Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PERAWATAN TALI PUSAT SECARA TRADISIONAL PADA BAYI BARU LAHIR OLEH SUKU MADURA DI DESA MADU SARI TAHUN 2023 Yuliana, Yuliana; Alexander, Alexander
Jurnal_Kebidanan Vol. 13 No. 2 (2023): Jurnal Kebidanan Volume 13 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : STIKES Panca Bhakti Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33486/jurnalkebidanan.v13i2.236

Abstract

Perawatan tali pusat yang tidak benar pada bayi baru lahir meningkatkan resiko masuknya spora kuman tetanus ke dalam tubuh melalui tali pusat sehingga berdampak menimbulkan tetanus neonatorum. Studi pendahuluan pada suku madura di RT/ RW 002/001 Wilayah Kerja Poskesdes Desa Madu Sari dimana perawatan tali pusat menggunakan bahan tradisional seperti abu dari bakaran kain Madura, daun nangka atau kunyit dan ramuan dari daun sirih yang ditumbuk dengan garam dan dioleskan ke puntung tali pusat baik secara tertutup atau terbuka. Tujuan penelitian : mengetahui bahan tradisional yang digunakan dalam perawatan tali pusat bayi baru lahir oleh suku Madura di Desa Madu Sari Tahun 2023. Metode penelitian : kualitatif dengan sampel dalam penelitian ini adalah bayi baru lahir usia 0-10 hari sebanyak 9 orang. Analisa dengan model interaktif Miles dan Hubberman. Hasil penelitian didapatkan : pelaksana paling banyak nenek bayi (5 orang) dan 4 ibu bayi dengan karakteristik usia tertua 66 tahun, termuda 28 tahun, Pendidikan tertinggi SMP, terendah tidak tamat SD. Bahan yang digunakan yaitu ramuan daun sirih dan garam 3 responden, kunyit dan garam 3 responden, abu daun nangka kering 1 responden dan abu kain Madura 2 responden dengan cara mengoleskan rempah dan abu di puntung tali pusat. Cara perawatan tali pusat yaitu 2 responden melakukannya secara tertutup dan 7 responden secara terbuka. Lama pelepasan tali pusat responden I dan VII (4 hari) responden II dan IV (7 hari), responden III , V , VIII dan IX (3 hari), responden VI (5 hari). Kesimpulan : Lama lepasnya tali pusat paling cepat 3 hari paling lama 7 hari dan tergolong normal/ cepat. Diharapkan Bidan melakukan pendekatan pada tokoh masyarakat setempat untuk sosialisasi perawatan tali pusat yang bersih, kering dan tertutup seperti anjuran pemerintah dan dilakukan oleh bidan atau nakes.
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KADAR HEMOGLOBIN REMAJA PUTRI DI ASRAMA SEKOLAH TINGGI KESEHATAN PANCA BHAKTI PONTIANAK KUBU RAYA TAHUN 2023 Angel FS Turnip, Divyani; Alexander, Alexander; Lisnwati, Lisnwati; Melyani, Melyani
Jurnal_Kebidanan Vol. 14 No. 1 (2024): Jurnal Kebidanan Volume 14 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : STIKES Panca Bhakti Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33486/jurnalkebidanan.v14i1.261

