Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Profile of Gastrointestinal Stromal Tumors (GISTs) at Dr. M. Djamil General Hospital Padang, Indonesia: A Descriptive Study on 28 Patients Aliska, Gestina; Novianti, Hera; Angraini, Desti; Liana, Nana; Nova, Riki; Rustam, Erlina
Frontiers on Healthcare Research Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63918/fhr.v1.n1.p19-23.2024

Abstract

Background: Gastrointestinal stromal tumors (GISTs) are the most frequently seen mesenchymal neoplasm in the digestive system. GISTs was originally described as smooth muscle tumor in the 1980s but advances in molecular diagnostic methods and immunohistochemistry moved GISTs into a different category from smooth muscle tumors. The study aims to report on epidemiological, clinical, immunochemical, and therapeutic characteristics of GISTs. Methods: We performed a retrospective descriptive study of 28 cases of GIST in the gastroenterology and general surgery departments of M. Djamil General Hospital Padang, Indonesia was conducted from January 2019 to December 2021. Data collection using medical records of patients in M. Djamil General Hospital Padang, Indonesia. We reported different data: Age, sex, symptoms, site, and immunohistochemistry of the tumor.  Results: Our study included 28 patients 18 males (64,3%) and 10 females (35.7%), with a median age range of 51-60 years. The presenting symptoms were abdominal mass (53.6%), abdominal pain (14.3%), bloody or dark-colored stools (14.3%), constipation (7.1%), fatigue (7.1%), and nausea and vomiting in 1 case (3.6%). Sixteen patients (57.1%) had a primary tumor and twelve patients (42.9%) had further metastatic lesions. The tumors were found in the stomach (21.4%), small intestine (14.3%), rectum (14.3%), and in other sites such as the retroperitoneal, liver, and distal pancreas. The immunohistochemical study was performed in seven cases (expression of  CD117 and DOG1), in four cases  CD117 was positive, while in three cases CD117 was negative. In two cases, the expression of DOG1 was positive, while in one case, it was negative. Eighteen patients with GIST (64.3%) underwent surgical procedures. A combination of surgical and chemotherapy was prescribed in 9 patients (32.1%). The chemotherapy regimen prescribed is imatinib. One patient is inoperable and has received symptomatic treatment. Conclusion : In conclusion, our result showed that GISTs are highest in the male population with an age range of 51-60 years. The most common symptom of GISTs is abdominal mass. Patients who have been diagnosed with GIST by histopathological examination do not always show positive expression in the immunohistochemical study. Surgical resection was indicated in the majority of patients, and a combination of surgery and chemotherapy is also prescribed as a treatment for patients with GIST.
Perbedaan Rerata Kadar Albumin Pasien Lupus Eritematosus Sistemik berdasarkan Derajat Aktivitas Penyakit di RSUP Dr. M. Djamil Padang Ulti, Zifa Amanda; Elvira, Dwitya; Firdawati; Efrida; Raveinal; Aliska, Gestina
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1478

Abstract

Latar Belakang: Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit autoimun kompleks yang dapat menyerang berbagai pertahanan sistem tubuh. Penyakit ini berhubungan dengan pembentukkan autoantibodi sehingga dapat menyebabkan inflamasi kronis yang berujung pada kerusakkan jaringan tubuh. Aktivitas Penyakit LES diduga dapat mempengaruhi kadar albumin di dalam tubuh.    Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rerata kadar albumin pasien LES berdasarkan derajat aktivitas penyakit di RS M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross-sectional study. Sampel penelitian berjumlah 59 pasien LES rawat jalan dan rawat inap di RS M. Djamil Padang yang dikumpulkan secara consecutive sampling. Analisis data penelitian menggunakan uji one way annova. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan mayoritas pasien LES berada di rentang usia 26−35 tahun (44,1%), berjenis kelamin perempuan (100%). Lebih dari setengah pasien LES mengalami hipoalbuminemia (76,3%), sebagian besar pasien memiliki derajat aktivitas penyakit sedang (39%). Rerata kadar albumin terendah ditemukan pada pasien dengan derajat aktivitas penyakit berat sebesar 2,25 g/dL. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada rerata kadar albumin pasien LES. Rerata kadar albumin terendah pasien LES ada pada kelompok derajat aktivitas penyakit berat. Rerata kadar albumin tertinggi pasien LES ada pada kelompok derajat aktivitas penyakit ringan.
Ototoksisitas akibat Penggunaan Cisplatin dan Pendekatan Otoprotektif untuk Pencegahannya Rizki Saputra; Rossy Rosalinda; Sukri Rahman; Gestina Aliska
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v2i1.36

