Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

POTENSI EKSTRAK BENALU TEH (Scurrula oortiana Dans.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT Staphylococcus epidermidis DAN Staphylococcus aureus Reubun, Yonathan Tri Atmodjo; Silvyana, Annysa Ellycornia; Warti, Lia; Octaviani, Adinda Tri
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/wiyata.v12i1.919

Abstract

Acne is a disease in which there is a buildup of skin oil glands which results in clogged skin pores, causing excess fat deposits. Bacteria such as Staphylococcus epidermidis and Staphylococcus aureus are the main factors in the emergence of this acne disease. The use of natural medicine can be used to test the inhibitory activity of both bacteria, one of which is tea mistletoe. The purpose of this study was to obtain the inhibitory activity of bacteria such as Staphylococcus epidermidis and Staphylococcus aureus from tea mistletoe extract using the liquid dilution method, namely MIC and MBC. The concentrations used consisted of 100000ppm, 50000 ppm, 25000ppm, 12500 ppm, 6250ppm, and 3125ppm. The MIC method is based on the turbidity or clarity of the test solution, while the MBC is based on the concentration of the extract in the media used. The results of the study showed that tea mistletoe extract has the potential to inhibit at 50,000ppm and above on both bacteria with the MIC method and kill at a concentration of 50,000ppm on S.aureus bacteria and 25,000ppm on S.epidermidis. The conclusion of this study is that tea mistletoe extract has the potential to inhibit and kill S.epidermidis and S.aureus bacteria at a concentration of 50,000ppm on the MIC and 25,000ppm on the MBC method.
ANALISIS BIAYA INA-CBG TERAPI KOMBINASI INSULIN PADA PASIEN BPJS RAWAT JALAN PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RS BHAKTI KARTINI Silvyana, Annysa Ellycornia; Octa, Mega Maulida; Faizatun, Faizatun; Putriana, Lies; Chairunnisa, Dian Fitri
Jurnal Farmasi Higea Vol 17, No 2 (2025)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v17i2.757

Abstract

Pengobatan diabetes melitus merupakan salah satu program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Insulin berperan penting dalam mengontrol kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi jangka panjang. Terapi pengobatan penyakit diabetes melitus dilakukan seumur hidup karena kondisi ini bersifat kronis dan tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, sehingga membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar. Salah satu aspek penting dalam pengelolaan diabetes melitus adalah mempertimbangkan apakah biaya yang dikeluarkan memberikan hasil yang maksimal bagi pasien. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan efektivitas biaya INA-CBG penggunaan terapi kombinasi insulin rapid acting dengan insulin long acting terapi kombinasi insulin. Usia pasien berkisar antara 18 - >65 tahun. Efektivitas terapi diukur berdasarkan nilai gluk. Metode yang digunakan merupakan penelitian non eksperimental deskriptif dengan pengambilan data menggunakan pendekatan retrospektif melalui penelusuran rekam medis pasien. Data yang digunakan meliputi data sosiodemografi, hasil laboratorium GDP, GD2PP dan HbA1C serta total biaya medis langsung selama 7 hari. 92 pasien mendapatkan gula darah puasa (GDP), Glukosa Darah 2 jam Post Prandial (GD2PP) dan HbA1C. Analisis statistika dilakukan menggunakan Microsoft Excel dengan rumus ACER dan ICER. Hasil penelitian menunjukan kombinasi insulin Aspart + insulin Glargine XR dengan nilai ACER terendah berdasarkan hasil GDP sebesar Rp 3.330,27, GD2PP sebesar Rp 3.000,88 dan HbA1C sebesar Rp 5.056,69. Nilai ICER berdasarkan hasil GDP sebesar Rp -1.982,20, GD2PP sebesar Rp -515,79 dan HbA1C sebesar Rp -836,65. Kombinasi penggunaan insulin Aspart dan insulin Glargine XR menunjukkan persentase keuntungan sebesar 3,30% dari total nilai klaim INA-CBG.
Potensi Aktivitas Emulgel Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) yang Mengandung Xanthon Pada Bakteri Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus Silvyana, Annysa Ellycornia; Rahayu, Feronika Evma; Suripah, Suripah; Febriana, Veny
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.432

