Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Tekanan Darah Serta Kadar Glukosa Darah pada Masyarakat di Desa Made Kota Surabaya Khamidah, Nur; Anggraini Soetedjo, Farida; Falerio Kristijanto, Johanes Aprilius; Siswoyo, Siswoyo
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v5i3.3251

Abstract

Optimalisasi “Pondok Paru Sehat” Kelurahan Dukuh Kupang Kota Surabaya Melalui Edukasi Peran Gizi Dalam Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) Dan Pemeriksaan Fungsi Paru (Spirometry) Untuk Deteksi Dini PPOK Anggraini Soetedjo, Farida; Arimbi, Muzaijadah Retno; Khamidah, Nur; Kristijanto, Johanes Aprilius Falerio
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a leading cause of morbidity and mortality from non-communicable diseases in Indonesia, particularly in Surabaya. The “Pondok Paru Sehat” community service program, initiated by the Faculty of Medicine, Wijaya Kusuma University Surabaya (FK UWKS), aims to raise awareness, knowledge, and early detection of COPD through nutrition education and spirometry screening in Dukuh Kupang sub-district. This study employed a descriptive qualitative approach using the Five Levels of Prevention model, involving 40 participants from both productive age groups and the elderly. The results indicated that 28 participants had an FEV1/FVC ratio of <70%, suggesting undiagnosed airway obstruction. Nutritional status assessment using Body Mass Index (BMI) showed that 30% of participants were underweight, while 20% were overweight. Participant satisfaction reached 92.5%, with the majority considering the education and screening services highly beneficial. The program demonstrates that community-based education combined with lung function screening can enhance awareness and early detection of COPD. This model is recommended for replication in other regions with support from local health cadres, health authorities, and educational institutions.
ATTENUATION OF CIGARETTE-SMOKE-INDUCED OXIDATIVE STRESS BY OAT DIET Soetedjo, Farida Anggraini; Kristijanto, Johanes Aprilius Falerio; Khamidah, Nur
Indonesian Journal of Health Science Vol 8 No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ijhs.v8i1.6599

Abstract

Even after cessation of cigarette smoke exposure, long-term exposure leads to lung fibrous tissue growth characteristically by oxidative stress. Oat, an inexpensive dietary source with antioxidant characteristics, is expected to alleviate oxidative stress in the lung tissue after exposure to cigarette smoke has ceased. This research aims to evaluate the effect of an oat diet in alleviating oxidative stress in the lung tissue of BALB/c mice after cessation of cigarette smoke exposure. A randomized post-test-only control group design was used for this research. The sample used in this experiment is male BALB/c mice (n = 33). Mice with BALB/c strain were separated into two groups: (1) control and (2) treatment. SOD, GSH, and MDA were the variables of the study. Cigarette smoke exposure decreases the activity of SOD and GSH and increases the concentration of MDA. After cigarette smoke exposure had been stopped in the oat-treated mice group, SOD and GSH activities were enhanced, and the MDA content dropped. This research's variable outcomes were statistically significant (P<0.05) from the standard feed alone-treated BALB/c mice group. Thus, consuming oats may alleviate oxidative stress implicated in lung fibrogenesis following cessation of tobacco smoke exposure
Efektivitas Ekstrak Phoenix Dactylifera Terhadap Eritrosit Dan Fragmented Red Blood Cell Pada Darah Tepi Tikus Wistar Anemia Defisiensi Besi Akibat Pemberian Deferasirox Ahista Saskirana Putri; Nisrina Raudhatul Jannah Almas; Hiski Aulia; Budiono Raharjo; Anggraheny Soelistyaningtyas; Stephani Linggawan; Farida Anggraini Soetedjo; Catherine Keiko Gunawan; Anton Sumarpo
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 3 (2026): Volume 13 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i3.22432

Abstract

Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan global yang paling umum, terutama pada kelompok rentan. Penggunaan deferasirox sebagai agen kelator besi dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping berupa penurunan kadar eritrosit dan peningkatan Fragmented Red Blood Cell (FRC). Maka diperlukan alternatif terapi pendamping yang bersifat alami, aman, dan efektif. Buah Phoenix Dactylifera (kurma) diketahui mengandung zat besi, vitamin C, serta senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung eritropoiesis dan melindungi eritrosit dari kerusakan. Tujuannya untuk mengetahui efektivitas pemberian ekstrak Phoenix Dactylifera terhadap jumlah dan morfologi eritrosit serta FRC pada tikus Wistar yang mengalami ADB akibat induksi deferasirox. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain randomized control group pretest-posttest. Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan dibagi menjadi empat kelompok, termasuk kontrol negatif dan tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak Phoenix Dactylifera yang berbeda. Jumlah eritrosit dan proporsi FRC diukur sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan hematology analyzer dan analisis mikroskopis. Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan Dunn’s post-hoc test. Hasilnya tidak didapatkan perbedaan signifikan jumlah eritrosit antar kelompok (p = 0,907), namun terdapat perbedaan signifikan pada proporsi FRC antar kelompok (p 0,001). Kelompok yang diberi ekstrak Phoenix Dactylifera dosis 500 mg/kg BB menunjukkan penurunan FRC paling signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Kesimpulannya yakni pemberian ekstrak Phoenix Dactylifera menunjukkan efektivitas dalam menurunkan Fragmented Red Blood Cell (FRC) dan cenderung meningkatkan jumlah eritrosit, sehingga berpotensi sebagai terapi pendamping yang aman dalam penanganan anemia defisiensi besi akibat deferasirox.
Circulating Microrna-19 as a Non-Invasive Biomarker for Detecting Lung Cancer: A Systematic Review and Meta-Analysis of Diagnostic Test Accuracy Studies Farida Anggraini Soetedjo; Nur Khamidah; Johanes Aprilius Falerio Kristijanto; Febrisma Bangun Sanjaya
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 5 No. 8 (2025): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v5i8.51965

