Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PEMANFAATAN KARBON AKTIF KULIT PISANG (MUSA PARADISIACA.R) SEBAGAI ADSORBEN UNTUK MENYISIHKAN PADATAN TERLARUT DAN LOGAM BESI (FE) PADA AIR SUNGAI TELLO Sariwahyuni; Yusuf, Andi Asdiana Irma Sari; Khulwa, Sitti Mahdiyah; Latifah
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL Vol 2 No 2 (2023): JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL
Publisher : Politeknik ATI Makassaar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61844/jtkm.v2i2.703

Abstract

Sungai Tallo adalah salah satu sungai dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas yang mendukung kehidupan masyarakat Makassar. Hal ini menyebabkan penurunan kuaitas air Sungai Tallo tidak bisa terhindarkan. Penelitian sebelumnya mengidentifikasi bahwa total padatan terlarut dan kandungan Fe air Sungai Tallo telah tercemar berdasarkan baku mutu air bersih. Salah satu alternatif pengolahan air yang dapat digunakan adalah pemanfaatan karbon aktif dari bahan organik. Bahan organik yang dipilih adalah kulit pisang. Untuk itulah penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan adsorben karbon aktif kulit pisang untuk menyisihkan padatan terlarut dan logam Fe pada air Sungai Tello. Kulit pisang dikarbonisasi dengan furnace pada suhu 350°C selama 30 menit kemudian diayak dengan ukuran 100 mesh, lalu diaktivasi dengan menggunakan HCl 1 N selama 48 jam. Pada penelitian ini dilakukan metode batch menggunakan shaker dengan variasi massa adsorben 0 gr/L, 2 gr/L, 2,5 gr/L, 3 gr/L, 3,5 gr/L, 4 gr/L dengan kecepatan pengadukan 100 rpm selama 60 menit. Parameter yang dianalisis dalam penelitian ini adalah konsentrasi padatan terlarut (mg/L) dan logam Fe (mg/L). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pemanfaatan karbon aktif kulit pisang sebagai adsorben dapat menurunkan padatan terlarut dan Fe sampel. Perlakuan terbaik diperoleh pada konsentrasi 3,5 gr/ L dengan penurunan Fe 41,60%. Sedangkan konsentrasi yang terbaik untuk menurunkan padatan terlarut diperoleh pada perlakuan 4 gr/L dengan penurunan 74,87%. Hasil yang diperoleh untuk kosentrasi Fe, belum memenuhi standar yaitu di bawah 1 mg/L, tetapi untuk konsentrasi padatan terlarut sudah memenuhi standar baku mutu air bersih berdasarkan Permenkes no 3 Tahun 2017 yaitu 1000 mg/L.
PENGARUH PENAMBAHAN KOAGULAN BIJI ASAM JAWA DAN BIJI PEPAYA TERHADAP NILAI CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD), DISSOLVED OXIGEN (DO) DAN PH LIMBAH KOMUNAL PT.KIMA Sariwahyuni; Setyorini, Dwi; Jaelani, Kaerunnisa Nur
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL Vol 3 No 2 (2024): JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL
Publisher : Politeknik ATI Makassaar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61844/jtkm.v3i2.854

Abstract

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PT Kima Makassar bertanggung jawab dalam pengolahan air limbah kawasan industri yang dikelola PT. Kima. Tingginya volume limbah yang diolah dengan nilai COD, DO dan pH yang tidak sesuai dengan baku mutu lingkungan memerlukan alternatif pengolahan yang dapat mengurangi beban kinerja IPAL. Penggunaan koagulan alami dalam proses pengolahan air limbah merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan. Koagulan alami memiliki sifat yang biodegradable, ramah lingkungan, aman terhadap kesehatan manusia dan ekonomis. Alternatif koagulan alami yang dapat digunakan adalah biji asam jawa dan biji pepaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan koagulan biji asam jawa dan biji pepaya terhadap nilai COD, DO dan pH limbah komunal PT. KIMA.  Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa penambahan koagulan biji asam jawa dan biji pepaya berpengaruh terhadap penurunan nilai COD dan pH serta peningkatan nilai DO. Perlakuan terbaik diperoleh pada dosis koagulan 1:3, dimana nilai COD sebesar 21.04 mg/L dan nilai DO sebesar 3.84 mg/L. Sedangkan untuk pH, hasil terbaik ditunjukkan pada perlakuan 1 vs 4 dengan pH 7,01. Nilai BOD, DO dan pH ini  telah memenuhi baku mutu air berdasarkan Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun 2020 dan kebijakan yang diprasyaratkan oleh PT. KIMA.
Pengaruh Konsentrasi H2SO4 Dan HCl Dalam Pembuatan Silika Gel Dari Daun Bambu Untuk Adsorpsi Logam Besi (Fe) Yusuf, Andi Asdiana Irma Sari; Sariwahyuni, Sariwahyuni; Nuria, Astuti Sinta; Tumanan, Katrina Yanti; Aksan, Andi Ariatmasanti; Ratnasari, Ratnasari
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 8 No. 1 (2023): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33536/jcpe.v8i1.761