Abstract

Jerawat timbul dikarenakan adanya sumbatan pada kelenjar minyak kulit, maka pelepasan minyak pada kulit tersumbat, bengkak, dan mengering menjadi isi jerawat. Jerawat pada kulit ini bisa disebabkan adanya bakteri P. acnes, S. epidermidis, S. aureus. Manggis adalah buah tropis yang mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan buah lainnya.  Kandungan yang terdapat di dalam kulit manggis yaitu xanton, antosianin, dan tannin. Senyawa xanton pada tanaman memiliki efek antioksidan, atimikroba, antikanker, antiinflamasi, dan aktivitas sitotoksin. Emulgel bersifat hydrofobic memiliki kemampuan tinggi menembus kulit. Emulgel yang digunakan pada kulit luar terdapat beberapa sifat yang menguntungkan seperti menjadi tiksotropik, mudah menyebar, mudah dilepas, emolient, larut dalam air, umur simpan tahan lama, ramah lingkungan, dan penampilan menarik. Penelitian aktivitas emulgel ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L) yang mengandung xanton pada bakteri staphylococcus epidermidis dan staphylococcus aureus telah dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh formulasi emulgel ekstrak kulit manggis yang ditambah pengawet dengan formulasi tanpa penambahan pengawet. Jerawat terjadi karena adanya peradangan kelenjar minyak pada kulit, sehingga pelepasan minyak pada kulit tersumbat, bengkak serta mengering menjadi isi jerawat. Xanton merupakan senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri sehingga pada penelitian ini dilakukan pengujian emulgel terhadap bakteri staphylococcus epidermidis dan staphylococcus aureus yang termasuk bakteri penyebab terjadi jerawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emulgel xanthon tanpa penambahan memiliki aktivitas antibakteri dengan zona hambat 25 mm sedangkan pada emulgel yang ditambahkan menunjukkan zona hambat 15 mm. Hal ini diketahui bahwa emulgel ekstrak kulit manggis memiliki aktivitas antibakteri.
Analisis kuersetin pada ekstrak benalu teh (Scurrula oortiana Dans.) secara kuantitatif Silvyana, Annysa Ellycornia; Reubun, Yonathan Tri Atmodjo; Warti, Lia; Simangunsong, Lidia Octaviani
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 8 Nomor 1 (2025)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v8i1.575

Abstract

Indonesia has a variety of plants that are useful as medicine. One is the Tea Mistletoe plant (Scurrula oortiana Dans.). This plant contains flavonoid compounds that are effective as antioxidants, especially in the form of quercetin. Quercetin in the tea mistletoe plant can prevent cell damage caused by free radicals, where cells need this antioxidant to avoid the harmful effects of excessive reactive oxygen species (ROS) production and prevent damage to immune cells. This study aims to analyze the levels of quercetin in Tea Mistletoe extract using quantitative analysis methods such as thin-layer chromatography and UV-Vis spectrophotometry. Tea Mistletoe powder was extracted by maceration with 96% ethanol solvent and then concentrated using a rotary evaporator and water bath. The thick extract obtained was then tested for phytochemical screening and specific and non-specific parameters. Analysis of flavonoid quercetin compounds was carried out using a thin layer chromatography method using a mobile phase of a mixture of chloroform, ethyl acetate, and n-butanol with a ratio of 5:4:1 and a stationary phase of Silica Gel GF₂₅₄. Determination of flavonoid levels was carried out using UV-Vis spectrophotometry at a wavelength of 428 nm. The results of this study indicate that the Mistletoe Tea plant contains flavonoids, alkaloids, steroids, tannins, saponins, phenolics, and glycosides. All test parameters meet the specified requirements. The thin layer chromatography test showed the Rf value of the Mistletoe Tea extract of 0.78. The linearity test showed a correlation value (r) = 0.9988 with a total flavonoid compound content of 372.250 mg QE/g extract, or a percentage of 37.225%.
IMPLEMENTASI FARMASI SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN KESEHATAN MASYARAKAT DI DESA DANGDEUR Annysa Ellycornia Silvyana; Muhammad Hafis Fahreza; Yonathan Tri Atmodjo Reubun; Lia Warti; Muchammad Reza Ghozaly; Hilma Fathiah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.39379

Abstract

Abstrak: Penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, dan asam urat masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, terutama akibat pola hidup tidak sehat, rendahnya literasi kesehatan, serta minimnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Desa Dangdeur merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kesadaran kesehatan rendah dan pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang belum optimal. Pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat melalui Praktik Farmasi Sosial (PFS). Kegiatan dilaksanakan selama 14 hari oleh mahasiswa Universitas Esa Unggul dengan metode edukatif dan partisipatif berupa penyuluhan penyakit tidak menular, pemeriksaan kesehatan, edukasi PHBS di sekolah dasar, penanaman TOGA, serta penyuluhan minuman herbal. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman signifikan, yaitu diabetes dan asam urat dari 50% menjadi 90%, serta hipertensi dari 40% menjadi 87,5%. Program ini terbukti efektif meningkatkan literasi kesehatan, mendorong pemanfaatan sumber daya lokal, serta memperkuat kebersamaan masyarakat dalam mewujudkan pola hidup sehat berkelanjutan.Abstract: Non-communicable diseases such as diabetes mellitus, hypertension, and gout are still major health problems in Indonesia, mainly due to unhealthy lifestyles, low health literacy, and lack of implementation of Clean and Healthy Living Behavior (PHBS). Dangdeur Village is one of the areas with a low level of health awareness and non-optimal utilization of Family Medicinal Plants (TOGA). This research aims to increase community awareness and independence through Social Pharmacy Practice (PFS). Activities were carried out for 14 days by Esa Unggul University students with educational and participatory methods in the form of counseling on non-communicable diseases, health checks, PHBS education in elementary schools, planting TOGA, and counseling on herbal drinks. The pre-test and post-test results showed a significant increase in understanding, namely diabetes and gout from 50% to 90%, and hypertension from 62.5% to 93.7%. This program proved effective in improving health literacy, encouraging the use of local resources, and strengthening community togetherness in realizing a sustainable healthy lifestyle.
PROGRAM SKRINING SINDROM METABOLIK SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA LANSIA Syuhada Syuhada; Sri Teguh Rahayu; Mashuri Yusuf; Gemmy Sarina; Annysa Ellycornia Silvyana; Benazir Evita Rukaya
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.38404

