Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Pengaruh Terapi SEFT dengan Pendekatan Kolcaba Comfort Theory Terhadap Skor Kelelahan Pasien Jantung Joko Tri Wahyudi; Romiko Romiko
Masker Medika Vol 11 No 1 (2023): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v11i1.530

Abstract

Latar Belakang: Penyakit jantung atau yang dikenal juga dengan penyakit kardiovaskuler merupakan sekelompok kelainan yang terjadi pada organ jantung dan pembuluh darah yang disebabkan gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah. Penelitian ini menitikberatkan pada penyakit kardiovaskuler secara fungsional, yaitu antara lain penyakit jantung koroner, angina pektoris, serangan jantung akut, gagal jantung kongestif, dan disritmia. Salah satu gejala yang seirng muncul pada pasien jantung adalah kelelahan. Terapi SEFT merupakan terapi yang dapat diberikan kepada pasien jantung untuk menurunkan tingkat kelelahan pasien jantung. Terapi SEFT merupakan terapi yang dapat diintegrasikan dengan tori kenyaman menurut Kolcaba yang menjelaskan bahwa terdapat 4 dimensi pada kenyamanan, yaitu kenyamanan fisik, kenyamanan psikospiritual, kenyamanan lingkungan, dan kenyamanan sosiokultural. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh terapi SEFT dengan pendekatan Kolcaba Comfort Theory terhadap skor kelelahan pada pasien jantung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian Pre Eksperimental. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 22 sampel. Hasil: Berdasarkan hasil uji analisis dependent t test didapatkan nilai p sebesar 0,000 (p value < 0.05), dengan demikian dapat diartikan terdapat perbedaan skor kelelahan pasien dengan penyakit kardiovaskuler antara sebelum dan setelah intervensi terapi SEFT. Kesimpulan: Terapi SEFT dapat memberikan pengaruh untuk mengurangi kelelahan pasien dengan penyakit kardiovaskuler.
VIDEO EDUKASI TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA FRAKTUR EKSTREMITAS TERHADAP PENGETAHUAN SISWA PALANG MERAH REMAJA siti Romadoni; Meilinda Aristiani; Romiko Romiko
Masker Medika Vol 11 No 1 (2023): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v11i1.533

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Kejadian cedera patah tulang di Indonesia tahun 2018 sebanyak 5,5%, kejadian patah tulang di provinsi Sumatera Selatan sebanyak 4,2% dan angka kejadian patah tulang pada anak sekolah mencapai 4,2%. Pengetahuan pertolongan pertama sangat dibutuhkan untuk mengurangi angka kejadian cedera patah tulang. Pengetahuan dapat ditingkatkan melalui video edukasi. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh video edukasi tentang pertolongan pertama pada fraktur ekstremitas terhadap pengetahuan siswa palang merah remaja (PMR) di SMA PGRI 2 Palembang. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan pre eksperimen dan pendekatan one group pre test–post test design. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah sampel 20 responden. Analisis data yang digunakan Uji Paired T-Test. Hasil: Nilai rata-rata pengetahuan sebelum diberikan video edukasi 12,10, nilai rata-rata pengetahuan sesudah diberikan video edukasi 15,55 dengan nilai P value 0,001 < 0,05. Simpulan: ada pengaruh video edukasi tentang pertolongan pertama pada fraktur ekstremitas terhadap pengetahuan siswa palang merah remaja (PMR) di PGRI 2 Palembang. Sehingga dari hasil penelitian diharapkan penelitian ini dapat dijadikan tambahan pengetahuan dan mengaplikasikan video edukasi tersebut saat kegiatan ekstrakulikuler PMR berlangsung atau dapat mempratikkan ilmu tentang pertolongan pertama pada fraktur ekstremitas. Kata Kunci : Fraktur Ekstremitas, Pengetahuan Pertolongan pertama, Video Edukasi. ABSTRACT Introduction: The incidence of fractures in Indonesia in 2018 was 5.5 %, the incidence of fractures in South Sumatra province was 4.2 % and the incidence of fractures in schoolchildren was 4.2 % . Knowledge of first aid is needed to reduce the incidence of fractures. Knowledge can be increased through educational videos. Objective: to determine the effect of educational videos about first aid on extremity fractures on the knowledge of adolescent red cross ( PMR ) students at SMA PGRI 2 Palembang. Methods : This research was a type of quantitative research with a pre-experimental design and a one-group pre-test-post-test design approach. The sampling technique used was total sampling with a sample of 20 respondents. Data analysis used a Paired T - Test. Results: The average value of knowledge before being given an educational video was 12.10, the average value of knowledge after being given an educational video was 15.55 with a P value of 0.001 < 0.05. Conclusion: there was an effect of educational videos about first aid on extremity fractures on the knowledge of adolescent red cross ( PMR ) students at SMA PGRI 2 Palembang. Therefore, it is hoped that this research can be used as additional knowledge and applied to the educational video when PMR extracurricular activities take place or when one can practice knowledge about first aid for limb fractures. Keywords : Extremity Fracture , Knowledge of First Aid , Educational Video.
PENGARUH VIDEO EDUKASI TENTANG PENANGANAN AWAL KEJANG PADA ANAK TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA DI TK AISYIYAH 11 PALEMBANG siti romadoni; Sulissia; Romiko
Jurnal Inspirasi Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Inspirasi Kesehatan (JIKA)
Publisher : Fakultas Kesehatan IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/jika.v1i1.9

