Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Karakteristik Ibu Hamil dengan Hiperglikemia Cahyani, Imamah Indah; Kusumaningrum, Niken Safitri Dyan
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 1 No 4 (2017): HIGEIA
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehamilan dengan intoleransi gula darah mengakibatkan terjadinya hiperglikemia. Ibu hamil dengan hiperglikemia apabila tidak terpantau rutin menyebabkan sejumlah komplikasi yang mengakibatkan morbiditas dan mortalitas. Berdasarkan data tahun 2016 tercatat sebanyak 287 ibu hamil yang memeriksakan di poliklinik kandungan 2 ibu hamil diantaranya menderita diabetes mellitus sebelum hamil dan berlanjut saat kehamilan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran karakteristik ibu hamil dengan hiperglikemia di RSUD dr.Soehadi Prijonegoro Kabupaten Sragen. Metode yang digunakan kuantitatif non-eksperimental deskriptif survei. Sampelnya sebanyak 80 ibu hamil diambil secara consecutive sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner Risk factors for Gestational Diabetes Study berupa skrining non-invasif. Hasil penelitian ini menunjukkan lebih banyak ibu hamil berusia 26-34 tahun (46,3%), kegemukan (20%), obesitas (5%), dan 31,25% paritas multigravida. Penelitian ini menunjukkan 38 orang memiliki risiko hiperglikemia pada ibu hamil. Kesimpulannya ibu hamil yang memiliki kategori risiko hiperglikemia tidak hanya ditemukan pada karakter dengan risiko tinggi seperti usia ibu ≥ 35 tahun, BMI sebelum hamil ≥ 24 kg/m2, paritas multigravida akan tetapi juga ditemukan disetiap kategori karakteristik. Kata kunci: kehamilan, hiperglikemia, faktor risiko Pregnancy with blood sugar intolerance causing hyperglycemia in pregnancy. Pregnant with hyperglycemia, if not taken seriously causing some complication can be morbidity and martality. Data in 2016 was 287 pregnant to antenatal visit in obgyn 2 pregnant was diagnosis hyperglycemia in pregnancy. The aim was to serve description the characteristic of pregnant with hyperglycemia in RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen Distric. Non-experimental quantitative descriptive survey method was used in study. Sampling technique used was consecutive sampling with 80 pregnant. Data were using Risk factors for Gestational Diabetes study (retrospective) questionnaire which non-invasive screening. The result showed that pregnant had 46,3% with age 26-34 years old, 20% overweight, 5% obesity in pregnancy, and 31,25% with parity multigravida. This research showed 38 pregnant (47,5%) had risk for hyperglycemia in pregnancy. The conclusion of this research pregnant with risk hyperglycemia in pregnancy not only found in high risk age more 35 years old, BMI before pregnancy overweight, and had multigravida parity, but can found in each category from characteristic. Keywords: pregnancy, hyperglycemia, risk factor
Knowledge of Premarital Couples Regarding Premarital Screening Thalassemia Suciari Tri Utami; Niken Safitri Dyan Kusumaningrum
Jurnal Keperawatan Vol. 11 No. 2 (2020): Juli
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.371 KB) | DOI: 10.22219/jk.v11i2.10740

