Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search
Journal : Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)

PEMANFAATAN ECENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES) SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN PULP Putri, Anggieta Putri; Bahri, Syamsul; Zulnazri, Zulnazri; ZA, Nasrul; Mulyawan, Rizka
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 1 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-April 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i1.12319

Abstract

Pulp merupakan bubur kertas yang akan dijadikan lembaran kertas. Pembuatan pulp pada penelitian ini menggunakan bahan baku berupa eceng gondok (Eichhornia Crassipes). Penelitian mengenai Pemanfaatan Eceng Gondok Sebagai Bahan Baku Pulp ini sudah pernah dilakukan sebelumnya diantaranya, menurut penelitian Roni Tulak Dkk (2022) yang berjudul Pengaruh Waktu Pemanasan Dan Konsentrasi Larutan Pemasak Terhadap Kualitas Pulp Dari Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes). Untuk menghasilkan pulp harus diperhatikan kadar selulosa lebih dari 40%, dan kadar lignin kurang dari 25%. Penelitian ini membandingkan antara proses soda dengan proses sulfit, dengan menggunakan larutan NaOH 3%, 5%, 7% dan 9% dan larutan H2SO4 3%, 5%, 7%, dan 9% sebagai pelarut pada proses delignifikasi. Sementara hasil yang diperoleh dari penelitian ini larutan NaOH memiliki hasil terbaik dibandingkan dengan larutan H2SO4 dalam proses delignifikasi. Karena NaOH pada konsentrasi 9% diperoleh kadar selulosa tertinggi sebesar 57%, dan memiliki kadar lignin yaitu 10%, serta yield yang diperoleh berkisar antara 53% hingga 69%. Sedangkan larutan H2SO4 hanya mampu memperoleh selulosa tertinggi pada konsentrasi 9% dengan selulosa sebesar 52%, dengan kadar lignin sebesar 12%, tetapi pada hasil perolehan yield memiliki hasil terbesar yaitu 65% sampai 72%. Pulp dari kadar air eceng gondok (Eichhornia Crassipes) memiliki sebanyak 14% hingga 16% dan belum memenuhi standard dalam pembuatan pulp.
PEMURNIAN MINYAK JELANTAH DENGAN MEMANFAATKAN AMPAS NANAS SEBAGAI ADSOBEN Afra, Khalida; ZA, Nasrul; Sulhatun, Sulhatun; Mulyawan, Rizka; Muarif, Agam
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 1 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-April 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i1.13402

Abstract

Proses pemisahan produk reaksi degradasi (air, peroksida, asam lemak bebas, aldehida, dan keton) dari minyak goreng dikenal sebagai penyulingan minyak goreng atau minyak goreng bekas. Menggunakan agen penyerap untuk memurnikan minyak goreng bekas adalah metode yang mudah dan efektif. Ampas nanas adalah adsorben yang digunakan dalam penelitian ini. Karena memiliki antioksidan yang dapat mencegah molekul radikal bebas, bahan penyerap ini dapat memurnikan minyak jelantah. Menggunakan ampas nanas sebagai adsorben dan proses aktivasi untuk mengukur kadar asam lemak bebas, bilangan asam, bilangan peroksida, kadar air, dan karakteristik gugus fungsi yang diperoleh setelah adsorbsi, penelitian ini bermaksud untuk melihat pengaruh waktu dan massa terhadap proses penyulingan minyak jelantah. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, namun yang menjadi pembeda adalah waktu adsorpsi 3, 4, 5, dan 6 hari dan massa adsorben 13, 15, 17, dan 19 g. Dari hasil penelitian didapatkan hasil uji terbaik asam lemak bebas (FFA) sebesar 0,10%, bilangan asam KOH/gr 0,16 mg, bilangan peroksida 1,48 mEq/kg, kadar air 0,01%, dan uji gugus fungsi (FTIR) untuk adsorben aktif, dengan gugus hidroksil OH pada bilangan gelombang 3367,71 cm-1, gugus C=O pada bilangan gelombang 1708,93 cm-1, gugus fungsi C=C pada bilangan gelombang 1.570,06 cm-1, gugus fungsi C-H dengan bilangan gelombang 2.941,44 cm-1, dan golongan fungsional P-OH dengan bilangan gelombang 1.058,92 cm-1.
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT NANAS SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIOETANOL MENGGUNAKAN RAGI Saccharomyces Cereviceace Salim, Muhammad Alfis; Zulnazri, Zulnazri; Azhari, Azhari; ZA, Nasrul; Bahri, Syamsul
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 3 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i3.14654

