Sutirtha, I Wayan
Institut Seni Indonesia Denpasar

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Tari Bayu Sutha Karya Anak Agung Anom Putra Nayunda, Nayunda; Artati, Anak Agung Ayu Mayun; Sutirtha, I Wayan
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 2 No 1 (2022): Terbitan Pertama Bulan Juni tahun 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.419 KB) | DOI: 10.59997/journalofdance.v2i1.1602

Abstract

Bayu Sutha Dance by Anak Agung Anom Putra The title of this study is Tari Bayu Sutha Karya Anak Agung Anom Putra. The purpose of this study is to find out the beginning of the creation, form and function of Bayu Sutha dance, to measure how far the author's ability to research or study a dance work, and provide information related to the beginning of the creation, shape and function of Bayu Sutha dance. In this study qualitative methods are used, to obtain complete data. The stages of data collection in this study, namely observation, interview, literature study, documentation study. The overall results of the data are processed and analyzed neatly and structured in order to get good results and appropriate conclusions from the research. Bayu Sutha dance is a dance creation that is danced singleally, created by Anak Agung Anom Putra. The dance was created as a request from the organizers of the International Gamelan Festival Amsterdam (IGFA) in the 100th anniversary event of the Tropen Museum Amsterdam on 9-11 September 2010. This Bayu Sutha dance tells the story of Hanoman's mercurial youth and has a sincere heart. Hanoman is the protagonist in the Ramayana story. Anak Agung Anom Putra was also inspired by his name "Anom", therefore a dance was created that depicted the character of Hanoman. In general Hanoman dance is displayed in ramayana sendratari. However, it is different from Bayu Sutha dance that is danced single-handedly. Accompaniment music in Bayu Sutha dance using the semarandhana gong. Keywords: bayu sutha, creation dance, Ramayana.
Tari Teruna Goak, dari Tradisi Permainan Magoak-goakan ke Tari Kontemporer Nyoman Arya Baratha; Ida Ayu Trisnawati; I Wayan Sutirtha
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tari Teruna Goak adalah sebuah karya ciptaan baru dengan wujud kontemporer yang terinspirasi dari cerita tradisi permainan megoak-goakan. Karya tari ini berbentuk tari kelompok ditarikan oleh tujuh orang penari putra yang menginterpretasikan karakter pasukan Teruna Goak. Tujuan penciptaan karya tari ini adalah ingin menyampaikan pesan agar mampu mempertahankan serta melestarikan tradisi yang sudah ada sejak dulu dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat dijadikan tolak ukur untuk berbuat lebih baik. Tari Teruna Goak tercipta melalui proses penciptaan dengan menggunakan metode penciptaan Alma M. Hawkins yaitu eksplorasi, improvisasi, dan forming. Sumber informasi yang digunakan sebagai acuan adalah berupa sumber pustaka, diskografi, wawancara, dan pengamatan langsung. Adapun teori yang digunakan yaitu teori imajinasi, teori simbol, teori penciptaan, dan teori estetika. Hasil penciptaan karya tari ini adalah tari dengan wujud kontemporer berjudul Teruna Goak yang strukturnya terdiri dari bagian ; awal, isi, dan akhir. Beberapa gerak yang digunakan yaitu gerak peniruan dari burung gagak dan ketangkasan teruna tidak terlepas dari tari tradisi yaitu tetap mendapatkan inspirasi dari agem, tandang, tangkep, dan tangkis yang dieksplorasi kembali menjadi wujud baru. Penata menggunakan aplikasi software FL Studio 2020 sebagai media pengiring musik tari. Tata rias yang digunakan yaitu tata rias fantasi untuk mempertegas karakter yang dibawakan, sedangkan busana yang digunakan lebih dominan berwarna hitam yang dipadukan dengan warna merah dan putih. Kata Kunci: Teruna Goak, pasukan, kontemporer, penciptaan.
Representasi Kekuatan Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara melalui Penciptaan Tari Kreasi Solah Sura Dewi, Kadek Diah Mutiara; Negara, I Gede Oka Surya; Sutirtha, I Wayan
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 1 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 1 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i1.3757