Abstract

Thalassemia is one of blood diseases that genetically inherited suffered by people worldwide, also in Indonesia. The number of people with thalassemia increases every year. Thalassemia could not be cured, however it can be prevented by early detection in premarital screening. The aim of this study was to describe knowledge of premarital couples regarding premarital screening thalassemia. This study was a quantitative research with a descriptive survey to premarital couples in KUA Tembalang, Semarang. The samples were determined purposively. The questionnaire of knowledge and attitude towards thalassemia and pre-marital screening was distributed to respondents, then analyzed descriptively. The result presented in the frequency and percentage. There were 71 couples participated in this study. The result showed that 75.4% of premarital couples have never heard about thalassemia. Only 46.5% of premarital couples have a good knowledge toward thalassemia. Moreover, 40.8% respondents know the right definition about screening. However, more premarital couples did not know that thalassemia could be prevented by premarital screening that they were. It is concluded that couples' knowledge about thalassemia and premarital screening thalassemia was still low. So, knowledge and understanding to thalassemia and early detection – premarital screening are important to ascertain individual status of thalassemia.
GAMBARAN STATUS GLIKEMI PENDUDUK USIA 25-65 TAHUN (STUDI DI KOTA TEGAL) Dwi Uswatun Khasanah; Andrew Johan; Niken Safitri Dyan Kusumaningrum
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 8 No 1 (2017)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prediabetes merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kadar glukosa darah lebih tinggi dari normal tetapi di bawah ambang diabetes, meliputi Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT) dan/atau Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). Seseorang dengan prediabetes memiliki peningkatan risiko terjadinya diabetes type 2. Prediabetes tidak menimbulkan tanda dan gejala yang nyata, sehingga penderita prediabetes tidak menyadari bahwa dirinya mengalami prediabetes. Deteksi dini dan modifikasi gaya hidup dapat mencegah maupun menunda terjadinya diabetes tipe 2 pada penderita prediabetes. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status glikemi berdasarkan kadar glukosa darah puasa dan kadar glukosa 2 jam pasca pembebanan glukosa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Quota sampling dilakukan pada individu yang tidak menderita diabetes dan berusia 25-65 tahun di 8 wilayah puskesmas di Kota Tegal dan mendapatkan sampel sebanyak 170. Pengambilan data dilakukan melalui pemeriksaan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Data kemudian dianalisa menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan 78,8% responden dengan Toleransi glukosa normal, 11,2 % dengan TGT, 2,9% dengan GDPT dan 2,4% dengan kombinasi GDPT dan TGT, 4,1% dengan undiagnosed diabetes dan 0,6% dengan hipoglikemi post prandial. Proporsi prediabetes di Kota Tegal cukup tinggi (16,5%) sehingga perlu dilakukan intervensi keperawatan untuk mencegah prediabetes maupun mencegah perkembangan prediabetes menjadi diabetes tipe 2.
Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga dan Stres Emosional di Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Unit Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang Rezza Agus Rennata; Niken Safitri Dyan Kusumaningrum
Jurnal Keperawatan Komunitas Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Keperawatan Komunitas
Publisher : Jurnal Keperawatan Komunitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.9 KB)

Abstract

Seseorang dapat mengalami stres emosional ketika didiagnosis diabetes melitus. Dukungan keluarga sangat diperlukan individu untuk mengatasi stres. Penggunaan dukungan keluarga terdiri dari dukungan informasional, penilaian, instrumental, dan emosional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan stres emosional pada diabetisi di Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) unit RS Panti Wilasa Citarum, Semarang. Metode pengumpulan data menggunakan teknik cros-sectional dengan pendekatan kuantitatif studi deskriptif korelasi. Sampel 38 diabetisi yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data menggunakan 3 kuesioner yang terdiri atas karakteristik demografi, dukungan sosial keluarga, dan stres emosional. Analisis univariat menggunakan uji statistik deskriptif untuk memperoleh gambaran karakteristik demografi, dukungan sosial keluarga dan stres emosional. Sedangkan untuk uji bivariat menggunakan chi-square untuk menilai hubungan antara dukungan sosial keluarga dan stres emosional. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden yang mendapat dukungan keluarga baik dan tidak stres sejumlah 59,1%. Responden yang mendapat dukungan keluarga baik tetapi stres ringan sejumlah 36,4% dan stres sedang 4,5%. Responden yang mendapat dukungan keluarga buruk dan tidak stres sebanyak 31,2%. Responden yang mendapat dukungan keluarga buruk tetapi stres ringan sejumlah 31,2% dan stres sedang 37,5%. Hasil analisis menunjukkan ada hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan stres emosional diabetisi (p value 0,029) (α=0,05). Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan intervensi terkait pemberian dukungan keluarga khususnya dukungan penilaian bagi diabetisi dalam penatalaksanaan penyakit diabetes melitus.
Aktivitas Fisik Pada Diabetesi Di Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Salatiga Farmita Chairani; Niken Safitri DK
Jurnal Keperawatan Komunitas Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Keperawatan Komunitas
Publisher : Jurnal Keperawatan Komunitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.476 KB)

