p-Index From 2021 - 2026
7.794
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Jurnal Teologi Berita Hidup Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan STT BNKP Sundermann The Way: Jurnal Teologi dan Kependidikan PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi Jurnal Amanat Agung KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Luxnos : Jurnal Sekolah Tinggi Teologi Pelita Dunia Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Vox Dei : Jurnal Teologi dan Pastoral Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Predica Verbum Sabda : Jurnal Teologi Kristen Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Journal Didaskalia Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Voice of HAMI Jurnal Arrabona Saint Paul's Review Lentera Nusantara EKKLESIA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani Jurnal Teologi Pambelum Jurnal Yada Khamisyim : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Views: Jurnal Teologi dan Biblika Jurnal Teologi Rai JUITA SEJATI Jurnal Pistis: Teologi dan Praktia Jurnal Lampo GLOSSAIS: Jurnal Teologi & Pendidikan Kristiani
Claim Missing Document
Check
Articles

MANIFESTASI KARAKTER ALLAH MELALUI BUAH ROH SEBAGAI IMPLIKASI PENERIMAAN ROH KUDUS OLEH ORANG PERCAYA ANALISIS TEMA PNEUMATOLOGI DALAM KITAB GALATIA 5:22-23 Well Therfine Renward Manurung; Aska Aprilano Pattinaja; Kiamani, Andris
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Mei 2024
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v2i2.67

Abstract

Abstract: The Holy Spirit is a gift and serves as a helper for every believer. Through the work of the Holy Spirit, the fruit of the Spirit emerges as a manifestation of God's character in the life of the believer. In many literature studies, research on the Holy Spirit (pneuma) often only focuses on practical contexts, but research on the impact of the Holy Spirit (pneuma) on believers often does not get enough attention. This research uses thematic analysis and literature study as an effort to find a better understanding of how the Holy Spirit works in the life of believers and how it affects the expression of God's character in them. The results of this study show that the acceptance of the Holy Spirit has implications, namely: first, it is a sign or proof of faith in Jesus Christ. The Holy Spirit is seen as a gift from God for those who believe. The consequence of acceptance of the Holy Spirit is that believers will always be led by the Holy Spirit. Second, acceptance of the Holy Spirit will bring about changes (transformation) in line with God’s will, meaning God’s character will be reproduced in the life of the believer. Third, the fruit of the Spirit is God’s character reproduced in the life of believers by Jesus Christ or through the work of the Holy Spirit. These findings are expected to be a reference for scholars and servants of God in learning about the Holy Spirit and also to prepare teaching materials for the congregation. Abstrak: Roh Kudus merupakan anugerah dan berperan sebagai penolong bagi setiap orang percaya. Melalui karya Roh Kudus, buah Roh muncul sebagai manifestasi karakter Allah dalam diri orang percaya. Dalam banyak penelitian literatur, penelitian mengenai Roh Kudus (pneuma) sering kali hanya terfokus pada konteks praktika, namun penelitian terhadap dampak Roh Kudus (pneuma) bagi orang percaya seringkali tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Penelitian ini menggunakan analisis tematik dan studi literatur sebagai upaya untuk menemukan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana cara Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang percaya dan bagaimana hal itu mempengaruhi ekspresi karakter Allah dalam diri mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan Roh Kudus memiliki implikasi, yaitu: pertama, merupakan tanda atau bukti dari iman kepada Yesus Kristus. Roh Kudus dipandang sebagai hadiah dari Allah bagi mereka yang percaya. Penerimaan Roh Kudus akan menimbulkan konsekuensi bahwa orang beriman akan selalu dipimpin oleh Roh Kudus. Kedua, penerimaan Roh Kudus akan membuat perubahan (transformasi) yang sejalan dengan kehendak Allah, artinya karakter Allah akan direproduksi dalam kehidupan orang percaya. Ketiga, buah Roh merupakan karakter Allah yang direproduksi dalam kehidupan orang percaya oleh Yesus Kristus maupun melalui pekerjaan Roh Kudus. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para sarjana dan pelayan Tuhan dalam pembelajaran mengenai Roh Kudus (pneuma) dan juga untuk mempersiapkan materi pengajaran bagi jemaat.
KETERKAITAN “TAKUT AKAN TUHAN” DAN “MEMBENCI KEJAHATAN” TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER: KAJIAN HERMENEUTIK BERDASARKAN AMSAL 8:13 Pattinaja, Aska Aprilano
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2024): November 2024
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v3i1.73

