Sutirtha, I Wayan
Institut Seni Indonesia Denpasar

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Sapta nayaka putra pradnyana, I made bramastya; Sulistyani, Sulistyani; Sutirtha, I Wayan
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 2 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 2 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i2.3397

Abstract

Karya tari bebarisan sapta nayaka merupakan karya tari tradisi yang mengambil jenre bebarisan, karya tari ini berdurasi 12 menit 5 detik. Karya tari bebarisan sapta nayaka terinspirasi dari salah satu prosesi upacara yang ada didesa Semanik yaitu upacara neduh ayu yang didalamnya terdapat tari baris sumbu sebagai salah satu prosesi upacara neduh ayu. Dari tari baris sumbu inilah pencipta terinspirasi untuk menjadikan sebuah karya tari yang baru, dengan mengangkat nilai-nilai spirit atau kekuatan dari tari baris sumbu itu sendiri. Karya tari bebarisan sapta nayaka menjadi media ungkap proses ketubuhan pencipta dari beberapa tahun yang lalu hingga saat ini, karya tari ini berangkat dari gerak nengkleng sebagai identitas spesifik dan unik lalu dikembangkan dan dikemas berdasarkan kreatifitas penata sehingga mendapatkan sesuatu bentuk yanbg baru tanpa meninggalkan spritit dari tari baris sumbu itu sendiri.
Representasi Kekuatan Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara melalui Penciptaan Tari Kreasi Solah Sura Dewi, Kadek Diah Mutiara; Negara, I Gede Oka Surya; Sutirtha, I Wayan
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 1 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 1 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i1.3757

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai penciptaan sebuah karya seni tari kreasi baru yang bersumber dari Lontar Tutur Barong Swari, menggambarkan pembawaan 3 tokoh yang bersumber dari Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara dalam perwujudannya yakni sebagai penari Telek, Topeng Bang, dan Barong Swari. Ide karya tari ini dilatarbelakangi oleh fenomena minimnya karya tradisi yang dikembangkan oleh para seniman khususnya seniman muda serta “Gender Issue” yang ada di lingkungan mitra studi. Tujuan dari penciptaan karya tari Solah Sura ini adalah: (1) Mengajak masyarakat untuk menumbuhkembangkan daya kreatifitas dan meningkatkan kemampuan diri dalam seni tari, untuk menciptakan sebuah karya kreatif yang original melalui pengolahan maupun pengembangan gerak.; (2) Menjadi sumber refrensi untuk karya-karya baru yang akan diciptakan dikemudian hari; (3) Untuk berkontribusi terhadap kemajuan dan kecemerlangan cipta tari yang bekerja sama dengan Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan. Proses atau tahapan penciptaan yang dilalui meliputi: (1) Ngarencana, (2) Nuasen, (3) Makalin, (4) Nelesin, dan (5) Ngebah. Karya ini diwujudkan dalam bentuk tari kreasi baru yang terdiri dari tiga orang penari putri dengan fokus menggambarkan karakter dari Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara. Struktur karya ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu awal, isi dan akhir. Iringan tari yang digunakan pada karya ini adalah Gamelan Selonding dengan penambahan beberapa instrumen seperti kendang, suling, gentorag, cengceng ricik, dan gong. Tari Solah Sura ini menggunakan tata rias tari Bali modifikasi dan konsep tata busana yang terinsiprasi dari Lukisan Wayang Kamasan. Hasil dari proses penciptaan tari solah Sura dipentaskan di Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Denpasar.
Struktur Musik Iringan Tari Puspanjali Saptono Saptono; Hendra Santosa; I Wayan Sutirtha
PANGGUNG Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i1.2446

