Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Integrated flood hazard assessment using multi-criteria analysis and geospatial modeling Ariyani, Dwi; Purwanto, Muh. Yanuar Jarwadi; Sunarti, Euis; Perdinan, Perdinan; Juniati, Atie Tri
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 11 No. 4 (2024)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2024.114.6121

Abstract

Floods are one of the most prevalent disasters worldwide, including in the capital city of Indonesia. Multi-criteria decision analysis is combined with Geographic Information Systems to produce a mapping of flood hazard areas. The weighting for each parameter is based on six criteria: rainfall, slope gradient, topography, soil type, land cover, and distance from rivers. The flood hazard map is validated using inundation data from the Regional Disaster Management Agency for the years 2015 and 2020. From the general analysis, it can be determined that the parameter most influencing floods is rainfall with a weight of 0.270, followed by slope gradient at 0.164, topography at 0.124, soil type at 0.096, land cover at 0.190, and distance from rivers at 0.155. Therefore, through mapping using QGIS, it is revealed that in 2002, highly flood hazard areas comprised 20.99% of the total Ciliwung Watershed area, which increased to 24.31% in 2020. The validation of the flood hazard map was conducted by recording the coordinate points of flood incidents in 2015 and 2020, revealing that the affected areas within the Ciliwung Watershed occurred in high to very high vulnerability zones. This research demonstrates that flood events in the study area occurred in high to very high flood hazard zones. The results of this study are considered valuable and important for providing accurate information to local governments to develop cost-effective and efficient strategies in dealing with potential flood hazards.
Quo Vadis Teluk Jakarta Yonvitner; Agus, Syamsul Bahri; Perdinan; Budiman, Mukhammad Asyief Khasan; Sahibuddin, Muhammad Qustam; Akmal, Surya Genta; Rudiyanto, Bambang Yudho
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 1 No 1 (2019): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0101.1-6

Abstract

Teluk Jakarta merupakan salah satu kawasan strategis di DKI Jakarta yang sarat dengan aktivitas dan persoalan. Salah satu persoalan yang menonjol saat ini adalah pemanfaatan ruang untuk reklamasi. Perjalanan rencana reklamasi yang terjadi ternyata tidak sepenuhnya sesuai harapan, karena berbagai persoalan terkait legalitas yang kemudian mengacu pada UU belum sepenuhnya terpenuhi. Keberadaan masyarakat sekitar lokasi reklamasi belum terakomodasi dengan baik, serta rencana pemanfaatan dan peruntukan ruang area reklamasi belum tuntas dalam rencana tata ruang. Status sumberdaya hayati dan ekosistem di sekitar lokasi yang menunjukkan tren perubahan dari waktu ke waktu karena tekanan pemanfaatan ruang. Berbagai kepentingan dalam hal ini kemudian mendorong perlunya sebuah solusi komprehensif dalam pengelolaan kedepan yang lebih baik dan berkeadilan. Model pengelolaan terpadu dengan tetap memberikan peran kepada pemerintah sebagai pengendali utama akan sangat baik, sehingga semua kepentingan dapat terakomodasi dengan baik.
Strategi Mitigasi Urban Heat Island (UHI) di Kawasan Metropolitan Sari, Dyah Lukita; June, Tania; Hidayat, Rahmat; Perdinan; Hanggoro, Wido; Arifin, Hadi Susilo
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 6 No 2 (2024): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0602.838-843

Abstract

Kekhawatiran terhadap paparan suhu tinggi dalam jangka waktu lama yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan manusia, produktivitas dan infrastruktur terjadi di banyak negara berkembang terutama yang terletak di wilayah tropis. Kawasan metropolitan menghadapi risiko tambahan akibat dampak UHI ini dikarenakan kondisi kepadatannya, dan desain pemukiman yang tidak terencana. Sementara itu, penduduknya kurang mempunyai kemampuan finansial untuk memitigasi dampak. Kemampuan untuk menghindari, mengelola dan membangun ketahanan terhadap dampak UHI di masa depan akan tergantung pada keputusan yang diambil saat ini. Policy brief ini menyoroti peluang-peluang utama untuk mitigasi UHI dalam bidang perencanaan kota, energi, dan penghijauan diantaranya dengan instalasi permukaan reflektif (cool roof, cool pavement, dan cool wall) serta infrastruktur hijau (green roof dan kanopi tanaman). Desain perkotaan dan investasi infrastruktur, kesenjangan sosial ekonomi, dan risiko perubahan iklim harus dikelola secara bersamaan. Tindakan yang diperlukan termasuk mereformasi standar bangunan, melakukan tinjauan kerentanan, dan berinvestasi pada infrastruktur yang dibangun untuk menahan serta meminimalkan paparan panas guna mewujudkan “cool city”, kota yang lebih sejuk.
TEMPUNG MATEI BILEI: SALAH SATU DELIK ADAT REJANG LEBONG DI BENGKULU Lestari, Putri; Istaviolani, Silva; Rahmadhani, Rizki Ayu; Perdinan, Perdinan; Yana, Sumayah Fitri
Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan Vol. 11 No. 3 (2025): Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3783/causa.v11i3.11814