Abstract

Volume 14 Nomor 1 Mei 2024Jurnal Kebidanan-ISSN 2252-812196HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KADAR HEMOGLOBIN REMAJAPUTRI DI ASRAMA SEKOLAH TINGGI KESEHATAN PANCA BHAKTIPONTIANAK KUBU RAYA TAHUN 2023Divyani Angel Fs. Turnip, Alexander, Lisnwati, MelyaniProgram Studi D III Kebidanan, STIKES Panca Bhakti Pontianakemail korespondensi : divyaniturnip@gmail.comABSTRAKAnemia masih menjadi masalah kesehatan yan sering terjadi di dunia, khususnya di negaraberkembang, seperti Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya data Riset Kesehatan Dasar terjadikenaikan kasus anemia remaja putri sekitar 37.1 % naik menjadi 48.9 %. Berdasarkan studi pendahuluandi Asrama Sekolah Tinggi Kesehatan Panca Bhakti Pontianak Kubu Raya didapatkan 4 dari 10 remajaputri mengalami kadar hemoglobin tidak normal.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan kadarhemoglobin remaja putri di asrama Sekolah Tinggi Kebidanan Panca Bhakti Pontianak Kubu RayaTahun 2023.Jenis penelitian ini mengunakan analisis korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasidalam penelitian ini berjumlah 31 remaja putri, sampel yang digunakan sampel jenuh. Pengumpulandata mengunakan data primer dilakukan secara observasi dengan analisis univariat dan bivariat (Chi-square).Hasil penelitian terhadap 31 remaja putri diperoleh sebagian besar responden yaitu 20 remajaputri (64,5%) memiliki indeks massa tubuh normal. Dan Kadar hemoglobin diperoleh sebagian besarresponden yaitu 23 remaja putri (74,2%) normal. Setelah dilakukan analisis dengan mengunakan SPSS( uji Chi-Square) dengan taraf signifikan (a 0,05) didapati hasil dengan p-value 1,000 0,05.Kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan kadar hemoglobin padaremaja putri di Asrama Sekolah Tinggi Kesehatan Panca Bhakti Pontianak Kubu Raya Tahun 2023.Saran diharapkan para remaja di asrama Sekolah Tinggi Kesehatan Panca Bhakti Pontianak Kubu Rayadapat memperhatikan aktivitasnya dan memahami tentang pentingnya gizi seimbang bagi remaja
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REMAJA PUTRI DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN FISIK SAAT PUBERTAS DI SMPN 24 PONTIANAK TAHUN 2024 Iit, Katarina; Alexander, Alexander; Wulan Sari, Desty
Jurnal_Kebidanan Vol. 15 No. 1 (2025): Jurnal Kebidanan Volume 15 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : STIKES Panca Bhakti Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33486/jurnalkebidanan.v15i1.334