Abstract

Bioetanol yakni bahan bakar pengganti dari proses fermentasi gula sebagai sumber karbohidrat dengan pemberian mikroba. Kulit nanas adalah bahan baku yang cukup berpotensi untuk dapat dimanfaatkan menjadi bioetanol. Tujuan penelitian ini yaitu menentukan kadar bioetanol dari kulit nanas, kemudian mengoptimasi proses fermentasi kulit nanas dan kadar bioetanol terhadap konsentrasi ragi dan variasi waktu fermentasi. Penelitian ini mengaplikasikan hidrolisis fermentasi dan distilasi menggunakan katalis asam klorida (HCl) dengan variasi pemberian ragi 4, 8, 10 dan 12 gram serta lama fermentasi 2, 3, 4 dan 5 hari. Pada penelitian ini dilakukan pengujian densitas, viskositas dan komposisi senyawa etanol dengan GC. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, yang belum pernah dilakukan adalah menggunakan variasi konsentrasi ragi 4, 8, 10 dan 12 gram dan lama fermentasi 2, 3, 4 dan 5 hari. Hasil terbaik  di penelitian ini ditunjukkan pada variasi penggunaan ragi 12 gram dan lama waktu fermentasi 5 hari dengan hasil densitas 0,892 gr/ml dan viskositas 0,0829 cP. Analisa kandungan bioetanol menggunakan GC menunjukkan bahwa hasil yang didapat memiliki kandungan etanol.
ANALISA KARAKTERISTIK SEDIAAN MASKER PEEL-OFF DARI LIMBAH CANGKANG TELUR DENGAN PENAMBAHAN BUBUK KULIT BATANG KAYU MANIS Lubis, Muhammad Irvan Maulana; Muarif, Agam; ZA, Nasrul; Azhari, Azhari; Muhammad, Muhammad
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 1 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-April 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i1.14679

Abstract

Masker peel-off merupakan masker yang berbentuk gel yang di aplikasikan ke kulit dan dalam waktu tertentu akan membentuk lapisan film transparan yang elastis, setelah kering masker dapat langsung diangkat tanpa perlu dibilas, Masker wajah tentu memiliki banyak manfaat sesuai dengan jenis bahan utama yang terkandung dalam produk tersebut mulai dari mencerahkan wajah, memudarkan bekas jerawat, mengecilkan pori-pori hingga menyamarkan garis-garis halus pada wajah, Pada penelitian ini penulis menambahkan bubuk batang kayu manis sebagai zat aktif, dan dmdm hidantoin sebagai pengawet, pengujian juga dilakukan selama 1 minggu lama penyimpanan untuk mengamati karakteristik sediaan dengan variasi perbandingan PVA (8, 10, 12 gram) dan CMC (0, 1, 3, 5 gram), dari masing-masing sediaan dilakukan uji evaluasi, meliputi: organoleptik, daya sebar, waktu kering, homogenitas, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi massa sediaan memberikan pengaruh pada sifat fisika masker, hasil evaluasi dapat disimpulkan bahwa  sediaan masker dengan perbandingan 10 gram PVA dan 1 gram CMC, merupakan formula yang memenuhi SNI, dengan nilai pH 7,3-7,5, daya sebar 5-5,1 cm, waktu kering 25-26 menit, kestabilan homogenitas yang baik, dan uji organoleptik yang paling banyak disukai.
Pemanfaatan Ampas Kopi Sebagai Bahan Filler Pembuatan Sabun Batang Nadya, Nova; Ibrahim, Ishak; ZA, Nasrul; Muhammad Syam, Azhari; Jalaluddin, Jalaluddin
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 1 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-April 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i1.14772