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan struktur komposisi musik iringan tari Puspanjali karya I Nyoman Windha seorang maestro karawitan Bali. Tari Puspanjali yang dipergunakan sebagai tari penyambutan ciptaan NLN Swasthi Widjaja diciptakan tahun 1989, menjadikannya sebagai sebuah karya tari yang monumental. Puspanjali berasal dari kata puspa berarti bunga dan anjali berarti sebuah penghormatan, dengan kata lain Puspanjali adalah taburan bunga sebagai sebuah penghormatan. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif melalui penjabaran struktur dan bentuk musik iringan tari yang terdiri dari kawitan, pengawak, dan pekaad dengan persyaratan mungkus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung baik melihat pertunjukannya ataupun melalui video, wawancara, dan studi kepustakaan. Penciptaan tari dan iringannya sangat spontan yang keluar dari ide, gerak tari, dan melodi yang diramu dalam komposisi yang sederhana tetapi sampai saat ini karya tersebut dapat digolongkan sebagai karya monumental karena masih bertahan dan banyak dipergunakan oleh masyarakat di Bali. Penjabaran struktur musik iringan tari dilakukan melalui notasi balok yang digabungkan dengan notasi dindong. Tarian Puspanjali sangat cocok dipelajari oleh anak usia dini karena kesederhanaan gerakannya, dan musik iringan dapat dipelajari oleh para pemula usia SD karena kesederhanaan komposisi musiknya.
Struktur Musik Iringan Tari Puspanjali Saptono Saptono; Hendra Santosa; I Wayan Sutirtha
PANGGUNG Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i1.2446

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan struktur komposisi musik iringan tari Puspanjali karya I Nyoman Windha seorang maestro karawitan Bali. Tari Puspanjali yang dipergunakan sebagai tari penyambutan ciptaan NLN Swasthi Widjaja diciptakan tahun 1989, menjadikannya sebagai sebuah karya tari yang monumental. Puspanjali berasal dari kata puspa berarti bunga dan anjali berarti sebuah penghormatan, dengan kata lain Puspanjali adalah taburan bunga sebagai sebuah penghormatan. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif melalui penjabaran struktur dan bentuk musik iringan tari yang terdiri dari kawitan, pengawak, dan pekaad dengan persyaratan mungkus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung baik melihat pertunjukannya ataupun melalui video, wawancara, dan studi kepustakaan. Penciptaan tari dan iringannya sangat spontan yang keluar dari ide, gerak tari, dan melodi yang diramu dalam komposisi yang sederhana tetapi sampai saat ini karya tersebut dapat digolongkan sebagai karya monumental karena masih bertahan dan banyak dipergunakan oleh masyarakat di Bali. Penjabaran struktur musik iringan tari dilakukan melalui notasi balok yang digabungkan dengan notasi dindong. Tarian Puspanjali sangat cocok dipelajari oleh anak usia dini karena kesederhanaan gerakannya, dan musik iringan dapat dipelajari oleh para pemula usia SD karena kesederhanaan komposisi musiknya.
Trans Memori Imajinasi Dalam Pewarisan Nilai Monumental Pertunjukan Wayang Kulit Bagi Masyarakat Hindu di Bali Wicaksandita, I Dewa Ketut; Hendra, Santosa; Saptono, Saptono; Sutirtha, I Wayan; Wicaksana, I Dewa Ketut
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 9 No 1 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v9i1.3499

Abstract

Memory transfer (memory trance) conceptually involves actively remembering, realizing, and inheriting values of greatness, survival, and stability in performing arts. Imagination, used to affirm memory transfer, creates mental images that emphasize large, impressive objects, ideas, or concepts, significantly influencing the inheritance of the monumental value of Balinese traditional wayang kulit performances. This research aims to first identify memory trance based on imagination in inheriting Balinese wayang kulit's monumental value; second, analyze the significance of memory trances in this inheritance. A phenomenological approach (psychology-imagination) and instrumental aesthetic theory support the qualitative research. Findings include: first, imagination memory trance reveals action phases based on imagination behavior, such as 'imagination' (transmutation of objects by the subject), ‘creativity and mental imagery’ (transformation through metacognition), ‘cultural context’ (value clarification and internalization), and 'monumental value' (understanding the majestic value). Second, the significance of imaginary memory transience impacts active behavior in inheriting Balinese wayang kulit's monumental value. It examines the audience's aesthetic experience from imaginary images presented by the puppeteer and transforms artistic sources into aesthetic elements involving socio-cultural trends, creating 'dialectics' and 'catharsis' for audience appreciation. Additionally, it involves internalizing socio-religious values, building involvement, and vertical-horizontal existence, and forming the image of wayang as monumental art.
Sapta nayaka putra pradnyana, I made bramastya; Sulistyani, Sulistyani; Sutirtha, I Wayan
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 2 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 2 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i2.3397