Abstract

Daun bambu mengandung silika cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan silika gel, yang banyak dimanfaatkan dalam proses adsorpsi. Salah satu adsorpsi yang sering dilakukan yaitu adsorpsi logam besi (Fe) dalam air. Air dengan kandungan logam besi (Fe) yang tinggi berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup. Penelitian ini dilakukan untuk pembuatan silika gel dari daun bambu sebagai adsorben logam besi (Fe) pada air, melalui tahap pengabuan, pembuatan natrium silikat, dan pembentukan gel serta analisis efesiensi adsorpsi logam besi (Fe). Pembuatan silika gel menggunakan katalis HCl dan H2SO4 dengan konsentrasi 0.5 M, 1 M, 1.5 M, 2 M, dan 2.5 M kemudian digunakan dalam penyerapan logam besi (Fe). Hasil penelitian menunjukkan efisiensi adsorpsi logam besi (Fe) oleh silika gel dengan katalis H2SO4 0.5 M, 1 M, 1.5 M, 2 M, dan 2.5 M sekitar 70,86 - 99,82% dengan hasil tertinggi pada konsentrasi 2.5 M sedangkan pada penggunaan HCl dengan variasi konsentrasi sama diperoleh efisiensi adsorpsi logam besi (Fe) 71,75 - 98,05% dan diperoleh hasil terbaik pada konsentrasi 0.5 M. Dengan demikian, variasi terbaik diperoleh dari Silika gel-HCl 0.5M karena dengan hanya menggunakan konsentrasi asam yang rendah diperoleh efisiensi adsorbsi yang tinggi.
Delignification of Lignocellulosic Content of Sugarcane Bagasse (Saccarum officinarium) with Variations in Size and Pretreatment Time Yusuf, Andi Asdiana Irma Sari; Abadi, Sakinah Islamiati; Sariwahyuni
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 9 No. 2 (2024): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/jcpe.v9i2.976

Abstract

Sugarcane bagasse (Saccarum officinarium) is a byproduct of the sugar production process and holds potential as a raw material for bioethanol production due to its lignocellulose content. Lignocellulose contains important components such as cellulose, hemicellulose, and lignin. This study focuses on the delignification of sugarcane bagasse (Saccarum officinarium) through a combination of mechanical and autoclave treatments, with variations in particle size and heating time. The goal of this study is to reduce the lignin content and increase the proportion of cellulose and hemicellulose, key components for producing valuable products  for instance bioethanol. In this research, sugarcane bagasse was processed with particle sizes of 60, 70, and 80 mesh, and heated in an autoclave for 30, 45, and 60 minutes. The Chesson-Datta method was used to analyze the lignocellulose content of the bagasse after the delignification process. The results showed that the best outcome was achieved with a particle size of 80 mesh and a heating time of 60 minutes, yielding the lowest lignin content at 14.27%, while cellulose and hemicellulose reached 44.3% and 26.75%, respectively. This indicates that variations in particle size and heating duration significantly affect the effectiveness of the delignification process. Optimizing these two parameters is crucial for increasing cellulose and hemicellulose content while reducing lignin. Further research is expected to develop more effective pretreatment techniques to enhance the efficiency of sugarcane bagasse biomass conversion for industrial applications
Sosialisasi Pengolahan Limbah Roti Menjadi Pakan Ternak Pada UMKM Roti Achmad Qodim Syafaatullah; Sariwahyuni; Dwi Setyorini; Melani Ganing; Frabowo Prasetia
TAAWUN Vol. 3 No. 02 (2023): TA'AWUN AUGUST 2023
Publisher : Pusat Penelitian Pengabdian Pada Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Fattah Siman Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37850/taawun.v3i02.507

Abstract

The waste generated from the bread-making process has not been utilized optimally. The waste generated from SMEs making bread is only disposed of into the environment. Therefore, to make use of waste to reduce the amount of waste that is disposed of or to provide added value that can be used as a by-product. The method of processing leftover bread from leftover expired bread that is not utilized is fermented into animal feed that can be given to livestock. The target of this dedication is Bread MSME employees in Sumba Opu District, Gowa Regency. There are 3 stages in the implementation of community service operations, namely preparation, implementation, and evaluation. Preparation is carried out by providing raw materials for processing leftover bread left over from soaking bread, mixing with EM4 and granulated sugar, adding bran and meat concentrate, and fermenting. Implementation was carried out by providing opportunities for several participants to ask questions and review the presentations that had been made. The assessment was carried out by filling out a questionnaire given to participants.
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT SEMANGKA DAN RAMBUTAN SEBAGAI INHIBITOR KOROSI BAJA Al Adawiyah, Syardah Ugra; Sariwahyuni, Sariwahyuni; Amin, Idi; Junianti, Fitri; Ratnasari, Ratnasari
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL Vol 4 No 2 (2025): JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL
Publisher : Politeknik ATI Makassaar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61844/jtkm.v4i2.1223

