Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

The Profile of Gastrointestinal Stromal Tumors (GISTs) at Dr. M. Djamil General Hospital Padang, Indonesia: A Descriptive Study on 28 Patients Aliska, Gestina; Novianti, Hera; Angraini, Desti; Liana, Nana; Nova, Riki; Rustam, Erlina
Frontiers on Healthcare Research Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63918/fhr.v1.n1.p19-23.2024

Abstract

Background: Gastrointestinal stromal tumors (GISTs) are the most frequently seen mesenchymal neoplasm in the digestive system. GISTs was originally described as smooth muscle tumor in the 1980s but advances in molecular diagnostic methods and immunohistochemistry moved GISTs into a different category from smooth muscle tumors. The study aims to report on epidemiological, clinical, immunochemical, and therapeutic characteristics of GISTs. Methods: We performed a retrospective descriptive study of 28 cases of GIST in the gastroenterology and general surgery departments of M. Djamil General Hospital Padang, Indonesia was conducted from January 2019 to December 2021. Data collection using medical records of patients in M. Djamil General Hospital Padang, Indonesia. We reported different data: Age, sex, symptoms, site, and immunohistochemistry of the tumor.  Results: Our study included 28 patients 18 males (64,3%) and 10 females (35.7%), with a median age range of 51-60 years. The presenting symptoms were abdominal mass (53.6%), abdominal pain (14.3%), bloody or dark-colored stools (14.3%), constipation (7.1%), fatigue (7.1%), and nausea and vomiting in 1 case (3.6%). Sixteen patients (57.1%) had a primary tumor and twelve patients (42.9%) had further metastatic lesions. The tumors were found in the stomach (21.4%), small intestine (14.3%), rectum (14.3%), and in other sites such as the retroperitoneal, liver, and distal pancreas. The immunohistochemical study was performed in seven cases (expression of  CD117 and DOG1), in four cases  CD117 was positive, while in three cases CD117 was negative. In two cases, the expression of DOG1 was positive, while in one case, it was negative. Eighteen patients with GIST (64.3%) underwent surgical procedures. A combination of surgical and chemotherapy was prescribed in 9 patients (32.1%). The chemotherapy regimen prescribed is imatinib. One patient is inoperable and has received symptomatic treatment. Conclusion : In conclusion, our result showed that GISTs are highest in the male population with an age range of 51-60 years. The most common symptom of GISTs is abdominal mass. Patients who have been diagnosed with GIST by histopathological examination do not always show positive expression in the immunohistochemical study. Surgical resection was indicated in the majority of patients, and a combination of surgery and chemotherapy is also prescribed as a treatment for patients with GIST.
Perbedaan Rerata Kadar Albumin Pasien Lupus Eritematosus Sistemik berdasarkan Derajat Aktivitas Penyakit di RSUP Dr. M. Djamil Padang Ulti, Zifa Amanda; Elvira, Dwitya; Firdawati; Efrida; Raveinal; Aliska, Gestina
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1478

Abstract

Latar Belakang: Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit autoimun kompleks yang dapat menyerang berbagai pertahanan sistem tubuh. Penyakit ini berhubungan dengan pembentukkan autoantibodi sehingga dapat menyebabkan inflamasi kronis yang berujung pada kerusakkan jaringan tubuh. Aktivitas Penyakit LES diduga dapat mempengaruhi kadar albumin di dalam tubuh.    Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rerata kadar albumin pasien LES berdasarkan derajat aktivitas penyakit di RS M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross-sectional study. Sampel penelitian berjumlah 59 pasien LES rawat jalan dan rawat inap di RS M. Djamil Padang yang dikumpulkan secara consecutive sampling. Analisis data penelitian menggunakan uji one way annova. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan mayoritas pasien LES berada di rentang usia 26−35 tahun (44,1%), berjenis kelamin perempuan (100%). Lebih dari setengah pasien LES mengalami hipoalbuminemia (76,3%), sebagian besar pasien memiliki derajat aktivitas penyakit sedang (39%). Rerata kadar albumin terendah ditemukan pada pasien dengan derajat aktivitas penyakit berat sebesar 2,25 g/dL. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada rerata kadar albumin pasien LES. Rerata kadar albumin terendah pasien LES ada pada kelompok derajat aktivitas penyakit berat. Rerata kadar albumin tertinggi pasien LES ada pada kelompok derajat aktivitas penyakit ringan.
Korelasi Perubahan Kadar Enzim Superoxide Dismutase dan Ambang Dengar pada Penderita Tumor Ganas Kepala Leher yang Mendapat Kemoterapi Cisplatin Yoanita, Rini; Rosalinda, Rossy; Rahman, Sukri; Aliska, Gestina; Yetti, Husna
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.92

Abstract

Latar Belakang: Cisplatin dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau kombinasi untuk induksi atau terapi neoadjuvan pada tumor ganas kepala leher, memiliki berbagai toksisitas yang membatasi dosis dan bersifat kumulatif, bahwa stria vaskularis merupakan awal cedera yang diinduksi oleh Cisplatin. Cisplatin meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS) di koklea. Superoksida diubah menjadi hidrogen peroksida baik secara spontan maupun melalui superoxide dismutase (SOD). Tujuan penelitian untuk mengetahui korelasi antara perubahan konsentrasi enzim antioksidan SOD dan perubahan ambang dengar penderita kemoterapi dengan Cisplatin pada tumor ganas kepala leher. Metode: Penelitian ini menggunakan pretest-posttest one group design pada penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin dengan dosis 75 mg/m2. Sebelum dilakukan kemoterapi dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah sebagai data awal. Dua minggu sesudah kemoterapi, dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah kembali. Data dianalisis secara statistik dengan program komputer dan dinyatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan peningkatan kadar SOD sesudah diberikan kemoterapi cisplatin dengan signifikansi p<0,05. Terdapat peningkatan nilai ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 500, dan 8000 Hz sesudah kemoterapi dengan signifikansi p<0,05. Terdapat korelasi lemah antara kadar SOD dan ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 2000, dan 4000 Hz, dan korelasi sedang pada frekuensi 500, 1000, dan 8000 Hz. Kesimpulan: Pemeriksaan kadar SOD berkorelasi lemah dan sedang terhadap ambang dengar penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin. Pemeriksaan kadar SOD dapat dijadikan prediktor untuk menilai kondisi stres oksidatif pada kejadian ototoksik sebagai pertimbangan pemberian antioksidan.