Claim Missing Document
Check
Articles

Pengembangan Rotary Algae Biofilm Reactor (RABR) Sistem Semikontinu untuk Produksi Biomassa dan Kadar Lipid, serta Penyisihan Polutan Organik Konsentrasi Tinggi Shinta Elystia; David Andrio; Dewi Fitria; Aryo Sasmita; Rahmadini Setianingsih
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.693-703

Abstract

Penggunaan energi sebagian besar masih berasal dari sumber energi tidak terbarukan yang jumlahnya semakin berkurang. Produksi biofuel dari mikroalga dapat menjadi salah satu energi alternatif dalam menghasilkan energi terbarukan. Kadar lipid dalam biomassa mikroalga dapat dikonversi menjadi bahan baku biodiesel. Teknologi Rotary Alga Biofilm Reaktor (RABR) salah satu teknologi kultivasi mikroalga dan pengolahan limbah. RABR adalah pengembangan dari Rotating Biological Contactor, RABR adalah sistem pengolahan biologi dengan sistem attached growth dan suspended growth. Limbah cair tahu mengandung senyawa organic konsentrasi tinggi yang dapat dimanfaatkan oleh mikroalga sebagai nutrisi pertumbuhan untuk memproduksi biomassa dan menghasilkan lipid. Pada penelitian ini dilakukan pengolahan limbah cair tahu oleh mikroalga Chlorella sp. menggunakan teknologi Rotary Algae Biofilm Reactor (RABR) dengan metode penambahan nutrien secara semikontinu melalui variasi periode pergantian air limbah setiap 3 hari, setiap 4 hari dan setiap 6 hari selama total 12 hari pengolahan, hal ini bertujuan untuk mengetahui jumlah produksi biomassa dan kadar lipid dalam sel mikroalga Chlorella sp. tersuspensi dan biofilm serta penyisihan COD limbah cair tahu. Hasil terbaik didapatkan pada variasi periode pergantian air limbah setiap 4 hari karena nutrisi yang dibutuhkan oleh mikroalga terpenuhi dengan baik, selain itu juga diperoleh jumlah maksimum kepadatan sel tersuspensi dan biofilm di hari ke-12 yaitu 5,2x106 sel/ml dan 4,1x106 sel/ml, kadar lipid selama pengolahan sebesar 25-52% dan efisiensi penyisihan COD limbah cair tahu mencapai 90,24% dengan konsentrasi akhir COD adalah 64 mg/L.
Analisis Tingkat Kerentanan Wilayah di Kota Pekanbaru Terhadap Bencana Akibat Perubahan Iklim Sasmita, Aryo; Andrio, David; Aini, Keke Nur
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 18, No 4 (2022): JPWK Volume 18 No. 4 December 2022
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v18i4.37111

Abstract

Perubahan iklim adalah salah satu tantangan yang dihadapi kota - kota di Indonesia yang berhubungan dengan ketahanan Kota.Kota Pekanbaru merupakan salah satu kota yang beresiko terhadap bencana perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan menganalisis kecamatan yang menjadi prioritas penanganan bencana akibat perubahan iklim berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana iklim. Pada penelitian ini kajian kerentanan wilayah diukur berdasarkan kejadian iklim historis dan data lain yang tersedia. Penelitian dilakukan dengan menganalisa kajian kerentanan kota terbagi atas komponen keterpaparan, sensitivitas, dan kapasitas adaptasi berdasarkan permenLHK No. 33 Tahun 2016 dan No. 7 Tahun 2018. Hasil studi menunjukkan bahwa sebagian besar kecamatan di Kota Pekanbaru dikategorikan tidak rentan terhadap bencana akibat perubahan iklim, namun ada 4 Kecamatan yang dikategorikan agak rentan dan cukup rentan yaitu Bukit Raya, Payung Sekaki, Tenayan Raya, dan Rumbai pesisir. Kecamatan-kecamatan ini berada di kawasan pinggiran Kota Pekanbarudan perlu menjadi prioritas penanganan bencana akibat perubahan iklim terutama pada peningkatan sarana pendidikan dan kesehatan serta mengurangi tingkat kemiskinan. 
Utilization of Empty Palm Fruit Bunches as a Carbon Source for Cellulase Production to Reduce Solid Waste from Palm Oil Amraini, Said Zul; Nazaris, Nazsha Nayyazsha; Andrio, David; Mardhiansyah, Muhammad; Helwani, Zuchra
Leuser Journal of Environmental Studies Vol. 1 No. 1 (2023): July 2023
Publisher : Heca Sentra Analitika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60084/ljes.v1i1.41

