Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Fermentasi Bahan Baku Nabati Pakan dengan Cairan Rumen Sapi dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Muhammad Safir; Novalina Serdiati; Aswad Eka Putra; Yesaya Warisyu
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.18792

Abstract

ABSTRAKIkan mas adalah salah satu ikan air tawar yang bersifat herbivor. Pakan sebagai sumber nutrien dalam pembesaran ikan mas umumnya terbuat dari beberapa campuran bahan baku nabati. Penggunaan bahan baku nabati tanpa pengolahan dapat menurunkan pertumbuhan ikan karena kandungan serat dan zat antinutrisnya yang relatif tinggi. Cairan rumen sapi merupakan salah satu bahan kaya akan enzim dan mikroorganisme yang berperan dalam menurunkan serat kasar dan zat antinutrisi pada bahan nabati pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis cairan rumen sapi yang tepat sebagai bahan fermentasi pada seluruh bahan nabati pakan dalam meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan mas. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang diujikan yakni dosis penggunaan cairan rumen sapi (0%, 25%, 50% dan 75% dari bobot bahan nabati pakan). Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan cairan rumen sapi sebagai bahan fermentasi bahan nabati dalam pembuatan pakan memberikan pengaruh nyata (p0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik harian (LSPH), pertambahan bobot individu (PBI), rasio konversi pakan (RKP). LSPH dan PBI tertinggi serta RKP terendah diperoleh pada perlakuan dosis cairan rumen sapi 75% per bobot sampel bahan nabati yakni secara berurut sebesar 2,87 % hari-1, 1,18 g dan 1,77. Kelangsungan hidup selama pemeliharaan untuk semua perlakuan berkisar antara 66,67-80,0%. Kualitas air selama pemeliharaan meliputi pH (5,8-8,1), suhu (28-30 ºC), oksigen terlarut (5,0-6,8 ppm), dan amonia  (0,05-0,01 ppm) masih dalam kategori sesuai untuk pemeliharaan benih ikan mas. Dosis penggunaan cairan rumen sapi sebagai bahan fermentasi bahan baku nabati pakan yang memberikan nilai terbaik diperoleh pada perlakuan D (75% cairan rumen sapi).Kata Kunci: Bahan baku pakan, Kelangsungan hidup, Rasio konversi pakanABSTRACTThe carp (Cyprinus carpio) is a herbivorous freshwater fish. Feed as a source of nutrients in carp grow-out is generally made from a mixture of plant-based ingredients. The use of unprocessed plant materials can inhibit fish growth due to the relatively high fiber and anti-nutrient content. Bovine rumen fluid is rich in enzymes and microorganisms that can reduce crude fiber and anti-nutrient content in plant-based feed ingredients. This study aimed to determine the best dose of bovine rumen fluid used as a plant-based feed ingredient fermentation agent in terms of improving the growth and survival of carp fry. The study used a complete randomized design. The treatments trialed were various doses of bovine rumen fluid (0%, 25%, 50% and 75% of plant-based feed ingredients by weight). The results showed that using bovine rumen liquid to induce fermentation of plant-based feed ingredients during feed manufacturing had a significant effect (p0.05) on specific growth rate (SGR), individual weight gain (IWG), and feed conversion ratio (FCR). The highest SGR and IWG and the lowest FCR (2.87% day-1, 1.18 g and 1.77, respectively) were obtained under the bovine rumen fluid dose of 75% plant-based ingredient weight. Across all treatments, survival rate during the study period ranged from 66.67-80.0%. Water quality remained within suitable ranges for carp fry rearing, as follows: pH (5.8-8.1), temperature (28-30ºC), dissolved oxygen (5.0-6.8 ppm), and ammonia (0.05-0.01 ppm). The dosage of bovine rumen fluid that provided the best results when used as a fermentation agent for plant-based ingredients in carp fry feed was treatment D (75% bovine rumen fluid by weight).Key words: Feed ingredients, Survival, Feed conversion ratio.
Perbandingan Pertumbuhan Lobster (Cherax quadricarinatus) Yang Diberi Pakan Buatan Basah Dan Kering Maspa Timumun; Septina F Mangitung; Akbar Marzuki Tahya; Muhammad Safir
JAGO TOLIS : Jurnal Agrokompleks Tolis Vol 2, No 3 (2022): September
Publisher : Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56630/jago.v2i3.241