Abstract

Tempung Matei Bilei is a traditional tradition that has deep meaning in the lives of the Bengkulu community, especially Rejang Lebong Regency. This ceremony functions as a means to honor ancestors, strengthen social ties, and preserve local culture. This journal discusses the understanding, implementation, meaning, and challenges in preserving Tempung Matei Bilei, as well as recommendations for maintaining its sustainability in the future. The purpose of the study is to determine the cultural value system of the Rejang Lebong community related to the implementation of Tempung Matei Bilei and also to determine the influence of tempung batei bilei on the social conditions of the community in Rejang Lebong. This article will use a qualitative approach and the type of research is a literature review. Data sources use secondary data from published research results, online media coverage, scientific journals, books, and documents that are related to the problems in this study. The data obtained will be analyzed using a descriptive method. Tempung Matei Bilei adalah tradisi adat yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Bengkulu khususnya Kabupaten Rejang Lebong. Upacara ini berfungsi sebagai sarana untuk menghormati leluhur, memperkuat ikatan sosial, dan melestarikan budaya lokal. Jurnal ini membahas pengertian, pelaksanaan, makna, serta tantangan dalam pelestarian Tempung Matei Bilei, serta rekomendasi untuk menjaga keberlanjutannya di masa depan. Tujuan Penelitian ntuk mengetahui sistem nilai budaya masyarakat Rejang Lebong yang berkaitan dengan pelaksanaan Tempung Matei Bilei dan juga untuk mengetahui pengaruh Tempung Matei Bilei terhadap kondisi sosial masyarakat di Rejang Lebong. Artikel ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian adalah kajian literatur. Sumber data menggunakan data sekunder dari hasil penelitian yang dipublikasikan, pemberitaan media daring, jurnal ilmiah, buku- buku, dan dokumen yang memiliki keterkaitan dengan masalah pada penelitian ini. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan metode deskriptif.
Study of Urban Temperature Profiles on Various Land Covers in The Greater Jakarta Region, Indonesia Fauzi, Rahmad; Arifin, Hadi Susilo; Perdinan
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 15 No 2 (2025): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.15.2.243

Abstract

Jabodetabek telah berkembang dari daerah kota kecil dan terpisah menjadi kota metropolitan yang lebih besar dan terpadu. Saat ini, Jabodetabek telah menjadi kota terbesar di Indonesia dan memainkan peran penting dalam aspek sosial, ekonomi dan politik. Namun, kurangnya kemampuan perencanaan dalam hal pengelolaan kawasan yang semakin kompleks perlu ditanggapi secara serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil suhu perkotaan, klasifikasi tutupan lahan di Jabodetabek, dan analisis albedo permukaan. Pertama, profil suhu dianalisis menggunakan data perubahan suhu diurnal dan suhu harian selama sembilan tahun. Kedua, klasifikasi tutupan lahan dianalisis menggunakan dataset citra Landsat 7 ETM+ dan Landsat 8 OLI/TIRS. Ketiga, analisis albedo permukaan dilakukan dengan menggunakan paduan data spasial dan karakteristik tutupan lahan yang diperoleh sebelumnya. Hasil profil suhu menunjukkan bahwa daerah perkotaan memiliki periode pendinginan yang lebih lambat dibandingkan dengan daerah pinggiran kota. Proses klasifikasi menghasilkan tujuh kelas tutupan lahan dengan tingkat akurasi sebesar 80,95% (2010) dan 83,33% (2018), koefisien kappa masing-masing sebesar 0,74 (2010) dan 0,77 (2018). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terjadi perluasan wilayah perkotaan sejak tahun 2010. Distribusi nilai albedo permukaan berturut-turut dari tinggi ke rendah yaitu lahan terbangun, rumput/semak, vegetasi, badan air, dan tanah lembap/tambak. Disamping itu, albedo permukaan dan suhu udara memiliki korelasi positif terhadap perubahan tutupan lahan. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya R-square antara albedo dan tutupan lahan (0,84 dan 0,90) dan antara suhu udara dan tutupan lahan (0,59 dan 0,63). Dengan kata lain, perubahan tutupan lahan dapat meningkatkan nilai albedo dan suhu udara.
Puting beliung: Understanding Indonesia's small-scale tornadoes and the path forwardA literature review Kiki, Kiki; Koesmaryono, Yonny; Hidayat, Rahmat; Permana, Donaldi Sukma; Perdinan, Perdinan
International Journal of Disaster Management Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : TDMRC, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/ijdm.v8i1.42056