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai penciptaan sebuah karya seni tari kreasi baru yang bersumber dari Lontar Tutur Barong Swari, menggambarkan pembawaan 3 tokoh yang bersumber dari Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara dalam perwujudannya yakni sebagai penari Telek, Topeng Bang, dan Barong Swari. Ide karya tari ini dilatarbelakangi oleh fenomena minimnya karya tradisi yang dikembangkan oleh para seniman khususnya seniman muda serta “Gender Issue” yang ada di lingkungan mitra studi. Tujuan dari penciptaan karya tari Solah Sura ini adalah: (1) Mengajak masyarakat untuk menumbuhkembangkan daya kreatifitas dan meningkatkan kemampuan diri dalam seni tari, untuk menciptakan sebuah karya kreatif yang original melalui pengolahan maupun pengembangan gerak.; (2) Menjadi sumber refrensi untuk karya-karya baru yang akan diciptakan dikemudian hari; (3) Untuk berkontribusi terhadap kemajuan dan kecemerlangan cipta tari yang bekerja sama dengan Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan. Proses atau tahapan penciptaan yang dilalui meliputi: (1) Ngarencana, (2) Nuasen, (3) Makalin, (4) Nelesin, dan (5) Ngebah. Karya ini diwujudkan dalam bentuk tari kreasi baru yang terdiri dari tiga orang penari putri dengan fokus menggambarkan karakter dari Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara. Struktur karya ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu awal, isi dan akhir. Iringan tari yang digunakan pada karya ini adalah Gamelan Selonding dengan penambahan beberapa instrumen seperti kendang, suling, gentorag, cengceng ricik, dan gong. Tari Solah Sura ini menggunakan tata rias tari Bali modifikasi dan konsep tata busana yang terinsiprasi dari Lukisan Wayang Kamasan. Hasil dari proses penciptaan tari solah Sura dipentaskan di Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Denpasar.
MEMBANGUN DAN MEWUJUDKAN POTENSI KESENIAN GENERASI MUDA DALAM MASYARAKAT DESA CARANGSARI MELALUI SENI TARI Ni Putu Selvy Pradnyani; I Wayan Sutirtha; Made Ayu Desiari
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 2 (2025): Jurnal IGEL: Journal Of Dance VOL.5 NO.2, Oktober 2025
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i2.6074

Abstract

AbstrakPenciptaan Tari Rejang Maparisudha Jagat berangkat dari ide tentang kesucian alam semesta yang kemudiandirefleksikan melalui gerak tubuh manusia dalam bentuk koreografi. Kata Maparisudha berasal dari Bahasa Sansekerta,yang berarti “penyucian” sedangkan “Jagat” berarti “alam semesta beserta isinya.” Dengan demikian, MaparisudhaJagat dapat dimaknai sebagai upaya penyucian terhadap alam semesta dan seluruh isinya. Tarian ini dibawakan secaraberkelompok oleh sembilan penari putri yang disusun sesuai dengan arah mata angin. Pada karya Tari RejangMaparisudha Jagat, metode penciptaan yang digunakan dalam mewujudkan karya tari, berpijak pada metode AngriptaSasolahan (menciptakan tari-tarian). Metode penciptaan tersebut di dalamnya meliputi lima tahapan penting, yaitungarencana, nuasen, makalin, nelesin, dan ngebah. Dalam penyajiannya, digunakan iringan barungan Gamelan GongKebyar karena sifat fleksibelnya mampu menghadirkan suasana religius dan tenang sesuai dengan tujuan karya.Kata Kunci: Tari Maparisudha Jagat, Alam Semesta, Religi
Struktur Musik Iringan Tari Puspanjali Saptono, Saptono; Santosa, Hendra; Sutirtha, I Wayan
PANGGUNG Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i1.2446

