Yuliatiningsih, Aryuni
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Modern Slavery in Fishing Industry: the Need to Strengthen Law Enforcement and International Cooperation Aryuni Yuliantiningsih; Jaco Barkhuizen
Yustisia Vol 10, No 1: April 2021
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v10i1.46511

Abstract

The global fishing industry supports the livelihoods of millions, however, it adversely allows the occurrence of crimes throughout the value chain, especially modern slavery.  This research aims to examine the current existence of slavery in the fishing industry for the state to determine the best way to deal with its repeated occurrence. Studies show that slavery still exists due to the vulnerability of the fishing sector. These include the prolonged timeframe onboard which prevents the crew from leaving the vessel, poor working conditions, the long-hours associated with the catching process, lack of access to authorities, use of foreign flags to create barriers to the law enforcement, use of migrant labour lacking representation and the lack of governmental oversight or support. This research states that it is important to combat modern slavery by strengthening law enforcement, policy, and international cooperation between States, by involving the source, flag, coastal, port, trade and market States based on international and national law
The Participation of Indonesia in Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs): The Legal and Globalization Perspectives Aryuni Yuliantiningsih
UNIFIKASI : Jurnal Ilmu Hukum Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/unifikasi.v6i2.1943

Abstract

Abstract : The purpose of this research is to find out and analyse the participation of Indonesia in Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs) viewed from the legal and globalization perspectives. The method used in this research was a normative juridical by employing secondary data sources which were analysed qualitatively. The results showed that there are 4 (four) RFMOs bordering Indonesian waters, namely IOCT, CCSBT, WPPC, and Inter-American Tropical Tuna Commission (IATTC). Currently, Indonesia has participated as a member of RFMOs with the reasons, firstly, to participate in conserving fish resources and secondly, if Indonesia is not a member of RFMOs, the fishery products can be embargoed and categorized as IUU fishing. In relation to law and globalization, developed countries have implemented their hegemony to dominate the high seas through legal instruments, namely international treaties and organizations. On the other hand, the participation of Indonesia in RFMO is merely to facilitate the citizens to be able to access fish resources in the high seas.Keywords: Indonesia, RFMOs, law, globalization. Keikutsertaan Indonesia dalam Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs): Perspektif Hukum dan Globalisasi Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis keikutsertaan Indonesia dalam Regional Fisheries Management Organizatios (RFMOs) ditinjau dari perspektif hukum dan globalisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, menggunakan sumber data sekunder dan analisis dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian yaitu terdapat 4 (empat) RFMOs yang berbatasan dengan perairan Indonesia yaitu, IOCT, CCSBT, WPPC, Inter-American Tropical Tuna Commission (IATTC). Saat ini Indonesia telah ikut serta menjadi anggota RFMOs dengan alasan, pertama, ikut melakukan konservasi sumber daya ikan dan kedua,  jika tidak menjadi anggota RFMOs maka hasil tangkapan dapat  diembargo dan dikategorikan sebagai IUU fishing.  Dikaitkan dengan hukum dan globalisasi, negara maju telah menerapkan hegemoninya untuk menguasai laut lepas melalui instrumen hukum yaitu perjanjian internasional dan organisasi internasional. Di sisi lain keikutsertaan Indonesia dalam RFMO  untuk memfasilitasi warga negaranya agar dapat mengakses sumberdaya ikan di laut lepas.Kata Kunci: Indonesia, RFMOs, hukum, globalisasi.
Special and Differential Treatment under the World Trade Organization : Perspective on International Trade Law Aryuni Yuliantiningsih
UNIFIKASI : Jurnal Ilmu Hukum Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/unifikasi.v8i2.4417

Abstract

GATT/WTO regulates the principle of special and differential treatment in part IV as a way to address international trade inequality for developing countries. This study aims to examine the theoretical and practical principles of Special and Differential (SD). The study employed a normative juridical method involving a statutory and conceptual approach. The study revealed that the SD principle theoritically aims to attain justice for developing countries. This is in line with the theory of justice from John Rawls mentioning justice as fairness. In the context of international trade, this is also in line with Frank J Garcia. Based on these theories, SD demands a different treatment betwixt developed and developing countries. Generally, the SD principle is an instrument to attain fairness in international trade. In its implementation, the SD provisions aimed at helping developing countries. This involves market access, protecting the interest of the developing countries, and flexibility and transition period. However, the latter seems hard to enforce because developed countries frequently sue developing countries to the WTO panel once the SD principles are utilized by them. GATT/WTO mengatur prinsip Special and Differential treatment dalam Bagian IV sebagai cara untuk mengatasi ketimpangan perdagangan internasional bagi negara berkembang.  Artikel ini bertujuan untuk mengkaji Prinsip Special and Differential (SD) secara teoritis dan praktis. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara teoritis  prinsip S D bertujuan untuk mewujudkan keadilan bagi negara-negara berkembang. Hal ini sesuai dengan teori keadilan dari John Rawls bahwa justice as fairness dan Frank J Garcia dalam konteks perdagangan internasional. Berdasarkan teori tersebut SD menghendaki adanya pembedaan perlakuan antara negara-negara maju dengan negara sedang berkembang.   Prinsip SD merupakan instrumen untuk tercapainya keadilan dalam perdagangan internasional. Dalam implementasinya, ketentuan SD yang ditujukan untuk membantu negara berkembang yang terdiri dari akses pasar, kepentingan negara berkembang yang dilindungi, fleksibilitas dan masa transisi sulit diterapkan karena negara-negara maju sering menggugat negara berkembang  ke panel WTO  ketika prinsip SD diterapkan.
Analisis Doktrin Perang Yang Adil (Just War ) dalam Kasus Serangan Siber Rusia Terhadap Georgia Tahun 2008 Aryuni Yuliantiningsih
Kosmik Hukum Vol 21, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/kosmikhukum.v21i3.10613

