Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Growth and Survival Rate of Tilapia (Oreochromis niloticus) Given Acanthaster planci Based Feed safir, muhammad; Mansyur, Kasim; Serdiati, Novalina; Mangitung, Septina F; Tamrin, Fachri Ramadhan
Journal Omni-Akuatika Vol 18, No 1 (2022): Omni-Akuatika May
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.oa.2022.18.1.906

Abstract

Crown of thorns star (Acanthaster planci) is one of the aquatic organisms that contains protein and amino acids similar to fish meal, and has not been used properly for feed ingredients. This research was conducted to examine A planci flour as a feed ingredient on the growth of tilapia. The research method was a completely randomized design, consisting of 4 treatments with doses of A planci flour, 7 %, 14 %, 21 % and 0 % (control), given three replications. The results showed growth (daily growth rate and biomass increase) of 3.84 %, 3.81 %, 4.00 %, and 4.21 % per day, and 61.00 g, 49.33 g, 54.33 g, and 52.67 g. This growth did not show any difference between treatments (P>0.05). Feed consumption ranged from 129.20 g – 132.24 g (P>0.05). Feed conversion ratio and survival rates ranged from 2.13 – 2.75 and 94.44 % - 100.00 % (P>0.05). A. planci flour can be used up to 21 % as a source of protein for feed ingredients in minimizing fish meal as feed ingredients. 
PERFORMA PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN CAPUNGAN BANGGAI (Pterapogon kauderni) PADA MIKROHABITAT YANG BERBEDA Rahman, Samsu Adi; Safir, Muhammad
OCTOPUS: JURNAL ILMU PERIKANAN Vol. 7 No. 2 (2018): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v7i2.2462

Abstract

Ikan capungan banggai (Pterapogon kauderni) dikenal sebagai Banggai cardinal fish (BCF) merupakan ikan endemik perairan kepulauan Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Tingginya jumlah ikan P.kauderni yang diperdagangkan menyebabkan kelestarian ikan ini terancam punah. Salah satu upaya dalam mengatasi masalah tersebut adalah mengoptimalkan kegiatan budidayanya. Penggunaan mikrohabitat yang sesuai dalam pemeliharaan ikan BCF akan memberikan performa pertumbuhan yang lebih baik. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan jenis mikrohabitat terbaik dalam mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan P. kauderni pada media pembesaran. Jevenil ikan P. kauderni (bobot 0.42±0.5 g, dan panjang 1.5±0.3 cm) merupakan hasil tangkapan dari alam. Sebanyak delapan ekor ikan dipelihara dalam setiap kerambah jaring apung yang telah diberi masing-masing dua pieces mikrohabitat (bulubabi, anemon, karang). Hal yang sama untuk perlakuan kontrol namun tanpa mikrohabitat. Setiap perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan harian, pertambahan biomassa dan kelangsungan hidup antar perlakuan mikrohabitat tidak berbeda secara signifikan (P>0.05), namun lebih tinggi dibandingkan kontrol (P<0.05). Mikrohabitat yang terbaik untuk pembesaran ikan P. kauderni adalah jenis bulubabi (Deademasitosum). Ikan capungan banggai (Pterapogon kauderni) dikenal sebagai Banggai cardinal fish (BCF) merupakan ikan endemik perairan kepulauan Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Tingginya jumlah ikan P.kauderni yang diperdagangkan menyebabkan kelestarian ikan ini terancam punah. Salah satu upaya dalammengatasi masalah tersebut adalah mengoptimalkan kegiatan budidayanya. Penggunaan mikrohabitat yangsesuai dalam pemeliharaan ikan BCF akan memberikan performa pertumbuhan yang lebih baik. Tujuan daripenelitian ini adalah menentukan jenis mikrohabitat terbaik dalam mendukung pertumbuhan dankelangsungan hidup ikan P. kauderni pada media pembesaran. Jevenil ikan P. kauderni (bobot 0.42±0.5 g,dan panjang 1.5±0.3 cm) merupakan hasil tangkapan dari alam. Sebanyak delapan ekor ikan dipelihara dalamsetiap kerambah jaring apung yang telah diberi masing-masing dua pieces mikrohabitat (bulubabi, anemon,karang). Hal yang sama untuk perlakuan kontrol namun tanpa mikrohabitat. Setiap perlakuan diulang tiga kali.Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan harian, pertambahan biomassa dan kelangsungan hidup antarperlakuan mikrohabitat tidak berbeda secara signifikan (P>0.05), namun lebih tinggi dibandingkan kontrol(P<0.05). Mikrohabitat yang terbaik untuk pembesaran ikan P. kauderni adalah jenis bulubabi (Deademasitosum).
SUPLEMENTASI HORMON 17-α Methyltestosterone PADA PAKAN DALAM MENINGKATKAN PERSENTASE JANTAN IKAN NILA MERAH Oreochromis sp. Safir, Muhammad
OCTOPUS: JURNAL ILMU PERIKANAN Vol. 7 No. 2 (2018): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v7i2.2467