Abstract

Abstrak: Prevalensi sindrom metabolik pada kelompok lanjut usia terus meningkat seiring bertambahnya usia dan perubahan gaya hidup, namun kondisi ini sering tidak terdeteksi karena sifatnya yang asimtomatik. Apotek komunitas berpotensi menjadi titik deteksi dini yang strategis, mengingat keterbatasan akses masyarakat lansia ke fasilitas laboratorium konvensional. Tujuan kegiatan ini adalah memetakan profil tekanan darah, gula darah sewaktu, dan kolesterol total pada lansia, mengidentifikasi proporsi kelompok berisiko sindrom metabolik, dan memberikan edukasi serta rujukan berbasis hasil skrining. Metode yang digunakan adalah skrining deskriptif cross-sectional dengan Point of Care Testing (POCT), dilanjutkan konseling farmasi individual oleh apoteker. Mitra kegiatan adalah Apotek Vita Plus, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, dengan 68 partisipan lansia yang berpartisipasi secara sukarela, dilaksanakan setiap hari Jumat periode November–Desember 2025. Melalui pemeriksaan POCT pada 68 partisipan lansia, ditemukan prevalensi hiperkolesterolemia sebesar 52,9%, hipertensi 32,3%, dan hiperglikemia 13,2%. Analisis lanjutan mengidentifikasi 10,3% partisipan memiliki ketiga faktor risiko sindrom metabolik secara bersamaan. Temuan klinis ini menjadi dasar pelaksanaan tindak lanjut berupa pemberian edukasi farmasi individual, rekomendasi perbaikan pola hidup, serta rujukan medis lanjutan.Abstract: The prevalence of metabolic syndrome in the elderly continues to increase with age and lifestyle changes, but this condition often goes undetected due to its asymptomatic nature. Community pharmacies have the potential to be strategic early detection points, given the limited access of elderly people to conventional laboratory facilities. The objectives of this activity are to map the profiles of blood pressure, random blood sugar, and total cholesterol in the elderly, identify the proportion of groups at risk of metabolic syndrome, and provide education and referrals based on screening results. The method used is descriptive cross-sectional screening with Point of Care Testing (POCT), followed by individual pharmacy counseling by pharmacists. The activity partner is Apotek Vita Plus, Tarakan City, North Kalimantan, with 68 elderly participants participating voluntarily, held every Friday from November–December 2025. Through Point-of-Care Testing (POCT) on 68 elderly participants, the prevalence of hypercholesterolemia was found to be 52.9%, alongside hypertension at 32.3%, and hyperglycemia at 13.2%. Further analysis revealed that 10.3% of the participants simultaneously exhibited all three risk factors for metabolic syndrome. These clinical findings served as the basis for follow-up interventions, which included individualized pharmaceutical education, recommendations for lifestyle modifications, and advanced medical referrals.
EVALUASI PEMBERIAN FERMENTASI TEH KOMBUCHA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) SEBAGAI IMUNOMODULATOR PADA MENCIT PUTIH JANTAN SECARA IN VIVO Annysa Ellycornia Silvyana
Jurnal Ayurveda Medistra Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Ayurveda Medistra
Publisher : STIKes Medistra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51690/medistra-jurnal123.v5i1.79

Abstract

Teh kombucha rosella merupakan hasil fermentasi antara gula dengan starter kultur kombucha (Acetobacter xylinum dan beberapa jenis khamir). Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktifitas imunomodulator teh kombucha rosella berdasarkan jumlah Limfosit T. Penelitian dilakukan menggunakan mencit putih jantan sebanyak 25 ekor yang dibagi menjadi lima kelompok yaitu kontrol normal, kontrol positif, dosis I dengan dosis 91,5 mg/KgBB, dosis II 182,5 mg/KgBB dan, dosis III 365 mg/KgBB. Aktifitas imunomodulator dianalisis dengan menghitung jumlah sel limfosit T yang membentuk sel roset pada haemositometer. Analisa dilakukan menggunakan uji ANAVA satu arah Teh dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok normal dengan kelompok dosis I, dosis II, dosis III, dan kontrol positif. kelompok dosis II sebanding dengan kontrol positif. Dapat disimpulkan bahwa teh kombucha rosella memiliki efek sebagai imunomodulator terhadap jumlah sel Limfosit T pada mencit putih jantan pada dosis II yaitu 182,5 mg/Kg BB yang sebanding dengan pemberian imbost sebagai kontrol positif.