Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENYUTRADARAAN FILM PENDEK LAYU SEBAGAI MEDIA MEDIA EDUKASI TERHADAP KEKERASAN BERBASIS GENDER DI LINGKUNGAN KERJA Agisni Nurlatifah; Muchammad Zaenal Al Ansory; Lingga Agung
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan berbasis gender masih menjadi tantangan besar yang sulitdiatasi di Indonesia, terutama karena budaya patriarki yang sudah mengakar kuat dalamkehidupan masyarakat. Budaya ini menempatkan laki-laki pada posisi dominan,sementara perempuan sering kali mengalami diskriminasi dan ketidakadilan dalamberbagai aspek kehidupan, baik sosial maupun ekonomi. Kondisi ini tidak hanyamerugikan perempuan, tetapi juga menghambat kemajuan masyarakat secarakeseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakattentang dampak kekerasan berbasis gender. Penelitian ini menggunakanpenyutradaraan film pendek sebagai media edukasi untuk mengubah persepsi stereotipgender, khususnya di lingkungan pedesaan. Dengan metode kualitatif deskriptif yangmelibatkan wawancara, observasi, dan studi literatur, penelitian ini bertujuanmendorong partisipasi aktif perempuan dalam berbagai bidang kehidupan sosial danekonomi. Hasil penelitian menunjukkan masih banyaknya kasus kekerasan, diskriminasi,dan ketidakadilan yang dialami perempuan, sehingga edukasi melalui film pendekdiharapkan dapat menjadi langkah efektif untuk meningkatkan kesadaran danmendorong perubahan positif di masyarakat.Kata kunci: Film Pendek, Kekerasan Berbasis Gender, Penyutradaraan.
PENYUTRADARAAN FILM PENDEK TENTANG KESEJAHTERAAN PEKERJA TEH DI CIANJUR Faza Auliaurrachman; Lingga Agung; Anggar Erdhina Adi
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki sekitar 97.560 hektar perkebunan teh dan merupakan salah satuprodusen teh terbesar di dunia, dengan Jawa Barat menyumbang dua pertiga produksinasional. Namun, kondisi tersebut tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan pekerjateh, terutama pemetik dan petani skala kecil. Di Perkebunan Maleber, Cianjur, upah yangrendah, penyusutan lahan akibat alih fungsi, serta stereotip pekerjaan menyebabkanminimnya regenerasi tenaga kerja. Hal ini mendorong perlunya media komunikasi yangmampu menyuarakan realitas tersebut secara efektif dan emosional. Untuk itu, dirancangsebuah film fiksi dengan pendekatan penyutradaraan formalis yang menggambarkankondisi kesejahteraan pekerja teh secara naratif dan visual. Proses perancangan meliputipra-produksi, produksi, dan pascaproduksi, yang didahului oleh observasi lapangan danwawancara sebagai dasar penyusunan konsep cerita dan gaya penyutradaraan. Teknikanalisis tematik digunakan untuk menyusun struktur naratif yang relevan dengan isusosial, sedangkan teori formalisme diterapkan dalam pendekatan penyutradaraan. Hasilperancangan menunjukkan bahwa film fiksi mampu membangun empati terhadap isukesejahteraan, meskipun keterbatasan durasi dan kompleksitas isu menjadi tantangantersendiri. Film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai mediaedukasi dan informasi.Kata Kunci : Kesejahteraan, Pekerja teh, Pemetik, Alih fungsi lahan, Film Pendek,Penyutradaraan
Homelander and The Ambiguity of Morality in the Television Series the Boys Lingga Agung; Fahrezi Kalif Syahdanendra
Rekam Vol 21, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v21i2.14555

Abstract

Morality, as a dynamic component of culture, constantly shifts in response to social and ideological transformations. In the landscape of popular culture, the superhero figure has long served as a manifestation of moral values and an ethical compass for society. However, the series The Boys (2019) presents a deconstruction of this traditional representation through the character of Homelander, who symbolises moral ambiguity and corruption resulting from absolute power—standing in stark contrast to the idealised image of Superman. This study employed a qualitative method grounded in critical theory and Jacques Derrida’s deconstruction framework to examine how morality is represented and destabilised within the narrative of the series. Primary data were collected from selected episodes across three seasons of The Boys, focusing on three key scenes: the airplane incident in Season 1, Episode 4; the confrontation with Blindspot; and Homelander’s public speech in Season 3. Analysis was conducted on dialogue, character interactions, and visual aesthetic elements such as costume symbolism, lighting, and camera composition. Secondary data consisted of scholarly articles, books, and theoretical texts discussing superhero morality, Derrida’s deconstruction, and media representation politics. The analytical process involved three interrelated approaches: (1) narrative analysis to explore story structure and character development; (2) visual analysis to interpret symbolic and aesthetic elements that construct Homelander’s moral image; and (3) deconstructive analysis to apply the concepts of différance, trace, and critique of grand narratives and binary oppositions within discourses of heroism. The findings indicate that Homelander is not merely a symbol of moral decadence, but also a critique of capitalist institutions that exploit the superhero image for power and economic gain. From a deconstructive perspective, Homelander is not a fixed signifier, but a trace whose meaning is continually deferred and shaped by the forces of capitalism, media, and corporate spectacle. Thus, The Boys functions not only as entertainment but also as a reflective space for reexamining discourses on morality, heroism, and power in contemporary popular culture.
Penerapan Generative Artificial Intelligence untuk Video Storytelling dengan Metode Partisipatif dan Pendekatan Kolaboratif di Saung Ciburial Garut Anggar Erdhina Adi; Lingga Agung; Muchammad Zaenal Al Ansory; Pebriyanto; Nailah Vardicha Noe; Alif Al Ghifari; Muhammad Andriyana Ramdani; Muhammad Rizky Muttaqin Irwanto
Charity : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2026): Charity-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : PPM Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/charity.v9i1.9515

Abstract

Desa Wisata Saung Ciburial di Garut, Jawa Barat, merupakan kawasan dengan potensi budaya lokal yang kaya, namun menghadapi tantangan dalam menjangkau generasi muda melalui media konvensional. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas literasi digital dan kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda, melalui pelatihan bertajuk “Pengembangan Video Storytelling Berbasis Cerita Lokal dengan Pemanfaatan Generative Artificial Intelligence (AI)”. Program ini mengintegrasikan pendekatan partisipatif dalam pelestarian budaya lokal dengan teknologi digital berbasis AI, khususnya melalui platform Hailuo.AI. Metode pelaksanaan menggunakan Metode Partisipatif dengan pendekatan Kolaboratif. Metode ini mendorong pelibatan penuh dan aktif kelompok masyarakat sasar dari pemetaan permasalahan, perisiapan bahan cerita, hingga pelaksanaan. Sedangkan pendekatan kolaboratif menjadikan setiap unsur, baik pelaksana maupun Masyarakat sasar memiliki peran dan fungsi masing-masing yang sama pentingnya dalam mencapai luaran hasil pengabdian. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan antusiasme, keterlibatan aktif masyarakat, serta kemampuan peserta dalam mengolah narasi lokal menjadi konten digital. Luaran utama berupa video kreatif, dokumentasi visual, dan publikasi media, memperlihatkan potensi pemanfaatan AI dalam sektor ekonomi kreatif, promosi pariwisata, dan pelestarian budaya khususnya untuk Saung Ciburial dapat dimanfaatkan. Program ini tidak hanya memperkenalkan teknologi baru kepada masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal dalam format visual yang relevan dengan era digital. Inisiatif ini diharapkan menjadi model replikatif bagi desa wisata lain di Indonesia dalam upaya pelestarian budaya berbasis teknologi.