Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Efikasi Teknik Kultur Meristem dan Kemoterapi untuk Eliminasi Sugarcane Streak Mosaic Virus (SCSMV) pada Tebu Ika Roostika; Sedyo Harsono; Darda Efendi; Deden Sukmadjaja; Cece Suhara
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.938 KB) | DOI: 10.21082/btsm.v8n2.2016.55-64

Abstract

Penggunaan benih bebas virus merupakan salah satu cara pengendalian penyakit virus. Jaringan tanaman dapat dibebaskan dari virus melalui aplikasi teknik eliminasi virus, seperti termoterapi, kemoterapi, kultur meristem, dan krioterapi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji respon varietas tebu terhadap perlakuan teknik kultur meristem dan kemoterapi dengan bahan antiviral, serta untuk mengetahui efektivitasnya dalam mengeliminasi virus sugarcane streak mosaic virus (SCSMV) pada tebu. Penelitian ini dilakukan pada April−November 2015 di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian dan Laboratorium Virologi, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Penelitian terdiri atas tiga tahap, yaitu 1) Deteksi virus dari tanaman induk, 2) Aplikasi teknik kultur meristem dan kemoterapi, serta 3) Indeksing virus. Bahan tanaman yang digunakan adalah sebelas varietas tebu (GMP3, PS865, dan Kentung asal Bogor, PS862 dan Cening asal Cirebon, PS881 asal Jember, PSJK922 asal Malang, serta PS864, PS881, PSJK922, PSJT941 asal Pati). Deteksi virus dilakukan secara RT-PCR dengan primer universal MJ dan primer spesifik SCSMV. Bahan antiviral yang digunakan untuk kemoterapi adalah Ribavirin (0 dan 25 µg/l). Hasil uji RT-PCR menggunakan primer universal MJ menunjukkan bahwa empat varietas (GMP3 asal Bogor, PS864 dan PSJT941 asal Pati, serta Cening asal Cirebon) terinfeksi oleh Potyvirus. Empat varietas lainnya (PS862 asal Cirebon, PS881 asal Jember, PSJK922 asal Malang, dan Kentung asal Bogor) terbukti terserang virus SCSMV berdasarkan uji RT-PCR dengan primer spesifik. Seluruh meristem mampu beregenerasi membentuk tunas. Penggunaan Ribavirin 25 µg/l tidak menyebabkan penurunan daya tumbuh meristem (50−100%), bahkan seluruh varietas mampu bermultiplikasi tunasnya dibandingkan dengan kontrol yang hanya memiliki daya tumbuh 0−100%, dan tidak semua varietas mampu bermultiplikasi tunasnya. Secara tunggal, aplikasi teknik kultur meristem tidak mampu mengeliminasi virus SCSMV, namun jika dikombinasikan dengan perlakuan kemoterapi maka virus SCSMV dapat tereliminasi dengan efikasi sebesar 44,4%. The use of virus-free seedling is an option for controlling viral disease that can be obtained through the application of viral elimination method. Plant tissues can be eliminated from virus infection by applying virus thermotherapy, chemotherapy, meristem culture, and cryotherapy. The research objectives were to examine the response of sugarcane varieties to meristem culture treatments and antiviral agent and also to determine the efficacy rate of both techniques in eliminating SCSMV disease. The study was conducted atTissuseCulture Laboratory, Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research andDevelpoment, and also at Virology Laboratory, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University.   This study consisted of three activities: 1) Virus detection of the mother plants, 2) Application of meristem culture and chemotherapy, and 3) Virus indexing. The plant material used was eleven varieties of sugarcane (GMP3, PS865, and Kentung from Bogor, PS862 and Cening from Cirebon, PS881 from Jember, Malang PSJK922 origin, as well as the PS864, PS881, PSJK922, PSJT941 from Pati). Virus detection was performed by RT-PCR assay with universal primer of MJ and specific primers of SCSMV. Antiviral used for chemotherapy was Ribavirin (0 and 25 µg/l). The result of RT-PCR using universal primers MJ showed that four varieties (GMP3 from Bogor, PS864 and PSJT941 from Pati, and Cening from Cirebon) were infected by Potyvirus. Based on RT-PCR assay with specific primer, four other varieties (PS862 from Cirebon, PS881 from Jember, PSJK922 from Malang, and Kentung from Bogor) were infected by SCSMV. All of meristems were able to regenerate to form shoots. The use of Ribavirin (25µg/l) did not decrease the growth rate of meristems and the shoots of all of the varieties could be multipied compared to control where the shoots could not be multiplied in all varietis. The application of meristem culture technique was not able to eliminate the SCSMV, but when it was combined with chemotherapy treatment, the SCSMV virus could be eliminated with the efficacy rate of 44.4%. 
Keragaman Genetik dan Seleksi Genotipe Gandum F3 (OASIS X HP1744) di Dataran Tinggi Mayasari Yamin; Darda Efendi; Triokoesoemaningtyas Triokoesoemaningtyas
Perbal : Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol 3, No 1 (2014): .
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.161 KB) | DOI: 10.30605/perbal.v3i1.63