Abstract

Cellulase enzymes are widely used in textile, food, detergent, pulp and paper industries and biofuel, so the need for enzymes continues to increase every year. One of many biomass wastes found in Indonesia is empty fruit bunches (EFB) that can be used as a carbon source as a substitute for expensive pure cellulose (CMC) and Bacillus subtilis isolates. This study aims to obtain the optimum conditions the production of cellulase enzymes with variations in the pre-treatment of EFB and pH variations of the medium using Bacillus subtilis. Pre-treatment was carried out to hydrolysed lignocellulosic biomass was more easily and increased glucose levels which would enter the next production stage. Variations in pre-treatment were carried out by adding acids, bases and organosolv process, as well as variations in pH at 6.5; 7.0 and 7.5, respectively. Enzyme activity was calculated using the Nelson-Somogyi method. When using acid, the enzyme activity is 0.041, while using organosolv, it is obtained 0.057 each at pH 7. The results showed that the highest enzyme activity was obtained at a pH of 7.0 and a temperature of 40 ºC on EFB substrate pretreated with a base of 0.204 U/ml. These findings emphasize the potential benefits of using EFB waste as a substrate for cellulase enzyme production, by providing an alternative approach to decrease raw material expenses and mitigate environmental pollution.
Optimizing Raw Material Pre-Treatment for Bioethanol Production from Empty Fruit Bunches: A Comparative Study Amraini, Said Zul; Sari, Sunitha; Andrio, David; Fatra, Waman; Susanto, Reno
Grimsa Journal of Science Engineering and Technology Vol. 1 No. 1 (2023): October 2023
Publisher : Graha Primera Saintifika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61975/gjset.v1i1.5

Abstract

Bioethanol (C2H5OH) is an organic chemical widely used as a solvent. It is also applied in producing germicides, beverages, antifreeze, fuel, and depressants as an intermediate in producing other chemical substances. Generally, bioethanol is generated from the fermentation of glucose (sugar) accompanied by a distillation process. This study aimed to optimize bioethanol production against variations in pre-treatment and solvent concentrations through enzyme hydrolysis and fermentation of oil palm empty fruit bunches. The pre-treatment is an important stage in the conversion process of lignocellulosic biomass, as it eliminates lignin, reduces the crystallinity of the cellulose, and increases the porosity of the substance, thereby facilitating the hydrolysis process and glucose fermentation. The process was carried out with different concentrations of acid, base, and organolsov solvents, after that, it was hydrolyzed using cellulase enzymes for 24 hours and fermented using Saccharomyces Cerevisiae yeast for 5 days. Furthermore, the bioethanol produced was separated through a rotary vacuum evaporator at 180 rpm and a temperature of 78 °C. The highest ethanol content produced was 7.8% with 4% NaOH and 90 minutes of pre-treatment residence time.
Potential of Chlorella sp Microalgae to Remove Nutrients from Gray Water in the Sequencing Batch Biofilm Reactor (SBBR) System Anggraini, Melina Dwi; Elystia, Shinta; Andrio, David
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 12 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jstundiksha.v12i1.51431

