Claim Missing Document
Check
Articles

PERFORMA PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN CAPUNGAN BANGGAI (Pterapogon kauderni) PADA MIKROHABITAT YANG BERBEDA Rahman, Samsu Adi; Safir, Muhammad
OCTOPUS: JURNAL ILMU PERIKANAN Vol. 7 No. 2 (2018): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v7i2.2462

Abstract

Ikan capungan banggai (Pterapogon kauderni) dikenal sebagai Banggai cardinal fish (BCF) merupakan ikan endemik perairan kepulauan Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Tingginya jumlah ikan P.kauderni yang diperdagangkan menyebabkan kelestarian ikan ini terancam punah. Salah satu upaya dalam mengatasi masalah tersebut adalah mengoptimalkan kegiatan budidayanya. Penggunaan mikrohabitat yang sesuai dalam pemeliharaan ikan BCF akan memberikan performa pertumbuhan yang lebih baik. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan jenis mikrohabitat terbaik dalam mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan P. kauderni pada media pembesaran. Jevenil ikan P. kauderni (bobot 0.42±0.5 g, dan panjang 1.5±0.3 cm) merupakan hasil tangkapan dari alam. Sebanyak delapan ekor ikan dipelihara dalam setiap kerambah jaring apung yang telah diberi masing-masing dua pieces mikrohabitat (bulubabi, anemon, karang). Hal yang sama untuk perlakuan kontrol namun tanpa mikrohabitat. Setiap perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan harian, pertambahan biomassa dan kelangsungan hidup antar perlakuan mikrohabitat tidak berbeda secara signifikan (P>0.05), namun lebih tinggi dibandingkan kontrol (P<0.05). Mikrohabitat yang terbaik untuk pembesaran ikan P. kauderni adalah jenis bulubabi (Deademasitosum). Ikan capungan banggai (Pterapogon kauderni) dikenal sebagai Banggai cardinal fish (BCF) merupakan ikan endemik perairan kepulauan Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Tingginya jumlah ikan P.kauderni yang diperdagangkan menyebabkan kelestarian ikan ini terancam punah. Salah satu upaya dalammengatasi masalah tersebut adalah mengoptimalkan kegiatan budidayanya. Penggunaan mikrohabitat yangsesuai dalam pemeliharaan ikan BCF akan memberikan performa pertumbuhan yang lebih baik. Tujuan daripenelitian ini adalah menentukan jenis mikrohabitat terbaik dalam mendukung pertumbuhan dankelangsungan hidup ikan P. kauderni pada media pembesaran. Jevenil ikan P. kauderni (bobot 0.42±0.5 g,dan panjang 1.5±0.3 cm) merupakan hasil tangkapan dari alam. Sebanyak delapan ekor ikan dipelihara dalamsetiap kerambah jaring apung yang telah diberi masing-masing dua pieces mikrohabitat (bulubabi, anemon,karang). Hal yang sama untuk perlakuan kontrol namun tanpa mikrohabitat. Setiap perlakuan diulang tiga kali.Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan harian, pertambahan biomassa dan kelangsungan hidup antarperlakuan mikrohabitat tidak berbeda secara signifikan (P>0.05), namun lebih tinggi dibandingkan kontrol(P<0.05). Mikrohabitat yang terbaik untuk pembesaran ikan P. kauderni adalah jenis bulubabi (Deademasitosum).
SUPLEMENTASI HORMON 17-α Methyltestosterone PADA PAKAN DALAM MENINGKATKAN PERSENTASE JANTAN IKAN NILA MERAH Oreochromis sp. Safir, Muhammad
OCTOPUS: JURNAL ILMU PERIKANAN Vol. 7 No. 2 (2018): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v7i2.2467