Abstract

Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) merupakan salah satu organisme yang mengkomsi pakan dengan cara mencabik-cabiknya. Semakin lama pakan tersebut dikonsumsi semakin besar peluang kandungan nutrient dalam pakan mengalami pencucian/leaching. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan lobster (C. quadricarinatus)  yang diberi pakan buatan dalam bentuk pakan basah (kenyal) dan kering. Juvenil lobster air tawar (dengan bobot 4,47±0,77g) sebelum diberi perlakuan terlebih dahulu diadaptasikan baik pada pakan maupun pada media pemeliharaan. Penelitian ini mengujikan dua perlakuan yakni pakan basah (kenyal) dan kering. Setiap perlakuan diberi 5 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik harian, pertumbuhan bobot individu, tingkat kelangsungan hidup, serta efisiensi pakan untuk perlakuan pakan basah dan kering masing-masing secara berurut sebesar 0,47 %/hari; 0,77g; 90%; 51,57% dan 0,32 %/hari; 0,48g; 80%; 39,01%. Perlakuan yang memberikan nilai lebih tinggi pada lobster (C. quadricarinatus) yakni pemberian pakan basah (kenyal).
Effect of feedings with different protein levels and dietary supplemental rElGH on culture performances of sex reversed Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) Muhammad Safir; alimuddin alimuddin; Mia Setiawati; muhammad Agus Suprayudi; Muhammad Zairin Junior
Depik Vol 11, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.573 KB) | DOI: 10.13170/depik.11.1.22550

Abstract

This study aims to evaluate the culture performance of tilapia (Oreochromis niloticus) that have been treated with 17α-methyltestosterone (MT) and without MT (w-MT), feed with different protein levels (20, 24, and 28%) and recombinant Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH)-diet. The research was conducted in 9 treatments and triplicate. Tilapia larvae were soaked twice, totaling 500 larvae, at the age of 10 days after hatching (DAH) and the age of 14 DAH was soaked for 4 hours using 1/l MT 2 mg/l solution. Fish maintenance was conducted in an aquarium of 1.0x0.5x0.5 m3 in the first month, and three months later in net cages (2.0x2.0x1.5 m3). Daily growth rate (DGR) and biomass gain (BG) were increased in line with increasing feed protein content and rElGH supplementation. The highest DGR and BG values were MT+28+rElGH (P 0.05) treatment. The highest feed consumption and the lowest feed conversion ratio were also obtained in the MT+28+rElGH treatment (P 0.05). Fish survival was ranged from 79.89 to 90.28% (P 0.05). The highest profit potential was found in the MT+28+rElGH treatment. The efficient aquaculture can be obtained by feeding sex-reversed tilapia at a protein level of 28% and a diet supplemented with rElGH.Keywords:Feed conversion ratioGrowth hormoneProtein retention17α-methyltestosterone
Effect of feedings with different protein levels and dietary supplemental rElGH on culture performances of sex reversed Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) Muhammad Safir; alimuddin alimuddin; Mia Setiawati; muhammad Agus Suprayudi; Muhammad Zairin Junior
Depik Vol 11, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.11.1.22550

Abstract

This study aims to evaluate the culture performance of tilapia (Oreochromis niloticus) that have been treated with 17α-methyltestosterone (MT) and without MT (w-MT), feed with different protein levels (20, 24, and 28%) and recombinant Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH)-diet. The research was conducted in 9 treatments and triplicate. Tilapia larvae were soaked twice, totaling 500 larvae, at the age of 10 days after hatching (DAH) and the age of 14 DAH was soaked for 4 hours using 1/l MT 2 mg/l solution. Fish maintenance was conducted in an aquarium of 1.0x0.5x0.5 m3 in the first month, and three months later in net cages (2.0x2.0x1.5 m3). Daily growth rate (DGR) and biomass gain (BG) were increased in line with increasing feed protein content and rElGH supplementation. The highest DGR and BG values were MT+28+rElGH (P 0.05) treatment. The highest feed consumption and the lowest feed conversion ratio were also obtained in the MT+28+rElGH treatment (P 0.05). Fish survival was ranged from 79.89 to 90.28% (P 0.05). The highest profit potential was found in the MT+28+rElGH treatment. The efficient aquaculture can be obtained by feeding sex-reversed tilapia at a protein level of 28% and a diet supplemented with rElGH.Keywords:Feed conversion ratioGrowth hormoneProtein retention17α-methyltestosterone
Penggunaan Pakan Berbahan Baku Tepung Osteochilus hasselti Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Muhammad Safir; Nur’aidah Nur’aidah; Kasim Mansyur; Livia Caprilia; Eny Heriyati
JAGO TOLIS : Jurnal Agrokompleks Tolis Vol 3, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56630/jago.v3i3.468