Abstract

Cyberwarfare is a warfare  with information technology that has developed. It has not been  regulated in humanitarian law. Cyber attacks have been carried out by several countries by ignoring the Just War Theory. This  article aims to analyze the implementation of the Just War theory in cyber warfare according to international humanitarian law in the case of conflict between the Russian and Georgia in 2008. The research method use the normative juridical and  using secondary data sources. Qualitative data using deductive conclusion method. Based on the research results, it is known that the just  war theory including jus ad bellum, jus in bello and jus post bellum is not applied in cyberwarfare. The Russian’s cyber attack against Georgia violates the distiction principle , the principle of proportionality and the principles of proportionality. The losses incurred as a result of cyberattacks are not compensated by Russia.Keywords: just war, cyber attack, Russia, Humanitarian law.
PRINSIP TIDAK DIGANGGUGUGATNYA GEDUNG PERWAKILAN DIPLOMATIK MENURUT HUKUM INTERNASIONAL (Studi tentang Penggeledahan Kedutaan Besar Irak di Islamabad, Pakistan pada 1973) Nabila Fitriasachra; Aryuni Yuliantiningsih; Noer Indriati
Soedirman Law Review Vol 2, No 4 (2020)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.slr.2020.2.4.135

Abstract

Berdasarkan Pasal 22 ayat (1) Konvensi Wina 1961, gedung perwakilan asing tidak dapat diganggu gugat oleh aparat keamanan negara penerima. Dalam praktiknya, terkadang terjadi pelanggaran Konvensi tersebut khususnya mengenai penyalahgunaan gedung perwakilan asing, salah satunya adalah kasus penggeledahan Kedutaan Besar Irak di Islamabad, Pakistan pada 1973. Kasus ini berawal dari penyelundupan senjata dan bahan peledak ke dalam gedung perwakilan Irak di Islamabad yang menyebabkan gedung perwakilan tersebut digeledah oleh aparat keamanan Pakistan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prinsip tidak diganggugugatnya perwakilan diplomatik menurut Konvensi Wina 1961 dan menganalisis kasus penggeledahan Kedutaan Besar Irak di Islamabad oleh aparat keamanan negara Pakistan menurut hukum internasional. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian secara deskriptif analitis. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data normatif-kualitatif. Berdasarkan penelitian, Pakistan tidak melanggar prinsip inviolabilitas gedung perwakilan asing yang diatur dalam Pasal 22 Konvensi Wina 1961. Perbuatan Irak menyelundupkan senjata dan bahan peledak ke dalam gedung perwakilannya di Islamabad, menyebabkan aparat keamanan Pakistan menggeledah gedung perwakilan tersebut. Penggeledahan dilakukan karena gedung perwakilan digunakan negara pengirim untuk kegiatan yang bertentangan dengan pelaksaan fungsi dan tugas perwakilan diplomatik, sebagaimana diatur dalam Pasal 41 ayat (3) Konvensi Wina 1961 yang menjelaskan bahwa gedung perwakilan asing tidak boleh digunakan untuk tindakan yang bertentangan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi perwakilan sebagaimana ditetapkan dalam konvensi atau oleh peraturan hukum internasional lain atau oleh perjanjian khusus yang berlaku antara negara pengirim dan negara penerima.Kata Kunci : Prinsip tidak diganggu gugat,  gedung perwakilan asing, Konvensi Wina 1961
TINJAUAN YURIDIS PENYALAHGUNAAN KEKEBALAN DIPLOMATIK BERDASARKAN HUKUM INTERNASIONAL (Studi Tentang Kasus Penyelundupan Emas Oleh Diplomat Korea Utara Di Bangladesh Tahun 2015) Siti Azhara Saraswaty; Aryuni Yuliantiningsih; Noer Indriati
Soedirman Law Review Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.slr.2021.3.2.140

