p-Index From 2021 - 2026
7.083
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Jurnal Teologi Berita Hidup Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan STT BNKP Sundermann The Way: Jurnal Teologi dan Kependidikan Manna Rafflesia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi Jurnal Amanat Agung KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Luxnos : Jurnal Sekolah Tinggi Teologi Pelita Dunia Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Vox Dei : Jurnal Teologi dan Pastoral Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Predica Verbum Sabda : Jurnal Teologi Kristen Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Voice of HAMI Jurnal Arrabona Saint Paul's Review Lentera Nusantara EKKLESIA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani Jurnal Teologi Pambelum Jurnal Yada Khamisyim : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Views: Jurnal Teologi dan Biblika Jurnal Teologi Rai JUITA SEJATI Jurnal Pistis: Teologi dan Praktia
Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Ucapan Hukuman Ilahi Terhadap Para Imam Dalam Maleakhi 2:1-3 Yang Berimplikasi Pada Keputusan Orang Percaya Pattinaja, Aska Aprilano; Sualang, Farel Yosua
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 2 (2024): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i2.401

Abstract

There are two groups of scholars who discuss Malachi 2:1-3 from different perspectives, namely, the divine perspective and the priestly perspective. These two views have led to the fallacy of dichotomizing the intent of the divine utterance. This article comprehensively correlates these two perspectives, which have implications for believers' decisions, based on the hermeneutic method of studying prophetic literature in the sub-genre of catastrophic prophecy. This article finds that the influence of divine punitive speech has great implications for the factors that influence believers' decisions, namely First, the Listening Factor, which discusses the decision to direct our hearing to the Word of God; Second, the Attention Factor, which discusses the decision to specifically and deliberately provide a sincere heart to fellowship and glorify God; and Third, the Honoring God's Name Factor, as an effect of the previous two factors, which makes every believer choose to honor God's name. The results of this study serve as a warning to every believer, especially to servants of God and ministers in the church as serving priests.
Analisis Tematik tentang Surga, Neraka, dan Tribulasi: Kajian Eskatologi sebagai Implikasi bagi Anak Muda Manurung, Well Therfine Renward; Pattinaja, Aska Aprilano; Kiamani, Andris
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol. 8 No. 1 (2024): Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v8i1.724

Abstract

Tema eskatologi adalah salah satu tema yang sangat menarik dan terus dibahas sampai hari ini. Berbagai interpretasi dan perspektif dalam memahami tema ini sehingga menjadi suatu kajian menarik. Tetapi realita yang terjadi adalah, bagi anak muda tema ini menjadi tema yang kurang diminati karena berisi hal-hal yang sulit dipahami dan abstrak dalam perspektifnya. Akhirnya ada banyak anak muda yang kehilangan kesempatan mempelajari tema ini secara komprehensif, sehingga tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk menjaga hidup di akhir zaman ini. Mengapa harus anak muda? Karena Indonesia akan memasuki bonus demografi, di mana usia potensial dan produktif adalah anak-anak muda. Menjawab realita yang ada, maka artikel ini ditulis untuk mengkorelasikan tema-tema penting dalam Wahyu dengan implikasinya bagi anak muda. Berdasarkan metode kualitatif dalam analisa tematik dan studi literatur, artikel ini menemukan bahwa: pertama, tema surga, neraka dan tribulasi adalah tema yang dapat menarik perhatian anak muda; kedua, tema-tema eskatologi menguatkan anak muda untuk berdiri di atas dasar yang tepat; dan ketiga, tema-tema eskatologi ini, merupakan tema utama yang harus disadari dan diakui kebenarannya oleh anak muda untuk dapat mempersiapkan diri dengan baik. Ini merupakan jawaban bagi para pemimpin rohani dalam mempersiapkan pengajaran tentang tema eskatologi kepada setiap anak muda.
“Perempuan Asing” Dalam Amsal 2:16, 5:20, 6:24, 7:5 Dan 23:27 Pattinaja, Aska Aprilano; Sualang, Farel Yosua
Vox Dei: Jurnal Teologi dan Pastoral  Vol 5 No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46408/vxd.v5i1.494

