p-Index From 2021 - 2026
8.256
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Kurios Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Jurnal Teologi Berita Hidup Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan STT BNKP Sundermann The Way: Jurnal Teologi dan Kependidikan Manna Rafflesia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Jurnal Amanat Agung KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Luxnos : Jurnal Sekolah Tinggi Teologi Pelita Dunia Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Vox Dei : Jurnal Teologi dan Pastoral Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Predica Verbum Sabda : Jurnal Teologi Kristen Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Journal Didaskalia Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Voice of HAMI Jurnal Arrabona Saint Paul's Review Lentera Nusantara EKKLESIA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani Jurnal Teologi Pambelum Khamisyim : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Views: Jurnal Teologi dan Biblika Jurnal Teologi Rai JUITA SEJATI Jurnal Pistis: Teologi dan Praktia Jurnal Lampo GLOSSAIS: Jurnal Teologi & Pendidikan Kristiani
Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN METODE KONTEKSTUAL PAULUS “MENJADI SEPERTI” MENURUT I KORINTUS 9:19-23 SEBAGAI IMPLEMENTASI KARAKTER MISIONARIS Pattinaja, Aska Aprilano; Kiamani, Andris; Loisoklay, Pulela Dewi
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 6, No 2 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v6i2.97

Abstract

Evangelism has transcended ethnic and linguistic boundaries. The evangelistic movement has become very widespread, reaching neglected areas. Although there are studies that have discussed cross-cultural evangelism methods, the researcher found that there has not been a comprehensive discussion of the contextual methods used by Paul relating to the character of missionaries. That is why this research article discusses Paul's contextual method of "being like" in 1 Corinthians 9:19-23, as an implementation of character for missionaries in cross-cultural evangelism. Paul used the contextual approach to achieve two main goals, namely: "that I may win as many as possible" (1 Corinthians 9:19b) and "that I may share in the gospel that is preached" (1 Corinthians 9:23b). Thus this article finds that there are five character-shaping factors for missionaries, namely: first, being a servant; second, living in obedience; third, daring to pay the price; fourth, adhering to the principles of truth; and fifth, being able to adjust. This research can be a reference for academics and every cross-cultural evangelism movement in mission service. Penginjilan telah melampaui batas-batas suku kaum dan bahasa. Gerakan penginjilan menjadi sangat meluas mencapai wilayah-wilayah terabaikan. Sekalipun terdapat penelitian yang telah membahas tentang metode penginjilan lintas budaya, namun peneliti menemukan belum terdapat pembahasan yang komprehensif mengenai metode kontekstual yang digunakan Paulus yang berkaitan dengan karakter bagi para misionaris. Itulah sebabnya penelitian artikel ini membahas motode kontekstual Paulus “menjadi seperti” dalam 1 Korintus 9:19-23, sebagai implementasi karakter bagi para misionaris dalam penginjilan lintas budaya. Paulus menggunakan pendekatan kontekstual untuk mencapai dua tujuan utama yaitu: "supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang" (1 Korintus 9:19b) dan "supaya aku mendapat bagian di dalam Injil yang diberitakan" (1 Korintus 9:23b). Dengan demikian artikel ini menemukan, ada lima faktor yang membentuk karakter, bagi para misionaris yaitu: pertama, menjadi hamba; kedua, hidup dalam ketaatan; ketiga, berani membayar harga; keempat, berpegang kepada prinsip kebenaran; dan kelima, mampu menyesuaikan diri. Penelitian ini dapat menjadi referensi bagi akademisi dan setiap kegerakan penginjilan lintas budaya dalam pelayanan misi.
PERNIKAHAN TIDAK SEIMAN: EKSPOSISI KEJADIAN 6:1-4 DAN IMPLIKASI TEOLOGISNYA BAGI OTONOMI INDIVIDU KRISTEN Susanto, Viki; Pattinaja, Aska Aprilano; Sitanggang, Martauli Dina Rahayu
The Way: Jurnal Teologi dan Kependidikan Vol. 11 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54793/teologi-dan-kependidikan.v11i2.202