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan struktur komposisi musik iringan tari Puspanjali karya I Nyoman Windha seorang maestro karawitan Bali. Tari Puspanjali yang dipergunakan sebagai tari penyambutan ciptaan NLN Swasthi Widjaja diciptakan tahun 1989, menjadikannya sebagai sebuah karya tari yang monumental. Puspanjali berasal dari kata puspa berarti bunga dan anjali berarti sebuah penghormatan, dengan kata lain Puspanjali adalah taburan bunga sebagai sebuah penghormatan. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif melalui penjabaran struktur dan bentuk musik iringan tari yang terdiri dari kawitan, pengawak, dan pekaad dengan persyaratan mungkus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung baik melihat pertunjukannya ataupun melalui video, wawancara, dan studi kepustakaan. Penciptaan tari dan iringannya sangat spontan yang keluar dari ide, gerak tari, dan melodi yang diramu dalam komposisi yang sederhana tetapi sampai saat ini karya tersebut dapat digolongkan sebagai karya monumental karena masih bertahan dan banyak dipergunakan oleh masyarakat di Bali. Penjabaran struktur musik iringan tari dilakukan melalui notasi balok yang digabungkan dengan notasi dindong. Tarian Puspanjali sangat cocok dipelajari oleh anak usia dini karena kesederhanaan gerakannya, dan musik iringan dapat dipelajari oleh para pemula usia SD karena kesederhanaan komposisi musiknya.
Wariga Murti: Sebuah Transformasi Tumpek Wariga dalam Bentuk Karya Tari Kuswandari, Ni Kadek Diah Nanta; Santosa, Hendra; Padmini, Tjok Istri Putra; Sutirtha, I Wayan
Joged Vol 23, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i1.12743

Abstract

RINGKASANArtikel ini memaparkan hasil studi/projek independen program kegiatan MBKM yang dilakukan pada semester VII (September-Desember 2022). Kegiatan MBKM berupa projek independen yang bermitra kerja dengan Sanggar Semara Ratih, menciptakan sebuah karya tari hasil kolaborasi antara pencipta dengan Sanggar Semara Ratih. Proses penciptaan karya tari inovatif diwujudkan dengan menggunakan metode penciptaan Angripta Sasolahan yang tahapannya terdiri dari ngarencana, nuasen, makalin, nelesin dan ngebah. Tari Wariga Murti bertemakan tumbuhan-spirit religius, ditarikan oleh 6 orang penari. Tata rias Tari Wariga Murti menggunakan tata rias karakter untuk memperjelas karakter yang ingin ditonjolkan. Sedangkan tata busana Tari Wariga Murti yaitu memasukkan unsur atau elemen warna tumbuhan ke dalam busana. Karya tari ini memiliki struktur yang terdiri dari tiga bagian dan berdurasi 11 menit dengan musik tarinya menggunakan MIDI. Terciptanya karya Tari Wariga Murti, pencipta berharap peristiwa budaya Tumpek Wariga tetap dapat ditarikan dan terpelihara dengan baik.ABSTRACTWariga Murti : Transformation Of Tumpek Wariga In The Form Of Dance This article aims to present the results of independent studies/projects of the MBKM activity program while the creators are participating in semester VII (September-December 2022). MBKM activities are in the form of independent projects in partnership with Sanggar Semara Ratih. The independent project activity by creating a dance work is the result of a collaboration between the creator and Sanggar Semara Ratih. The process of creating innovative dance works with Sanggar Semara Ratih was realized using the Angripta Sasolahan creation method, the stages of which consisted of planning, nuasen, makalin, nelesin and singing. The Wariga Murti dance has the theme of religious plants and is danced by 6 dancers. Wariga Murti Dance make-up uses character make-up to clarify the character you want to highlight. Meanwhile, the fashion for the Wariga Murti Dance involves incorporating elements or elements of plant colors into the clothing. This dance work has a structure consisting of three parts and is 11 minutes long with dance music using MIDI. With the creation of the Wariga Murti dance, the creator hopes that the Tumpek Wariga cultural event can still be danced and maintained properly.