Abstract

ABSTRAK Kejang demam merupakan salah satu masalah yang paling umum terjadi pada anak yang berusia enam bulan sampai lima tahun dimana suhu tubuh mengalami peningkatan di atas 38°c. Prevalensi kejang demam di Indonesia pada tahun 2005 sebesar 17,4% dan meningkat pada tahun 2007 dengan kejadian kejang sebesar 22,2%. Penanganan yang kurang tepat saat terjadi kejang demam dapat menyebabkan komplikasi, penanganan yang kurang tepat ini dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan sehingga untuk meningkatkan pengetahuan diberikan edukasi melalui video tentang penanganan awal kejang. Tujuan penelitian diketahuinya pengaruh video edukasi terhadap pengetahuan orang-tua dalam penanganan awal kejang pada anak di TK Aisyiyah 11 Palembang tahun 2022. Metode penelitian ini menggunakan design pre-experimental dengan pendekatan One Group Pretest dan Posttest design dengan jumlah 55 responden teknik sampling menggunakan Total Sampling, pengambilan data menggunakan kuesioner analisis yang digunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai median pengetahuan saat pretest yaitu 10.00 dan nilai posttest setelah di berikan video edukasi tentang penanganan awal kejang pada anak yaitu 13.00 hal ini menunjukan terdapat peningkatan pengetahuan dengan hasil p value = 0.001 dengan nilai a=0,05 (p<a). Kesimpulan ada pengaruh video edukasi terhadap pengetahuan orang tua dalam penanganan awal kejang pada anak di TK Aisyiyah 11 Palembang, sehingga di sarankan orang-tua selalu update pengetahuan tentang penanganan kejang demam melalui media video online maupun offline.
HUBUNGAN MOTIVASI PERAWAT DENGAN PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG Romiko
Jurnal Inspirasi Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2024): Jurnal Inspirasi Kesehatan (JIKA)
Publisher : Fakultas Kesehatan IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/jika.v2i1.89

Abstract

Latar Belakang: Dokumentasi keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan yang dimiliki perawat yang berguna untuk kepentingan klien. Dokumentasi umumnya kurang disukai oleh perawat karena dianggap terlalu rumit, beragam, dan menyita waktu, hal ini berdampak pada penurunan mutu pelayanan keperawatan. Salah satu faktor yang dapat mendorong perawat melaksanakan dokumentasi keperawatan adalah motivasi perawat itu sendiri. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara motivasi perawat dengan pendokumentasian asuhan keperawatan di rumah sakit muhammadiyah Palembang. Metode Penelitian: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Pengambilan sampel dengan Purposive Sampling sebanyak 43 responden. Uji statistik menggunakan chi square. Hasil Penelitian: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki motivasi yang baik (60,5%) dan Pendokumentasian asuhan keperawatan kategori lengkap sebesar (65,1%). Hasil analisis bivariat didapatkan bahwa ρ value =0.709 (ρ value >0.05), yang berarti tidak terdapat hubungan antara motivasi perawat dengan pendokumentasian asuhan keperawatan. Kesimpulan: Motivasi perawat tidak menjadi faktor yang signifikan dalam mendorong perawat untuk melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan, namun motivasi perawat dan pendokumentasian asuhan keperawatan harus terus ditingkatkan.
Hubungan Persepsi dengan Dukungan Masyarakat pada Wanita Infertilitas Romiko, Romiko; Kencana, Adelia Intan; Suzanna, Suzanna; Dekawaty, Ayu
Journal of Telenursing (JOTING) Vol 5 No 2 (2023): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joting.v5i2.7702