Abstract

Seorang wakil diplomatik memiliki kekebalan dan keistimewaan dalammenjalankan tugas-tugas dari negara yang diwakilinya secara efisien. Fungsidiberikannya kekebalan dan keistimewaan disebutkan dalam PembukaanKonvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik, namun pada praktiknyatidak jarang kekebalan diplomatik tersebut disalahgunakan oleh seorang wakildiplomatik. Salah satu contoh penyalahgunaan kekebalan diplomatik terjadipada tahun 2015 yang melibatkan Sekretaris Pertama Kedutaan Besar KoreaUtara bernama Son Young Nam yang terbukti menyelundupkan emas seberat27 kilogram dari Korea Utara ke Bangladesh. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaturan hukum internasional tentang kekebalan diplomatikserta mengetahui tanggung jawab negara berkaitan dengan terjadinyapenyalahgunaan kekebalan yang dilakukan oleh Son Young Nam diBangladesh tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatifyang menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatananalitis. Semua data dalam penelitian ini berasal dari data sekunder yangdisusun secara naratif dan dianalisis melalui metode normatif-kualitatif. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pengaturan hukum internasional tentangkekebalan diplomatik termuat dalam Konvensi Wina 1961 tentang HubunganDiplomatik. Bentuk-bentuk kekebalan yang dimaksud, antara lain kekebalanmengenai diri pribadi pada Pasal 29, kekebalan keluarga dari seorang wakildiplomatik pada Pasal 37 ayat (1), kekebalan yurisdiksi pada Pasal 31 ayat(1), kekebalan dari kewajiban menjadi saksi pada Pasal 31 ayat (2), kekebalankantor perwakilan asing dan tempat kediaman seorang wakil diplomatik padaPasal 22 dan 30 ayat (1), kekebalan korespondensi pada Pasal 27 ayat (2),serta kekebalan diplomatik di negara ketiga pada Pasal 40. Korea Utara sebagai negara pengirim harus bertanggung jawab atas tindakan Son Young Nam yang telah menyalahgunakan kekebalan diplomatik. Bangladesh hanya mendapat kerugian imateriil karena Pasal 28 Konvensi Wina 1961 mengatur tentang keistimewaan pejabat diplomatik yang bebas dari semua iuran dan pajak. Bentuk tanggung jawab yang dilakukan oleh Korea Utara adalah dengan pemuasan berupa permintaan maaf. Tanggung jawab negara tersebut dapat merujuk pada ILC’s Articles on Responsibility of States for Internationally Wrongful Acts tahun 2001.Kata Kunci: Penyalahgunaan Kekebalan Diplomatik, Tanggung JawabNegara, Hukum Diplomatik
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK BUAH KAPAL MENURUT HUKUM INTERNASIONAL (Studi Tentang Penegakan Hukum Atas Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia Terhadap ABK Di Kapal Fu Tzu Chun Pada 2015) Zahra Aulia Rahmani; Aryuni Yuliatiningsih; Noer Indriati
Soedirman Law Review Vol 3, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.slr.2021.3.3.169

Abstract

Praktik modern slavery dapat terjadi di berbagai sektor, salah satunya terjadi dalam sektor pekerjaan industri perikanan. Pada tahun 2015, sebuah laporan mengungkap kasus kematian Supriyanto di atas kapal perikanan Fu Tzu Chun berbendera Taiwan. Laporan investigasi menjelaskan bahwa ABK bernama Supriyanto mengalami tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh kepala teknisi, kapten kapal dan ABK lainnya. Tentu hal ini memberikan fakta bahwa masih terjadi praktik modern slavery yang berujung pada pelanggaran HAM dalam sektor industri perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan terkait perlindungan hukum terhadap anak buah kapal berdasarkan hukum internasional, serta untuk mengetahui penegakan hukum atas kasus pelanggaran hak asasi manusia terhadap Supriyanto, seorang ABK di Kapal Fu Tzu Chun pada tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan menggunakan metode pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Metode pengumpulan data yakni berdasar pada inventarisasi studi kepustakaan dan disajikan dalam bentuk uraian deskriptif dengan metode analisis normatif kualitatif.  Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan hukum internasional terkait dengan perlindungan hukum anak buah kapal secara mendasar terkandung dalam ketentuan Universal Declaration of Human Rights (UDHR) dan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Secara khusus, pengaturan internasional terhadap anak buah kapal terdapat dalam ILO Convention 188 (C-188) Work in Fishing Convention Tahun 2007. Penegakan hukum atas kasus ABK Supriyanto dapat diterapkan prinsip yurisdiksi ekstra-teritorial dimana Kapal Fu Tzu Chun berbendera Taiwan wajib bertanggung jawab. Pada tahun 2017, penegakan hukum atas kasus ini dibuka dan Kejaksaan Pingtung di Taiwan melakukan penyelidikan lebih lanjut, namun pada tahun 2019 terjadi pandemi virus COVID-19 yang menyebabkan terhambatnya semua rangkaian legal process sehingga penegakan hukum atas perkara ini masih belum selesaiKata Kunci : Perlindungan Hukum, Anak Buah Kapal, Penegakan Hukum, Hukum Internasional
PERLINDUNGAN TERHADAP PENGUNGSI DOMESTIK MENURUT HUKUM HUMANITER DAN HAK ASASI MANUSIA Yuliantiningsih, Aryuni
Jurnal Dinamika Hukum Vol 8, No 3 (2008)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdh.2008.8.3.73