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikeragamanfamiliF3hasil persilanganOasisxHP1744, untuk memperolehfamiliF3yang berproduksi tinggidan memperoleh informasikendaligenetikkarakteragronomi.Penelitian ini dilakukandi dataran tinggiKebun PercobaanPusat PenelitianTanaman Hias, Cipanas, Bogordengan ketinggian±1100 mdi atas permukaan lautdari bulan April sampaiAgustus 2012menggunakanAugmentedDesign.Bahangenetikyang digunakan adalah57 familiF3(Oasis xHP1744), varietasnasionalSelayardanDewata, Rabe, Basribey, Oasis, danHP1744sebagaivarietas pembanding. Karakter yang memiliki nilai heritabiltas, keragaman genetik, dan koefisien keragaman genetik tinggi yaitu kehijauan daun bendera, jumlah anakan total, persentase floret hampa per malai, jumlah biji malai utama, bobot biji malai utama, jumlah biji per malai, bobotbiji per malai, jumlah biji per tanaman dan bobot biji per tanaman. Karakter jumlah anakan total dan persentase floret hampaper malai dipengaruhi oleh beberapa gen. Karakter jumlah biji per malai dipengaruhi oleh banyak gen. Terdapat pengaruh aksi gen aditif dan epistasis duplikat pada karakter jumlah anakan total dan jumlah biji per malai. Karakter persentase floret hampa per malai di pengaruhi oleh aksi gen aditif dan epistasis komplementer. Karakter seleksi untuk generasi F3 adalah berat biji per tanaman dan jumlah biji per malai.Famili F3 yang terseleksi adalah O/HP 21, O/HP 93, O/HP 82, O/HP 6, O/HP 93, O/HP 104, O/HP 22, O/HP 37, O/HP 115 , dan O/HP 30.
Pengaruh TDZ terhadap induksi embrio somatik sagu (Metroxylon sagu Rottb.) pada tiga metode kultur berbeda (Effect of TDZ on the somatic embryo induction of sago palm (Metroxylon sagu Rottb.) in three different culture methods) Imron Riyadi; Darda EFENDI; Bambang S PURWOKO; Djoko SANTOSO
E-Journal Menara Perkebunan Vol 86, No 1 (2018): April, 2018
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.376 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v1i1.258