Abstract

This phrase "strange woman" appears several times in the Book of Proverbs and is problematic. Some translate it as a seductress, a bitch, a woman who has an affair, and as a wicked woman. Interestingly, all these interpretations of the phrase have negative connotations in the context. If so, why is this phrase always associated with negativity? What is the true meaning of this phrase? There seems to be a research gap in discussing this phrase, which is the main reason for the author to provide a specific and comprehensive interpretation of the phrase "foreign woman" and its implications for women today. Based on the qualitative method with sub interpretative design, especially wisdom literature hermeneutics, this study found that, there are five important meanings that explain the phrase "strange woman," namely, a woman who is unfaithful to the covenant with God, a woman who does not honor marriage, a harlot, a seductress, and a wicked woman. The implication of this study is a reference and warning for women to build the right character and become wise women so that they can be exemplary as good mothers and wives.
MANIFESTASI KARAKTER ALLAH MELALUI BUAH ROH SEBAGAI IMPLIKASI PENERIMAAN ROH KUDUS OLEH ORANG PERCAYA ANALISIS TEMA PNEUMATOLOGI DALAM KITAB GALATIA 5:22-23 Well Therfine Renward Manurung; Aska Aprilano Pattinaja; Kiamani, Andris
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Mei 2024
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v2i2.67

Abstract

Abstract: The Holy Spirit is a gift and serves as a helper for every believer. Through the work of the Holy Spirit, the fruit of the Spirit emerges as a manifestation of God's character in the life of the believer. In many literature studies, research on the Holy Spirit (pneuma) often only focuses on practical contexts, but research on the impact of the Holy Spirit (pneuma) on believers often does not get enough attention. This research uses thematic analysis and literature study as an effort to find a better understanding of how the Holy Spirit works in the life of believers and how it affects the expression of God's character in them. The results of this study show that the acceptance of the Holy Spirit has implications, namely: first, it is a sign or proof of faith in Jesus Christ. The Holy Spirit is seen as a gift from God for those who believe. The consequence of acceptance of the Holy Spirit is that believers will always be led by the Holy Spirit. Second, acceptance of the Holy Spirit will bring about changes (transformation) in line with God’s will, meaning God’s character will be reproduced in the life of the believer. Third, the fruit of the Spirit is God’s character reproduced in the life of believers by Jesus Christ or through the work of the Holy Spirit. These findings are expected to be a reference for scholars and servants of God in learning about the Holy Spirit and also to prepare teaching materials for the congregation. Abstrak: Roh Kudus merupakan anugerah dan berperan sebagai penolong bagi setiap orang percaya. Melalui karya Roh Kudus, buah Roh muncul sebagai manifestasi karakter Allah dalam diri orang percaya. Dalam banyak penelitian literatur, penelitian mengenai Roh Kudus (pneuma) sering kali hanya terfokus pada konteks praktika, namun penelitian terhadap dampak Roh Kudus (pneuma) bagi orang percaya seringkali tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Penelitian ini menggunakan analisis tematik dan studi literatur sebagai upaya untuk menemukan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana cara Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang percaya dan bagaimana hal itu mempengaruhi ekspresi karakter Allah dalam diri mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan Roh Kudus memiliki implikasi, yaitu: pertama, merupakan tanda atau bukti dari iman kepada Yesus Kristus. Roh Kudus dipandang sebagai hadiah dari Allah bagi mereka yang percaya. Penerimaan Roh Kudus akan menimbulkan konsekuensi bahwa orang beriman akan selalu dipimpin oleh Roh Kudus. Kedua, penerimaan Roh Kudus akan membuat perubahan (transformasi) yang sejalan dengan kehendak Allah, artinya karakter Allah akan direproduksi dalam kehidupan orang percaya. Ketiga, buah Roh merupakan karakter Allah yang direproduksi dalam kehidupan orang percaya oleh Yesus Kristus maupun melalui pekerjaan Roh Kudus. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para sarjana dan pelayan Tuhan dalam pembelajaran mengenai Roh Kudus (pneuma) dan juga untuk mempersiapkan materi pengajaran bagi jemaat.
KETERKAITAN “TAKUT AKAN TUHAN” DAN “MEMBENCI KEJAHATAN” TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER: KAJIAN HERMENEUTIK BERDASARKAN AMSAL 8:13 Pattinaja, Aska Aprilano
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2024): November 2024
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v3i1.73