Abstract

Ikan nila merupakan salah satu ikan air tawar ekonomis indonesia. Pemeliharaan ikan nila relatif mudah namun untuk mencapai ukuran tertentu relatif sulit untuk dicapai karena ikan nila cepat mengalami matang gonad. Hal ini berdampak pada pertumbuhan yang lambat. Upaya yang dapat dilakukan adalah penerapan seks reversal melalui metode oral. Penelitian ini mengaplikasikan empat perlakuan termasuk kontrol. Perlakuan yang diujikan adalah lama waktu pemberian pakan (0;14;21 dan 28 hari) yang diberi hormon 17α- Methyltestosterone (17α-MT) dengan dosis 30 mg/kg pakan. Kepadatan setiap ulangan adalah 45 ekor/akuarium. Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan harian, pertambahan biomassa, tingkat konsumsi pakan tidak berbeda secara signifikan (P>0.05). Kelangsungan hidup tertinggi terjadi pada perlakuan lama pemberian 28 hari. Rasio jantan tidak berbeda nyata (P>0.05) antar semua perlakuan 17α-Methyltestosterone namun lebih tinggi dari kontrol (P<0.05). Persentase jantan yang lebih tinggi dapat diperoleh dengan pengaplikasian MT melalui pakan dengan lama waktu pemberian 28 hari. 
PENGARUH PERENDAMAN HORMON 17α-methyltestosteron DAN SUHU YANG BERBEDA TERHADAP PERSENTASE KELAMIN JANTAN DAN PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN BANGGAI CARDINAL (Pterapogon kauderni) Safir, Muhammad; Rukka, Andi Heryanti; Mangitung, Septina F.; Sambaeni, Daniel
OCTOPUS: JURNAL ILMU PERIKANAN Vol. 9 No. 2 (2020): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v9i2.7067

Abstract

Ikan Banggai kardinal (Pterapogon kauderni) merupakan jenis ikan hias air laut endemik yang ada di Sulawesi Tengah. Eksploitasi secara masif menyebabkan jumlah ikan P. kauderni di alam semakin menurun. Ikan P. kauderni jantan bersifat parental care dalam kegiatan reproduksinya sehingga dalam peningkatan kualitas benih dan kegiatan reproduksinya dibutuhkan jumlah induk jantan yang lebih banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari perlakuan kombinasi hormon 17α-methyltestosteron (MT) dengan suhu melalui perendaman larva P. kauderni dalam menghasilkan persentase kelamin jantan yang tinggi. Perlakuan yang diujikan yakni; A) perendaman larva P. kauderni pada suhu 28˚C tanpa hormon MT (NMT+suhu 28˚C); B) perendaman larva P. kauderni pada suhu 28˚C dan hormon MT (MT+suhu 28˚C); C) perendaman larva P. kauderni pada suhu 34˚C tanpa MT (NMT+suhu 34˚C); D) perendaman larva P. kauderni pada suhu 34˚C dan hormon MT (MT+suhu 34˚C), masing-masing dengan lama perendaman 4 jam. Hasil penelitian menunjukkan persentase jantan P. kauderni lebih tinggi (P<0,05) pada semua perlakuan MT dengan suhu 28˚C dan 34˚C dibandingkan dengan perlakuan tanpa MT pada suhu 28˚C. Laju pertumbuhan harian lebih tinggi pada perlakuan MT dan NMT pada suhu 34˚C (P<0,05) dibandingkan perlakuan lainnya. Pertambahan biomasa dan kelangsungan hidup tidak berbeda untuk semua perlakuan. Kesimpulan, perendaman kombinasi hormon 17α-methyltestosteron dan suhu yang berbeda meningkatkan persentase kelamin jantan, ikan Banggai cardinal (P. kauderni).
Initial study of population and microhabitat of the Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) in Bilalang Bay, Banggai Regency Rahman, Samsu Adi; Djiada, Herdiyanto; Suhermanto, Achmad; Safir, Muhammad
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica, Vol. 11: No. 3 (December, 2024)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v11i3.16488

