Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

INTERPRETASI HASIL TANGKAPAN DENGAN DUA TRIP PENANGKAPAN KAPAL PURSE SEINE DI TANJUNG BALAI PROVINSI SUMATERA UTARA Ikhsan, Suci Asrina; Krisnafi, Yaser; Fernanda, M. Alfikhry; Mardiah, Ratu Sari; Tiku, Mathius; Hutapea, Roma Yuli F.
SEMAH Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan Vol 8, No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/semahjpsp.v8i1.1371

Abstract

Kota Tanjung Balai merupakan salah satu kota potensial perikanan laut yang ada di Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Berbagai perusahaan perikanan terdapat di kota Tanjung Balai, salah satunya adalah PT. Selamat Abadi. KM. Malindo Indah merupakan armada penangkapan yang dimiliki PT. Selamat Abadi. KM. Malindo Indah mengoperasikan alat tangkap purse seine di perairan 711, dengan potensi utamanya adalah ikan pelagis kecil. Tujuan dari penelitian ini adalah menginterpretasikan komposisi hasil tangkapan KM. Malindo Indah dan mengidentifikasi hasil tangkapan utama dan hasil tangkpan sampingan KM. Malindo Indah. Penelitian dilaksanakan dengan kapal purse seine KM. Malindo Indah yang dilaksanakan mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 30 April 2023. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Analisis data yang digunakan menggunakan analisis deskriptif. Purse seine merupakan alat tangkap yang bersifat multi species. Hasil tangkapan KM Malindo Indah didominasi oleh ikan pelagis kecil, dengan total hasil tangkapan trip pertama sebanyak 73.425 kg dan trip kedua sebanyak 44.421 kg. Persentase hasil tangkapan KM. Malindo Indah sebanyak 62% trip pertama, sedangkan trip kedua sebanyak 38%. Hasil tangkapan KM. Malindo Indah 99% adalah hasil tangkapan utama, sedangkan 1% nya adalah hasil tangkapan sampingan. Hasil tangkapan utama KM. Malindo Indah yaitu Layang (93%), Kembung (3%), Selar (2%), Tongkol (1%) dan Mata Besar (1%), sedangkan hasil tangkapan sampingan KM. Malindo Indah adalah Caru dan Bawal.
The influence of facilities on fish quality in ports of east waters, North Sumatera (case study in belawan fishing port, North Sumatera) Sari, Ratih Purnama; Krisnafi, Yaser; Tiku, Mathius; Hutapea, Roma Yuli F; Ikhsan, Suci Asrina; Mardiah, Ratu Sari
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 12, No 2 (2023): AUGUST 2023
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.12.2.29148

Abstract

One of the problems faced in the development of the marine and fisheries sector nationally is the low quality of the fish capture due to the limited capacity and quantity of available port infrastructure resulting in the decrease in competitiveness. The data in this study were related to fish capture from fishing boats to wholesalers. The data obtained was observation of the location of the vessel, the fish auction place, and the marketer. The types of fish taken were Kurisi (Nemipterus pneumatophores), Biji Nangka (Upeneus mullocensin), Kapas-Kapas (Gerres erythronium), Bawal Putih (Pampus argenteus), Kembung (Rastrelliger spp). Fish examining was done by looking at the organoleptic and pH values. The pH value was obtained by testing the pH meter, while the organoleptic value was obtained by observing the physical condition using a score sheet. To determine the magnitude of the influence of facilities on fish quality, and the correlation between organoleptic values and pH, an analysis using simple linear regression was conducted. The average organoleptic value of fish while on the boat, when distributed, and when in the marketplace were 8,248; 7,024; and 6.6 respectively. Meanwhile, the average pH value was 7.05; 5.51; and 5.15. The quality of fish caught at Class A Fishing Port of Belawan is still of good quality. The pH test showed decline in pH value ever since the fish was brought to the port until they were marketed. The influence of facilities on the fish organoleptic and pH value are 98.3% and 96%. Thus, facilities significantly affect fish quality at Belawan Fishing Port. Between pH and organoleptic values showed a positive correlation, hence when the pH value decreased, the organoleptic value also dropped.Keywords:Belawan Fishing PortEast WatersFacilities InfluenceFish Quality
The influence of facilities on fish quality in ports of east waters, North Sumatera (case study in belawan fishing port, North Sumatera) Sari, Ratih Purnama; Krisnafi, Yaser; Tiku, Mathius; Hutapea, Roma Yuli F; Ikhsan, Suci Asrina; Mardiah, Ratu Sari
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 12, No 2 (2023): AUGUST 2023
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.12.2.29148