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to examine the interrelationship between 'fear of God' and 'hatred of evil' as they relate to individual character development. This research focuses on answering two questions, firstly, is the meaning of fearing God the same as hating evil, and secondly, can hating evil be a guarantee of commitment to fearing God? There is a gap in research that explores character formation based on the nature of the fear of the Lord in Proverbs 8:13 as an answer to the questions posed. Therefore, based on the qualitative research method and the hermeneutic approach of the sub-genre of wisdom literature, this study was carried out to argue that: first, hating evil is a manifestation of the choice to fear God; second, there are three serious commitments in hating evil that have implications for character building, namely 1). Not to be arrogant and haughty; 2) Not to commit evil deeds; and 3) Not to speak misleading words. The results of this study show that the fear of God is an important foundation for character development.  Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji keterkaitan dari "takut akan Tuhan" dan “membenci kejahatan” sebagai implikasi terhadap pembentukan karakter individu. Penelitian ini difokuskan untuk menjawab dua pertanyaan, yakni pertama, apakah makna takut akan Tuhan itu sama dengan membenci kejahatan? dan kedua, apakah dengan membenci kejahatan dapat menjadi jaminan bahwa komitmen takut akan Tuhan dapat dilakukan? Terdapat kesenjangan penelitian yang mengeksplorasi pembentukan karakter berdasarkan esensi takut akan Tuhan dalam Amsal 8:13, sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah dipaparkan. Untuk itulah, berdasarkan metode penelitian kualitatif dan pendekatan hermeneutik sub genre sastra hikmat, maka studi ini diakukan untuk Penelitian ini menemukan, dua hal yaitu: pertama, membenci kejahatan merupakan perwujudan dari pilihan takut akan Tuhan; kedua, ada tiga komitmen serius dalam membenci kejahatan yang berimplikasi terhadap pembentukan karakter, yakni 1). Tidak sombong dan angkuh; 2) tidak melakukan perbuatan jahat; dan 3) tidak mengucapkan perkataan yang menyesatkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa takut akan Tuhan merupakan landasan penting dalam pembentukan karakter.
Tantangan Orang Percaya Menghadapi Kekristenan Progresif: Jawaban Alkitabiah Dalam Mempertahankan Iman Pattinaja, Aska Aprilano
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan Vol. 18 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36588/sundermann.v18i2.152

Abstract

Kekristenan Progresif sementara menjadi pembahasan dan kajian banyak Hamba Tuhan dalam beberapa waktu terakhir ini. Perkembangannya semakin signifikan di mana ajarannya mulai diterima di Indonesia dan mengubah konsep kekristenan konservatif yang berdasarkan pemahaman Alkitabiah. Terlihat sama sebagai orang Kristen tetapi para penganut kepercayaan kekristenan progresif berdiri di atas fondasi iman yang berbeda. Penelitian ini dilakukan sebagai antitesis terhadap berbagai pengajaran Kekristenan progresif yang mencoba meredefenisi ulang iman kepercayaan mengenai keselamatan, dan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Berdasarkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, maka penelitian ini menemukan, pertama, keselamatan adalah anugerah Allah bukan karena perbuatan baik atau menjadi orang baik; kedua, keselamatan diperoleh karena mengaku dengan mulut dan percaya di dalam hati kepada Yesus Kristus; ketiga, Alkitab adalah Firman Allah, berasal dari Allah yang diilhamkan kepada Para Rasul. Penelitian ini menjadi peringatan bagi setiap orang percaya agar kembali meneliti nilai-nilai kebenaran Alkitabiah dan menolong mereka untuk tetap mempercayai Alkitab sebagai Injil Kebenaran dan menolak berbagai ajaran yang menyesatkan.
Implementasi Kesatuan Gereja Berdasarkan Reinterpretasi Frase Pasa Oikodomi Dalam Efesus 2:21 Kiamani, Andris; Pattinaja, Aska Aprilano; Harefa, Darmianus
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 21 No 2 (2025): PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/psc.v21i2.557

Abstract

This research article aims to reinterpret the true meaning of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi) in Ephesians 2:21. There are two interpretations in translating the phrase, namely in the literal sense as the temple and in the metaphorical sense as a symbolization of the church as the Body of Christ. If so, what is the true meaning of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi)? To answer this question, this research is conducted through a specific and comprehensive study of the reinterpretation of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (pasa oikodomi). Based on the use of interpretative qualitative method through hermeneutic process, this article finds that the reinterpretation of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi) refers to the whole body, and or the whole congregation in the unity of the church. The basic argument of the reinterpretation is that, in the context of the letter to the Ephesians, Paul is talking about unity in the body of Christ, namely the church. Therefore, the novelty of this research lies in its comprehensive hermeneutical approach, which affirms the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi) as an affirmation of the unified structure of the church as the body of Christ, rather than merely a symbol of a physical building.
“Kota yang Kuat”: Resiprokal Unsur-unsur Pembentukan Karakter mengenai Strata Sosial (Paralelisme Kitab Amsal 10:15 dan 18:11) Farel Yosua Sualang; Aska Aprilano Pattinaja
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55649/skenoo.v5i2.165