Abstract

Pada umumnya limbah cair domestik dibagi menjadi dua yaitu black water dan grey water. Limbah grey water biasanya dibuang langsung ke drainase maupun badan air tanpa dilakukannya pengolahan terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air, sehingga dapat berpotensi menyebabkan pencemaran pada air. Limbah grey water yang dibuang langsung ke drainase maupun badan air berpotensi menyebabkan pencemaran badan air karena tingginya kandungan bahan organik di dalam grey water tersebut. Limbah grey water sebelum dibuang ke badan air harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu salah satunya dengan menggunakan mikroalga Chlorella sp., karena mikroalga tersebut dapat memanfaatkan bahan organik sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhannya sehingga dapat menurunkan beban organik di dalam air limbah. Penelitian ini bertujuan untuk menyisihkan parameter COD dan amonia yang terkandung di dalam grey water. Pengolahan SBBR dilakukan dengan variasi perbandingan waktu pengisian dan reaksi yaitu 30% : 70%, 40% : 60%, 50% : 50% dan 60% : 40% serta jumlah siklus 4 dan 6 siklus. Hasil penelitian diperoleh jumlah sel mikroalga tertinggi pada variasi 30% : 70% selama 4 siklus dengan jumlah sel mikroalga berbasis suspensi sebesar 1,82 x 106 sel/ml dan berbasis biofilm sebesar 1,54 x 106 sel/ml. penyisihan terbaik untuk COD 85% yaitu sebesar 30,4 mg/l dan amonia 77% yaitu sebesar 2,31 mg/l pada reaktor dengan perbandingan waktu pengisian dan reaksi 30% : 70% dan jumlah siklus yaitu 4 siklus.
Penyisihan Warna, Zat Organik, dan Logam Fe Air Gambut dengan Magnetic Biochar Berbahan Dasar Cangkang Sawit Andrio, David; Mahardika, Dewa Ayu Divia Pradhaswari; Darmayanti, Lita
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 13 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jstundiksha.v13i1.64365

Abstract

Air gambut menjadi salah satu air permukaan yang dapat digunakan masyarakat sebagai sumber air bersih. Meskipun jumlahnya banyak, dari segi kualitas air gambut kurang baik karena memiliki warna merah kecokelatan, kandungan organik tinggi, Fe tinggi, dan pH 3-5. Kondisi ini menyebabkan beberapa daerah di Provinsi Riau memiliki akses terbatas terhadap sumber air bersih, sehingga diperlukan pengolahan air gambut terlebih dahulu sebelum digunakan. Selain itu Provinsi Riau juga memiliki perkebunan sawit yang luas sehingga menghasilkan limbah cangkang sawit. Meskipun limbah cangkang sawit kaya dengan selulosa, hemiselulosa, dan lignin sehingga berpotensi untuk dijadikan magnetic biochar. Magnetic biochar adalah padatan kaya karbon dari biomassa yang memiliki sifat magnetik dengan penambahan ion yang mengandung logam dan melalui proses pirolisis. Magnetic biochar memiliki potensi untuk dijadikan adsorben. Penenlitian ini bertujuan untuk memanfaatkan magnetic biochar dari cangkang sawit untuk menyisihkan warna, zat organik, dan logam Fe dalam air gambutProses adsorpsi dilakukan dengan memvariasikan dosis magnetic biochar dan waktu kontak. Hasil analisis proksimat penyisihan terbaik diperoleh pada dosis magnetic biochar 8,55 g/l dan waktu kontak 150 menit dengan efisiensi penyisihan warna 69,1% serta zat organik dengan efisiensi penyisihan 54,5%. Di sisi lain konsentrasi Fe mengalami peningkatan setelah dilakukan pengolahan dari 0,07 mg/l menjadi 0,60 mg/l pada dosis 1,25 g/l dan waktu kontak 30 menit. Kandungan warna dan zat organik hasil  pengolahan masih melebihi baku mutu air untuk keperluan higiene sanitasi.
Pengaruh Shear Force terhadap Percepatan Pembentukan Granular Indigenous Microalgal-Bacterial Consortium dari Palm Oil Mill Effluent Muhammad Faisal Dharma; Elystia, Shinta; David Andrio
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 14 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jstundiksha.v14i1.92583