Abstract

Ikan nila merupakan salah satu ikan air tawar ekonomis indonesia. Pemeliharaan ikan nila relatif mudah namun untuk mencapai ukuran tertentu relatif sulit untuk dicapai karena ikan nila cepat mengalami matang gonad. Hal ini berdampak pada pertumbuhan yang lambat. Upaya yang dapat dilakukan adalah penerapan seks reversal melalui metode oral. Penelitian ini mengaplikasikan empat perlakuan termasuk kontrol. Perlakuan yang diujikan adalah lama waktu pemberian pakan (0;14;21 dan 28 hari) yang diberi hormon 17α- Methyltestosterone (17α-MT) dengan dosis 30 mg/kg pakan. Kepadatan setiap ulangan adalah 45 ekor/akuarium. Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan harian, pertambahan biomassa, tingkat konsumsi pakan tidak berbeda secara signifikan (P>0.05). Kelangsungan hidup tertinggi terjadi pada perlakuan lama pemberian 28 hari. Rasio jantan tidak berbeda nyata (P>0.05) antar semua perlakuan 17α-Methyltestosterone namun lebih tinggi dari kontrol (P<0.05). Persentase jantan yang lebih tinggi dapat diperoleh dengan pengaplikasian MT melalui pakan dengan lama waktu pemberian 28 hari. 
PENGARUH PERENDAMAN HORMON 17α-methyltestosteron DAN SUHU YANG BERBEDA TERHADAP PERSENTASE KELAMIN JANTAN DAN PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN BANGGAI CARDINAL (Pterapogon kauderni) Safir, Muhammad; Rukka, Andi Heryanti; Mangitung, Septina F.; Sambaeni, Daniel
OCTOPUS: JURNAL ILMU PERIKANAN Vol. 9 No. 2 (2020): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v9i2.7067

Abstract

Ikan Banggai kardinal (Pterapogon kauderni) merupakan jenis ikan hias air laut endemik yang ada di Sulawesi Tengah. Eksploitasi secara masif menyebabkan jumlah ikan P. kauderni di alam semakin menurun. Ikan P. kauderni jantan bersifat parental care dalam kegiatan reproduksinya sehingga dalam peningkatan kualitas benih dan kegiatan reproduksinya dibutuhkan jumlah induk jantan yang lebih banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari perlakuan kombinasi hormon 17α-methyltestosteron (MT) dengan suhu melalui perendaman larva P. kauderni dalam menghasilkan persentase kelamin jantan yang tinggi. Perlakuan yang diujikan yakni; A) perendaman larva P. kauderni pada suhu 28˚C tanpa hormon MT (NMT+suhu 28˚C); B) perendaman larva P. kauderni pada suhu 28˚C dan hormon MT (MT+suhu 28˚C); C) perendaman larva P. kauderni pada suhu 34˚C tanpa MT (NMT+suhu 34˚C); D) perendaman larva P. kauderni pada suhu 34˚C dan hormon MT (MT+suhu 34˚C), masing-masing dengan lama perendaman 4 jam. Hasil penelitian menunjukkan persentase jantan P. kauderni lebih tinggi (P<0,05) pada semua perlakuan MT dengan suhu 28˚C dan 34˚C dibandingkan dengan perlakuan tanpa MT pada suhu 28˚C. Laju pertumbuhan harian lebih tinggi pada perlakuan MT dan NMT pada suhu 34˚C (P<0,05) dibandingkan perlakuan lainnya. Pertambahan biomasa dan kelangsungan hidup tidak berbeda untuk semua perlakuan. Kesimpulan, perendaman kombinasi hormon 17α-methyltestosteron dan suhu yang berbeda meningkatkan persentase kelamin jantan, ikan Banggai cardinal (P. kauderni).
Initial study of population and microhabitat of the Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) in Bilalang Bay, Banggai Regency Rahman, Samsu Adi; Djiada, Herdiyanto; Suhermanto, Achmad; Safir, Muhammad
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica, Vol. 11: No. 3 (December, 2024)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v11i3.16488