Abstract

The Banggai cardinalfish is an endemic fish in Banggai waters which is experiencing a population decline caused by excessive exploitation and degradation of its microhabitat. This research aims to determine the population of the Banggai cardinalfish and its microhabitat in Bilalang Bay. The research was conducted from January to February 2023 in Bilalang Bay, Banggai Regency, Central Sulawesi. Research data collection used the Underwater Visual Survey (UVS) method using a 20mx5m belt transect (2.5m left and right of the transect rope) at five observation stations. Observations made included recruits (<25 mm) Total Length, juveniles (25-60 mm), and adults (>60 mm). The results of observations of the population and density of the Banggai cardinalfish differ based on five observation stations. The highest population of the Banggai cardinalfish is found at location II with a total population of 4,412 fish, consisting of 2,510 adult size fish, 1,800 juvenile size fish, and 102 recruit size fish, with a density of adults 21.1 ind/m2, juvenile density 8 ind/m2, and recruit density 0.5 ind/m2. Meanwhile, the highest population based on size is adult size. The recruitment stage of the Banggai cardinalfish is only found in stations 1, 2, and 3, with microhabitats of sea urchins and anemones. The Banggai cardinal fish has the highest population at station 2.Keywords: Endemic; Banggai cardinalfish; Microhabitat; Population; Bilalang Bay
PERSENTASE JANTAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) HASIL PERENDAMAN DENGAN EKSTRAK DAUN SENGGANI (Melastoma candidum) DOSIS BERBEDA Safir, Muhammad; Ghandi, Indira; Serdiati, Novalina; Madinawati, Madinawati
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v11i2.4888

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum ekstrak daun senggani dalam menghasilkan persentase jantan tertinggi pada ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap yang teridiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diujikan yakni dosis ekstrak daun senggani; 0 (A/kontrol); 20 (B); 40 (C); 60 (D); 80 ppm (E). Larva ikan nila umur 7 hari direndam dalam air yang berisi ekstrak daun senggani sesuai dosis perlakuan selama 4 jam. Pasca perendaman, larva ikan nila dipelihara selama 60 hari. Pakan berupa cacing sutera diberikan selama 30 hari pertama dan selebihnya diberi pellet. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari (pukul 07.30-08.00, 12.30-13.00, dan 17.30-18.00 Wita). Hasil penelitian menunjukkan persentase kelamin jantan (KJ) pada perlakuan A, B, C, D, dan E secara berurut masing-masing sebesar 45%, 65%, 72%, 77,5%, dan 80%. Laju pertumbuhan harian (LPH) dan kelangsungan hidup (KH) untuk semua perlakuan berkisar antara 7,28-7,58 %/hari dan 85-95%. Hasil analisis menunjukkan persentase KJ ikan nila tertinggi terdapat pada perlakuan 80 ppm yakni sebesar 80%. LPH dan KH tidak berbeda secara signifikan antar semua perlakuan (P>0,05). Kesimpulan, ekstrak daun senggani (M. candidum) dengan dosis 80 ppm menghasilkan persentase jantan tertinggi (80%) pada ikan nila.
Crown of Thorns Starfish (Achantaster planci) Meal in Formulated Diets on the Growth of Whiteleg Prawn (Penaeus vannamei Boone, 1931) Safir, Muhammad; Izhar, Izhar; Mangitung, Seftina Fifi; Serdiati, Novalina; Nur’aidah, Nur’aidah
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 14 No. 1 (2025): JAFH Vol. 14 No. 1 February 2025
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jafh.v14i1.64856