Abstract

Ampas kopi merupakan produk sampingan dari penggunaan minuman secara luas, namun juga merupakan sumber daya yang dapat didaur ulang. Pembuatan sabun adalah salah satu aplikasi yang menarik. Dengan tujuan mengembangkan barang ramah lingkungan dan berkualitas tinggi, penelitian ini menyelidiki kelayakan penggunaan ampas kopi sebagai bahan utama dalam produksi sabun. Agar proses pengolahan ampas kopi dapat menghasilkan sabun yang diinginkan, perlu dilakukan pengeringan, penggilingan, dan penambahan komponen tambahan yang tepat. Untuk mengetahui kandungan nutrisi yang dapat mempengaruhi karakteristik sabun, susunan kimiawi bubuk kopi dianalisis. Meskipun penelitian serupa telah dilakukan di masa lalu, waktu pencampuran satu, dua, dan tiga menit dengan massa ampas kopi yang bervariasi belum pernah diuji . Berdasarkan temuan, kisaran pH ideal adalah 8-11, kadar air sabun batangan menurun seiring dengan bertambahnya massa bubuk kopi, dan konsentrasi bebas alkali berkisar antara 0,060% hingga 0,85%. Menggunakan temuan ini pada kulit masih sepenuhnya aman. Temuan percobaan menunjukkan bahwa gilingan kopi dapat diubah menjadi bahan dasar sabun yang efektif membersihkan dan melembabkan. Penggunaan bahan kimia alami yang terurai di alam pada sabun semakin menunjukkan pelestarian lingkungannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan ampas kopi untuk membuat sabun merupakan solusi yang saling menguntungkan: mengurangi sampah organik dan menghasilkan produk ramah lingkungan yang mungkin menjadi pesaing di pasar perawatan pribadi dan kosmetik.
PEMODELAN PROSES PRODUKSI BIODIESEL MENGGUNAKAN APLIKASI HYSYS Ulfa, Tasya; ZA, Nasrul; Fibarzi, Wiza Ulfa; Nurlaila, Rizka; Ulfa, Raudhatul; Maulinda, Leni
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 2 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Mei 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i2.14892

Abstract

Kebutuhan bahan bakar minyak bumi terus meningkat seiring dengan meningkatnya konsumsi energi dunia. Namun peningkatan tersebut tidak diimbangi dengan pasokan minyak bumi yang memadai. Hal ini dikarenakan minyak bumi merupakan bahan bakar yang tidak terbarukan karena proses pembentukannya memerlukan waktu yang cukup lama. Dibutuhkan sumber energi alternatif seperti biodiesel. Salah satu perangkat yang dapat digunakan untuk melakukan simulasi proses dalam produksi biodiesel adalah software HYSYS. Penelitian ini  sudah pernah dilakukan sebelumnya menggunakan reactive distillation, yang belum dipernah dilakukan adalah menggunakan reaktor CSTR dan Separator. Pemisahan yang terjadi pada Separator menghasilkan biodiesel dengan tingkat kemurnian sebesar 99,74%.Tingkat kemurnian biodiesel tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan metode reactive distillation yang hanya menghasilkan kemurnian biodiesel sebesar 98%. Dengan memanfaatkan CSTR dan Separator meningkatkan efesien dalam menghasilkan tingkat kemurnian biodiesel yang lebih tinggi. Hal ini terbukti dengan perbandingan hasil yang menujukkan bahwa penggunaan CSTR dan Separator lebih baik dibandingkan reactive distillation. CSTR memiliki kelebihan yaitu operasi secara kontinyu, pengontrolan temperatur yang mudah dan biaya operasi relatif murah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa simulasi pada proses produksi biodiesel menggunakan CSTR dan Separator pengganti reactive distillation. Penggunaan CSTR dan Separator dalam produksi biodiesel dapat memberikan manfaat yaitu penghematan energi dimana energi yang keluar dari CSTR sebesar 307,6oC dapat digunakan kembali pada heat exchanger sebesar 192oC sehingga tidak  ada energi yang terbuang sia-sia sehingga biaya produksi akan menjadi lebih efesien. Pemisahan yang terjadi pada Separator menghasilkan biodiesel dengan tingkat kemurnian sebesar 99,74% lebih tinggi dibandingkan dengan metode reactive distillation yang hanya menghasilkan kemurnian biodiesel sebesar 98%.
OPTIMASI PENGGUNAAN SOLVEN MDEA (METHYLDIETHANOLAMINE) PADA ABSORPSI GAS CO2 DENGAN SIMULASI ASPEN HYSYS V.11 Halimah, Mustika Ridhatul; ZA, Nasrul; Azhari, Azhari; Meriatna, Meriatna; Sulhatun, Sulhatun
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 3 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i3.14893