Abstract

The Banggai cardinalfish is an endemic fish in Banggai waters which is experiencing a population decline caused by excessive exploitation and degradation of its microhabitat. This research aims to determine the population of the Banggai cardinalfish and its microhabitat in Bilalang Bay. The research was conducted from January to February 2023 in Bilalang Bay, Banggai Regency, Central Sulawesi. Research data collection used the Underwater Visual Survey (UVS) method using a 20mx5m belt transect (2.5m left and right of the transect rope) at five observation stations. Observations made included recruits (<25 mm) Total Length, juveniles (25-60 mm), and adults (>60 mm). The results of observations of the population and density of the Banggai cardinalfish differ based on five observation stations. The highest population of the Banggai cardinalfish is found at location II with a total population of 4,412 fish, consisting of 2,510 adult size fish, 1,800 juvenile size fish, and 102 recruit size fish, with a density of adults 21.1 ind/m2, juvenile density 8 ind/m2, and recruit density 0.5 ind/m2. Meanwhile, the highest population based on size is adult size. The recruitment stage of the Banggai cardinalfish is only found in stations 1, 2, and 3, with microhabitats of sea urchins and anemones. The Banggai cardinal fish has the highest population at station 2.Keywords: Endemic; Banggai cardinalfish; Microhabitat; Population; Bilalang Bay
PERSENTASE JANTAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) HASIL PERENDAMAN DENGAN EKSTRAK DAUN SENGGANI (Melastoma candidum) DOSIS BERBEDA Safir, Muhammad; Ghandi, Indira; Serdiati, Novalina; Madinawati, Madinawati
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v11i2.4888

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum ekstrak daun senggani dalam menghasilkan persentase jantan tertinggi pada ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap yang teridiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diujikan yakni dosis ekstrak daun senggani; 0 (A/kontrol); 20 (B); 40 (C); 60 (D); 80 ppm (E). Larva ikan nila umur 7 hari direndam dalam air yang berisi ekstrak daun senggani sesuai dosis perlakuan selama 4 jam. Pasca perendaman, larva ikan nila dipelihara selama 60 hari. Pakan berupa cacing sutera diberikan selama 30 hari pertama dan selebihnya diberi pellet. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari (pukul 07.30-08.00, 12.30-13.00, dan 17.30-18.00 Wita). Hasil penelitian menunjukkan persentase kelamin jantan (KJ) pada perlakuan A, B, C, D, dan E secara berurut masing-masing sebesar 45%, 65%, 72%, 77,5%, dan 80%. Laju pertumbuhan harian (LPH) dan kelangsungan hidup (KH) untuk semua perlakuan berkisar antara 7,28-7,58 %/hari dan 85-95%. Hasil analisis menunjukkan persentase KJ ikan nila tertinggi terdapat pada perlakuan 80 ppm yakni sebesar 80%. LPH dan KH tidak berbeda secara signifikan antar semua perlakuan (P>0,05). Kesimpulan, ekstrak daun senggani (M. candidum) dengan dosis 80 ppm menghasilkan persentase jantan tertinggi (80%) pada ikan nila.
Crown of Thorns Starfish (Achantaster planci) Meal in Formulated Diets on the Growth of Whiteleg Prawn (Penaeus vannamei Boone, 1931) Safir, Muhammad; Izhar, Izhar; Mangitung, Seftina Fifi; Serdiati, Novalina; Nur’aidah, Nur’aidah
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 14 No. 1 (2025): JAFH Vol. 14 No. 1 February 2025
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jafh.v14i1.64856

Abstract

The study was conducted to investigate the growth of juvenile whiteleg prawn (Penaeus vannamei) fed with different doses of the crown of thorns starfish (Acanthaster planci) meal in formulated diets. The study was designed using a completely randomized design consisting of four treatments and three replications.  The treatments were the dosages of A. planci meal in a formulated diet, namely A: 0% (control); B: 9%; C: 18%; and D: 27%. Juveniles of P. vannamei were reared in a 40 × 25 × 25 cm3 aquarium (15 Liter water volume) for 28 days. The results showed that the Individual Weight Gain (IWG) of juveniles ranged from 2.68 to 2.94 g, Specific Growth Rate (SGR) ranged from 2.82 to 2.93% day-1, feed conversion ratio ranged from 3.03-3.22, feed efficiency was 31.31-33.17%, and survival rate was 96.67-100%.  The analysis of variance revealed that the use of A. planci meal in a formulated diet did not have a significant effect (p>0.05) on growth performance (IWG and SGR), feed conversion ratio, feed efficiency and survival rate of juveniles of whiteleg prawn during 28 days of culture. The utilization of A. planci meal up to a dose of 27% can be used as a substitute for fishmeal as a source of feed protein for cultured whiteleg prawns.
Pengaruh Perendaman Larva Ikan Pterapogon kauderni dengan Hormon 17α-Methyltestosteron Menggunakan Dosis yang Berbeda terhadap Rasio Kelamin Jantan Safir, Muhammad; Ndobe, Samliok; Madinawati, Madinawati; Mangitung, Septina Fifi; Serdiati, Novalina; Riyadi, Moh.
Jurnal Pertanian Terpadu Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Pertanian Terpadu Jilid IX Nomor 2 Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36084/jpt..v9i2.330