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu ikan air tawar yang banyak digemari oleh Masyarakat. Ikan ini memerlukan nutrisi yang lengkap untuk pertumbuhannya. Protein sebagai sumber nutrisi yang penting untuk pertumbuhan biasanya diperoleh dari pakan komersial. Dewasa ini harga pakan ikan mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya kandungan protein pakan. Dalam mengatasi masalah tersebut diperlukan alternatif sumber protein dalam pakan guna menekan biaya produksi akuakultur. Danau Rano yang terletak di Sulawesi Tengah telah menjadi wadah budidaya ikan nilem hasil introduksi dengan produksi yang melimpah. Sementara masyarakat sekitar jarang mengkonsumsi ikan ini, sehingga nilai ekonomisnya rendah. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan ikan nilem menjadi tepung ikan sebagai sumber protein pakan untuk pertumbuhan nila. Perlakuan yang diujikan yakni penggunaan tepung ikan nilem dengan dosis berbeda yaitu 0% sebagai kontrol, 9% dan 18%. Ikan uji adalah bibit nila berukuran 3,21±0,17 g, yang diberikan pakan tiap dosis dengan empat kali ulangan. Pemeliharaan dilakukan selama 30 hari dalam baskom bervolume 35 L yang berisi air sebanyak 16 L. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan berbahan baku tepung ikan nilem memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan benih ikan nila (P<0,05) dibandingkan kontrol. Pertumbuhan tertinggi dan rasio konversi pakan yang rendah diperoleh pada perlakuan dosis tepung ikan nilem 18%. yakni masing-masing sebesar 2,30 g dan 1,82. Kelangsungan hidup yang diperoleh untuk semua perlakuan berkisar 82,50-85,0%. Penggunaan tepung ikan nilem sebagai bahan baku pakan dengan dosis 18% memberikan pertumbuhan tertinggi, dan rasio konversi pakan yang rendah.
PERSENTASE JANTAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) HASIL PERENDAMAN DENGAN EKSTRAK DAUN SENGGANI (Melastoma candidum) DOSIS BERBEDA Muhammad Safir; Indira Ghandi; Novalina Serdiati; Madinawati Madinawati
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11, No 2 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v11i2.4888