Abstract

Semua gas alam yang keluar dari sumur mempunyai sifat yang tidak sama . Hal ini disebabkan karena setiap aliran gas mempunyai komposisi yang berbeda -beda. Biasanya, CO 2 dan l H 2 S serta l uap air l dalam gas alam dipisahkan sebelum l dimasukkan ke dalam l proses. Hal l ini sangat penting l mengingat ketiga l gas tersebut l bersifat korosif l dan l beracun. Absorpsi adalah proses pemisahan l bahan dari l campuran gas l dengan cara l mengikatnya pada permukaan l cairan penyerap yang dilanjutkan dengan l proses pelarutan l reaksi antara kimia CO 2 dan senyawa amina. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi Absorpsi CO 2 menggunakan ASPEN HYSYS V.11 serta mengetahui penyerapan CO 2 dan optimasi energi penyerapan. Penelitian ini telah pernah dilakukan dengan menggunakan suhu pelarut dan konsentrasi pelarut terhadap komposisi CO2/H2S serta memuat CO2/H2S pada sweet gas, maka dari itu penelitian kali ini menggunakan tekanan pelarut dan laju alir pelarut untuk penyerapan CO 2 maksimal dengan energi yang optimal. Berdasarkan variasi tekanan dan laju alir pelarut MDEA maka penyerapan CO 2 tertinggi pada tekanan 886.1 psig, laju alir pelarut 308 m 3 /h CO 2 yang terserap sebesar 491.738 kmol/h dengan energi 2810000000 Kj/h . Hasil optimasi energi yang didapat adalah pada tekanan 886.1 psig dan laju alir solven 155.68 m 3 /h dengan CO 2 yang terserap sebesar 375.393 kmol/h dengan energi 1459669000 Kj/h .
Kinetika Reaksi Hidrolisis Biji Bunga Matahari (Helianthus Annuus L.) Menjadi Glukosa Menggunakan Katalisator Asam Klorida. Sinaga, Ahmad Roihan; Meriatna, Meriatna; Sylvia, Novi; ZA, Nasrul; Ibrahim, Ishak; Zulmiardi, Zulmiardi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 3 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i3.15309

Abstract

Biji bunga matahari memiliki kandungan gula sebesar 2,62 gr dan kandungan karbohidrat sebesar 24 gram. Metode hidrolisis adalah proses pembentukan gula dari karbohidrat. Menggunakan asam klorida sebagai katalis dan menyesuaikan suhu dan waktu hidrolisis adalah metode yang digunakan untuk membuat penelitian ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memastikan kecepatan di mana pati diubah menjadi glukosa, mekanisme yang mendasari reaksi hidrolisis, dan bagaimana pati diekstraksi dari biji bunga matahari. Menggunakan katalis asam klorida, hidrolisis akan dilakukan dalam serangkaian alat hidrolisis. Penelitian ini pernah dilakukan dengan jenis katalis yang berbeda tetapi hanya menggunakan satu suhu dan waktu reaksi, maka untuk melihat perbandingan yang terjadi akan dibuat penelitian dengan variasi suhu dan waktu reaksi dan jenis katalis yang berbeda serta membuatnya kedalam studi kinetika reaksi. Beberapa variasi suhu reaksi yang akan digunakan adalah 75,80,85,90, dan 95 °C. Waktu hidrolisis dijalankan selama 30,45,65,75, dan 90 menit. Hidrolisis biji bunga matahari dengan asam klorida, menurut hasil peneltian yang telah dilakukan, adalah reaksi orde satu semu dengan konversi glukosa tertinggi didapat pada kondisi waktu selama 90 menit dan pada suhu hidrolisis 95 °C. Didapat energi aktivasi 17,806 J/mol dengan beberapa nilai konstanta kecepatan reaksi hidrolisis biji bunga matahari yaitu 1,88 x 10-3, 2,24 x 10-3, 2,38 x 10-3, 2,50 x 10-3, dan 2,69 x 10-3 menit-1. Tingkat glukosa tertinggi adalah 5,23 mg/ml dengan konversi tertinggi sebesar 34,83 %.
Pengaruh Metode Penghilangan HCN (Hidrogen Sianida) Secara Organik dan Kimiawi pada Daging Biji Karet Sebagai Bahan Baku Pembuatan Tempe Ritonga, Renanda Pradila; Muarif, Agam; Za, Nasrul; Nurlaila, Rizka; Bahri, Syamsul; Retnowulan, Sri Rahayu
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 3 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i3.16465