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to examine the interrelationship between 'fear of God' and 'hatred of evil' as they relate to individual character development. This research focuses on answering two questions, firstly, is the meaning of fearing God the same as hating evil, and secondly, can hating evil be a guarantee of commitment to fearing God? There is a gap in research that explores character formation based on the nature of the fear of the Lord in Proverbs 8:13 as an answer to the questions posed. Therefore, based on the qualitative research method and the hermeneutic approach of the sub-genre of wisdom literature, this study was carried out to argue that: first, hating evil is a manifestation of the choice to fear God; second, there are three serious commitments in hating evil that have implications for character building, namely 1). Not to be arrogant and haughty; 2) Not to commit evil deeds; and 3) Not to speak misleading words. The results of this study show that the fear of God is an important foundation for character development.  Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji keterkaitan dari "takut akan Tuhan" dan “membenci kejahatan” sebagai implikasi terhadap pembentukan karakter individu. Penelitian ini difokuskan untuk menjawab dua pertanyaan, yakni pertama, apakah makna takut akan Tuhan itu sama dengan membenci kejahatan? dan kedua, apakah dengan membenci kejahatan dapat menjadi jaminan bahwa komitmen takut akan Tuhan dapat dilakukan? Terdapat kesenjangan penelitian yang mengeksplorasi pembentukan karakter berdasarkan esensi takut akan Tuhan dalam Amsal 8:13, sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah dipaparkan. Untuk itulah, berdasarkan metode penelitian kualitatif dan pendekatan hermeneutik sub genre sastra hikmat, maka studi ini diakukan untuk Penelitian ini menemukan, dua hal yaitu: pertama, membenci kejahatan merupakan perwujudan dari pilihan takut akan Tuhan; kedua, ada tiga komitmen serius dalam membenci kejahatan yang berimplikasi terhadap pembentukan karakter, yakni 1). Tidak sombong dan angkuh; 2) tidak melakukan perbuatan jahat; dan 3) tidak mengucapkan perkataan yang menyesatkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa takut akan Tuhan merupakan landasan penting dalam pembentukan karakter.
Tantangan Orang Percaya Menghadapi Kekristenan Progresif: Jawaban Alkitabiah Dalam Mempertahankan Iman Pattinaja, Aska Aprilano
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan Vol. 18 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36588/sundermann.v18i2.152

Abstract

Kekristenan Progresif sementara menjadi pembahasan dan kajian banyak Hamba Tuhan dalam beberapa waktu terakhir ini. Perkembangannya semakin signifikan di mana ajarannya mulai diterima di Indonesia dan mengubah konsep kekristenan konservatif yang berdasarkan pemahaman Alkitabiah. Terlihat sama sebagai orang Kristen tetapi para penganut kepercayaan kekristenan progresif berdiri di atas fondasi iman yang berbeda. Penelitian ini dilakukan sebagai antitesis terhadap berbagai pengajaran Kekristenan progresif yang mencoba meredefenisi ulang iman kepercayaan mengenai keselamatan, dan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Berdasarkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, maka penelitian ini menemukan, pertama, keselamatan adalah anugerah Allah bukan karena perbuatan baik atau menjadi orang baik; kedua, keselamatan diperoleh karena mengaku dengan mulut dan percaya di dalam hati kepada Yesus Kristus; ketiga, Alkitab adalah Firman Allah, berasal dari Allah yang diilhamkan kepada Para Rasul. Penelitian ini menjadi peringatan bagi setiap orang percaya agar kembali meneliti nilai-nilai kebenaran Alkitabiah dan menolong mereka untuk tetap mempercayai Alkitab sebagai Injil Kebenaran dan menolak berbagai ajaran yang menyesatkan.
Implementasi Kesatuan Gereja Berdasarkan Reinterpretasi Frase Pasa Oikodomi Dalam Efesus 2:21 Kiamani, Andris; Pattinaja, Aska Aprilano; Harefa, Darmianus
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 21 No 2 (2025): PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/psc.v21i2.557

Abstract

This research article aims to reinterpret the true meaning of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi) in Ephesians 2:21. There are two interpretations in translating the phrase, namely in the literal sense as the temple and in the metaphorical sense as a symbolization of the church as the Body of Christ. If so, what is the true meaning of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi)? To answer this question, this research is conducted through a specific and comprehensive study of the reinterpretation of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (pasa oikodomi). Based on the use of interpretative qualitative method through hermeneutic process, this article finds that the reinterpretation of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi) refers to the whole body, and or the whole congregation in the unity of the church. The basic argument of the reinterpretation is that, in the context of the letter to the Ephesians, Paul is talking about unity in the body of Christ, namely the church. Therefore, the novelty of this research lies in its comprehensive hermeneutical approach, which affirms the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi) as an affirmation of the unified structure of the church as the body of Christ, rather than merely a symbol of a physical building.
“Kota yang Kuat”: Resiprokal Unsur-unsur Pembentukan Karakter mengenai Strata Sosial (Paralelisme Kitab Amsal 10:15 dan 18:11) Farel Yosua Sualang; Aska Aprilano Pattinaja
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55649/skenoo.v5i2.165