Abstract

AbstractA right combination of cytokinin is able to support the process of callus differentiation to somatic embryo formation in plant somatic embryogenesis. Liquid culture application could increase the efficiency of in vitro culture process on plants. This research aimed to determine the best concentration of TDZ combined with kinetin for callus differentiation to  somatic embryo of sago palm on three culture methods. Plant material used was embryogenic callus derived from tips meristem culture from sucker of Alitir sago palm. Callus was cultured on modified MS media added with: 0.0, 0.1, 0.5 and 1.0 mg/L TDZ combined with 0.5 mg/L kinetin for 12 weeks with subcultures every 6 weeks. Three culture methods used were suspension, temporary immersion system (TIS), and solid media. There were 12 treatments with 4 replicates. The results showed that the highest number of somatic embryos was achieved on TIS culture with 1.0 mg/L TDZ and 0.5 mg/L kinetin in 6 weeks (167.3 embryos/flask) and 12 weeks (389.2 embryos/flask) with its fresh weight of 18.4 g and 29.1 g, respectively. The highset survival rate in final culture (12 weeks) was achieved on TIS culture with 1.0 mg/L TDZ and 0.5 mg/L kinetin (100%). The shortest time for somatic embryos expression was achieved on TIS culture with 1.0 mg/L TDZ and 0.5 mg/L kinetin in two weeks after culture. Histological analysis of early-stage somatic embryos showed the presence of dense and compact cellular arrangements which formed growth spot axis for shoot or SAM (shoot apical meristem) and root or RAM (root apical meristem) that connected each other. [Key words: culture method, embryogenic callus, Metroxylon sagu Rottb., kinetin, sago palm, TDZ]   AbstrakAplikasi kombinasi sitokinin yang tepat dapat mendorong proses diferensiasi kalus membentuk embrio somatik pada proses embriogenesis somatik tanaman. Penggunaan metode kultur cair dapat meningkatkan efisiensi proses kultur in vitro tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi TDZ terbaik dikombinasikan dengan kinetin dalam proses diferensiasi kalus membentuk embrio somatik tanaman sagu pada tiga metode kultur. Bahan tanam penelitian  berupa kalus embriogenik tanaman sagu asal kultur meristem pucuk dari anakan sagu jenis Alitir. Kalus dikulturkan pada media modifikasi dengan penambahan  TDZ dengan konsentrasi 0,1; 0,5; dan 1,0 mg/L dikombinasikan dengan kinetin 0,5 mg/L selama 12 minggu yang disubkultur pada umur 6 minggu. Metode kultur yang digunakan terdiri atas tiga macam yaitu: kultur suspensi, sistem perendaman sesaat (SPS) dan media padat. Perlakuan terdiri atas 12 kombinasi perlakuan dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata jumlah embrio somatik tertinggi dicapai pada perlakuan metode kultur SPS dengan TDZ 1,0 mg/L baik pada umur kultur 6 minggu (167,3 buah) maupun umur 12 minggu (389,2 buah). Rerata bobot segar tertinggi juga diperoleh pada perlakuan metode kultur SPS dengan TDZ 1,0 mg/L  pada umur kultur 6 minggu (18,4 g) dan  12 minggu (29,1 g). Rerata daya hidup kultur akhir (12 minggu) tertinggi  sebesar 100% diperoleh pada perlakuan SPS. Induksi embrio somatik  tercepat yakni setelah  dua minggu diperoleh pada  metode kultur SPS dengan TDZ 1,0 mg/L dikombinasikan dengan kinetin 0,5 mg/L. Analisis histologi embrio somatik stadium awal  menunjukkan adanya susunan sel yang rapat dan kompak yang menyusun semacam poros atau berkas titik tumbuh tunas atau SAM (shoot apical meristem) maupun akar atau RAM (root apical mersitem) yang saling terhubung.[Kata kunci: kalus embriogenik, metode kultur, kinetin, TDZ, sagu, Metroxylon sagu]
Skinning Injury Responses in Sweetpotato Jollanda Effendy; Don R LaBonte; Darda Efendi; Nurul Khumaida; Gustaaf A Wattimena
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN Vol 17 No 1 (2021): Jurnal Budidaya Pertanian
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jbdp.2021.17.1.1

Abstract

In sweetpotatoes (Ipomoea batatas L. Lamb), the loss of skin from the surface of the storage roots is known as skinning injury. It is responsible for significant postharvest loss resulting from moisture increase and weight reduction, wrinkling, and susceptibility to pathogen attack. Reduced root weight by water loss is associated with a higher rate of rot predominantly occurred in the developing and underdeveloped countries which can count of 8-20% of postharvest loss. Plants have different adaptation to protect themselves against skinning injury. Lignification, suberization, and increased sugar at the wound site have been shown to be correlated with wound healing. Changing in gene expressions have been associated with skinning injury. Genes associated in the biosynthesis of lignin and suberin, protein fate, cell-wall modification, transcription and protein synthesis, and stress responses and defense have been associated with skinning injury responses in plants. Understanding the skinning injury responses and how to regulate them can be used to produce a more desirable plant resistant to skinning injury. This paper especially reviews and discusses skinning injury responses in sweetpotato, a root crop which product may severely be affected by skinning injury. Keywords: gene expression, Ipomoea batatas, lignification, postharvest loss, wounding ABSTRAK Pada ubi jalar (Ipomoea batatas L. Lamb), cedera kulit adalah hilangnya kulit dari permukaan umbi. Cedera kulit ini bertanggung jawab atas kerugian pascapanen yang signifikan akibat peningkatan laju kelembaban dan penurunan berat umbi, pengerutan, dan kerentanan terhadap serangan patogen. Berat umbi yang berkurang karena kehilangan air dikaitkan dengan tingkat pembusukan yang lebih tinggi, terutama terjadi di negara-negara berkembang dan yang kurang berkembang dengan kehilangan hasil panen umbi 8-20%. Tanaman memiliki adaptasi yang berbeda untuk melindungi diri dari cedera kulit. Lignifikasi, suberisasi, dan peningkatan gula di lokasi pelukaan telah terbukti berkorelasi dengan penyembuhan luka. Perubahan ekspresi gen telah dikaitkan dengan cedera kulit. Gen-gen yang terlibat dalam jalur biosintesis lignin dan suberin, protein tujuan akhir, modifikasi dinding sel, transkripsi dan sintesis protein, serta respons stres dan pertahanan telah dikaitkan dengan respons cedera kulit pada tanaman. Memahami respons cedera kulit dan bagimana cara mengaturnya dapat digunakan untuk menghasilkan tanaman yang diinginkan yang tahan terhadap cedera kulit umbi. Paper ini secara khusus mengulas dan membahas respon cedera kulit pada ubi jalar, suatu tanaman umbian yang hasilnya sangat terpengaruh oleh cedera kulit. Kata kunci: ekspresi gen, Ipomoea batatas, lignifikasi, kehilangan pascapanen, pelukaan
Somatic Embryo Germination of Jatropha curcas L in Presence of Sucrose and Poly Ethylene Glycol (PEG) Rudiyanto Rudiyanto; Darda Efendi; Tri Muji Ermayanti
ANNALES BOGORIENSES Vol 18, No 1 (2014): Annales Bogorienses
Publisher : Research Center for Biotechnology - Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.325 KB) | DOI: 10.14203/ann.bogor.2014.v18.n1.35-43

