asikin, Damayanti
RUAS Vol. 23 No. 1 (2025)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2025.023.01.1

Abstract

The community waste bank is recognized as an important element in urban waste management, but its effectiveness is often limited by suboptimal spatial configuration, which hinders social interaction and community participation. This study examines the relationship between spatial configuration and social interaction patterns in community waste banks to reveal how spatial layout influences the quality of social interaction at the Klampok Kasri 2 Waste Bank Unit. Space Syntax is employed as a relevant method to analyze the influence of spatial accessibility and connectivity on social behavior. The research focuses on eight waste bank units. Data analysis was carried out using the Space Syntax method and structured observation. The results show a strong correlation between spatial integration and the intensity of social interaction, while connectivity has a moderate influence. Areas with high global integration consistently support more frequent social interaction, whereas spaces with moderate integration levels foster a greater diversity of social activities. These findings contribute to enhancing the effectiveness of community-based waste banks through improved spatial configuration. They also provide a foundation for developing strategic spatial planning guidelines aimed at increasing social interaction and community participation, both of which are critical to supporting sustainable urban waste management.
Unravelling Third Space as Urban Design Quality through Behavior Mapping in Kayutangan Street, Malang, Indonesia Esperanza, Dhiba; Ernawati, Jenny; Kusdiwanggo, Susilo
RUAS Vol. 23 No. 1 (2025)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2025.023.01.8