Abstract

Various religions view non-faith marriage as a controversial decision and contrary to religious teachings. The reality is that many people, including Christians, enter into marriages outside their faith. This marriage is based on the view that it is an individual right. Furthermore, marriage is seen as a demonstration of love and a pursuit of happiness. This qualitative research uses literature and hermeneutic methods to expose the text of Genesis 6:1-4. The purpose of this research is to examine the meaning of the text of Genesis 6:1-4 through exposition. Then examines the theological implications of this exposition for the autonomy of the Christian individual. The exposition's findings demonstrate that unfaithful marriages contradict God's Word and are based primarily on physical appearance, neglecting spiritual qualities. Unfaithful marriages negatively impact not only the individual Christians themselves but also their families and offspring.
Kontradiksi Nubuatan Yeremia dan Hananya Sebagai Syarat Menguji Nubuatan Berdasarkan Yeremia 28:1-17 Pattinaja, Aska Aprilano; Liling, Sifera Sampe; Harahap, Firdaus Rinto
Jurnal Lentera Nusantara Vol 3, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Juni 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jls.v3i2.290

Abstract

This study examines the prophetic contradictions between Jeremiah and Hananiah, highlighting the prevalence of false prophets who delivered messages to please the king or for personal gain. The contrasting prophecies of disaster and salvation delivered by Jeremiah and Hananiah become the focal point for examining the criteria that can be used to test the authenticity of a prophecy. Using a qualitative approach based on a hermeneutical study of the prophetic literature, particularly in the sub-genres of prophecy of doom and prophecy of salvation, this study seeks to shed light on key insights for believers in discerning true prophecy. The results of this study underscore several important criteria for testing prophecy: first, true prophecy must be consistent with actual events, showing its fulfillment in reality; second, confirmation of the prophecy by another trusted prophet serves as an important validation of its authenticity; and third, true prophecy is characterized by its alignment with God's Word, rather than being motivated by deceptive intentions or personal gain. By establishing these criteria, this study equips believers with the knowledge and discernment necessary to evaluate the validity of prophetic messages.AbstrakStudi ini menggali kontradiksi kenabian antara Yeremia dan Hananya, menyoroti prevalensi para nabi palsu yang menyampaikan pesan untuk menyenangkan raja atau mendapatkan keuntungan pribadi. Nubuat bencana dan keselamatan yang kontras yang disampaikan oleh Yeremia dan Hananya menjadi titik fokus untuk menguji kriteria yang dapat digunakan untuk menguji keaslian sebuah nubuat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan pada studi hermeneutika literatur kenabian, khususnya dalam sub-genre nubuat bencana dan nubuat keselamatan, penelitian ini berusaha untuk menjelaskan wawasan kunci bagi orang percaya dalam membedakan nubuat yang benar. Temuan-temuan dari penelitian ini menggarisbawahi beberapa kriteria penting untuk menguji nubuat, yaitu pertama, nubuat yang benar harus selaras dengan kejadian yang sebenarnya, menunjukkan penggenapannya dalam kenyataan; kedua, konfirmasi nubuat oleh nabi lain yang terpercaya berfungsi sebagai validasi penting atas keasliannya; dan yang ketiga, nubuat yang benar dicirikan oleh keselarasannya dengan firman Tuhan, bukan dimotivasi oleh niat menipu atau keuntungan pribadi. Dengan menetapkan kriteria-kriteria ini, penelitian ini memperlengkapi orang-orang percaya dengan pengetahuan dan ketajaman yang diperlukan untuk mengevaluasi keabsahan pesan-pesan nubuat.
Antitesis Orang Jujur dan Orang Fasik Dalam Pembentukan Karakter Pemimpin: Studi Eksegesis Amsal 11:11 Pattinaja, Aska Aprilano; Suhun, Wakinus
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 2 No. 1 (2024): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi April 2024
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v2i1.29