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan secara statistik angka harapan hidup pasien kanker setelah diterapi membuat pemantauan efek samping jangka panjang kemoterapi sangat dibutuhkan. Cisplatin menjadi agen kemoterapi pilihan pada kanker kepala dan leher karna sifatnya yang sangat poten. Bertentangan dengan manfaat terapiutik tersebut, pemakaian cisplatin memiliki potensi masalah ototksik yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Tujuan: Untuk mengetahui dan memahami mekanisme ototoksisitas akibat penggunaan cisplatin dan upaya otoprotektif. Tinjauan Pustaka: Sebagai agen kemoterapi, cisplatin memiliki beberapa efek samping salah satunya bersifat ototoksik. Mekanisme ototoksik akibat cisplatin dihubungkan dengan pembentukan radikal bebas yang menyebabkan apoptosis pada sel rambut luar koklea dan jaringan penunjang di organ Corti. Pasien yang menerima pengobatan cisplatin harus dilakukan evaluasi fungsi pendengaran secara berkala. Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang menjadi pilihan utama dalam upaya preventif ototoksik akibat cisplatin. Penggunaan obat golongan seperti N-asetilsistein, sodium tiosulfat, vitamin E, amifostin membuka harapan untuk pengembangan terapi preventif ototoksik. Kesimpulan: Efek samping ototoksik yang ditimbulkan merupakan salah satu masalah yang harus ditatalaksana. Monitoring pendengaran dibutuhkan untuk mendeteksi pemasalahan ini. Beberapa agen otoprotektif seperti antioksidan dan kortikosteroid dapat menjadi pilihan tatalaksana dalam upaya preventif. Pemberian agen otoprotektif secara sistemik dan intratimpani memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Kata kunci: ototoksik, cisplatin, preventif, intratimpani
KARAKTERISTIK KLINIS PASIEN GASTROINTESTINAL STROMAL TUMOR DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE 2018-2022 Khairunnisa Nurjannah; Avit suchitra; Fathiya Juwita Hanum; Gestina Aliska
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 No. 03, September 2026 Produce
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.63563

Abstract

Gastrointestinal Stromal Tumor (GIST) merupakan tumor mesenkim yang jarang terjadi. Lokasi GIST bisa terjadi di esofagus, lambung, usus halus, usus besar, appendiks, dan rektum. Gejala GIST tergantung pada lokasi dan ukuran tumor, termasuk nyeri perut, perdarahan gastrointestinal, tanda obstruksi, gejala tukak lambung, atau BAB berdarah. Diagnosis immunohistokimia sangat membantu dalam memastikan diagnosis, namun pemeriksaan laboratorium patologi anatomi dan pencitraan tetap bisa dilakukan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi dan Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. M. Djamil Padang pada 29 November – 18 Desember 2023. Data diambil periode bulan Januari 2018 – Desember 2022. Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat. Data dinyatakan dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini adalah 41 pasien yang didagnosis GIST. Penderita GIST paling banyak berusia 19-59 tahun (73,2%). Ada sebanyak 68,3% adalah laki-laki dan 31,7% perempuan dari 41 sampel tersebut. Manifestasi klinis terbanyak adalah usus besar dan appendiks (36,6%). Interval waktu dari awal mula keluhan sampai pasien terdiagnosis paling banyak ditemukan kurang dari 1 tahun (87,8%). Pada saat follow up sebanyak 39% pasien telah meninggal dunia.