Abstract

Kitab Amsal banyak mengungkapkan suatu paralelisme antara topik dari satu ayat kepada ayat lainnya pada lingkup kumpulan-kumpulan Amsal 10-29. Tidak terkecuali paralelisme antara Amsal 10:15 dan 18:11 yang membahas tentang gambaran “kota yang kuat” pada konteks kekayaan dan kemiskinan. Sejauh ini para penafsir telah menemukan bahwa interpretasi paralelisme Amsal 10:15 dan 18:11 berfokus pada interpretasi teologis, pengalaman individu, persepsi budaya, respon emosional, pola penalaran, tetapi tidak berintegrasi kepada unsur-unsur pembentukan karakter. Oleh sebab itu, dengan penggunaan metode kualitiatif dengan sub interpretative design sastra hikmat yang secara khusus mengamati terjemahan teks, strktur paralelisme dan gaya bahasa kiasan, penelitian ini menemukan bahwa gambaran “kota yang kuat” dalam Amsal 10:15 dan 18:11 dapat diintegrasikan pada unsur-unsur pembentukan karakter yaitu evaluasi karakter, konsistensi pada perilaku hikmat dan pengambilan keputusan. Kontribusi riset ini dapat memberikan suatu hubungan bijak dan etika sosial antara orang kaya dan orang miskin sebagai suatu peradaban etis dalam lingkungan komunitas masyarakat.
Antitesis Terhadap Yesus Menurut Pandangan Continuanism: Studi Analisis Teks “τὸ τέλειον (To Teleion)” dalam 1 Korintus 13:10 Andris Kiamani; Aska Aprilano Pattinaja
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Predica Verbum Vol. 4 No. 1 (June) 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/predicaverbum.v4i1.77

Abstract

The debate between cessationism and continuanism regarding the translation of the phrase τὸ τέλειον (to teleion) continues to this day, through various arguments and interpretations. For this reason, this study aims to analyze the true meaning of the phrase τὸ τέλειον (to teleion) in 1 Corinthians 13:10, which is the basis of the debate between the two groups. Studies that support continuanism have so far interpreted the phrase τὸ τέλειον (to teleion) as a reference to the personality of Jesus, thus making the researcher consider it necessary to comprehensively study to find the true meaning of the phrase τὸ τέλειον (to teleion), using interpretative qualitative methods through the process of exegesis to understand the text in question. This article finds the meaning of the phrase τὸ τέλειον (to teleion) in 1 Corinthians 13:10 does not refer to the personality of Jesus but to the Bible as the Word/Word of God which functions as a medium in shaping spiritual maturity. Thus, the study of the phrase τὸ τέλειον (to teleion) has proven an antithetical interpretation of Jesus' personality according to the view of continuanism.
Seven Principles of Anatomical Pedagogy in Proverbs: A Hermeneutic Study of Numerical Proverbs Based on Proverbs 6:16-19 Aska Aprilano Pattinaja; Victor Pattianakotta
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Predica Verbum Vol. 4 No. 2 (December) 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/predicaverbum.v4i2.108

Abstract

The pedagogical element is powerful in the Book of Proverbs as the primary teaching material for wisdom seekers. Interestingly, in Proverbs 6:16-19, a unique pedagogical element emerges because it is organized based on the anatomy of the human body, eyes, tongue, hands, heart, and feet. It closes with a complete picture of the human being, a false witness. Some previous studies have only focused on discussing it in terms of the structure of Proverbs 6 in the opening (prologue) of Proverbs 1-9 without examining its pedagogical elements. For this reason, this study aims to explore the pedagogical principles in Proverbs 6:16-19 as an essential lesson for a life pleasing to God and very unique because of the peculiarities of human anatomy. Based on the Hermeneutic Analysis of Wisdom Literature Sub Genre, this study found several things, namely: First, Synthetic parallelism in verse 16 emphasizes the understanding of God's hatred and disgust for sin; Second, Seven pedagogical principles of Proverbs numerical anatomy, namely: humility, honesty, mercy, purity, deliberation, honesty, and unity. The results of this study serve as a warning for believers to practice the principles of pedagogy as moral and ethical values.
Prinsip Perintisan Jemaat Sebagai Refleksi Gereja Tuhan Masa Kini Andris Kiamani; Aska Aprilano Pattinaja
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 23 No. 2 (2023): Vol. 23 No. 2 (2023): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v23i2.138