Abstract

Produksi Crude Palm Oil (CPO) yang besar akan menyebabkan Palm Oil Mill Effluent (POME) yang dihasilkan semakin besar. POME mengandung zat organik yang tinggi dan kaya akan nutrisi N, P, dan K yang dapat dimanfaatkan oleh mikroalga dan bakteri. Granular Indigenous Microalgal-Bacterial Consortium (G-IMBC) adalah salah satu alternatif pengolahan POME dengan memanfaatkan mikroalga dan bakteri. G-IMBC memiliki kelebihan dibandingkan dengan pengolahan alternatif lainnya karena mampu mendegradasi polutan dengan beban COD dan nitrogen total yang tinggi secara simultan dalam waktu tinggal hidraulik yang singkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh shear force terhadap karakteristik dan kinerja G-IMBC dalam penyisihan nutrisi pada POME. Mikroalga dan bakteri yang digunakan berasal dari POME pada kolam fakultatif yang telah dilakukan pretreatment terlebih dahulu. Mikroalga dan biomassa bakteri indigenous diinokulasikan ke dalam fotobioreaktor dan dioperasilan dengan shear force yang berbeda yaitu PBR 1 (1,7 cm/s), PBR 2 (2,5 cm/s), dan PBR 3 (3,4 cm/s). Karakteristik G-IMBC terbaik dihasilkan pada PBR 3, yaitu pada hari ke-18 dengan diameter granular 0,8-1 mm, VSS sebesar 11,88 g/L, SVI5 sebesar 32,7 mL/g, densitas sebesar 3,1 g/mL, serta efisiensi penyisihan COD dan nitrogen total yang tinggi, yaitu 95,8% dan 96,7%. Hal ini terjadi karena peningkatan shear force dalam proses pembentukan G-IMBC mampu memperkuat struktur G-IMBC, sehingga efisiensi dalam penyisihan substrat menjadi lebih optimal.
Pengaruh Penambahan Karbon Aktif Fly Ash Batubara Terhadap Emisi Karbondioksida di Top Soil Tanah Mineral sasmita, aryo; Andrio, David; Aurelia, Keyla
Al-Ard: Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 11 No. 1 (2025): September
Publisher : Department of Environmental engineering, Faculty of Science and Technology, Islamic State University Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/alard.v11i1.2395

Abstract

Soil respiration is the main pathway for the transfer of carbon dioxide (CO2) emissions from ecosystems to the atmosphere, making it a major contributor to CO2 emissions from the agricultural sector. The use of activated carbon can improve the physical, chemical, and biological properties of the soil, making it a potential useful material for reducing CO2 emissions resulting from the soil respiration process. The purpose of this study was to determine the effect of adding activated carbon from coal fly ash in reducing CO2 emissions in mineral topsoil. Activated carbon was filtered with a 60-mesh sieve and activated using 30% H3PO4 for 24 hours, then added to the soil at various doses of 0, 8, 10, and 12% with an incubation time of 10 days. The activated carbon from coal fly ash produced met SNI 06-3730-1995 for water content, ash content, volatile matter content, bound carbon content, and iodine value. CO2 emissions from soil respiration rates were measured using the acid-base titration method. The results of the study showed that the addition of activated carbon from coal fly ash could not reduce CO2 emissions from the soil respiration process but instead had an impact on increasing CO2 emissions. The highest CO2 emissions were produced in soil treatment with the addition of a 10% activated carbon dose, namely 0.06144 mgCO2-C/g soil or increasing CO2 emissions by 87% compared to without the addition of an activated carbon. Activated carbon from coal fly ash in this study has met the quality requirements of activated carbon with a water content of 5%, ash content of 7%, volatile matter content of 22%, bound carbon content of 66% and iodine number value of 926.37 mg/g.
Pemanfaatan Magnetic Biochar dari Cangkang Sawit Sebagai Adsorben untuk Menyisihkan COD, Total Suspended Solid, Minyak dan Lemak dalam Air Buangan Domestik Andrio, David; Saputra, Muhammad Ramadhan; Darmayanti, Lita
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No 3 (2024): March
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10i3.4597