Abstract

One of the problems faced in the development of the marine and fisheries sector nationally is the low quality of the fish capture due to the limited capacity and quantity of available port infrastructure resulting in the decrease in competitiveness. The data in this study were related to fish capture from fishing boats to wholesalers. The data obtained was observation of the location of the vessel, the fish auction place, and the marketer. The types of fish taken were Kurisi (Nemipterus pneumatophores), Biji Nangka (Upeneus mullocensin), Kapas-Kapas (Gerres erythronium), Bawal Putih (Pampus argenteus), Kembung (Rastrelliger spp). Fish examining was done by looking at the organoleptic and pH values. The pH value was obtained by testing the pH meter, while the organoleptic value was obtained by observing the physical condition using a score sheet. To determine the magnitude of the influence of facilities on fish quality, and the correlation between organoleptic values and pH, an analysis using simple linear regression was conducted. The average organoleptic value of fish while on the boat, when distributed, and when in the marketplace were 8,248; 7,024; and 6.6 respectively. Meanwhile, the average pH value was 7.05; 5.51; and 5.15. The quality of fish caught at Class A Fishing Port of Belawan is still of good quality. The pH test showed decline in pH value ever since the fish was brought to the port until they were marketed. The influence of facilities on the fish organoleptic and pH value are 98.3% and 96%. Thus, facilities significantly affect fish quality at Belawan Fishing Port. Between pH and organoleptic values showed a positive correlation, hence when the pH value decreased, the organoleptic value also dropped.Keywords:Belawan Fishing PortEast WatersFacilities InfluenceFish Quality
STRATEGI PENANGKAPAN TUNA (Thunnus spp.) DAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) PADA AREAL RUMPON UNTUK MENDAPATKAN UKURAN LAYAK TANGKAP MENGGUNAKAN PANCING ULUR Rumpa, Arham; Asia, Asia; Krisnafi, Yaser; Syamsuddin, Muhidin; Rasdam, Rasdam; Pontoh, Peggy; Kasim, Muh
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.22 - 35

Abstract

Pengetahuan tentang perilaku kelompok jenis tuna dan cakalang pada areal rumpon merupakan bagian yang tidak terpisahkan sebagai strategi penangkapan optimal untuk mendapatkan ukuran ikan layak tangkap. Pengumpulan data di mulai tahun 2020-2024 dengan mengacu pada Prosedur Protokol Sampling untuk Pancing Tuna Artisanal Indonesia yang dikembangkan oleh United States Agency for International Development – Indonesia Marine and Climate Support (USAID-IMACS) bekerjasama dengan enumerator dari Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Kriteria ukuran tuna layak tangkap dianalisis berdasarkan length at first maturity (Lm). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa prosentase hasil tangkapan dan ukuran layak tangkap pada areal rumpon menggunakan pancing ulur didominasi oleh tuna madidihang (Thunnus albacares) 76,32% dengan ukuran yang layak tangkap sebesar 44,27%, tuna mata besar (Thunnus obesus) 10,05% dengan ukuran layak tangkap 55,60%, dan cakalang (Katsuwonus pelamis) 5,09%  dengan ukuran layak tangkap 48,40%.  Sedangkan hasil tangkapan pancing ulur tanpa menggunakan rumpon atau di luar area rumpon berbeda jauh prosentase proporsi ukuran layak tangkapnya, yaitu 87,7%  untuk tuna madidihang; 97,65 %  tuna mata besar; dan cakalang layak tangkap sebesar 90,00%. Untuk mengurangi prosentase tertangkapnya ikan ukuran tidak layak tangkap, selain dengan strategi tanpa menggunakan rumpon juga dapat menerapkan metode pengaturan kedalaman penurunan alat tangkap, pengaturan waktu penangkapan, dan pengaturan ukuran mata pancing. Informasi ini sangat dibutuhkan dalam pengelolaan spesies tuna dan cakalang secara berkelanjutan khusunya untuk penangkapan pada areal rumpon.
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI KAWASAN MANGROVE BULAKSETRA, KABUPATEN PANGANDARAN Hakim, Muhammad Romdonul; Krisnafi, Yaser; Edi Prayitno, Muhammad Riyono
MARLIN Vol 2, No 1 (2021): (Februari, 2021)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marlin.V2.I1.2021.55-61