Abstract

Jatropha curcas L. is a potential source of a non-edible biofuel. Conventional propagation of J. curcas technique has some limitations. Somatic embryo can produce a large number of embryos and obtain a large number of plants all year round. Treatment of sucrose in combination with polyethylene glycol (PEG) was proven to enhance germination of somatic embryos in many plant species. The aim of the study was to investigate the effect of sucrose in combination of PEG on somatic embryo germination in J. curcas. Globular somatic embryos at 0.025-0.030 g fresh weight having 0.4-0.5 cm in diameter were grown on MS medium solidified with 3 g/l of Gelzan supplemented with sucrose at 20, 30, 40, and 50 g/l in combination with PEG at 0, 2.5, 5, 10, and 15%. Results showed that the best medium for germination of J. curcas somatic embryo cultures was MS medium supplemented with 20 and 30 g/l of sucrose in combination with 5% of PEG. The numbers of germinated embryos per clump had significant enhancement on those medium compared with the control (PEG free treatment) (2.65 to 5.65) and (2.55 to 5.50). In addition, those treatments resulted in the highest percentage of clumps forming germinated embryos (100%), with an average of normal germinated embryos at 94.163 and 96.065%. The addition of 40 and 50 g/l of sucrose in combination with 15% of PEG caused all embryos to fail at germinating.
EVALUASI PERTUMBUHAN, KANDUNGAN KLOROFIL DAN KAROTENOID TORBANGUN (Coleus amboinicus Lour.) POLIPLOID MELALUI KULTUR IN VITRO Evan Maulana; Darda Efendi; Laela Sari
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 8 No. 2 (2021): December 2021
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.6 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v8i2.4834