Abstract

Puting beliung (PB), a tornado-like event in Indonesia, poses significant threats to communities and infrastructure, yet research on their characteristics and impacts remains limited. This study systematically reviews the progress of PB research in Indonesia through an analysis of 58 relevant studies, focusing on geographical distribution, characteristics, impacts, and mitigation efforts. Using Google Scholar as the primary search engine for scientific journal retrieval and implementing the PRISMA methodology for systematic literature review, this study ensures a comprehensive and structured analysis of existing research. Findings indicate that PB events predominantly occur in Java, with notably fewer documented cases in eastern Indonesia. These events are influenced by atmospheric conditions and spatiotemporal patterns, with psychological and structural impacts on affected communities. Existing mitigation strategies, including early warning systems, show promise but face challenges in public engagement and coordination, particularly in post-disaster recovery phases. The review highlights the need for integrating advanced technologies such as remote sensing and machine learning to improve prediction accuracy and develop a comprehensive PB event database. By synthesizing existing research, this study identifies and underscores the necessity for more extensive investigations, particularly under-research regions. Future research should prioritize improving forecasting models, expanding the geographical scope of studies, and enhancing disaster management strategies to minimize PB-related risks. Strengthening public awareness and response mechanisms is crucial to reducing vulnerabilities and improving resilience.
Flood Management Strategy Based on Analysis of Regional Characteristics and Causal Factors in Kendari City Agus Sakawuna, Wandira; Indra Setiawan, Budi; Perdinan
Agromet Vol. 39 No. 1 (2025): JUNE 2025
Publisher : PERHIMPI (Indonesian Association of Agricultural Meteorology)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j.agromet.39.1.56-66

Abstract

Flooding is a disaster that causes environmental damage, economic losses, and social problem. Kendari City is one of the Indonesian cities that frequently experiences floods due to various factors, including high rainfall, land use changes, poor drainage conditions, and improper spatial management. This study aims to (1) assess the factors contributing to flooding, (2) analyze government governance and community participation in flood management, and (3) formulate an integrated flood management strategy. The methods used were descriptive analysis, spatial approach, SWOT analysis, and Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). The results showed that there is evidence of land use changes between 2013 – 2023 based on spatial image analysis. We found there were three sub-districts, which is categorized on high flood vulnerability namely Baruga, Kadia, and Kambu sub-districts. Based on the level of community preparedness parameters including knowledge and attitudes, emergency plans, early warning, and resource mobilization, Baruga belongs to the medium category (74.60%), while Kambu (57.42%) and Kadia (59.58%) were in low category. QSPM analysis recommends two priority strategies to reduce flood vulnerability namely accelerating drainage system improvements and replicating the Baruga model in other areas. Future research should focus on climate change-induced flood modeling, gender-sensitive vulnerability assessments, and economic loss estimation to enhance the effectiveness of flood management strategies.
Spatiotemporal Characteristics and Trend of Puting Beliung Across the Indonesian Archipelago Kiki, Kiki; Koesmaryono, Yonny; Hidayat, Rahmat; Perdinan, Perdinan; Permana, Donaldi Sukma
Indonesian Journal of Geography Vol 57, No 2 (2025): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijg.103901