Abstract

Abstrak Latar Belakang Masa remaja merupakan masa periode pertumbuhan dan perkembangan fisik, psikologis, dan intelektual yang pesat. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan bahwa kalimantan barat terdapat jumlah remaja 5.541. 376 jiwa yang terdiri dari remaja berusia 10-14 tahun berjumlah 468.968 jiwa dan remaja berusia 15-19 tahun berjumlah 472. 478 jiwa. Sedangkan dikota Pontianak remaja mulai dari usia 10-14 tahun berjumlah 53.560 jiwa dan remaja berusia 15-19 tahun berjumlah 42.256. berdasarkan data tersebut masih ada masalah yg terjadi yaitu ketidak tahuan remaja putri mengenai pubertas. Dan jumlah renmaja putri di kelas VII dan VIII SMPN 24 Pontianak sebanyak 145 Siswi. Peneliti melakukan wawancara terhadap 10 remaja putri dan didapatkan hasil wawancara sebanyak 3 remaja yang mengerti tentang perubahan fisik saat pubertas, sedangkan 7 remaja yang belum paham tentang pubertas. Tujuan Penelitian untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Remaja Putri Dalam Menghadapi Perubahan Fisik Saat Pubertas Di SMPN 24 Pontianak Tahun 2024. Metode Penelitian menggunakan metode analisis korelasi, dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian ini di dilakukan di SMPN 24 Pontianak Tahun 2024. Populasi berjumlah 145 orang dan Sampel berjumlah 60 Responden, teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan teknik analisis data menggunakan chi square. Hasil penelitian diperoleh sebagian besar dari responden yaitu 43 (71,7%) berpengetahuan baik. Sebagian besar responden yaitu 40 responden (66,7%) bersikap mendukung. Sebagian besar responden yaitu 41 responden (68,3%) dengan usia 15-17 tahun. Sebagian besar responden yaitu 43 responden (71,7%) mendapatkan informasi dari guru. Sebagian kecil dari ayah responden yaitu 19 responden (16,7) berpendidikan SMA. Sebagian kecil dari ibu responden yaitu 20 responden (33,3%) berpendidikan SMA. Kesimpulan penelitian ada pengaruh antara usia dan sumber informasi terhadap pengetahuan, dan ada pengaruh antara usia terhadap sikap. Saran agar Sebaiknya lebih meningkatkan lagi pengetahuan dengan cara mengaktifkan bimbingan konseling disekolah Kata Kunci: Perubahan Fisik, Remaja Putri, Pengetahuan, Sikap Abstract Background Adolescence is a period of rapid physical, psychological, and intellectual growth and development. According to the Central Statistics Agency (BPS) in 2022, West Kalimantan had 5,541,376 teenagers, consisting of 468,968 teenagers aged 10-14 years and 472,478 teenagers aged 15-19 years. Meanwhile, in Pontianak city, teenagers aged 10-14 years numbered 53,560 and 42,256 teenagers aged 15-19 years. Based on these data, there is still a problem that occurs, namely the ignorance of teenage girls about puberty. And the number of teenage girls in grades VII and VIII of SMPN 24 Pontianak is 145 students. The researcher conducted interviews with 10 teenage girls and the results of the interviews showed that 3 teenagers understood physical changes during puberty, while 7 teenagers did not understand puberty. The purpose of this study is to determine the factors that influence the attitudes of adolescent girls in dealing with physical changes during puberty at SMPN 24 Pontianak in 2024. The research method uses a correlation analysis method, with a cross-sectional approach. The location of this research was conducted at SMPN 24 Pontianak in 2024. The population was 145 people and the sample was 60 respondents, the data collection technique used a questionnaire and the data analysis technique used chi square. The results of the study obtained that most of the respondents, namely 43 (71.7%) had good knowledge. Most of the respondents, namely 40 respondents (66.7%) were supportive. Most of the respondents, namely 41 respondents (68.3%) were aged 15-17 years. Most of the respondents, namely 43 respondents (71.7%) got information from teachers. A small portion of the respondents' fathers, namely 19 respondents (16.7) had a high school education. A small portion of the respondents' mothers, namely 20 respondents (33.3%) had a high school education. The conclusion of the study is that there is an influence between age and sources of information on knowledge, and there is an influence between age and attitudes. Suggestion: It is better to increase knowledge by activating guidance and counseling at school Keywords: Physical Changes, Adolescent Girls, Knowledge, Attitude
EVALUASI PERBEDAAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF DAN SUSU FORMULA TERHADAP MASA AMENOREA PADA IBU POSTPARTUM DI DUSUN ALAS KUSUMA PADA TAHUN 2024 Alexander, Alexander; Lisnawati, Lisnawati; Palentina, Palentina
Jurnal_Kebidanan Vol. 14 No. 2 (2024): Jurnal Kebidanan Volume 14 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : STIKES Panca Bhakti Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33486/jurnalkebidanan.v14i2.390

Abstract

ASI ekslusif dapat memperpanjang masa amenorea postpartum yang berfungsi sebagai ASI ekslusif dapat memperpanjang masa amenorea postpartum yang berfungsi sebagai metode kontrasepsi alami bagi ibu. Cakupan bayi yang diberikan ASI ekslusif di kubu raya pada tahun 2023 sebanyak 62%, dan target Kemenkes yaitu 80%. Banyak ibu yang tidak mengetahui manfaat dari pemberian ASI ekslusif, sehingga angka kelahiran semankin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan pemberian ASI ekslusif dan susu formula terhadap masa amenorea pada ibu postpartum di dusun alas kusuma. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik kolerasi dengan pendekatan cross-sectional, Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 40 ibu postpartum dengan Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Analisis data dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Mann-Whitney. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan rata-rata lama amenorea pada ibu yang memberikan ASI eksklusif adalah 178,55 hari, sedangkan pada ibu yang memberikan susu formula adalah 44,00 hari. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara lama amenorea pada kedua kelompok dengan nilai uji Man-whitney sebesar 5.527 dengan p-value 0.000 < 0.05. Terdapat perbedaan masa amenorea pada ibu postpartum yang memberikan ASI ekslusif dan susu formula pada ibu postpartum di Dusun Alas Kusuma pada tahun 2024. Perlu adanya sapeningkatan program edukasi dan dukungan bagi ibu menyusui, serta kerjasama dengan lembaga pendidikan dan kesehatan untuk memperkuat intervensi yang ada.  
PENGARUH EDUKASI MEDIA LEAFLET TERHADAP PENGETAHUAN IBU HAMIL DALAM MEMILIH PENOLONG PERSALINAN DI DESA MADU SARI Alexander, Alexander; Iit, Katarina; Yuliana, Yuliana
Jurnal_Kebidanan Vol. 15 No. 2 (2025): Jurnal Kebidanan Volume 15 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : STIKES Panca Bhakti Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33486/jurnalkebidanan.v15i2.393