Abstract

Karya tari bebarisan sapta nayaka merupakan karya tari tradisi yang mengambil jenre bebarisan, karya tari ini berdurasi 12 menit 5 detik. Karya tari bebarisan sapta nayaka terinspirasi dari salah satu prosesi upacara yang ada didesa Semanik yaitu upacara neduh ayu yang didalamnya terdapat tari baris sumbu sebagai salah satu prosesi upacara neduh ayu. Dari tari baris sumbu inilah pencipta terinspirasi untuk menjadikan sebuah karya tari yang baru, dengan mengangkat nilai-nilai spirit atau kekuatan dari tari baris sumbu itu sendiri. Karya tari bebarisan sapta nayaka menjadi media ungkap proses ketubuhan pencipta dari beberapa tahun yang lalu hingga saat ini, karya tari ini berangkat dari gerak nengkleng sebagai identitas spesifik dan unik lalu dikembangkan dan dikemas berdasarkan kreatifitas penata sehingga mendapatkan sesuatu bentuk yanbg baru tanpa meninggalkan spritit dari tari baris sumbu itu sendiri.
Legong Krincing Suara Ni Kadek Intan Pramudita Dewi; I Wayan Sutirtha; I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 1 (2025): Jurnal IGEL Vol 5 No 1 2025
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i1.5020

Abstract

Legong Krincing Suara The Legong Krincing Suara dance is a new Legong dance creation with Gongseng as the creative source of creation. The stylist tries to combine aspects of movement, music, make-up and fashion, namely Legong and Gongseng. The creation of the Legong Krincing Suara dance uses the Panca Sthiti Ngawi Sani creation method created by Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA. Which include: Ngawirasa, Ngawacak, Ngaplan, Ngawangun, and Ngebah. This dance is performed in a group using 6 female dancers with a dance structure, part 1 depicts the sound of gongseng like a "voice" that comes from all directions, part 2 describes the sound play produced by gongseng which is combined with legong movements that have been developed, and part 3 depicts small balls moving in the gongseng, giving rise to irregular or irregular sounds. The duration of this work is 10 minutes 33 seconds and uses Musical Instrument Digital Interface (MIDI) accompaniment using Legong gambelan combined with Gongseng Sound. Using general Legong dance make-up and clothing with some modifications to the fan and the addition of Gongseng anklets. Keywords : Legong Dance Krincing Suara, Gongseng, Legong.
Karya Tari Bangkemaong Ade Pande Chana; I Wayan Sutirtha; Ida Ayu Wayan Arya Satyani
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 1 (2025): Jurnal IGEL Vol 5 No 1 2025
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i1.5651