Abstract

Puting beliung (PB), or small-scale tornado, is a significant and under-researched extreme weather phenomenon in Indonesia, often causing severe damage to infrastructure and posing risks to public safety despite their brief localized nature. Therefore, this research aimed to examine spatial and temporal patterns and trends of PB events across Indonesia from 2011 to 2024, applying statistical analysis, geospatial mapping, and the Mann-Kendall trend test to a database of 2,434 PB events. The results showed that PB events primarily cluster in western and central regions, specifically on Java Island, and the highest frequencies were observed in East Java, West Java, and Central Java. These events typically occur in low-lying zones (0–500 meters above sea level), affecting agricultural and residential land in flat terrain. Temporally, most PB arises in the afternoon (1:00–3:00 pm local time), with peak frequencies in January, March, and November, coinciding with Indonesian monsoonal and transitional seasons. A trend analysis shows a statistically significant nationwide yearly increase of approximately 12 PB events, with 8 provinces exhibiting notable upward patterns. When compared to other PB-prone nations, Indonesia records a higher annual PB frequency than Japan, Australia, and Bangladesh, but remains well below the United States. The novelty of this research lies in its long-term, nationwide dataset and thorough spatiotemporal assessment, providing the first comprehensive examination of PB trends at national and provincial scales in Indonesia. These results provide crucial insights for disaster risk mapping, mitigation strategies, and early warning systems.
Analisis Analisis Neraca Air di Pulau Jawa-Bali sebagai Upaya Antisipasi Krisis Air: Water Balance Analysis at Java-Bali Island for Anticipating Water Crisis Chairunnisa, Nurul; Arif, Chusnul; Perdinan; Wibowo, Arif
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 6 No. 2: Agustus 2021
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jsil.6.2.61-80

Abstract

Water is one of the basic necessities used by living things on this earth. Along with the population growth with climate change, there are several cases of water crisis in Java and Bali, especially in the dry season. The purpose of this research is to project water demand and availability based on climate change scenarios, develop an analysis model for the impact of climate change on the water sector based on the water balance, and calculate environmental economic losses resulting from water deficit losses. The type of scenario used in climate analysis is RCP (Representative Carbon Pathway) 4.5 with two types of models. Provinces experiencing very critical water conditions in the 2021-2050 period using the CSIRO model are DKI Jakarta, East Java and Bali, with water criticality indexes of 296.25%, 113.88% and 123.64%, with a water deficit loss of IDR 1.2 billion, IDR 7.93 billion and IDR 0.87 billion. Whereas with the MIROC model, the areas that have very critical water conditions are DKI Jakarta Province with a water criticality index of 220.36%, with a water deficit loss of IDR 0.42 billion.
Vertical Garden Identification and Plant Species Diversity of Urban Green Space in Banda Aceh City, Indonesia Yahya, Rizka Ora Aurora; Arifin, Hadi Susilo; Perdinan, Perdinan
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 14 No 3 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.14.3.534

Abstract

Tren berkebun non-horizontal yang disebut “taman vertikal” menerapkan pertumbuhan tanaman pada berbagai media dinding dan/atau permukaan vertikal lainnya. Di Kota Banda Aceh, inovasi penghijauan kota ini mulai menjadi tren karena mendongkrak estetika bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur jumlah vertical garden yang terdapat di Kota Banda Aceh dan mengkaji preferensi masyarakat terhadap desain dan ragam tanaman yang diaplikasikan pada taman vertikal tersebut. Penelitian ini dilakukan di 9 kecamatan di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, Indonesia pada bulan Januari hingga September 2022. Metode penelitian meliputi survei eksploratif ke seluruh kota dengan cara mencatat dan mendokumentasikan taman vertikal di berbagai ruang publik, organisasi swasta dan publik, perumahan penduduk, hotel, tempat ibadah, berbagai bisnis kuliner dan kafetaria. Data preferensi taman dikumpulkan dan dianalisis menggunakan metodologi deskriptif, kemudian rumus Shannon-Wiener digunakan untuk menghitung indeks keanekaragaman spesies. Dari total 166 kebun yang terdokumentasi dan 150 sampel lokasi pengamatan taman vertikal ditemukan 66 jenis spesies tanaman yang diaplikasikan. Perumahan adalah lokasi yang paling sering mengaplikasikan taman vertikal. Ficus pumilla (dollar creeper) merupakan tanaman yang paling sering digunakan oleh masyarakat, dan fasad hijau merupakan desain taman yang paling umum diterapkan. Di sembilan kecamatan, indeks keanekaragaman tertinggi terdapat di Kecamatan Syiah Kuala dengan H' 2,9 dan indeks keanekaragaman terendah terdapat di Kecamatan Kuta Raja dengan H' 1,2. Berdasarkan fungsi tumbuhan: 44 jenis tumbuhan merupakan tanaman hias, 13 jenis tanaman berbunga, 7 jenis tanaman berbuah, dan 3 jenis tanaman herba.