Abstract

Abstract: In general elections, all citizens cast their votes to choose leaders for a nation. The reality today is that there are leaders who are authoritarian, corrupt, nepotistic, use state facilities for personal interests, commit injustice, do not pay attention to the welfare of the people, and others, which are caused by the mistakes of the community in electing these leaders. People need to be educated so that they have an idea of how to choose quality leaders who have the right character and personality. Proverbs 11:11 explains the antithesis of "the righteous and the wicked," which correlates with the character building of leaders and has an impact on society. This research uses a qualitative method with sub interpretative design, especially wisdom literature hermeneutics, so that it becomes a reference for the community to choose the right leader. This research found several important factors to be considered, namely: First, an honest man is a righteous man, that is, he lives according to the values of biblical truth; Second, an honest man is a trustworthy person, because he speaks and acts rightly; Third, an honest man will have an impact on the development of the city. These qualifications of an honest man are a reference for the standard of leaders that the people should choose. Abstrak: Dalam pemilihan umum, seluruh warga masyarakat memberikan suaranya untuk memilih pemimpin bagi suatu bangsa. Realita yang terjadi hari ini bahwa ada pemimpin-pemimpin yang otoriter, korupsi, nepotisme, yang menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, melakukan ketidakadilan, tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat, dan lainnya, yang diakibatkan oleh kesalahan masyarakat dalam memilih pemimpin tersebut. Masyarakat perlu mendapatkan edukasi agar mendapatkan gambaran tentang bagaimana memilih pemimpin berkualitas, memiliki karakter, dan kepribadian yang benar. Amsal 11:11 menjelaskan antitesis “Orang Jujur dan Orang Fasik” yang berkorelasi dengan pembentukan karakter pemimpin, dan berdampak bagi masyarakat. Penelitian ini enggunakan metode kualitatif dengan sub interpretative design khususnya hermeneutikastra hikmat, sehingga menjadi rujukan bagi masyarakat untuk memilih pemimpin yang tepat. Penelitian ini menemukan beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan, adalah: pertama, Orang Jujur adalah orang benar, yang berarti ia hidup berdasarkan nilai-nilai kebenaran alkitabiah; kedua, Orang Jujur adalah orang yang dapat dipercaya, karena ia berkata dan bertindak yang benar; ketiga, Orang Jujur akan berdampak bagi perkembangan kota. Kualifikasi Orang Jujur ini adalah rujukan bagi standar pemimpin yang harus dipilih oleh masyarakat.
Analisis Ucapan Hukuman Ilahi Terhadap Para Imam Dalam Maleakhi 2:1-3 Yang Berimplikasi Pada Keputusan Orang Percaya Pattinaja, Aska Aprilano; Sualang, Farel Yosua
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 2 (2024): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i2.401

Abstract

There are two groups of scholars who discuss Malachi 2:1-3 from different perspectives, namely, the divine perspective and the priestly perspective. These two views have led to the fallacy of dichotomizing the intent of the divine utterance. This article comprehensively correlates these two perspectives, which have implications for believers' decisions, based on the hermeneutic method of studying prophetic literature in the sub-genre of catastrophic prophecy. This article finds that the influence of divine punitive speech has great implications for the factors that influence believers' decisions, namely First, the Listening Factor, which discusses the decision to direct our hearing to the Word of God; Second, the Attention Factor, which discusses the decision to specifically and deliberately provide a sincere heart to fellowship and glorify God; and Third, the Honoring God's Name Factor, as an effect of the previous two factors, which makes every believer choose to honor God's name. The results of this study serve as a warning to every believer, especially to servants of God and ministers in the church as serving priests.
Analisis Tematik tentang Surga, Neraka, dan Tribulasi: Kajian Eskatologi sebagai Implikasi bagi Anak Muda Manurung, Well Therfine Renward; Pattinaja, Aska Aprilano; Kiamani, Andris
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol. 8 No. 1 (2024): Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v8i1.724

Abstract

Tema eskatologi adalah salah satu tema yang sangat menarik dan terus dibahas sampai hari ini. Berbagai interpretasi dan perspektif dalam memahami tema ini sehingga menjadi suatu kajian menarik. Tetapi realita yang terjadi adalah, bagi anak muda tema ini menjadi tema yang kurang diminati karena berisi hal-hal yang sulit dipahami dan abstrak dalam perspektifnya. Akhirnya ada banyak anak muda yang kehilangan kesempatan mempelajari tema ini secara komprehensif, sehingga tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk menjaga hidup di akhir zaman ini. Mengapa harus anak muda? Karena Indonesia akan memasuki bonus demografi, di mana usia potensial dan produktif adalah anak-anak muda. Menjawab realita yang ada, maka artikel ini ditulis untuk mengkorelasikan tema-tema penting dalam Wahyu dengan implikasinya bagi anak muda. Berdasarkan metode kualitatif dalam analisa tematik dan studi literatur, artikel ini menemukan bahwa: pertama, tema surga, neraka dan tribulasi adalah tema yang dapat menarik perhatian anak muda; kedua, tema-tema eskatologi menguatkan anak muda untuk berdiri di atas dasar yang tepat; dan ketiga, tema-tema eskatologi ini, merupakan tema utama yang harus disadari dan diakui kebenarannya oleh anak muda untuk dapat mempersiapkan diri dengan baik. Ini merupakan jawaban bagi para pemimpin rohani dalam mempersiapkan pengajaran tentang tema eskatologi kepada setiap anak muda.
MANIFESTASI KARAKTER ALLAH MELALUI BUAH ROH SEBAGAI IMPLIKASI PENERIMAAN ROH KUDUS OLEH ORANG PERCAYA ANALISIS TEMA PNEUMATOLOGI DALAM KITAB GALATIA 5:22-23 Well Therfine Renward Manurung; Aska Aprilano Pattinaja; Kiamani, Andris
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Mei 2024
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v2i2.67