Abstract

Torbangun (Coleus amboinicus Lour.) is an important medical plant contains an active ingredient. The leaves contain phytochemical which influence to increase of milk production. torbangun was classified as a sterile seed thus this plant cannot be propagated by seed. The polyploid induction is one such approach that may introduce phenotypic characteristic lead to increase genetic diversity. This study aimed to evaluate the growth of torbangun polyploid explants through in vitro which cultured on Murashige and Skoog (MS) medium without PGR. The experiment used a completely randomized design with four replicates. Each replicate consisted of four explants. The parameters observed were shoot height, number of axillary shoots, leaves and roots recorded every week until the 8 weeks of culture. The results showed that torbangun polyploid (tetraploid) had higher growth (shoot height and leaves number) significantly compared to diploid (control) explants, while there were no significantly difference in the number of axillary shoots roots. The polyploid induction of torbangun enhanced the chlorophyll and carotenoids content. Torbangun (Coleus amboinicus Lour) merupakan tanaman obat penting yang mengandung bahan aktif. Daunnya mengandung fitokimia yang berpengaruh terhadap peningkatan produksi susu. Torbangun tergolong benih mandul sehingga tanaman ini tidak dapat diperbanyak dengan biji. Induksi poliploid merupakan salah satu pendekatan yang dapat memperkenalkan sifat fenotipik yang dapat meningkatkan keragaman genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan eksplan torbangun poliploid secara in vitro yang dikultur pada media Murashige dan Skoog (MS) tanpa ZPT. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat ulangan. Setiap ulangan terdiri dari empat eksplan. Parameter yang diamati adalah tinggi pucuk, jumlah tunas ketiak, daun dan akar dicatat setiap minggu sampai 8 minggu kultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa poliploid (tetraploid) torbangun memiliki perbedaan pertumbuhan (tinggi tunas dan jumlah daun) yang lebih tinggi dibandingkan dengan eksplan diploid (kontrol), sedangkan jumlah tunas ketiak akar tidak berbeda nyata. Induksi poliploid torbangun meningkatkan kandungan klorofil dan karotenoid.
Pengaruh Perbedaan Waktu Pelilinan Setelah Proses Degreening Buah Jeruk Keprok Garut (Citrus reticulata L.) terhadap Perubahan Warna dan Umur Simpan Buah Ni Made Wasundhari Dharma Suarka; Darda Efendi; Deden Derajat Matra
Buletin Agrohorti Vol. 11 No. 2 (2023): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v11i2.47138

Abstract

Degreening merupakan perlakuan degradasi pigmen klorofil atau zat hijau daun. Kandungan pigmen klorofil yang tinggi dan perombakan klorofil yang berjalan lambat menyebabkan warna kulit jeruk tetap hijau. Buah dengan perlakuan degreening akan mengalami kerusakan pada pigmen klorofil sehingga warna yang akan dihasilkan adalah warna kuning atau jingga. Degreening juga dapat memperbaiki warna buah jeruk dari hijau menjadi berwarna jingga yang seragam. Penelitian ini bertujuan mencari waktu pelilinan yang tepat setelah proses degreening jeruk keprok garut (Citrus reticulata L.) terhadap perubahan warna dan umur simpan buah yang didekati dari beberapa peubah. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT), Institut Pertanian Bogor pada bulan Maret-April 2019. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan 1 faktor, yaitu perlakuan perbedaan waktu pelilinan setelah proses degreening. Waktu pelilinan yang digunakan adalah 0, 1, 2, dan 3 hari setelah degreening. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 0, 2, dan 3 hari setelah degreening dapat membentuk warna jingga pada buah jeruk keprok garut pada 24 HSP. Susut Bobot tertinggi hingga pengamatan hari terakhir yaitu pada perlakuan pelilinan 3 hari setelah degreening dengan nilai susut bobot sebesar 12.1%, sedangkan untuk perlakuan lainnya nilai susut bobot rata-rata sebesar 10%. Kata kunci: ethepon, klorofil, lilin lebah, susut bobot, vitamin C
Incidence and Molecular-Based Identification of Papaya ringspot virus Infecting Papaya in Java Farida, Naimatul; Damayanti, Tri Asmira; Efendi, Darda; Hidayat, Sri Hendrastuti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.1.43-51

Abstract

Infeksi Papaya ringspot virus (PRSV) di Indonesia pertama kali dilaporkan pada pepaya di Nangroe Aceh Darussalam pada tahun 2012. Sejak itu, PRSV atau penyakit bercak bercincin pada pepaya menyebar ke beberapa daerah di Jawa, Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilakukan untuk mengonfirmasi keberadaan PRSV di beberapa daerah penanaman pepaya di Jawa dan mengetahui identitas molekulernya. Metode double antibody sandwich enzyme-linked immunosorbent assay (DAS-ELISA) dengan antiserum spesifik PRSV digunakan untuk mendeteksi sampel dari lapangan. Insidensi PRSV hasil deteksi DAS-ELISA di Bogor, Purworejo, Kebumen, dan Bantul berturut-turut sebesar 59.1%, 51.4%, 84.2%, dan 96.2%. Identifikasi lebih lanjut dilakukan dengan reverse transcription-polymerase chain reaction menggunakan primer spesifik (PRSV326/PRSV800), dilanjutkan dengan sikuensing DNA. Fragmen DNA berukuran 475 pb berhasil diamplifikasi dari sampel lapangan dan analisis nukleotida menunjukkan bahwa semua sampel terkonfirmasi PRSV dengan homologi antarisolat berkisar antara 95.4% sampai 99.4%. Analisis filogenetika menunjukkan bahwa isolat-isolat PRSV di Jawa berada dalam satu grup yang sama dengan isolat PRSV-P pepaya dari Thailand.
GIS-Based Analysis Of Location And Environmental Impact Of The Rice Distribution Network In Tasikmalaya Surya Kurnia Putra, Dicky; Efendi, Darda; Widajati, Eny
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 9 No. 1 (2025): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jgel.v9i1.16251

