Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

TINJAUAN KUALITAS PELAYANAN BAGIAN PENUNJANG KEBERSIHAN DAN PENUNJANG LAYANAN KANTOR DI PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK BRI UNIT RAJADESA CABANG CIAMIS Kurniawan, Diki; Budiman, Arip
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 3 (2026): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i3.2026.719-730

Abstract

Kualitas pelayanan merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan perusahaan jasa, khususnya pada sektor perbankan. Selain pelayanan utama yang diberikan kepada nasabah, pelayanan penunjang seperti kebersihan dan layanan kantor memiliki peran strategis dalam menciptakan kenyamanan, keamanan, serta citra positif perusahaan. Pelayanan penunjang yang baik akan mendukung kelancaran aktivitas operasional dan meningkatkan kepuasan nasabah maupun pegawai.Penelitian ini bertujuan untuk meninjau kualitas pelayanan bagian penunjang kebersihan dan penunjang layanan kantor di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Unit Rajadesa Cabang Ciamis. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan penunjang serta upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan tersebut. Penelitian dilaksanakan berdasarkan pengalaman penulis selama melaksanakan Kuliah Kerja Industri (KKI) di BRI Unit Rajadesa Cabang Ciamis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan mengamati langsung kondisi kebersihan kantor dan aktivitas pelayanan penunjang. Wawancara dilakukan dengan petugas kebersihan dan pegawai yang terkait dengan pelayanan penunjang kantor. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa arsip dan laporan kegiatan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan bagian penunjang kebersihan dan penunjang layanan kantor di BRI Unit Rajadesa Cabang Ciamis telah berjalan dengan cukup baik dan mampu mendukung kenyamanan nasabah serta efektivitas kerja pegawai. Lingkungan kantor yang bersih, rapi, dan tertata dengan baik memberikan kesan profesional dan meningkatkan citra perusahaan. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kendala seperti keterbatasan jumlah petugas dan tingginya aktivitas pelayanan pada jam-jam tertentu. Upaya peningkatan kualitas pelayanan dilakukan melalui pengawasan rutin, pengaturan jadwal kerja yang lebih efektif, serta peningkatan koordinasi antarbagian
Kajian Etika Fenomena Phubbing pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Keislaman Negeri di Jawa Barat Arip Budiman; Putri Anditasari
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i2.18918

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk memahami dampak phubbing dari perspektif etika sosial, khususnya dalam lingkungan pendidikan tinggi keislaman. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods, yaitu pendekatan penelitian yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif dan mendalam terhadap suatu fenomena. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat ketergantungan yang tinggi pada gadgets (dependency on gadgets) sebesar 44%, tingkat social disconnectedness atau keterputusan sosial relatif rendah di kalangan mahasiswa, sebesar 27%, dan ignore others and switch to gadgets 29%. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai-nilai etis yang diajarkan dalam pendidikan keislaman memiliki peran penting dalam mencegah dampak negatif phubbing, terutama terkait dengan pengabaian lingkungan sosial. Dari perspektif etika Levinas, kesadaran akan tanggung jawab sosial dan keberadaan “wajah” orang lain menghalangi individu untuk melakukan phubbing, sekalipun kecenderungan penggunaan gadget tinggi. Implikasi penelitian ini adalah pentingnya penanaman etika tanggung jawab dalam mengurangi dampak negatif phubbing di lingkungan pendidikan. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah mengeksplorasi faktor-faktor lain yang memengaruhi kesadaran sosial mahasiswa, serta mengevaluasi efektivitas program pendidikan etika dalam mengurangi perilaku phubbing pada kelompok usia remaja dan dewasa muda.
Ekoteologi dalam Bingkai Etika Sadar Kawasan sebagai Alternatif dalam Menjawab Krisis Lingkungan Arip Budiman; Hasbiyallah Hasbiyallah; Aludin Aludin; Dindin Solahudin; Yusuf Zaenal Abidin
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.23721