Abstract

The study was conducted to investigate the growth of juvenile whiteleg prawn (Penaeus vannamei) fed with different doses of the crown of thorns starfish (Acanthaster planci) meal in formulated diets. The study was designed using a completely randomized design consisting of four treatments and three replications.  The treatments were the dosages of A. planci meal in a formulated diet, namely A: 0% (control); B: 9%; C: 18%; and D: 27%. Juveniles of P. vannamei were reared in a 40 × 25 × 25 cm3 aquarium (15 Liter water volume) for 28 days. The results showed that the Individual Weight Gain (IWG) of juveniles ranged from 2.68 to 2.94 g, Specific Growth Rate (SGR) ranged from 2.82 to 2.93% day-1, feed conversion ratio ranged from 3.03-3.22, feed efficiency was 31.31-33.17%, and survival rate was 96.67-100%.  The analysis of variance revealed that the use of A. planci meal in a formulated diet did not have a significant effect (p>0.05) on growth performance (IWG and SGR), feed conversion ratio, feed efficiency and survival rate of juveniles of whiteleg prawn during 28 days of culture. The utilization of A. planci meal up to a dose of 27% can be used as a substitute for fishmeal as a source of feed protein for cultured whiteleg prawns.
Pengaruh Perendaman Larva Ikan Pterapogon kauderni dengan Hormon 17α-Methyltestosteron Menggunakan Dosis yang Berbeda terhadap Rasio Kelamin Jantan Safir, Muhammad; Ndobe, Samliok; Madinawati, Madinawati; Mangitung, Septina Fifi; Serdiati, Novalina; Riyadi, Moh.
Jurnal Pertanian Terpadu Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Pertanian Terpadu Jilid IX Nomor 2 Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36084/jpt..v9i2.330

Abstract

Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) adalah salah satu ikan hias endemik perairan Sulawesi Tengah. Dalam proses pemijahannya, induk jantan akan mengerami telur hingga memasuki fase juvenil. Kondisi tersebut (lamanya masa pengeraman) tentunya akan menghambat peningkatan populasi ikan P. kauderni dengan target jumlah dalam waktu tertentu terlebih jumlah induk jantan yang terbatas. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis hormon 17α-methyltestosteron (17α-MT) terbaik dalam menghasilkan rasio kelamin jantan ikan P. kauderni yang tinggi. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap dengan mengujikan empat perlakuan dosis 17α-MT meliputi 0 mg/L; 2 mg/L; 4 mg/L dan 6 mg/L air yang diterapkan melalui metode perendaman selama 4 jam. Setiap perlakuan dilakukan 4 kali ulangan. Hasil perlakuan perendaman larva dengan hormon 17α-MT pada dosis berbeda tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan harian ikan P. kauderni (P>0,05). Pertambahan biomasa dan kelangsungan hidup lebih rendah pada perlakuan dosis 6 mg/L air. Rasio kelamin jantan ikan P. kauderni tertinggi terjadi pada perlakuan dosis 2 mg/L air yakni sebesar 91,67%.
PENGARUH DOSIS ALKALINITAS TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) YANG DI PELIHARA PADA SUHU 33 0 C Kamal, Mustafa; Febri, Suri Purnama; Haser, Teuku Fadlon; Safir, Muhammad; Pulungan, Ahyar; Widya, Devita Aritya Sri; Afriani, Sari
Jurnal Agroqua: Media Informasi Agronomi dan Budidaya Perairan Vol 23 No 2 (2025): Jurnal Agroqua
Publisher : University of Prof. Dr. Hazairin, SH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32663/ja.v23i2.5249

Abstract

Tiger prawns are a marine commodity that has high economic value in Indonesia and abroad. This research aims to determine the right time for administering dolomite lime solution to increase tiger prawn growth. This research used an experimental method with 4 treatments and 3 repetitions. The treatments tested were P1 (giving a dolomite lime solution on day 0 before stocking), P2 (giving a dolomite lime solution on the 15 day after stocking), P3 (giving a dolomite lime solution on the 30th day after stocking), and P4 (giving dolomite lime solution on the 30 day after stocking). administration of dolomite lime solution on the 45 day after stocking). The results of the research showed that administration of dolomite lime solution had an effect on absolute length growth, absolute weight growth and daily growth rate. Meanwhile, survival and feed conversion ratios did not have significant differences, neither did water quality. In general, water quality is not affected by the treatment given. The highest absolute length growth was produced at P3 at 4.1 cm. The highest absolute weight growth was obtained in treatment P3 with a result of 1.28 g, while the lowest absolute weight growth was obtained in treatment P4 at 1.13 g. The highest daily growth rate was produced in treatment P3, namely 6.14%, while the lowest daily growth rate was produced in P2, namely 5.28%.  
Growth of Bamboo Lobster (Panulirus versicolor; Latreille, 1804) Fed with Feed Made from Sosodek Fish Meal (Atherinomorus lacunosus) Muhammad Safir; Intan Sukarmin Maasily; Novalina Serdiati; R Adharyan Islamy
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No SpecialIssue (2024): Science Education, Ecotourism, Health Science
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10iSpecialIssue.7884