Abstract

Invasive procedures remain the gold standard for lung cancer diagnosis, while new cases in 2018 reached 30,023 patients and tend to occur at a younger age, necessitating non-invasive markers for early detection of lung cancer. Currently, numerous studies have been conducted on microRNA (miRNA) as a lung cancer biomarker, including miRNA-19; however, research findings on miRNA-19 in the diagnosis of this disease remain controversial, prompting this study to assess the ability of miRNA-19 to detect lung cancer through a meta-analysis. Literature searches were conducted in three databases (PubMed, Science Direct, and Cochrane) up to March 22, 2023, using the Patient, Intervention, Comparison, Outcome (PICO) principle, with inclusion criteria for prospective, retrospective, case-control, or cross-sectional studies providing data for analyzing the diagnostic capability of miRNA-19. The methods used adhere to the 2020 PRISMA guidelines. Analysis was performed using STATA, MetaDisc, and Review Manager software. Four articles met the inclusion criteria for this meta-analysis. The combined analysis results regarding the sensitivity of miRNA-19 in lung cancer diagnosis reached 0.81 (95% CI [confidence interval]: 0.76–0.85), specificity 0.69 (95% CI: 0.61–0.76), diagnostic odds ratio (DOR) 12.62 (95% CI: 4.73–33.65), and area under the curve (AUC) 0.85. Analysis of the positive likelihood ratio (PLR) and negative likelihood ratio (NLR) yielded results... Analysis of the positive likelihood ratio (PLR) and negative likelihood ratio (NLR) yielded results 2.51 (95% CI: 1.59–3.95) and 0.29 (95% CI: 0.18–0.48). Based on the above data, miRNA-19 has potential in the non-invasive diagnosis of lung cancer.
Pendekatan Kedokteran Keluarga Melalui Kunjungan Rumah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Hipertensi Di Kota Surabaya: Sebuah Laporan Kasus Johanes Aprilius Falerio Kristijanto; Wike Herawaty; Ayu Cahyani Noviana; Farida Anggraini Soetedjo; Nur Khamidah
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan kedokteran keluarga berperan penting dalam pengelolaan penyakit kronis, terutama pada lansia dengan komorbiditas dan keterbatasan sosial-ekonomi. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan kunjungan rumah pada seorang pasien lansia dengan diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi di Kota Surabaya, dengan penekanan pada fungsi keluarga, sumber daya lingkungan, dan determinan kesehatan menurut kerangka HL Blum. Studi ini merupakan laporan kasus deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui satu rangkaian kunjungan rumah meliputi anamnesis komprehensif, pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana, observasi lingkungan rumah, penyusunan genogram, penilaian fungsi keluarga dengan Family APGAR, dan asesmen sumber daya keluarga menggunakan SCREEM. Pasien berusia 67 tahun dengan riwayat diabetes melitus tipe 2 selama ±10 tahun dan hipertensi ±8 tahun, datang dengan keluhan pandangan kabur, obesitas sentral, dislipidemia, dan hiperurisemia; tekanan darah 160/100 mmHg dan gula darah sewaktu 221 mg/dL menunjukkan penyakit yang belum terkontrol. Family APGAR menunjukkan fungsi keluarga kategori sedang, dengan dukungan utama berpusat pada istri dan keterlibatan anak yang terbatas. Asesmen SCREEM mengidentifikasi hambatan pada aspek sosial, budaya, ekonomi, edukasi, dan medis, sementara aspek religius bersifat protektif. Pemetaan dengan kerangka HL Blum menegaskan bahwa interaksi faktor keturunan, perilaku berisiko, lingkungan yang kurang mendukung, dan keterbatasan pelayanan kesehatan berkontribusi terhadap buruknya pengendalian penyakit, sekaligus menegaskan nilai strategis kunjungan rumah dalam merancang tatalaksana bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif dan berorientasi keluarga.