Abstract

Abstract: The Holy Spirit is a gift and serves as a helper for every believer. Through the work of the Holy Spirit, the fruit of the Spirit emerges as a manifestation of God's character in the life of the believer. In many literature studies, research on the Holy Spirit (pneuma) often only focuses on practical contexts, but research on the impact of the Holy Spirit (pneuma) on believers often does not get enough attention. This research uses thematic analysis and literature study as an effort to find a better understanding of how the Holy Spirit works in the life of believers and how it affects the expression of God's character in them. The results of this study show that the acceptance of the Holy Spirit has implications, namely: first, it is a sign or proof of faith in Jesus Christ. The Holy Spirit is seen as a gift from God for those who believe. The consequence of acceptance of the Holy Spirit is that believers will always be led by the Holy Spirit. Second, acceptance of the Holy Spirit will bring about changes (transformation) in line with God’s will, meaning God’s character will be reproduced in the life of the believer. Third, the fruit of the Spirit is God’s character reproduced in the life of believers by Jesus Christ or through the work of the Holy Spirit. These findings are expected to be a reference for scholars and servants of God in learning about the Holy Spirit and also to prepare teaching materials for the congregation. Abstrak: Roh Kudus merupakan anugerah dan berperan sebagai penolong bagi setiap orang percaya. Melalui karya Roh Kudus, buah Roh muncul sebagai manifestasi karakter Allah dalam diri orang percaya. Dalam banyak penelitian literatur, penelitian mengenai Roh Kudus (pneuma) sering kali hanya terfokus pada konteks praktika, namun penelitian terhadap dampak Roh Kudus (pneuma) bagi orang percaya seringkali tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Penelitian ini menggunakan analisis tematik dan studi literatur sebagai upaya untuk menemukan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana cara Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang percaya dan bagaimana hal itu mempengaruhi ekspresi karakter Allah dalam diri mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan Roh Kudus memiliki implikasi, yaitu: pertama, merupakan tanda atau bukti dari iman kepada Yesus Kristus. Roh Kudus dipandang sebagai hadiah dari Allah bagi mereka yang percaya. Penerimaan Roh Kudus akan menimbulkan konsekuensi bahwa orang beriman akan selalu dipimpin oleh Roh Kudus. Kedua, penerimaan Roh Kudus akan membuat perubahan (transformasi) yang sejalan dengan kehendak Allah, artinya karakter Allah akan direproduksi dalam kehidupan orang percaya. Ketiga, buah Roh merupakan karakter Allah yang direproduksi dalam kehidupan orang percaya oleh Yesus Kristus maupun melalui pekerjaan Roh Kudus. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para sarjana dan pelayan Tuhan dalam pembelajaran mengenai Roh Kudus (pneuma) dan juga untuk mempersiapkan materi pengajaran bagi jemaat.
KETERKAITAN “TAKUT AKAN TUHAN” DAN “MEMBENCI KEJAHATAN” TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER: KAJIAN HERMENEUTIK BERDASARKAN AMSAL 8:13 Pattinaja, Aska Aprilano
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2024): November 2024
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v3i1.73