Abstract

Kitab Amsal banyak mengungkapkan suatu paralelisme antara topik dari satu ayat kepada ayat lainnya pada lingkup kumpulan-kumpulan Amsal 10-29. Tidak terkecuali paralelisme antara Amsal 10:15 dan 18:11 yang membahas tentang gambaran “kota yang kuat” pada konteks kekayaan dan kemiskinan. Sejauh ini para penafsir telah menemukan bahwa interpretasi paralelisme Amsal 10:15 dan 18:11 berfokus pada interpretasi teologis, pengalaman individu, persepsi budaya, respon emosional, pola penalaran, tetapi tidak berintegrasi kepada unsur-unsur pembentukan karakter. Oleh sebab itu, dengan penggunaan metode kualitiatif dengan sub interpretative design sastra hikmat yang secara khusus mengamati terjemahan teks, strktur paralelisme dan gaya bahasa kiasan, penelitian ini menemukan bahwa gambaran “kota yang kuat” dalam Amsal 10:15 dan 18:11 dapat diintegrasikan pada unsur-unsur pembentukan karakter yaitu evaluasi karakter, konsistensi pada perilaku hikmat dan pengambilan keputusan. Kontribusi riset ini dapat memberikan suatu hubungan bijak dan etika sosial antara orang kaya dan orang miskin sebagai suatu peradaban etis dalam lingkungan komunitas masyarakat.
Antitesis Terhadap Yesus Menurut Pandangan Continuanism: Studi Analisis Teks “τὸ τέλειον (To Teleion)” dalam 1 Korintus 13:10 Andris Kiamani; Aska Aprilano Pattinaja
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Predica Verbum Vol. 4 No. 1 (June) 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/predicaverbum.v4i1.77

Abstract

The debate between cessationism and continuanism regarding the translation of the phrase τὸ τέλειον (to teleion) continues to this day, through various arguments and interpretations. For this reason, this study aims to analyze the true meaning of the phrase τὸ τέλειον (to teleion) in 1 Corinthians 13:10, which is the basis of the debate between the two groups. Studies that support continuanism have so far interpreted the phrase τὸ τέλειον (to teleion) as a reference to the personality of Jesus, thus making the researcher consider it necessary to comprehensively study to find the true meaning of the phrase τὸ τέλειον (to teleion), using interpretative qualitative methods through the process of exegesis to understand the text in question. This article finds the meaning of the phrase τὸ τέλειον (to teleion) in 1 Corinthians 13:10 does not refer to the personality of Jesus but to the Bible as the Word/Word of God which functions as a medium in shaping spiritual maturity. Thus, the study of the phrase τὸ τέλειον (to teleion) has proven an antithetical interpretation of Jesus' personality according to the view of continuanism.
Seven Principles of Anatomical Pedagogy in Proverbs: A Hermeneutic Study of Numerical Proverbs Based on Proverbs 6:16-19 Aska Aprilano Pattinaja; Victor Pattianakotta
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Predica Verbum Vol. 4 No. 2 (December) 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/predicaverbum.v4i2.108

Abstract

The pedagogical element is powerful in the Book of Proverbs as the primary teaching material for wisdom seekers. Interestingly, in Proverbs 6:16-19, a unique pedagogical element emerges because it is organized based on the anatomy of the human body, eyes, tongue, hands, heart, and feet. It closes with a complete picture of the human being, a false witness. Some previous studies have only focused on discussing it in terms of the structure of Proverbs 6 in the opening (prologue) of Proverbs 1-9 without examining its pedagogical elements. For this reason, this study aims to explore the pedagogical principles in Proverbs 6:16-19 as an essential lesson for a life pleasing to God and very unique because of the peculiarities of human anatomy. Based on the Hermeneutic Analysis of Wisdom Literature Sub Genre, this study found several things, namely: First, Synthetic parallelism in verse 16 emphasizes the understanding of God's hatred and disgust for sin; Second, Seven pedagogical principles of Proverbs numerical anatomy, namely: humility, honesty, mercy, purity, deliberation, honesty, and unity. The results of this study serve as a warning for believers to practice the principles of pedagogy as moral and ethical values.