Abstract

Beras adalah komoditas makanan pokok yang paling vital bagi lebih dari 90% penduduk Indonesia, tetapi terjadinya penurunan produksi beras karena beberapa faktor, termasuk ketidakefisienan dalam rantai pasokan beras sehingga efisiensi distribusi menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengukur lokasi optimal dari pusat distribusi dan emisi dari jaringan distribusi beras di Tasikmalaya, dan 2) merumuskan strategi untuk meningkatkan efisiensi jaringan distribusi dan mengurangi emisi. Metode analisis spasial menggunakan bantuan QGIS untuk mengidentifikasi Pasar Cikurubuk sebagai pusat distribusi beras di Tasikmalaya, dan berdasarkan analisis lokasi menggunakan teknik Load-Distance Technique, Location factor rating dan Weighted Multi Criteria Overlay Analysis (WMCA). Hasil dietahui jika Pasar Cikurubuk sudah berada pada daerah yang opimal sebagai pusat distribusi. Emisi gas buang yang dihitung dengan membandingkan jarak tempuh total kendaraan (VKT), konsumsi bahan bakar, dan faktor emisi  yang dihasilkan dari aktivitas pengantaran beras dari  22 unit penggilingan padi ke Pasar Cikurubuk dihasilkan emisi tahunan sebesar CO 1,2 ton, HC 0,26 ton, NOx 2,54 ton, PM10 0,20 ton, CO2 41,99 ton, SO2 0,12 ton. Membangun Pasar Induk Singaparna sebagai pusat distribusi baru, berdasarkan simulasi analisis jaringan, terbukti dapat meningkatkan efisiensi jaringan distribusi beras, mengurangi total jarak tempuh dan emisi sebesar 6,16% dan pengurangan konsumsi bahan bakar sebesar 5,45%.
Pemilihan Pola Distribusi Pupuk Bersubsidi Pusri ke Gudang Lini III dengan ANP Dacholfany, Imanullah; Wijaya, Sony Hartono; Efendi, Darda
Warta Penelitian Perhubungan Vol. 35 No. 1 (2023): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/warlit.v35i1.2266