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to examine the interrelationship between 'fear of God' and 'hatred of evil' as they relate to individual character development. This research focuses on answering two questions, firstly, is the meaning of fearing God the same as hating evil, and secondly, can hating evil be a guarantee of commitment to fearing God? There is a gap in research that explores character formation based on the nature of the fear of the Lord in Proverbs 8:13 as an answer to the questions posed. Therefore, based on the qualitative research method and the hermeneutic approach of the sub-genre of wisdom literature, this study was carried out to argue that: first, hating evil is a manifestation of the choice to fear God; second, there are three serious commitments in hating evil that have implications for character building, namely 1). Not to be arrogant and haughty; 2) Not to commit evil deeds; and 3) Not to speak misleading words. The results of this study show that the fear of God is an important foundation for character development.  Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji keterkaitan dari "takut akan Tuhan" dan “membenci kejahatan” sebagai implikasi terhadap pembentukan karakter individu. Penelitian ini difokuskan untuk menjawab dua pertanyaan, yakni pertama, apakah makna takut akan Tuhan itu sama dengan membenci kejahatan? dan kedua, apakah dengan membenci kejahatan dapat menjadi jaminan bahwa komitmen takut akan Tuhan dapat dilakukan? Terdapat kesenjangan penelitian yang mengeksplorasi pembentukan karakter berdasarkan esensi takut akan Tuhan dalam Amsal 8:13, sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah dipaparkan. Untuk itulah, berdasarkan metode penelitian kualitatif dan pendekatan hermeneutik sub genre sastra hikmat, maka studi ini diakukan untuk Penelitian ini menemukan, dua hal yaitu: pertama, membenci kejahatan merupakan perwujudan dari pilihan takut akan Tuhan; kedua, ada tiga komitmen serius dalam membenci kejahatan yang berimplikasi terhadap pembentukan karakter, yakni 1). Tidak sombong dan angkuh; 2) tidak melakukan perbuatan jahat; dan 3) tidak mengucapkan perkataan yang menyesatkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa takut akan Tuhan merupakan landasan penting dalam pembentukan karakter.
Tantangan Orang Percaya Menghadapi Kekristenan Progresif: Jawaban Alkitabiah Dalam Mempertahankan Iman Pattinaja, Aska Aprilano
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan Vol. 18 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36588/sundermann.v18i2.152

Abstract

Kekristenan Progresif sementara menjadi pembahasan dan kajian banyak Hamba Tuhan dalam beberapa waktu terakhir ini. Perkembangannya semakin signifikan di mana ajarannya mulai diterima di Indonesia dan mengubah konsep kekristenan konservatif yang berdasarkan pemahaman Alkitabiah. Terlihat sama sebagai orang Kristen tetapi para penganut kepercayaan kekristenan progresif berdiri di atas fondasi iman yang berbeda. Penelitian ini dilakukan sebagai antitesis terhadap berbagai pengajaran Kekristenan progresif yang mencoba meredefenisi ulang iman kepercayaan mengenai keselamatan, dan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Berdasarkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, maka penelitian ini menemukan, pertama, keselamatan adalah anugerah Allah bukan karena perbuatan baik atau menjadi orang baik; kedua, keselamatan diperoleh karena mengaku dengan mulut dan percaya di dalam hati kepada Yesus Kristus; ketiga, Alkitab adalah Firman Allah, berasal dari Allah yang diilhamkan kepada Para Rasul. Penelitian ini menjadi peringatan bagi setiap orang percaya agar kembali meneliti nilai-nilai kebenaran Alkitabiah dan menolong mereka untuk tetap mempercayai Alkitab sebagai Injil Kebenaran dan menolak berbagai ajaran yang menyesatkan.
Implementasi Kesatuan Gereja Berdasarkan Reinterpretasi Frase Pasa Oikodomi Dalam Efesus 2:21 Kiamani, Andris; Pattinaja, Aska Aprilano; Harefa, Darmianus
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 21 No 2 (2025): PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/psc.v21i2.557

Abstract

This research article aims to reinterpret the true meaning of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi) in Ephesians 2:21. There are two interpretations in translating the phrase, namely in the literal sense as the temple and in the metaphorical sense as a symbolization of the church as the Body of Christ. If so, what is the true meaning of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi)? To answer this question, this research is conducted through a specific and comprehensive study of the reinterpretation of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (pasa oikodomi). Based on the use of interpretative qualitative method through hermeneutic process, this article finds that the reinterpretation of the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi) refers to the whole body, and or the whole congregation in the unity of the church. The basic argument of the reinterpretation is that, in the context of the letter to the Ephesians, Paul is talking about unity in the body of Christ, namely the church. Therefore, the novelty of this research lies in its comprehensive hermeneutical approach, which affirms the phrase πᾶσα οἰκοδομὴ (Pasa Oikodomi) as an affirmation of the unified structure of the church as the body of Christ, rather than merely a symbol of a physical building.