Abstract

Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang krusial, dengan pemilihan penolong persalinan non-tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor risiko utama. Kurangnya pengetahuan ibu hamil mengenai pentingnya persalinan yang aman oleh tenaga kesehatan terampil merupakan penghalang signifikan dalam upaya penurunan AKI. Intervensi edukasi yang efektif, terjangkau, dan mudah diakses sangat diperlukan, terutama di wilayah pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media leaflet terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil di Desa Madu Sari mengenai pemilihan penolong persalinan yang aman. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan rancangan one-group pre-test-post-test. Sampel penelitian 30 ibu hamil di Desa Madu Sari dan dipilih melalui teknik purposive sampling. Data pengetahuan dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur sebelum (pre-test) dan dua minggu setelah (post-test) intervensi berupa pemberian leaflet edukatif. Analisis data untuk menguji hipotesis penelitian menggunakan uji statistik non-parametrik Wilcoxon signed-rank test dengan tingkat signifikansi p value < 0,05$. Terdapat peningkatan yang signifikan pada tingkat pengetahuan responden setelah menerima intervensi. Rerata skor pengetahuan meningkat secara substansial dari 45,50 pada saat pre-test menjadi 82,75 pada saat post-test. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value = 0,000 (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa edukasi menggunakan media leaflet berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan pengetahuan ibu hamil. Lebih lanjut, proporsi responden dengan kategori pengetahuan "Baik" meningkat drastis dari 6,7% sebelum intervensi menjadi 66,7% setelah intervensi, sementara kategori "Kurang" menurun dari 22% menjadi 3%. Edukasi kesehatan melalui media leaflet terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan. Media ini direkomendasikan sebagai alat intervensi yang praktis, efisien, dan berbiaya rendah bagi puskesmas, bidan desa, dan kader kesehatan dalam program promosi kesehatan ibu dan anak.
UNMASKING TUBO-OVARIAN ABSCESS WITH ABSENCE OF CLASSIC SIGNS IN A 32-YEAR-OLD WOMAN AFTER A DECADE OF INFERTILITY - A CASE REPORT Sanchia, Hansel; Firdaoz, Yoza; Alexander, Alexander; Arnansyah, RM Reza I
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.48518

Abstract

Tubo-Ovarian Abscess (TOA) is an infection in the adnexal area often caused by Pelvic Inflammatory Disease (PID). This infection is usually due to polymicrobial bacteria and can occur as a result of the spread of intra-abdominal infections. Symptoms include abdominal pain, fever, and leukocytosis, with additional symptoms such as vaginal discharge and nausea. Diagnosis is made through blood tests, imaging, and cultures. The primary treatment is antibiotics, and abscess drainage via surgery is considered if antibiotic therapy is ineffective. A 32-year-old woman with a history of an endometrial cyst presented with right lower quadrant pain and dysuria. Despite previously normal CA 19-9 and CA 125 levels, an ultrasound revealed an 8.33 cm cyst. The patient had a history of dysmenorrhea and no history of sexually transmitted infections. During surgery, a tubo-ovarian abscess with pus was discovered and subsequently drained. Post-operative recovery was successful, and the patient was discharged with a prescription for oral antibiotics and scheduled for outpatient follow-up. This case report highlights the absence of clinical manifestations such as fever or leukocytosis, which initially led to a misdiagnosis. This was only recognized after surgical intervention. The case illustrates that TOA can affect fertility, with the likely cause being a history of prior In Vitro Fertilization (IVF). These findings emphasize the importance of accurate diagnosis and a collaborative approach in managing TOA to improve patient outcomes. Further research is needed to understand the long-term impacts of TOA on reproductive health.