Abstract

Korosi pada logam dapat menimbulkan kerusakan serius pada infrastruktur maupun mesin industri, sehingga berdampak pada kerugian ekonomi. Salah satu upaya yang banyak digunakan untuk menekan laju korosi adalah pemakaian inhibitor. Inhibitor anorganik memang efektif, namun berpotensi menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif ramah lingkungan berupa inhibitor organik, misalnya yang berasal dari limbah kulit semangka dan kulit rambutan. Kedua bahan ini memiliki kandungan antioksidan yang mampu menghambat proses korosi sehingga berpotensi besar digunakan sebagai inhibitor alami. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan limbah kulit semangka dan kulit rambutan sebagai inhibitor korosi serta menganalisis pengaruh variasi komposisi ekstraknya terhadap laju korosi baja. Variasi Komposisi yang digunakan adalah  (100% kulit semngka), (25%:75%), (50%:50%), (75%:25%), (100%: kulit rambutan). Metode gravimetri digunakan  untuk proses ekstraksi maupun pengukuran laju korosi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit semangka dan kulit rambutan mampu menghambat korosi dengan baik. Komposisi 75% kulit rambutan dan 25% kulit semangka (sampel D) memberikan hasil paling optimal, dengan efisiensi inhibisi sebesar 81,84% dan laju korosi terendah sebesar 0,1595 mmpy.
PIROLISIS TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS BIOCHAR Ganing, Melani; Sariwahyuni, Sariwahyuni; Kartika, Amelia Ayu; Yusuf, Andi Asdiana Irma Sari; Amin, Idi; Masnawati, Masnawati
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL Vol 4 No 2 (2025): JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL
Publisher : Politeknik ATI Makassaar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61844/jtkm.v4i2.1228

Abstract

Salah satu produk sampingan yang belum dimanfaatkan dari proses ekstraksi minyak sawit adalah tandan buah kelapa sawit kosong (TKKS). Pirolisis merupakan salah satu teknik konversi termokimia yang dapat digunakan untuk memanfaatkan limbah TKKS sehingga dapat menghasilkan biochar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengolah TKKS menjadi produk yang bernilai melalui proses pirolisis sederhana serta membandingkan karakteristik biochar dari TKKS kering dan segar. Parameter yang diuji meliputi pH, kadar air, kadar abu, dan nilai N, P, K. Diharapkan bahwa penelitian ini akan membantu dalam pengembangan sumber energi terbarukan dan memberikan solusi untuk pengolahan limbah kelapa sawit yang efisien. Selain perbedaan antara sampel TKKS segar dan kering, suhu pirolisis yang digunakan adalah antara 300 - 400°C selama 1 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TKKS dapat di pirolisis untuk menghasilkan biochar yang dapat dimanfaatkan. Dibandingkan dengan TKKS kering (31,29%), TKKS segar menghasilkan biochar lebih sedikit (14,43%). Dibandingkan dengan TKKS segar, biochar yang terbuat dari TKKS kering mengandung lebih banyak N (0,78%), P (0,09%), dan K (0,72%). Hal ini menunjukkan bahwa TKKS memiliki potensi besar sebagai bahan baku untuk produk terbarukan dan energi alternatif.
Fabrication of Hydrophobic Graphene-Cellulose Composite Paper Using Rice Husk Ash Silica Sariwahyuni; Herlina Rahim; Hanim Istatik Badi'ah; Andi Haslinah; Mega Fia Lestari
Science Journal Get Press Vol 2 No 4 (2025): October, 2025
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/science.v2i4.233

Abstract

This study presents the fabrication and characterization of a sustainable graphene–cellulose composite paper reinforced with rice husk ash (RHA)–derived amorphous silica. Silica was extracted via alkaline leaching–acid precipitation, yielding a porous, high-purity amorphous phase well-suited for reinforcement. Composite papers were prepared by incorporating varying loadings of graphene nanoplatelets (0.5–2 wt%) and silica (5–15 wt%) into cellulose pulp, followed by ultrasonication, vacuum filtration, and hot pressing. Structural and morphological analyses (FTIR, XRD, SEM) confirmed effective dispersion and strong filler–matrix interactions. The incorporation of graphene and silica significantly enhanced surface hydrophobicity, raising the water contact angle from 62.5° for neat cellulose to 152.7°—indicative of a near-superhydrophobic state. Mechanical testing revealed an optimal formulation (1 wt% graphene + 10 wt% silica) that improved tensile strength by 42% and Young’s modulus by 36% compared to neat cellulose. Higher filler concentrations slightly reduced tensile strength due to filler agglomeration. This work demonstrates a valorization pathway for low-cost agricultural residues to produce eco-friendly composite materials with superior mechanical and surface properties, suitable for applications in packaging, filtration, or protective coatings.