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia. Penyakit ini merupakan gangguan yang tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikontrol. Manajemen pengontrolan DM terdiri atas 4 pilar, yang salah satunya dan paling berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah yaitu aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat aktivitas fisik pada diabetesi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain survey dan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel dipilih menggunakan metode purposive sampling sebanyak 134 diabetesi yang menjadi anggota tetap Persadia Salatiga. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Baecke yang telah dialihbahasakan dan di back translate serta dilakukan uji validitas dan reliabilitas di Persadia unit RS Panti Wilasa Citarum. Penelitian ini mengemukakan hasil bahwa sebagian besar responden (67,2%) dengan aktivitas fisik tinggi. Sebagian besar responden yang memiliki aktivitas fisik tinggi (67,8%) berada pada kelompok usia dewasa akhir, sebagian besar responden yang berjenis kelamin laki-laki (90%) pada usia dewasa tengah memiliki aktivitas fisik tinggi. Baik diabetesi yang memiliki 1 jenis atau 2 jenis penyakit penyerta memiliki tingkat aktivitas fisik sedang. Diabetesi diharapkan dapat menyeimbangkan pelaksanaan ketiga domain dan keempat dimensi aktivitas fisik untuk mendapatkan aktivitas fisik yang tinggi.
Sikap Orang Tua Terhadap Penerimaan Konseling Genetika Pada Down Syndrome Niken Safitri Dyan K; Costrie G. W; Sultana MH Faradz
Jurnal Keperawatan Anak Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Keperawatan Anak
Publisher : Jurnal Keperawatan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.773 KB)

Abstract

Background: Genetics counseling can improve individual knowledge and decrease the level of anxiety. More information about genetic diseases received by individu will make them more comfortable because of the certainty. However, the low of public awareness and understanding of issues concerning the genetic disease resulted in the unrecognized the existence of genetic counseling. Research on how attitudes towards genetic counseling in families with Down syndrome child are felt necessary. This study aims to determine parents’ attitudes towards receiving genetic counseling of Down syndrome. Methods: A quantitative approach used questionnaire was applied cross-sectionally to parents of child with Down syndrome in one special school Semarang. Sample was determined by purposive sampling. Univariate and bivariate analysis were performed to analyze data. Results: A total of 51 respondents participated in this study. The results showed that the majority of respondents (84.3%) supported a genetic counseling session on Down syndrome. Most of the respondents (98.0%) had a positive attitude toward a child with Down syndrome. Based on the bivariate analysis, there was no significant difference (p-value = 0.416) between father and mother attitudes toward receiving genetic counseling of Down syndrome. Conclusion: Most of the respondents were interested in genetic counseling session although they did not know about it previously.
The Effects of Acceptance and Commitment Therapy (ACT) on Depression in TB-HIV Co-infection Patients Avin Maria; Untung Sujianto; Niken Safitri Dyan Kusumaningrum
Jurnal Ners Vol. 15 No. 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jn.v15i1.17793

Abstract

Introduction: The most common psychological problem in TB-HIV coinfection patients is depression. Acceptance and Commitment Therapy (ACT) is an intervention that encourages participants to change their relationships with their thoughts and physical sensations through mechanisms of acceptance and value-based action. This present study has been carried out to investigate the effectiveness of ACT in treating TB-HIV coinfection patients.Methods: This research was a quasi-experiment. This study involved 62 respondents diagnosed TB-HIV coinfection by doctor, experienced mild depression to severe depression, able to communicate well and have not hearing loss. ACT was given by a researcher with six sessions) one session per day) held in the intervention group. Data were collected using Beck Depression Inventory (BDI) questionnaires. Data analysis use paired t-test   to determine the differences in value of depression on pre-test and post-test in each group. Data were analyzed using the independent t-test to determine the effect of ACT on depression.Results: The majority of respondents were male (66.1%). Most of the early adult and older adult respondents had moderate depression, while middle-aged adult mostly had severe depression (50%). The fully unemployed respondents had severe depression (100%). The analysis results showed that there was a more significant decrease in depression in the intervention group given ACT compared to the control group (p value =0.00).Conclusion: ACT has an effect on reduce depression of TB-HIV coinfection patients. ACT is recommended to be developed as a nursing intervention that can be given to patients who are depressed.
Pengkajian Stres pada Penyandang Diabetes Mellitus Ria Afnenda Naibaho; Niken Safitri Dyan Kusumaningrum
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol. 3 No. 1 (2020): February 2020
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.393 KB) | DOI: 10.32584/jikj.v3i1.455