Abstract

Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) adalah salah satu ikan hias endemik perairan Sulawesi Tengah. Dalam proses pemijahannya, induk jantan akan mengerami telur hingga memasuki fase juvenil. Kondisi tersebut (lamanya masa pengeraman) tentunya akan menghambat peningkatan populasi ikan P. kauderni dengan target jumlah dalam waktu tertentu terlebih jumlah induk jantan yang terbatas. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis hormon 17α-methyltestosteron (17α-MT) terbaik dalam menghasilkan rasio kelamin jantan ikan P. kauderni yang tinggi. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap dengan mengujikan empat perlakuan dosis 17α-MT meliputi 0 mg/L; 2 mg/L; 4 mg/L dan 6 mg/L air yang diterapkan melalui metode perendaman selama 4 jam. Setiap perlakuan dilakukan 4 kali ulangan. Hasil perlakuan perendaman larva dengan hormon 17α-MT pada dosis berbeda tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan harian ikan P. kauderni (P>0,05). Pertambahan biomasa dan kelangsungan hidup lebih rendah pada perlakuan dosis 6 mg/L air. Rasio kelamin jantan ikan P. kauderni tertinggi terjadi pada perlakuan dosis 2 mg/L air yakni sebesar 91,67%.
Response of Growth, Albumin, and Blood Glucose of Snakehead (Channa Striata) Juvenile Feed with the Addition of Different Animal Protein Sources Serdiati, Novalina; Safir, Muhammad; Rezkiyah, Umul; Islamy, R Adharyan
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No 6 (2023): June
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9i6.3618

Abstract

Snakehead fish or Channa Striata is a type of freshwater fish that has high economic value in Indonesia. Aims of this study was to evaluating the effect of adding different protein sources to snakehead fish feed on fish growth, blood glucose levels, and albumin content of snakehead fish (Channa Striata). This study consisted of 3 treatments and each was given 6 replications. Treatment A: Use of feed made from nilem fish flour. Treatment B: Use of feed made from golden snail flour and Treatment C: Use of feed made from earthworm flour. The best daily growth was obtained by using feed containing animal protein sources from earthworm flour of 1.85 g. The albumin level of snakehead fish at the end of rearing was highest in the treatment using feed made from earthworm flour (5.106%). followed by golden snail flour (4.802%) and nilem fish meal (4.492%). Snakehead fish blood glucose levels 2 hours after consuming the feed increased in all treatments, with the highest value in the treatment of golden snail flour and earthworms (112 mg/dL). Followed by nilem fish meal (105 mg/dL). However blood glucose levels 4 hours after consuming the feed decreased in all treatments. With the highest reduction occurring in the treatment using earthworm flour (38 mg/dL). Followed by golden snail flour (58 mg/dL) and nilem fish meal (92 mg/dL).
Growth of Bamboo Lobster (Panulirus versicolor; Latreille, 1804) Fed with Feed Made from Sosodek Fish Meal (Atherinomorus lacunosus) Safir, Muhammad; Maasily, Intan Sukarmin; Serdiati, Novalina; Islamy, R Adharyan
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No SpecialIssue (2024): Science Education, Ecotourism, Health Science
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10iSpecialIssue.7884

Abstract

Bamboo lobster (Panulirus versicolor) is a marine commodity with promising prospects for aquaculture development. Feed is a critical issue in the growth of P. versicolor, necessitating an effective, affordable solution that promotes optimal growth. This study aimed to examine the use of sosodek fish meal (A. lacunasus) as a nutrient source to enhance the growth of P. versicolor. Specimens of P. versicolor (weighing 79.97±38 g) were obtained from local fishermen in Togean District, Tojo Una-Una Regency, Central Sulawesi. The experiment tested the use of sosodek fish meal as a feed ingredient at different percentages: 0% (control), 10% (A), 20% (B), and 30% (C). The lobsters were kept in containers with 25 liters of seawater, with one lobster per container, and each treatment was replicated three times. Feed was given at 5% of body weight, three times daily. Body weight was measured every two weeks. Water quality was maintained within a range suitable for P. versicolor. The results indicated that weight gain and daily growth rates, from highest to lowest, were observed in treatment C (11.84 g and 0.49%/day), B (7.4 g and 0.21%/day), A (2.82 g and 0.09%/day), and control (2.38 g and 0.08%/day). Feed conversion ratios, from lowest to highest, were recorded as C (13.1), B (25.1), A (71.9), and control (64.0). Feed utilization efficiency, from highest to lowest, was seen in treatment C (10.28%), B (4.32%), A (1.85%), and control (1.72%). Survival rates for all treatments were 100%. The analysis showed that individual weight gain, daily growth rates, and feed utilization efficiency were significantly higher, and feed conversion ratios were lower in treatment C (30% sosodek fish meal) compared to other treatments (P<0.05). Utilizing 30% sosodek fish meal as feed ingredient significantly enhances the growth of P. versicolor.