Abstract

Internal displacement is one of humanitarian problem that need to be handled in accordance to humanitarian principles.  The usual causes of internal displacement are, as results of armed conflicts, violations of human rights, and natural disaster. Internal displacement is different with refugees. For refugees who crossed border to another  country there was a protection has been regulated under The Convention relating to The Status of Refugees 1951, but for Internally Displaced Persons remain within their own countries without legal protection under international law.  To fulfill this vacuum, United Nations has stipulated a Guiding Principle on Internal Displacement in 2001.This guidance is can promote international humanitarian law and human rights law. Kata kunci: pengungsi domestik, perlindungan, hukum humaniter dan hak asasi manusia
Cultural Heritage Protection and Revitalization of its Local Wisdom: A Case Study Kartono, Kartono; Fadilah, Muhammad; Yuliantiningsih, Aryuni; Thakur, Anupriya
Volksgeist: Jurnal Ilmu Hukum dan Konstitusi Vol. 7 Issue 2 (2024) Volksgeist: Jurnal Ilmu Hukum Dan Konstitusi
Publisher : Faculty of Sharia, Universitas Islam Negeri (UIN) Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/volksgeist.v7i2.11281

Abstract

Banyumas Old Town, once the capital of the district, is home to numerous historical buildings recognized as cultural heritage or potential cultural heritage sites. Since 2010, this area has been designated as a protected zone focused on environmental preservation. This research aims to describe and analyze the policies implemented for the preservation the historic buildings in Banyumas Old Town, as well as to identify and address the challenges faced in the preservation efforts. Utilizing legal research methods, particularly a case study approach, the study employs qualitative analysis. The data include secondary sources, comprising both primary and secondary legal materials. Additionally, field data were collected through observations and interviews. The findings indicate that the revitalization plan for Banyumas Old Town has been successfully implemented. Key action include designating the Banyumas sub-district as a protected area, conducting an inventory of suspected cultural heritage objects (ODCB), officially recognizing cultural heritage sites, and securing funding through the local government budget (APBD). These policies are formalized through the establishment of regional spatial planning and cultural heritage regulations. The primary obstacle to protecting cultural heritage buildings is the significant number of sites that have been privatized, alongside the limited opportunities for transferring cultural heritage or ODCBs that have received government renovation support following the revitalization of Banyumas Old Town.
Community-Based Collaborative Management: Impacts and Challenges of Sea Turtle Conservation on the South Coast of Central Java, Indonesia Kartowijono, Kartono; Yuliantiningsih, Aryuni; Sudrajat, Tedi; Jati, Baginda Khalid Hidayat
Jurnal Hukum Vol 40, No 1 (2024): Jurnal Hukum
Publisher : Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jh.40.1.223-243

Abstract

The use of community-based collaborative management has shown promising results in addressing the complex issues surrounding sea turtle conservation. However, the legal implications and barriers associated with this method have not been thoroughly investigated. This study seeks to examine legal policies governing conservation institutions that influence community-based turtle protection along the southern coast of Central Java, Indonesia. The focus of this study is on two specific case studies: a conservation group at Pantai Sodong and another at Pantai Kembar. Employing a qualitative research design, this study incorporated semi-structured interviews with conservation group administrators, government officials, and other relevant stakeholders. Apart from that, this research also involves analysis of legal and regulatory documents and policies which is complemented by field observations. These findings indicate that community-based conservation policies significantly increase legal behavior that is in line with conservation law provisions. However, this report also underscores the legal and institutional challenges faced by local community-based conservation groups. These challenges include the necessity of legal collaboration between community groups and the government, the availability of healthcare facilities such as quarantine centers and clinics, and the need for a permanent workforce with appropriate skills. This study emphasizes the need for more flexible standards regarding conservation institutional requirements and government support to encourage the fulfillment of the validity and legal certainty of conservation institutions. This study adds to the growing body of literature on legal approaches to community-based collaborative management, and offers important insights for policymakers and legal practitioners who wish to increase support for community-based conservation programs in Indonesia and other countries.