Abstract

Abstract This study aims to explore and document the creation process of the dance piece Bangkemaong, inspired by the memande tradition and cultural heritage of the Pande community in Bali. Integrating elements such as movement concepts, choreography, costume design, musical accompaniment, and lighting design, this dance work seeks to create a cohesive and meaningful performance. The creation process draws upon the Angripta Sasolahan method proposed by I Kt. Suteja in his book Catur Asrama Pendakian Ritual Masyarakat Bali dalam Sebuah Karya Tari, involving stages of ngarencana (planning), nuasen (spiritual preparation), makalin, nelesin (choreographic development), and ngebah (evaluation and presentation). The ngarencana stage involves ideation and concept planning based on interviews with knowledgeable sources on the Pande tradition. Nuasen serves as spiritual preparation before entering makalin, where spontaneous movements are developed into strong and authoritative choreographic motifs. Musical accompaniment utilizes MIDI technology for rehearsal efficiency and adaptation to artistic needs, with composer Pande Ega contributing his heritage insights. Nelesin includes the adjustment of movements to music and refinement of choreographic motifs for consistency and dancer comfort. Ngebah marks the first performance for evaluation and final adjustments before the official presentation. The structure of Bangkemaong consists of four parts depicting panic, memande activities, fire symbolism, and weapon storage. Descriptions of makeup, costumes, and props reflect the character and identity of the Pande community, emphasizing the color red as a symbol of fire and strength. This research contributes to the development of Balinese dance art and provides deeper insights into the memande tradition and cultural heritage of the Pande community. Keyword: Bangkemaong, Pande, Catur Asrama
Unpacking the Form and Structure of Jaya Baya Music Composition in JES Gamelan Fusion Pramana, I Putu Riangga Budi; Santosa, Hendra; Saptono, I; Yudarta, I Gede; Sutirtha, I Wayan
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 7 No. 2 (2023): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DECEMBER 2023
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v7i2.49581

Abstract

This paper aims to reveal the structure and form of Jaya Baya music composition by I Nyoman Windha in JES Gamelan Fusion. Jaya Baya's Music Composition in JES Gamelan Fusion is the result of a rearrangement of the same title worked on with the Sekar Jaya Gamelan Group using Angklung gamelan in 2002 by taking the idea of revealing the meaning of the Bom Bali I Tragedy. This research uses qualitative descriptive research methods, with musicological approach procedures, to analyze the form and structure of the Composition of Musik Jaya Baya in JES Gamelan Fusion. This music turnover is in the style of fusion music, by combining the values of Bali characteristics with Western music values presented by JGF (Jes Gamelan Fusion). It turns out that in her composition, Windha is still thick with Balinese karawitan practices, where various elements of music, the practice of music playing techniques, ornamentation, and even the structure of the music are still Balinese style. Two types of gamelan as the basic foundation of music fusion, namely Jegog gamelan and Semar Pagulingan Saih Pitu gamelan, have certainly given rise to sound color perspectives and instrumentation techniques as a creative force for composition creation.   Windha has also made hybrid music in a fusion style which turned out to be an alternative to combining Western and Eastern music (Nusantara).
TARI SAKANAYA CERMINAN MORAL MANUSIA Kusuma, I Wayan Krisna Ananta; Cerita, I Nyoman; Sutirtha, I Wayan
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 1 No 2 (2021): Terbitan Kedua Bulan Oktober tahun 2021
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.299 KB) | DOI: 10.59997/journalofdance.v1i2.867

Abstract

The creative source of the Sakanaya dance work comes from the Sengkuni character who is the antagonist as the source of conflict in the Mahabharata story. His intelligence and abilities make him dissolved into destruction, because he cannot control the six enemies that are within him (Sad Ripu).The creation of this dance work uses the theory of imagination which means the power to form images (images) and the theory of aesthetics which means beauty. The process of realizing it into creative dance works using the creation method in the book Creating Through Dance by Y. Sumandiyo Hadi, a translation of the book Creating Trough Dance by Alma M. Hawkins with stages of exploration, improvisation, and forming. Exploration is thinking, imagining, and responding, by doing research on creative sources, determining ideas and themes for the work, designing the concept of work, selecting dancers, choosing composers and accompaniment players and choosing a place to practice; Improvisation is the process of pouring out the concept of a work to dance performers and has a probationary period; The last stage of forming is the process of uniting and assembling movement patterns, arable structures, music, and formation as a whole.This dance work is packaged in a creative dance work, with the theme of social life. Danced with seven dancers, accompanied by gamelan Semarandhana. The realization of this dance work is expected to awaken every human being that the importance of self-introspection is to maintain integrity or harmony in the lives of fellow human beingsKeywords: Sakanaya, Sengkuni, Sad Ripu, Creative