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum ekstrak daun senggani dalam menghasilkan persentase jantan tertinggi pada ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap yang teridiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diujikan yakni dosis ekstrak daun senggani; 0 (A/kontrol); 20 (B); 40 (C); 60 (D); 80 ppm (E). Larva ikan nila umur 7 hari direndam dalam air yang berisi ekstrak daun senggani sesuai dosis perlakuan selama 4 jam. Pasca perendaman, larva ikan nila dipelihara selama 60 hari. Pakan berupa cacing sutera diberikan selama 30 hari pertama dan selebihnya diberi pellet. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari (pukul 07.30-08.00, 12.30-13.00, dan 17.30-18.00 Wita). Hasil penelitian menunjukkan persentase kelamin jantan (KJ) pada perlakuan A, B, C, D, dan E secara berurut masing-masing sebesar 45%, 65%, 72%, 77,5%, dan 80%. Laju pertumbuhan harian (LPH) dan kelangsungan hidup (KH) untuk semua perlakuan berkisar antara 7,28-7,58 %/hari dan 85-95%. Hasil analisis menunjukkan persentase KJ ikan nila tertinggi terdapat pada perlakuan 80 ppm yakni sebesar 80%. LPH dan KH tidak berbeda secara signifikan antar semua perlakuan (P>0,05). Kesimpulan, ekstrak daun senggani (M. candidum) dengan dosis 80 ppm menghasilkan persentase jantan tertinggi (80%) pada ikan nila.
Pertumbuhan, dan Rasio Konversi Pakan Ikan Pangasius hypophthalmus; Sauvage, 1878) Diberi Pakan Terfermentasi dengan Probiotik Dosis Berbeda Muhammad Safir; Muh. Armansyah; Nur Hasanah; Seftina Fifi Mangitung
JSIPi (JURNAL SAINS DAN INOVASI PERIKANAN) (JOURNAL OF FISHERY SCIENCE AND INNOVATION) Vol 7 No 1 (2023): JURNAL SAINS dan INOVASI PERIKANAN
Publisher : Pascasarjana Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan terfermentasi probiotik dengan dosis berbeda pada pertumbuhan dan rasio konversi pakan ikan Pangasius hypophthalmus. Percobaan yang diujikan adalah dosis penggunaan probiotik yakni 0; 5; 7; dan 9 mL/100 g pakan. Setiap perlakuan diberi masing-masing empat kali ulangan dan peletakan wada didesain secara acak rengkap. Hasil dari penelitian menunjukkan pemberian pakan terfermentasi probiotik dengan dosis berbeda menunjukkan pengaruh (p<0,05) pada laju pertumbuhan spesifik harian (LPSH), dan pertambahan bobot mutlak (PBM), rasio konversi pakan (RKP) serta efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) pada benih ikan P. hypophthalmus. LPSH, PBM, RKP dan EPP yang tinggi (p<0,05) diperoleh diperlakuan pakan probiotik dengan dosis 7 mL dan 9 mL per 100 g pakan. Kelangsungan hidup benih ikan P. hypophthalmus selama 56 hari pemeliharaan adalah 100%. Pertumbuhan yang tinggi dan rasio konversi pakan yang rendah dalam pemeliharaan benih ikan P. hypophthalmus dapat diperoleh dengan pemberian pakan terfermentasi dengan probiotik dosis 7 mL/100 g pakan.
Fermentasi Tepung Pelepah Sawit dengan Sumber Probiotik Berbeda Sebagai Bahan Pakan Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Muhammad Safir; Novalina Serdiati; Kasim Mansyur; Akbar Marzuki Tahya
JSIPi (JURNAL SAINS DAN INOVASI PERIKANAN) (JOURNAL OF FISHERY SCIENCE AND INNOVATION) Vol 8 No 1 (2024): JURNAL SAINS dan INOVASI PERIKANAN
Publisher : Pascasarjana Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor penting dalam kegiatan akuakultur, namun memiliki dana operasional termahal adalah pakan. Sebagai upaya akuakultur berkelanjutan dan jaminan harga pakan yang terjangkau adalah melalui pemanfaatan bahan baku yang melimpah dan tidak bernilai ekonomis. Kelapa sawit dikenal sebagai tanaman multiguna, seperti pelepah sawit yang sebelumnya diketahui sebagai limbah perkebunan kelapa sawit jumlahnya melimpah dan tidak bernilai ekonomis. Bahan inovatif yang dapat dikembangkan menjadi olahan adalah tepung sebagai sumber nutrien bagi organisme budidaya termasuk pada ikan nila. Akan tetapi, bahan tersebut memiliki zat antinutrisi yang membutuhkan pengolahan lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis probiotik yang sesuai sebagai bahan fermentasi dalam menurunkan kandungan zat antinutrisi tepung pelepah sawit yang diamati melalui respons pertumbuhan yang dihasilkan. Penelitian mengujikan jenis probiotik A (Effective Microorganisms/EM-4), B (Boster), C (Raja lele), dan D (Ragi tempe) masing-masing pada benih ikan nila. Setiap perlakuan diberi tiga kali ulangan. Benih ikan nila yang diberi pakan perlakuan berbahan baku tepung pelepah sawit yang difermenatsi dengan probiotik EM-4, Boster, Raja lele, dan ragi tempe menunjukkan respons pertumbuhan (laju pertumbuhan spesifik harian dan pertambahan bobot individu) masing-masing sebesar 6,01%; 5,87%; 7,71%; 3,75% dan 7,34g; 7,03g; 9,95g; 3,75g. Rasio konversi pakan dan kelangsungan hidup masing-masing sebesar 1,09; 1,11; 0,92; 2,11 dan 70%; 73,3%;80%; 50%. Hasil analisis menunjukkan respons pertumbuhan dan kelangsungan hidup lebih tinggi dan rasio konversi pakan lebih rendah (P<0,05) pada ikan hasil perlakuan pakan berbahan baku tepung pelepah sawit yang difermentasi dengan probiotik Raja lele. Fermentasi tepung pelepah sawit sebagai bahan baku pakan menggunakan probiotik Raja lele memberikan respons pertumbuhan tertinggi.
Effect of feedings with different protein levels and dietary supplemental rElGH on culture performances of sex reversed Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) Muhammad Safir; alimuddin alimuddin; Mia Setiawati; muhammad Agus Suprayudi; Muhammad Zairin Junior
Depik Vol 11, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.11.1.22550