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji kemungkinan kontribusi ekoteologi Islam dalam menjawab krisis lingkungan global melalui pembacaan atas etika sadar kawasan yang dikembangkan Komunitas Patanjala, sebagai artikulasi kearifan lokal Sunda yang terasimilasi dengan nilai-nilai Islam. Masalah utama yang diajukan adalah: pertama, apakah paradigma teologis Islam memiliki elastisitas untuk merespons krisis ekologis tanpa harus menanggalkan watak antroposentrisnya; kedua, bagaimana etika sadar kawasan Patanjala dapat menjadi medium rekonstruksi paradigma relasi manusia–alam yang kosmosentris dan berkeadilan ekologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis berbasis studi kepustakaan, yang mengkaji teks-teks ekoteologi kontemporer, literatur tentang krisis ekologi, serta sumber-sumber mengenai falsafah Patanjala dan praktik etika kawasan. Hasil kajian menunjukkan bahwa akar krisis ekologis tidak terletak pada doktrin agama, melainkan pada pembacaan yang memutus alam dari dimensi kesakralannya dan mereduksi manusia menjadi subjek eksploitasi tanpa batas. Dalam kerangka Patanjala, etika sadar Kawasan –dengan pembedaan tata ruang, tata wayah, dan tata lampah– menawarkan cara pandang lain yang menempatkan hak-hak alam sebagai prasyarat penentuan hak manusia, sekaligus menghidupkan kembali fungsi khalifah sebagai amanah etis dan spiritual. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya diskursus ekoteologi kontemporer dengan menghubungkan maqāṣid al-sharī‘ah, konsep khalīfah fī al-arḍ, dan kearifan lokal Sunda dalam satu kerangka etis operasional dan praksis keagamaan. Praktis, etika sadar kawasan memberikan kerangka evaluatif untuk menimbang kebijakan dan gerakan lingkungan berbasis agama lokal. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa antroposentrisme teologis Islam dapat direformulasi melalui etika sadar kawasan menjadi paradigma tanggung jawab ekologis, sejalan dengan semangat deep ecology, sehingga ekoteologi Islam berpotensi tampil bukan hanya apologetik, tetapi propositif dalam merumuskan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.ABSTRACT: This study aims to examine the potential contribution of Islamic ecotheology in addressing the global environmental crisis through an analysis of etika sadar kawasan (area-conscious ethics) as developed by the Patanjala Community, understood as an articulation of Sundanese local wisdom assimilated with Islamic values. The study raises two principal questions: first, whether the Islamic theological paradigm possesses sufficient elasticity to respond to ecological crises without abandoning its anthropocentric character; and second, how Patanjala’s area-conscious ethics may serve as a medium for reconstructing a cosmocentric and ecologically just paradigm of human–nature relations. Employing a qualitative approach with a descriptive-analytical method based on library research, this study examines contemporary ecotheological texts, literature on ecological crises, and sources concerning Patanjala philosophy and practices of spatial ethics. The findings indicate that the roots of the ecological crisis lie not in religious doctrine per se, but in interpretive frameworks that sever nature from its sacred dimension and reduce humans to subjects of limitless exploitation. Within the Patanjala framework, area-conscious ethics—through the differentiation of tata ruang (spatial order), tata wayah (temporal order), and tata lampah (practical conduct)—offers an alternative perspective that positions the rights of nature as a prerequisite for determining human rights, while revitalizing the concept of khalīfah as an ethical and spiritual trusteeship. Theoretically, this study enriches contemporary ecotheological discourse by integrating maqāṣid al-sharī‘ah, the concept of khalīfah fī al-arḍ, and Sundanese local wisdom into a coherent framework of operational ethics and religious praxis. Practically, area-conscious ethics provides an evaluative framework for assessing environmentally oriented policies and faith-based ecological movements grounded in local religious traditions. The study concludes that Islamic theological anthropocentrism can be reformulated through area-conscious ethics into a paradigm of ecological responsibility aligned with the spirit of deep ecology, thereby enabling Islamic ecotheology to emerge not merely as apologetic, but as a propositional force in articulating sustainable environmental governance.