Abstract

Selaku produsen pupuk urea bersubsidi, PT. Pupuk Sriwijaya Palembang menyalurkan pupuk Urea bersubsidi dari Pabrik yang ada di Kota Palembang ke salah satu wilayah pelayanannya yaitu Provinsi Lampung. Pola distribusi yang ada saat ini sangat dinamis dengan menerapkan 3 pola secara bersamaan yaitu pendistribusian pupuk dalam kantong dengan truk langsung, Port to Door Service (PTDS) dalam kantong (inbag) dan PTDS curah (to Inbag). Selain menentukan pola distribusi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, Adanya amanat Pemerintah atas kecukupan stok pupuk bersubsidi untuk petani serta audit terhadap kewajaran biaya distribusi yang dikeluarkan menjadi salah satu pertimbangan untuk mengetahui pola distribusi yang tepat untuk dijalankan. Untuk itu dilakukan pemilihan pola distribusi dengan menggunakan kriteria 5 tepat yaitu tepat kualitas, tepat kuantitas, tepat lokasi, tepat biaya dan tepat waktu beserta sub kritera yang ada didalamnya dengan alternatif yang terbentuk sebanyak 7 (tujuh) alternatif yaitu Trucking berupa pupuk dalam kantong (A), PTDS pupuk dalam kantong/Inbag (B), PTDS pupuk curah/to inbag (C), kombinasi A dan B, Kombinasi A dan C, Kombinasi B dan C dan terakhir kombinasi A, B dan C. Hasil analisis Analytic Network Process (ANP) dengan menggunakan aplikasi Super Decision 3.2.0 menunjukan bahwa pendistribusian pupuk dengan trucking terpilih sebagai prioritas pertama dengan nilai rata-rata sebesar 0,231. Hasil perhitungan tersebut disepakati oleh pakar yang berasal dari kelompok praktisi, akademisi dan regulator  dengan nilai Kendall’s coefficient (W) sebesar 0,32. Dengan demikian, Trucking dapat dipertimbangkan sebagai pola distribusi yang dapat menjawab kebutuhan PT. Pusri dalam mendistribusikan pupuk urea bersubsidi ke gudang lini III yang ada di Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung.
Co-Authors , Dorly . Angela Ade Wachjar Ade Wachjar Alfia Annur Aini Azizi ANDRIA AGUSTA Andria Agusta Angela, . Anneke Pesik Asti Kusriyanti Azizi, Alfia Annur Aini Azizi, Alfia Annur Aini Bambang S PURWOKO Bambang S. Purwoko Bambang S. Purwoko Bambang Sapta Purwoko Bhaskara, Sandhi Yoga C Hanny Wijaya Cece Suhara Dacholfany, Imanullah Dede Robiatul Adawiyah Deden Derajat Matra Deden Sukmadjaja Dewi Sukma DIAN LATIFAH, DIAN Dianto, Fajar Didy Sopandie DINARTY, DINY Diny Dinarti Djoko Santoso Djoko Santoso Don R LaBonte Dwi Utami Nur Usmani E. Gunawan Edi Santosa Endang Gunawan Entit Hermawan Eny Widajati Erlin Vira Novianti Erwin Al-Hafiizh Evan Maulana Fajar Dianto Fajarudin, A Farida, Naimatul Fitri Fatma Wardani Fitri Fatma Wardani Furqoni, Hafith Gunawan, E. Gustaaf A Wattimena Halimah Widyaningrum Hanifah Muthmainnah Haryanti, Dyra heliyana hermawati Ika Mariska Ika Roostika IKA ROOSTIKA Ika Roostika Ika Roostika Ika Roostika Ika Roostika Tambunan Imanullah Dacholfany Imron Riyadi Inanpi Hidayati Sumiasih, Inanpi Hidayati Indah Wulandari Iswari S Dewi Joko Ridho Witono Kasutjianingati . Katerin Ninariyani Ketty Suketi Kusriyanti, Asti Laela Sari laela Sari, laela Lisnandar, Dea Silvia Lolliani Martin, Andri MASKROMO, ISMAIL Maulana, Evan Maulana, Mohamad Akhbar Maya Melati Mayasari Yamin, Mayasari Megayani Sri Rahayu Mohamad Akhbar Maulana Mohamad Rahmad Suhartanto Mutiara Utami Ni Made Wasundhari Dharma Suarka Ninariyani, Katerin Nindita, Anggi NOVARIANTO, HENGKY Nurul Khumaida Nurul Khumaida Odit Ferry Kurniadinata Ogie Satriadi Purwito, Agus Purwito Putra, Mirza R Rahayu, Resa Sri Rahmat Budiarto Rahmi Fajri RARA PUSPITA DEWI LIMA WATI RARA PUSPITA DEWI LIMA WATI, RARA PUSPITA Reflinur Reflinur Resa Sri Rahayu Riry Prihatini Roedhy Poerwanto Rofiq, Muhamad Abdul Rudiyanto Rudiyanto Rudiyanto Rudiyanto, Rudiyanto S Noorrohmah Satriadi, Ogie Sedyo Harsono SEDYO HARTONO Slamet Susanto Sobir Sobir SOEKISMAN TJITROSEMITO Solly Aryza Sony Hartono Wijaya SRI HENDRASTUTI HIDAYAT Sri Yuliani Sri Yuliani Sudarsono Sulassih, . Surya Diantina Surya Kurnia Putra, Dicky Susetio, Muhammad Tambunan, Ika Roostika Tambunan, Ika Roostika Tanari, Yulinda Taruna Shafa Arzam, Taruna Shafa TENDA, ELSJE T. Tiara, Dede TRI ASMIRA DAMAYANTI Tri Istianingsih Tri Muji Ermayanti Tri Muji Ermayanti Tri Muji Ermayanti Trikoesoemaningtyas Triokoesoemaningtyas Triokoesoemaningtyas Vandra Kurniawan Wahyu Fikrinda Wattimena, and Gustaaf Adolf Wida W. Khumaero Willy Bayuardi Suwarno Winarso D. Widodo Witono, dan Joko Ridho Yande Artha Gautama Yosi Zendra Joni Yosi Zendra Joni Yundari, Yundari