Abstract

This research aims to determine the relationship between perceptions and community support for women with infertility. The research method uses quantitative descriptive analytical techniques with a cross-sectional approach. The research results show a relationship between perceptions and community support for women with infertility with a P value (0.000) < 0.05. In conclusion, the higher the public perception, the higher the public support. Keywords: Community support, infertility, perception
Hubungan Tingkat Kelelahan dan Beban Kerja dengan Kualitas Hidup Profesional Perawat di Rumah Sakit Pratama, Julian Syaputra; Yulia, Sri; Romiko, Romiko
JKM : Jurnal Keperawatan Merdeka Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Keperawatan Merdeka
Publisher : Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkm.v4i2.2620

Abstract

Introduction: The complex work environment and task responsibilities in hospitals play a major role in the personal aspects of staff, including fatigue and workload felt by nurses. Quality of Life Professional (QOL) of nurses is important to realize productivity and quality of service in hospitals. Objective: To analyze the relationship of fatigue level and workload with nurses' professional quality of life. Method: The research method used was cross sectional with purposive sampling technique of 44 nurse respondents from a private hospital in Palembang City. Data analysis used was Chi Square test. Results: The results of the study showed that the level of fatigue of nurses at the Muhammadiyah Hospital in Palembang was an average of 55.69, the majority of nurses' workload was in the medium category of 18 respondents (40.0%), and the quality of professional life of nurses was in the high category of 23 respondents (51.13%) with statistical results using the Chi Square test with a p value of 0.023 (p <0.05). Conclusion: Strategies are needed to optimize the management of nurses' fatigue levels and workload both personally and by institutions in order to support nurses' improved professional quality of life.
PENINGKATAN COMMUNITY AWARENESS TERHADAP INDIKATOR GERAKAN MASYARAKAT HIDUP SEHAT (GERMAS) DI DESA SUNGSANG KECAMATAN BANYUASIN II KABUPATEN BANYUASIN Romiko, Romiko; Wahyudi, Joko Tri; Yulia, Sri
Khidmah Vol 2 No 2 (2020): Khidmah
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/khidmah.v2i2.322

Abstract

Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan salah satu program dari pemerintah untuk dapat mewujudkan status kesehatan masyarakat setinggitingginya. Desa Sungsang merupakan salah satu dari 17 desa yang ada di Kabupaten Banyuasin. Salah satu permasalahan yang terjadi di Desa Sungsang ini adalah masihrendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan indikator keluarga sehat. Tujuan dari pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini adalah agar dapat meningkatkan kemampuan dan kemauan masyarakat dalam menjalankan kegiatan-kegiatan GERMAS dengan melibatkan seluruh aspek masyarakat, sehingga pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Desa Sungsang. Metode yang digunakan dalam pengabmas ini adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang GERMAS dan indikator keluarga sehat dengan ceramah menggunakan media leaflet. Setelah dilakukan pendidikan kesehatan, masyarakat yang pengetahuannya baik meningkat sebesar 48,7% dibandingkan sebelum diberikan pendidikan kesehatan, sehingga dapat disimpulkan pendidikan kesehatan tentang GERMAS dan indikator hidup sehat dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tengang GERMAS. Health development is essentially an effort carried out by all components of the Indonesian Nation which aims to increase awareness, ability and ability to live a healthy life for everyone in order to realize the highest degree of public health. The Healthy Life Society Movement (GERMAS) is one of the programs of the government to be able to realize the highest public health status. Sungsang Village is one of 17 villages in Banyuasin Regency. One of the problems that occurred in Sungsang Village was the low level of knowledge and awareness of the community towards the activities of the Healthy Living Community Movement (GERMAS) and indicators of a healthy family. The purpose of this community service is to increase the ability and willingness of the community to carry out GERMAS activities by involving all aspects of the community, so that in the end it is expected to improve the quality of life of people in Sungsang Village. The method used in this community service is to provide health education about GERMAS and indicators of healthy families with lectures using leaflet media. After health education was carried out, the community with good knowledge increased by 48.7% compared to before it was given health education, so it can be concluded that health education about GERMAS and indicators of healthy living can increase the knowledge of GERMAS.
HUBUNGAN MASALAH TIDUR DENGAN KINERJA PERAWAT DI RUMAH SAKIT Renny Triwijayanti; Romiko Romiko; Selvia Siska Dewi
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 11, No 1 (2020): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v11i1.572