Abstract

Stres dapat dialami oleh penyandang Diabetes Mellitus atau DM karena harus menjalankan perubahan pola hidup seperti pengaturan pola makan, kontrol gula darah, mengkonsumsi obat-obatan, dan memperbanyak aktivitas yang bertujuan agar tidak terjadi peningkatan gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat stres yang dialami oleh penyandang DM. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner Depression Anxiety Stres Scale (DASS). Pengambilan sampel dilaksanakan selama bulan Mei 2018 menggunakan teknik consecutive sampling pada pasien di Rowosari, Semarang. Sebanyak 112 responden telah berpartisipasi dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan secara univariat yang memaparkan frekuensi dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden yang berpartisipasi adalah perempuan (77,7%) dan mengalami komplikasi (82,1%). Temuan lainnya menunjukkan bahwa lebih banyak penyandang DM yang mengalami stres sedang (32,1%) daripada stres normal, ringan, berat atau sangat berat. Penyandang DM yang memiliki tingkat stres sedang memiliki ciri-ciri mudah marah, mudah sensitif, sulit beristirahat, merasa lelah karena cemas, tidak sabar, gelisah, dan tidak dapat memaklumi hal yang dapat menganggu. Secara umum, kebanyakan penyandang DM sering kali menghabiskan banyak energi untuk merasa cemas dan juga sulit untuk beristirahat. Kata kunci: diabetes mellitus, glukosa darah, kadar glukosa darah, stres ASSESSMENT OF STRESS IN PATIENTS WITH DIABETES MELLITUS ABSTRACTStress can be experienced by patients with Diabetes Mellitus or DM because they have to run lifestyle changes such as diet, blood sugar control, drugs consumption, and reproduce activities aimed at not increasing blood sugar. The study aimed to determine level of stress in diabetes patients in patients with DM. This research was a quantitative research with cross sectional approach and using Depression Anxiety Stress Scale (DASS) questionnaire. Consecutive sampling technique was used to gather the data from respondents in Rowosari Semarang in May 2018. One hundred and twelve patients full-filed the questionnaire. Data analysis was carried out univariately which explained the frequency and percentage. The majority of respondents were women (77.7%) and had complication of DM (82.1%). Findings also revealed that more of diabetes patients have experienced moderate stress (32.1%) than normal, mild, severe, or very severe. Patients with diabetes who have moderate levels of stress have characteristics of easy irritated, sensitive, difficult to rest, displeasure, anxious, and cannot understand things easily. Generally speaking, more diabetes patients consume more energy for worry something easily irritated and difficult to rest.  Keywords: diabetes mellitus, blood glucose, blood glucose level, stress
Pengaruh Sinar Ultraviolet terhadap Proses Penyembuhan Luka: Sistematical Review Muchlisin Muchlisin; Fitria Handayani; Niken Safitri Dyan Kusumaningrum
Jurnal Ilmu Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2 No. 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.97 KB) | DOI: 10.32584/jikmb.v2i1.218