Abstract

Kawasan mangrove Bulaksetra diinisiasi oleh masyarakat Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran yang merehabilitasi kawasan pemukiman nelayan yang rusak oleh tsunami pada tahun 2006 dengan tumbuhan mangrove. Bibit mangrove yang ditanam untuk kegiatan rehabilitasi didominasi oleh Rhizophora apiculata. Metode pengamatan menggunakan transek kuadran. Hasil penelitian menunjukkan pada stasiun 1 Rhizophora apiculata menjadi jenis mangrove yang paling dominan untuk stadia pohon, anakan dan semai dengan Indeks Nilai Penting (INP) berturut-turut: 185,82; 100,00; dan 200,00. Pada stasiun 2 didominasi oleh Sonneratia spp. untuk stadia pohon, anakan dan semai dengan INP berturut-turut: 300,00; 66,67; dan 200,00. Terakhir, pada stasiun 3 hanya terdapat mangrove Rhizophora spp. pada stadia anakan dengan INP 200,00. Hasil ini menunjukkan bibit Rhizophora apiculata telah berhasil tumbuh dengan baik terbukti pada stasiun 2 dan 3 ditemukan Rhizophora apuiculata pada stadia anakan. Nilai indeks keanekaragaman < 2 menunjukkan kawasan mangrove Bulaksetra bersifat rentan apabila ada tekanan ekologis dari lingkungan sekitarnya.
Aplikasi serbuk daun mangrove (Rhizopora sp.) sebagai pengawet alami tali rami pada alat tangkap jaring ikan: Application of mangrove leaves powder (Rhizopora sp.) as a natural preservative for hemp rope in fishing gear Krisnafi, Yaser; Sumartini, Sumartini; Mardiah, Ratu Sari
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 1 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(1)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i1.47046

Abstract

Tali rami adalah bahan yang digunakan untuk membuat jaring pada alat tangkap. Sifat tali rami yang mudah busuk dan masa pakai yang singkat membuat tali ini kurang diminati oleh nelayan. Bahan pengawet digunakan untuk menambah usia pakai tali rami, salah satunya adalah daun mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh aplikasi serbuk daun mangrove Rhizophora sp. sebagai pengawet tali rami berdasarkan parameter kemuluran benang dan kuat putus. Daun mangrove Rhizophora sp. yang digunakan jenis daun muda dengan warna hijau tidak pekat. Serbuk daun mangrove Rhizophora sp. dianalisis proksimat dan fitokimia. Pengawetan tali rami terdiri atas perlakuan tanpa perendaman serbuk daun Rhizophora sp. (kontrol) dan perendaman 0,3; 0,5; 0,7; dan 0,9 kg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk daun mangrove Rhizophora sp. memiliki kadar air 6,31±0,06%; lemak 0,66±0,05%; abu 8,28±0,10%; protein 8,74±0,04%; serat kasar 15,25±0,05%; dan karbohidrat 65,76±0,05%. Serbuk daun mangrove Rhizophora sp. terdeteksi mengandung senyawa fenol, alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Perbedaan konsentrasi perendaman serbuk daun mengrove dapat memengaruhi (p<0,05) kuat putus basah , namun pada parameter lainnya (kadar air, kemuluran benang basah-kering), kuat putus kering dengan pemberian serbuk daun mangrove pada rentang konsentrasi 0,3-0,9 kg/L tidak berpengaruh signifikan.