Abstract

Bamboo lobster (Panulirus versicolor) is a marine commodity with promising prospects for aquaculture development. Feed is a critical issue in the growth of P. versicolor, necessitating an effective, affordable solution that promotes optimal growth. This study aimed to examine the use of sosodek fish meal (A. lacunasus) as a nutrient source to enhance the growth of P. versicolor. Specimens of P. versicolor (weighing 79.97±38 g) were obtained from local fishermen in Togean District, Tojo Una-Una Regency, Central Sulawesi. The experiment tested the use of sosodek fish meal as a feed ingredient at different percentages: 0% (control), 10% (A), 20% (B), and 30% (C). The lobsters were kept in containers with 25 liters of seawater, with one lobster per container, and each treatment was replicated three times. Feed was given at 5% of body weight, three times daily. Body weight was measured every two weeks. Water quality was maintained within a range suitable for P. versicolor. The results indicated that weight gain and daily growth rates, from highest to lowest, were observed in treatment C (11.84 g and 0.49%/day), B (7.4 g and 0.21%/day), A (2.82 g and 0.09%/day), and control (2.38 g and 0.08%/day). Feed conversion ratios, from lowest to highest, were recorded as C (13.1), B (25.1), A (71.9), and control (64.0). Feed utilization efficiency, from highest to lowest, was seen in treatment C (10.28%), B (4.32%), A (1.85%), and control (1.72%). Survival rates for all treatments were 100%. The analysis showed that individual weight gain, daily growth rates, and feed utilization efficiency were significantly higher, and feed conversion ratios were lower in treatment C (30% sosodek fish meal) compared to other treatments (P<0.05). Utilizing 30% sosodek fish meal as feed ingredient significantly enhances the growth of P. versicolor.
Effect of feedings with different protein levels and dietary supplemental rElGH on culture performances of sex reversed Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) Safir, Muhammad; alimuddin, alimuddin; Setiawati, Mia; Suprayudi, muhammad Agus; Junior, Muhammad Zairin
Depik Vol 11, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.11.1.22550

Abstract

This study aims to evaluate the culture performance of tilapia (Oreochromis niloticus) that have been treated with 17-methyltestosterone (MT) and without MT (w-MT), feed with different protein levels (20, 24, and 28%) and recombinant Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH)-diet. The research was conducted in 9 treatments and triplicate. Tilapia larvae were soaked twice, totaling 500 larvae, at the age of 10 days after hatching (DAH) and the age of 14 DAH was soaked for 4 hours using 1/l MT 2 mg/l solution. Fish maintenance was conducted in an aquarium of 1.0x0.5x0.5 m3 in the first month, and three months later in net cages (2.0x2.0x1.5 m3). Daily growth rate (DGR) and biomass gain (BG) were increased in line with increasing feed protein content and rElGH supplementation. The highest DGR and BG values were MT+28+rElGH (P 0.05) treatment. The highest feed consumption and the lowest feed conversion ratio were also obtained in the MT+28+rElGH treatment (P 0.05). Fish survival was ranged from 79.89 to 90.28% (P 0.05). The highest profit potential was found in the MT+28+rElGH treatment. The efficient aquaculture can be obtained by feeding sex-reversed tilapia at a protein level of 28% and a diet supplemented with rElGH.Keywords:Feed conversion ratioGrowth hormoneProtein retention17-methyltestosterone