Abstract

The third space is an interaction space that connects spatiality, history, and social aspects. As a space that surpasses other spaces, the third room should also show good urban design quality. This study seeks to reveal the characteristics of the Third Space in the historical street of Kayutangan and its relationship with the Quality of Urban Design through behavior mapping techniques based on Naturalistic Observation. The research uses a qualitative approach with observation units of activity type, frequency, direction of face, spatial distance, duration of activity, gender, age, and environmental stimulus in observing the character of the Third Space. This unit was analyzed using the dimensions of imageability: sense of place, place identity, and attractiveness. It was found that there are 13 symptoms of the Third Space in the area and their relationship with the quality of urban design. These aspects are the heterogeneity of activities, the participation of informal actors, the existence of street vendors, cultural heritage, permeability, sense of healing, sense of navigation, sense of reflection, architectural didacticism, the completeness of street furniture, social interaction, interaction between street furniture and informal actors, and the existence of iconic buildings.
Adaptasi Ruang Sakral Komunitas Hindu-Jawa: Studi Akulturasi Budaya di Dusun Jamuran Kabupaten Malang Rohman, Syifa Syahrani Aditya; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah permukiman Hindu lokal terpencil yang sarat akan praktik budaya Jawa di Jawa Timur, Dusun Jamuran, merupakan ruang praktik budaya atraktif karena transformasi kepercayaan bersinggungan dengan ekspresi ruang sakral. Penafsiran ulang komunitas Hindu-Jawa Dusun Jamuran terhadap tantangan marginalisasi ajaran Hindu Dharma ditelaah untuk mengidentifikasi proses produksi ruang sakral yang dihasilkan dari fenomena akulturasi budaya. Fenomena akulturasi menghasilkan bentuk arsitektur sakral yang merepresentasikan proses negosiasi identitas, keyakinan, dan tradisi sebagai elemen fundamental dalam religiusitas mereka. Pendekatan etnografi konstruktivis kualitatif berbasis penelitian lapangan digunakan untuk menangkap perspektif emik melalui observasi partisipatif dan wawancara. Analisis tematik dilakukan dengan teknik pengkodean induktif untuk mengidentifikasi tema-tema utama terkait adaptasi spasial, hibriditas budaya, dan transformasi bentuk sakral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur sakral Dusun Jamuran bermanifestasi sebagai ekspresi hibrida elemen fisik simbolis yang mempertemukan unsur budaya Hindu dengan Jawa. Ruang sakral yang menjadi bagian permukiman komunitas Hindu-lokal merupakan ruang simbolik yang performatif dalam dialektika budaya. Identifikasi terhadap akulturasi budaya ternyata dapat menemukan fenomena adaptasi terhadap bentuk dan makna ruang sakral yang disebabkan implementasi konsep Desa Kala Patra sebagai landasan negosiasi antara komunitas Hindu-Jawa dengan ajaran Hindu Dharma.   Kata kunci: Akulturasi Budaya, Adaptasi Ruang, Arsitektur Sakral, Etnografi
Memori Ruang Spasial: Rekonstruksi Visual Elemen Permukiman Tari Kolot Kasepuhan Ciptarasa (1984 – 2000) Al Jundi, Ulil Albab Abdullah; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini memfokuskan pada upaya rekonstruksi elemen-elemen utama permukiman adat tari kolot Kasepuhan Ciptarasa (1984–2000), sebagai bagian dari strategi pelestarian memori kolektif masyarakat adat Pancer-Pangawinan. Melalui pendekatan kualitatif dengan paradigma partisipatoris, data etnografis dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi kontekstual, kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk visual spasial. Rekonstruksi ini tidak hanya menghasilkan arsip bentuk arsitektur historis, tetapi juga mengartikulasikan relasi kompleks antara konfigurasi fisik, struktur kosmologis budaya, dan sistem kepercayaan lokal. Proses validasi dilakukan secara intensif oleh para sesepuh dan pemangku adat, yang memperkuat legitimasi serta otentisitas representasi visual yang dihasilkan. Temuan menunjukkan bahwa struktur spasial dalam konteks adat merupakan hasil dari interaksi simbolik antara manusia, lanskap ekologis, dan sistem pengetahuan spiritual. Studi ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan metodologi konservasi permukiman adat berbasis ingatan kolektif dan keterlibatan aktif komunitas lokal. Kata kunci: rekonstruksi visual, permukiman adat, memori kolektif, Kasepuhan Ciptarasa, pelestarian budaya
Pantun Ngaruat Lembur sebagai Teks Arsitektural: Kajian Representasi Spasial dalam Masyarakat Adat Kasepuhan Gelaralam Nindhita, Brillianti Irza; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi peran pantun ngaruat lembur dalam pembentukan dan representasi ruang adat masyarakat Kasepuhan Gelaralam. Melalui pendekatan etnografi interpretatif dan analisis naratif terhadap pantun yang dilantunkan dalam ritus perpindahan kampung, ditemukan bahwa pantun berfungsi sebagai sistem pengetahuan spasial yang hidup. Pantun tidak hanya menyampaikan nilai kosmologis dan struktur sosial, tetapi juga menyusun orientasi ruang, fungsi permukiman, serta hubungan manusia dengan leluhur dan alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pantun merupakan teks arsitektural yang aktif memproduksi ruang melalui simbol, narasi, dan ritus kolektif. Studi ini menegaskan pentingnya tradisi lisan sebagai sumber sahih dalam kajian arsitektur vernakular dan pelestarian budaya lokal. Kata kunci: pantun ngaruat lembur, ruang adat, arsitektur vernakular, tradisi lisan, Kasepuhan Gelaralam
The Level of Sustainability of Serang Village, Blitar Regency Based on the Spiritual Aspects of the Community Sustainability Assessment (CSA) Hardian, Gagas Tegar; Nugroho, Agung Murti; Kusdiwanggo, Susilo
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 5 No. 7 (2025): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v5i7.51954

Abstract

Community Sustainability Assessment (CSA) was developed to help communities evaluate their achievements and chart a course towards increasing sustainability. In CSA, each of which is as important as the others, are the Environmental, Social and Economic aspects of society. The CSA is a comprehensive checklist that anyone can complete to get a basic idea of how sustainable a community is with a score that is effective for promoting understanding and measuring sustainability in society, and applies to any community. Although it requires a good knowledge of the lifestyle, practices and characteristics of the community, it does not require detailed research, calculations and quantification. One village that is interesting to know about its level of sustainability is Serang Village, Blitar. Serang Tourism Village, Panggungrejo District, Blitar Regency, is included as one of 50 tourist villages where, according to the measurement results, Serang Village has the highest score in terms of the Spiritual Aspect of its community.