Abstract

This study aims to evaluate the culture performance of tilapia (Oreochromis niloticus) that have been treated with 17α-methyltestosterone (MT) and without MT (w-MT), feed with different protein levels (20, 24, and 28%) and recombinant Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH)-diet. The research was conducted in 9 treatments and triplicate. Tilapia larvae were soaked twice, totaling 500 larvae, at the age of 10 days after hatching (DAH) and the age of 14 DAH was soaked for 4 hours using 1/l MT 2 mg/l solution. Fish maintenance was conducted in an aquarium of 1.0x0.5x0.5 m3 in the first month, and three months later in net cages (2.0x2.0x1.5 m3). Daily growth rate (DGR) and biomass gain (BG) were increased in line with increasing feed protein content and rElGH supplementation. The highest DGR and BG values were MT+28+rElGH (P 0.05) treatment. The highest feed consumption and the lowest feed conversion ratio were also obtained in the MT+28+rElGH treatment (P 0.05). Fish survival was ranged from 79.89 to 90.28% (P 0.05). The highest profit potential was found in the MT+28+rElGH treatment. The efficient aquaculture can be obtained by feeding sex-reversed tilapia at a protein level of 28% and a diet supplemented with rElGH.Keywords:Feed conversion ratioGrowth hormoneProtein retention17α-methyltestosterone
Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Diberi Pakan Berbahan Baku Tepung Hasil Samping Pengolahan Ikan Patin Dosis Berbeda Safir, Muhammad; Syafiah, Zulhafifa; Serdiati, Novalina; Nasmia, Nasmia; Mangitung, Septina Fifi; Madinawati, Madinawati
JAGO TOLIS : Jurnal Agrokompleks Tolis Vol 4 No 2 (2024): Mei
Publisher : Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56630/jago.v4i2.585

Abstract

Pakan mandiri berbahan baku lokal menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi harga pakan dikalangan petani lokal. Hingga saat ini tepung ikan menjadi bahan utama sebagai sumber protein dalam pembuatan pakan. Selain sulit untuk didapatkan, harga tepung ikan juga semakin meningkat. Pemanfaatan hasil samping pengolahan ikan patin dalam bentuk tepung diharapkan dapat menekan penggunaan tepung ikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung hasil samping pengolahan ikan patin sebagai pensubstitusi tepung ikan terhadap pertumbuhan ikan nila. Benih ikan nila (bobot 1,81±0,04 g) diperoleh dari Balai Benih Ikan Sentral Tulo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Perlakuan yang diujikan yakni penggunaan tepung hasil samping pengolahan ikan patin dengan dosis berbeda yakni 0% (A), 10% (B), 20% (C), 30% (D) dan 40% (E) dari penggunaan tepung ikan (28 g). Pemeliharaan dilakukan dalam wadah (berisi 20 L air) selama 42 hari. Pakan diberikan 5% dari bobot tubuh dengan frekuensi tiga kali sehari. Bobot tubuh ikan ditimbang sekali dalam seminggu. Kualitas air dikontrol pada kisaran yang sesuai untuk pemeliharaan ikan nila. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan (pertambahan bobot individu) ikan nila berkisar antara 2,79 g - 3,17 g, feed conversion ratio (FCR) berkisar antara 1,62-1,68, dan survival rate (SR) berkisar antara 75,0-77,5%. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan tepung hasil samping pengolahan ikan patin sebagai sumber protein hewani dalam mensubstitusi protein dari tepung ikan sebagai bahan baku pakan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan, FCR dan SR ikan nila (p>0,05). Dosis tepung hasil samping pengolahan ikan patin yang dapat digunakan yakni 40% dari tepung ikan.