Abstract

Greywater is wastewater from domestic activities sourced from kitchens, bathrooms, and laundry water. Greywater discharged directly into the environment can cause a decrease in surface water quality due to its high organic content, nutrients, pathogenic bacteria, and detergents and surfactants. One method that can be used to remove organic and nutrient content is adsorption. The success of the adsorption process is determined by several factors, such as adsorbent type, dosage, contact time, and others. One adsorbent that has attracted the attention of many researchers in recent years is magnetic biochar. This study aims to remove chemical oxygen demand (COD), total suspended solids (TSS), oil, and grease from greywater with a magnetic biochar adsorbent made from palm shells. The study was conducted by varying the dose of 1.2–8.55 g/l and the contact time of 30–150 minutes. The results showed that increasing the dose and contact time can increase the removal efficiency of COD, TSS, oil, and grease. The best results were obtained at a dose of 8.55 g/l and a contact time of 150 minutes. The removal of COD, TSS, oil, and grease was 87.91%, 88.46%, and 99.96%, respectively.
Co-Authors Achmad Noerkhaerin Putra Adillah, Muhammad Iqbal Adinda Ryvania Abrir Adrianto Ahmad Adrianto Ahmad Agustinus Lamhot Viraro Aini, Keke Nur Alfi Aulia Rahman Amarullah Amarullah Amir Hamzah Andhini Getha Kusuma Anggraini, Melina Dwi Annisa Nur’alifa Anysha Lankari Halim Aprilya, Sondang Ita Aryo Sasmita Aurelia, Keyla Azzah Fizda Bagus Anugrah Bahruddin Basopi, Hasbi Cahyani, Anugrah Christiani Widia BR Karo Daniel Ilham Wahyudi Davidson Davidson Dessy Natalia DESSY NATALIA Dewi Fitria Dikki Awanda Dzaki Furqoon Edward HS Eko Hendi Saputra, Eko Hendi Elvi Yenie, Elvi Ester Melinda Evelyn Evelyn EVELYN EVELYN Fachry Abda El Rahman Fatra, Waman Ferdy Ashari Syawal Fikri Julian Fri Murdiya, Fri Gusti Rahayu Hadi Purnama Putra, Hadi Purnama Hari Rionaldo Hasmad Setyadi Ikhwanul Ikhsan Indra Hidayatul Mubarah Intan Sri Rahmi, Intan Sri Ivnaini Andesgur Jecky Asmura Keke Nur Aini Kesni savitri Kesni Savitri Khalidazia Putri Kiki Ramadanti Kiki Ramadanti Laksono Trisnantoro Lilya Irsianti Fadlilah Lita Darmayanti M Caesar Grendi M Kamal Syah Mahardika, Dewa Ayu Divia Pradhaswari Marisa Handajani Marisa Handajani Maulani, Annisa Maulidya, Syukri May Kristina Maya Ratna Sari Medio Novindra Putra Bayu Mindriany Syafila Mora Rahmayuanda Muhamad Ghifar Alharis Muhamad Gifari Muhammad Al- Hafizd Muhammad Azmi Muhammad Faisal Dharma Muhammad Mardhiansyah Muhammad Reza nadeak, Parade Naomi Ebinasari BR Sembiring Natalina, Riani Nazaris, Nazsha Nayyazsha Nazaris, Nazsha Nayyazsha Niko Ronaldo P. S Novalina Annisa Yudistira Nurul Annisa Pagattari, Hirda Nopma Parlaungan Hasibuan Prayoga Wiguna Priyambada, Gunadi Putri, Gustriana R. Rindu Permatasari Rahmadini Setianingsih Ramadhan, Gentha Ramida Elisa Kristiani Simanjuntak Reno Susanto Retna Julita Retno Dwi Pangastuti Rika Kristin Riri Shania Risma Nopita Risma Nopita Rizaldi Riski Irawan Rudhi Andreas Komang, Rudhi Andreas Sanny Amir Arasy Saputra, Muhammad Ramadhan Sari, Sunitha Shella Zahrawani Shifa Rayni Efendi Shinta Elystia Shinta Nurdiyanti Sinta Sinta Sisri Wantri Sanjaya Manalu Siti Aisyah Sukma Sri Rezeki Muria Sunitha Sari SUSANTO, RENO Syamsiar, Syamsiar Syarfi Daud tania, Nindy Topan Herianto Trio Yudha Putra Ulfah Nurulita Ulva Seprizal Waman Fatra Wanda Suwarno Yohanes Yohanes Z Zulfansyah Zafira, Nesa Zuchra Helwani Zuchra Helwani, Zuchra