Abstract

AbstrakPendahuluan : Luka bagi kebanyakan orang adalah suatu hal yang sangat mengganggu dan menyebabkan ketidaknyamanan baik fisik ataupun psikis serta meningkatkan morbiditas bagi pasien yang terkena luka. Suatu paradigma baru dalam perawatan luka yang tidak beracun, minimal invasif dan ekonomis namun tetap mendukung penyembuhan luka yang optimal satu cara yang digunakan adalah menggunakan sinar ultraviolet sebagai terapi modalitas dalam mendukung proses kesembuhan perawatan luka pasien terutama pasien dengan luka infeksi dan hasilnya sangat signifikan dalam mendukung kesembuhan dalam perawatan luka infeksi dibandingkan dengan perawatan luka biasa tanpa kombinasi dengan sinar ultraviolet.Tujuan : Mengetahui gambaran  mengenai pengaruh sinar ultraviolet terhadap proses penyembuhan lukaMetode : Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi literature, 3 jurnal terindeks science direct, 1 jurnal terindeks pubmed, 1 jurnal dari google scholar.Hasil dan Pembahasan : Sinar UV (tipe B) bermanfaat dalam mengurangi jumlah eksudat pada jenis luka infeksi dan mampu memperbaiki penampilan luka dan kedalaman luka menjadi lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol. Secara khusus pada ulkus yang terinfeksi karena jumlah eksudat dapat menurun secara tidak langsung dapat mengurangi bau dan mempercepat proses penyembuhan luka. Sinar UV mengubah fungsi seluler, meningkatkan permeabilitas dinding sel dengan mengubah bentuk protein, merangsang produksi berbagai bahan kimia seperti prostaglandin dan asam arakidonat, dan meningkatkan produksi adenosin trifosfat. Eritema yang hasilnya meningkatkan vasodilatasi lokal, oksigenasi jaringan, dan pelepasan histamin.Kesimpulan : Sinar ultraviolet ( tipe B dan Tipe C ) mampu mempercepat proses penyembuhan luka, mengurangi jumlah eksudat, meningkatkan vasodilatasi, membunuh kuman patogen pada luka sehingga secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap peranan menurunkan angka LOS, menurunkan cost efektiveness ( pembiayaan ), meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan nyeri pada luka, menurunkan bau yang pada luka karena produksi eksudat akibat infeksi luka serta meningkatkan angka harapan hidup pasien. Kata kunci : Ultraviolet, Wound Care, Wound Healing
COGNITIVE BEHAVIOURAL THERAPY TO REDUCE DEPRESSION IN POST STROKE PATIENTS: A SCOPING REVIEW Dwi Puji Susanti; Niken Safitri Dyan Kusumaningrum; Fitria Handayani
Nurse and Health: Jurnal Keperawatan Vol 10 No 1 (2021): Nurse and Health: Jurnal Keperawatan January-June 2021
Publisher : Institute for Research and Community Service of Health Polytechnic of Kerta Cendekia, Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36720/nhjk.v10i1.234

Abstract

Background: Post-stroke depression is one of the psychological disorders that is often experienced by post-stroke patients. Depression is more than just sadness. People with post-stroke depression will experience a lack of interest and pleasure in daily activities, weight loss or excessive sleep, lack of energy, inability to concentrate, feelings of worthlessness or guilt and recurring thoughts of death or suicide. Based on several types of post-stroke depression management, psychosocial interventions have been shown to reduce the likelihood of developing post-stroke depression. One of the interventions to reduce post-stroke depression is cognitive behavioral therapy. Objective: This scoping review aims to identify the effectiveness of cognitive behavioral therapy to reduce depression in post-stroke patients. Design: This study used a scoping review through a review of articles on cognitive behavioral therapy that has been used to reduce depression in post-stroke patients. Data Sources: Search for articles accessed through a database, including: CINAHL, MEDLINE, Academic search ultimate, PubMed, and google scholar with a range of search years 2011-2020. Review Methods: Quality appraisal assessment for each selected study was conducted using the Preferred Reporting Items for scoping review (PRISMA) method. Results: The results of this literature review show that cognitive behavioral therapy to reduce depression in post-stroke patients can change thoughts, feelings and behaviors to influence each other. The relationship between thoughts, feelings and behavior greatly influences respondents in dealing with post-stroke conditions with a positive way of thinking so that it will accelerate or help the post-stroke recovery process. The way to implement cognitive behavioral therapy is to be given as many as 12 sessions in 25-35 minutes each session. Cognitive behavioral therapy can be done in a hospital and has a significant post-stroke depression rate with p <0.01. Conclusion: Cognitive behavioral therapy can be given as an intervention to reduce depression in post-stroke patients including cognitive behavioral therapy, duration of cognitive behavioral therapy and sessions in cognitive behavioral therapy.