Abstract

Biji karet (Hevea brasiliensis) merupakan biji yang dihasilkan dari tanaman karet yang mengandung protein 17,41%, Karbohidrat 6,99%, Abu 3,08%, lemak 68,53%, dan HCN 3,99%. Biji karet dapat dikonsumsi dan dibuat menjadi berbagai olahan seperti keripik, es krim, dan tempe. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hasil perbandingan penghilangan Asam Sianida (HCN) antara proses organik dan proses kimiawi pada biji buah karet, waktu yang digunakan untuk penghilangan Asam Sianida (HCN) pada biji buah karet dan menentukan hasil olahan yang dihasilkan dari biji buah karet yaitu tempe yang aman dikonsumsi. Pada penelitian sebelumnya yaitu dilakukan (Ningsih, 2015) perendaman biji karet dengan penambahan arang aktif dan NaCl, dan penelitian oleh (Wahyu, 2020) menunjukkan keberhasilan penurunan kadar HCN pada biji buah karet dengan menggabungkan konsentrasi abu sekam dengan lama perendaman. Dan pada penelitian ini perendaman hanya menggunakan aquades dan kapur sirih 1%. Uji kadar HCN digunakan menggunakan perak nitrat secara volumetrik, spektrofotometer UV-Vis, dan uji organoleptik pada hasil olahan. Uji kadar HCN menggunakan perak nitrat nilai kadar HCN tertinggi pada organik dan kimiawi yaitu pada perlakuan tanpa perendaman dan perebusan, yaitu sebesar 79,027ml/kg. Kandungan HCN terendah pada organik dan kimiawi yaitu pada perlakuan perendaman selama 18 jam dan perebusan 90 menit, yaitu sebesar 19,120ml/kg dan 19,099ml/kg. Uji kadar HCN menggunakan spektrofotometer UV-Vis hasil kadar HCN tertinggi pada organik dan kimiawi yaitu pada perlakuan tanpa perendaman dan perebusan, yaitu sebesar 160,2 ppm. Dan kandungan HCN terendah pada organic dan kimiawi pada perlakuan perendaman selama 18 jam dan perebusan 90 menit, yaitu sebesar 23,95 ppm dan 23,45 ppm. Semakin lama waktu perendaman dan perebusan pada biji karet maka kandungan HCN pun semakin kecil.Kata Kunci:Asam Sianida, Perendaman, Perebusan, Tempe, Waktu
PENGARUH KONSENTRASI AKTIVATOR NaOH DAN WAKTU AKTIVASI TERHADAP DAYA SERAP KARBON AKTIF DARI LIMBAH PELEPAH KELAPA SAWIT (Elaeis Guineensis) DENGAN PROSES KARBONISASI Sandi, Nazlia Armita; muarif, agam; ibrahim, ishak; za, nasrul; sylvia, novi; Ahmad Fikri
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 06 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i06.20548

Abstract

Penelitian sebelumnya yaitu jenis aktivator, konsentrasi aktivator dan waktu aktivasi, yaitu menggunakan aktivator H3PO4 dengan konsentrasi 8%, 10%, 12%, dan 14% dengan waktu aktivasi 24 jam. Variasi ini memungkinkan pengujian karbon aktif dari limbah pelepah kelapa sawit menentukan perbandingan yang optimal antara activator dan waktu aktivasi serta variasi konsentrasi dapat mempengaruhi kualitas karbon aktif. Ada empat proses diantaranya: tahap persiapan bahan baku, tahap karbonisasi, tahap aktivasi dan tahap analisa karateristik karbon aktif dari limbah pelepah kelapa sawit. Variabel pada penelitian dalam proses adalah konsentrasi aktivator NaOH (0,5, 1,0, 1,5, 2, dan 2,5 N), dan waktu aktivasi (18, 20, 22, dan 24 jam). Pengujian terhadap sampel meliputi moisture, ash, volatile matter, daya serap iodin, fixed karbon dan uji SEM. Hasil pengujian diperoleh kadar air berkisar antara 0,432-0,874 %, kadar abu berkisar antara 0,713-0,998 %, kadar zat terbang berkisar antara 0,420-0,948% , fixed karbon berkisar antara 97,387-97,907 % daya serap iod berkisar antara 510,17-837,60 mg/g. Citra Permukaan SEM karbon aktif menggunakan NaOH menghasil permukaan objek yang gelap. Gelapnya objek pada hasil uji SEM menunjukan kedalaman . Semakin gelap permukaan maka semakin dalam sehingga mudah dalam menyerap limbah.Kata kunci: Aktivasi, aktivator, karbonasi, karbon aktif, uji SEM