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan : Kinerja perawat adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang perawat dalam bentuk prestasi kerja, tanggung jawab, kejujuran dan ketaatan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja perawat salah satunya adalah masalah tidur. Masalah Tidur adalah suatu kondisi menurunnya kualitas tidur seseorang yang dapat mengakibatkan gangguan pada pola tidur yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti insomnia, sleep apnea, narkolepsi, night teror, dan restless legs syndrome (RLS). Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan masalah tidur dengan kinerja perawat di Rumah sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2018. Metode Penelitian : Desain penelitian deskriptif corelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 57 perawat pelaksana. Alat pengumpulan data berupa kuesioner pertanyaan masalah tidur dan pernyataan kinerja perawat. Hasil : Masalah tidur yang bermasalah sebanyak 35 responden (61,4%) dan yang tidak bermasalah sebanyak 22 responden (38,6%) sedangkan kinerja perawat yang baik sebanyak 25 responden (43,9%) dan kurang baik sebanyak 32 responden (56,1%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan masalah tidur dengan kinerja perawat (p value 0,035). Kesimpulan : Masalah tidur sangatlah berpengaruh terhadap kinerja seorang perawat, sehingga disarankan seorang perawat perlu memenejemen waktu yang baik yang kemudian dapat menyesuaikan diri terhadap jadwal kerja dan upaya peningkatan sistem reward seperti halnya perawat yang baik diumumkan setiap bulan/tahun yang diiringi dengan pembagian bonus dan hadiah penghargaan sehingga perawat yang lain akan termotivasi. Kata Kunci           : Masalah Tidur, Kinerja Perawat
THE RELATIONSHIP OF SELF EFFICACY AND NURSE'S WORK STRESS IN THE ICU Renny Triwijayanti; Sandika Sandika; Romiko Romiko; Feby Puryanti
(IJP) Indonesia Jurnal Perawat Vol 7, No 1 (2022): INDONESIA JURNAL PERAWAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijp.v7i1.1477

Abstract

AbstrakThe highest prevalence of work stress in health workers is experienced by nurses. So that stress can be eliminated properly, this is called self-efficacy . This study aims to determine the relationship between self -efficacy and work stress of nurses in the Inpatient Room. This type of research is a quantitative research with an analytical descriptive research design and uses a cross sectional approach . Samples were taken with a total sampling technique of 48 nurses. Analysis using chi square . The results showed that of the 29 nurses who had high self-efficacy there were 21 respondents (72.4%) who did not experience work stress and 8 respondents who had high self-efficacy experienced work stress. Meanwhile, from 19 nurses who had low self-efficacy , there were 12 respondents (63.2%) who experienced work stress and 7 respondents who had low self-efficacy did not have work stress. There is a relationship between self-efficacy and work stress of nurses. Obtained p Value = 0.032 ( p Value 0.05).  it is expected for hospitals to increase self-efficacy by conducting training on positive thinking and forming guidance groups with modeling techniques. And to prevent work stress through exercise, personal refreshing, relaxation techniques and outbound . As well as an evaluation by the hospital management in every nursing action given by the patient. 
THE RELATIONSHIP BETWEEN THERAPEUTIC COMMUNICATION AND THE ROLE OF NURSE EDUCATORS WITH THE LEVEL OF PATIENT SATISFACTION IN THE INPATIENT WARD Utami, Langgeng; Romiko; Sri Yulia
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 11 No. 1 (2026): January - March
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/cendekiamedika.v11i1.632

Abstract

The inconsistency of the implementation of therapeutic communication and patient education by nurses at the Palembang Harbor Hospital is evident from patient complaints regarding unclear explanations of procedures, incomplete information, and nurse responses that are considered less empathetic, so that these conditions are suspected to affect the level of patient satisfaction and need further research to determine the extent to which therapeutic communication and education provided by nurses are related to patient satisfaction in the inpatient ward. The purpose of this study was to determine the relationship between therapeutic communication and the role of nurse educators with the level of patient satisfaction in the inpatient ward of the Palembang Harbor Hospital. This study used a cross-sectional approach. The sample of this study was 30 patients treated in the inpatient ward using an accidental sampling technique. Data collection used a questionnaire on therapeutic communication, the role of nurse educators and patient satisfaction. The results showed that therapeutic communication and the role of nurse educators were significantly related to patient satisfaction, indicated by a p value = 0.003 in therapeutic communication and p = 0.001 in the role of educators, with the majority of patients (76.7%) reporting high satisfaction so that the quality of communication and nurse education were the main factors determining patient satisfaction. It can be concluded that there is a significant relationship between therapeutic communication and the level of patient satisfaction and there is a significant relationship between the role of nurse educators and the level of patient satisfaction