Abstract

Perintisan jemaat merupakan sesuatu yang sangat penting bagi pelayanan masa kini. Sekalipun penting, namun pada kenyataannya terdapat gereja-gereja yang memandang bahwa perintisan jemaat adalah tugas dari penginjil, hamba Tuhan, bagian gereja atau denominasi tertentu saja. Hal ini dikarenakan gereja berada dalam zona nyaman untuk lebih sibuk untuk memperhatikan pelayanan kedalam dan mengabaikan perintisan jemaat-jemaat baru. Banyak penelitian yang telah dilakukan dalam mengkaji tentang perintisan gereja atau jemaat, tetapi penelitian ini menemukan, belum adanya penelitian yang secara khusus dan komprehensif, mengenai prinsip perintisan gereja. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk meletakkan dasar bagi pemahaman yang benar, berdasarkan kebenaran Alkitab terhadap pentingnya prinsip perintisan jemaat sebagi sebuah refleksi gereja Tuhan masa kini. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, maka penelitian ini menemukan, lima prinsip penting perintisan jemaat, yakni: pertama visi dari Tuhan; kedua tempat tujuan untuk memulai; ketiga mengikuti perintah Tuhan; keempat menunggu waktu Tuhan; dan kelima memiliki iman yang radikal akan janji-Nya. Iman adalah bagian terpenting untuk menarik janji Tuhan agar terjadi secara nyata.
Dampak Jebakan Kesombongan Bagi Generasi Milenial: Kajian Struktur Paralelisme Dalam Amsal 16:18-19 Dewi Latupeirissa; Aska Aprilano Pattinaja
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 24 No. 1 (2024): Vol. 24 No. 1 (2024): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v24i1.161

Abstract

Amsal 16:18-19 adalah amsal yang banyak dikutip karena berbicara mengenai dampak dari jebakan kecongkakan dan kesombongan. Disebut jebakan, karena tanpa disadari kesombongan menjebak siapa saja dan menggiring mereka ke arah kehancuran dan kejatuhan. Sudah banyak peneliti yang membahas mengenai Amsal 16:18-19, tetapi dalam studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa penelitian-penelitian sebelumnya hanya berfokus kepada makna frase kecongkakan dan tinggi hati serta mengabaikan unsur paralelisme yang terdapat dalam teks ini. Oleh sebab itu artikel ini akan melakukan kajian lebih spesifik dan komprehensif mengenai Amsal 16:18-19 dilihat dari lensa kajian paralelisme yang berimplikasi kepada generasi milenial. Berdasarkan metode hermeneutik sub genre sastra hikmat, maka penelitian ini menemukan: Pertama, Kehancuran Hubungan Persahabatan; Kedua, Kejatuhan Akibat Tekanan Mental dan Emosional; Ketiga, Kerusakan Kehidupan Spritual. Penelitian menjadi peringatan kepada semua generasi milenial agar berhati-hati dengan jebakan kesombongan.  
Pencarian Hikmat Dalam Perspektif Ayub 28:20-28: Suatu Kajian Eksposisi Dan Implikasi Teologis Jeffry Keliduan; Marten Luter Maunusu; Hervy Noya; Aska Aprilano Pattinaja
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 25 No. 1 (2025): Vol. 25 No. 1 (2025): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v25i1.175

Abstract

Ayub 28:20-28 menghadirkan perenungan mendalam tentang hakikat hikmat dan sumbernya yang sejati. Dalam perikop ini, penulis menegaskan bahwa hikmat tidak dapat ditemukan melalui usaha manusiawi atau kekayaan duniawi, tetapi hanya melalui hubungan yang benar dengan Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara eksposisi teks Ayub 28:20-28 dan menemukan implikasi teologi dari perikop ini dalam kaitannya dengan konsep takut akan Tuhan sebagai landasan hikmat. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis eksegetis terhadap teks serta kajian teologis yang menghubungkan konsep hikmat dalam kitab Ayub dengan tradisi kebijaksanaan Ibrani secara lebih luas. Berdasarkan metode  kualitatif, studi literatur, maka penelitian ini menemukan beberapa nilai hikmat, yaitu: Pertama, Hikmat tidak dapat ditemukan melalui usaha manusiawi (Ayb. 28:20-22); Kedua, Hikmat bersumber dari Allah dan berakar dalam takut akan Tuhan (Ayb. 28:23-28); Ketiga, Hikmat menjadi prinsip hidup dalam etika moral (Ayb. 28:20-28). Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami bagaimana konsep hikmat dalam Ayub 28:20-28 dapat diaplikasikan dalam kehidupan beriman masa kini. Dengan menegaskan bahwa hikmat sejati berasal dari Allah, penelitian ini menyoroti relevansi nilai-nilai takut akan Tuhan dalam membentuk karakter dan kebijaksanaan moral bagi umat percaya.