Articles
KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016
IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA;
ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis
KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016
IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA;
ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis
KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016
IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA;
ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis
KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016
IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA;
ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis
Peningkatan Kompetensi Pengelola Rumah Tinggal Mahasiswa Dalam Memberikan Pelayanan Untuk Menjaga Kewibawaan Kampus Unesa 5
Sarmini, Sarmini;
Gamaputra, Gading;
Alrianingrum, Septina;
Pahlevi, Rahma Shintya;
Dzikri, Muhammad Zulfikar
Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 24, No 2 (2024): Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/sb.05440
The opening of Unesa Campus 5 in Magetan Regency has an impact on the campus environment, namely the economic impact with the need for housing for students. The high demand for housing has a negative effect on the surrounding community due to the characteristics of students who come from outside the Magetan Regency area, which is different in terms of values and behavior. So as to overcome these problems, the Directorate of Campus Outside the Main Campus provides solutions through community service by making training to increase the competence of student residence managers. The activity was carried out in Maospati District with gradual socialization. The target of the activity is the manager of the residence in Maospati District, totaling 25 people. This socialization will provide an understanding of the rental mechanism both in terms of procedures and documents that are adjusted to the Standard Operating Procedures, as well as the publication of residential houses through electronic media.
Utilization of the Mpu Purwa Museum as a source of social studies learning based on local wisdom
Deny Yuniar Satriyani;
Alrianingrum, Septina;
Khotimah, Kusnul
Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS Vol. 12 No. 2 (2025): September
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21831/hsjpi.v12i2.90722
Contextual learning is a focus for improving learning quality. The quality of social studies learning in junior high schools needs to be encouraged to enhance students' learning interests and learning experiences. Social studies learning can be directed by utilizing the potential of the surrounding environment. The Mpu Purwa Museum, a local wisdom in Malang, can serve as a supporting learning resource. The context of learning at the Mpu Purwa Museum focuses on local history and Hindu-Buddhist cultural heritage. Classroom learning, which is theoretical and less engaging, must be integrated with students' learning experiences. This research employed a descriptive qualitative method. Data collection was conducted through direct observation and in-depth interviews during museum visits, supplemented by documentation. The subjects were eighth-grade students of SMP 20 Malang, as it was relevant to the material taught in school. Furthermore, as a bridge between theory and classroom learning, the Mpu Purwa Museum is an appropriate choice for students to implement their knowledge. The results indicate that a visit to the Mpu Purwa Museum as a primary learning resource creates a contextual and meaningful learning experience.
LOCAL WISDOM VALUES OF JAKA TARUB AND BIDADARI SITES IN EAST JAVA ON ENVIRONMENTAL ECOLOGY SUSTAINABILITY
Alrianingrum, Septina
The Indonesian Journal of Social Studies Vol 8 No 2 (2025): December
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The legend of Jaka Tarub, which has been known as popular folklore, actually has a deep ecological content from respect for water sources and forests to ethics of interacting with nature. The story of Jaka Tarub and Bidadari Nawangwulan occupies an important position as an oral tradition that conveys moral, social, and ecological values relevant to modern life. This study aims to analyze the ecological meanings embedded in the Jaka Tarub narrative and examine its relevance as a source of environmental learning in social studies education. This research employs a qualitative descriptive approach using literature review, field observations, and in-depth interviews with communities around sites associated with the Jaka Tarub legend. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that the story reflects strong environmental ethics, including the sacralization of water sources, forest conservation, food security, and harmonious relationships between humans and nature. These values represent traditional ecological knowledge that supports environmental sustainability and socio-cultural resilience. The study concludes that integrating local wisdom from the Jaka Tarub legend into social studies learning can strengthen environmental awareness, cultural identity, and sustainable attitudes in responding to contemporary ecological challenges
RUMAH SAKIT ZENDING SUKUN DI KOTA MALANG TAHUN 1928-1942
Mochammad Zaqi Irwansyah;
Septina Alrianingrum
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 01 Januari (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini membahas Rumah Sakit Zending Sukun di Kota Malang pada tahun 1928-1942. Penelitian menggunakan metode sejarah melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan memanfaatkan arsip seperti, laporan tahunan rumah sakit, surat kabar kolonial, dan buku yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendirian Rumah Sakit Zending Sukun didasari atas keterbatasan pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat bumiputra Kota Malang. Dalam perkembangan Rumah Sakit Zending Sukun dipimpin oleh tiga direktur yakni dr. Nortier, dr. J.P de Jong, dan dr. J. Lodder. Pada tahun 1942 Jepang mengambilalih Rumah Sakit Zending Sukun dan dijadikan rumah sakit negara.
KOPERASI SIMPAN PINJAM PEMBIAYAAN SYARIAH BAITUL MAAL WAT TAMWIL NURUL UMMAH NGASEM (KSPPS BMT-NU NGASEM) DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN SOSIAL TAHUN 2012-2019
Uri Fatma Yeni;
Septina Alrianingrum
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 01 Januari (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini membahas mengenai koperasi simpan pinjam pembiayaan syariah baitul maal wat tamwil nurul ummah ngasem atau KSPPS BMT-NU Ngasem tahun 2012-2019. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang pendirian dari KSPPS BMT-NU Ngasem pada tahun 2012 serta menganalisis upaya KSPPS BMT-NU Ngasem dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat, perkembangan, serta upaya dari KSPPS BMT-NU Ngasem dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat kecamatan Ngasem pada tahun 2012-2019. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahapan heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber (verivikasi), interpretasi (analisis berbagai sumber Sejarah yang menghasilkan fakta sejarah), dan historiografi (penulisan sejarah). Data diperoleh melalui arsip serta dokumen resmi lembaga, wawancara pelaku sejarah, serta kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KSPPS BMT-NU Ngasem didirikan oleh MWC NU Ngasem dengan memperhatikan kondisi masyarakat serta internal organisasi tahun 2012. KSPPS BMT-NU Ngasem menerapkan sistem operasional koperasi berprinsip syariah secara profesional sesuai syariat islam. KSPPS BMT-NU Ngasem dalam perkembangannya melengkapi dokumen legalitas, mendirikan kantor cabang, membuka toko swalayan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. KSPPS BMT-NU Ngasem meraih penghargaan sebagai koperasi berprestasi tingkat nasional tahun 2019. KSPPS BMT-NU Ngasem berkontribusi meningkatkan kesejahteraan sosial dengan berbagai upaya meliputi program simpanan, program pembiayan, program bantuan sosial serta program pemberdayaan kepada masyarakat kecamatan Ngasem. KSPPS BMT-NU Ngasem berkontribusi kepada lembaga NU dengan keuntungan 20 setiap tahunnya.
Pengaruh Proyek Wawancara Sejarah Lisan TerhadapHistorical Awareness dan Historical Empathy Mahasiswa
Fadiyah Salsabila;
Septina Alrianingrum;
Sumarno;
Nasution
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 8 No 1 (2026): Juni
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/keraton.v8i1.8031
This study aims to test and analyze the influence of the oral history interview project on students' historical awareness and historical empathy. Theoretically, this study is based on Lev Vygotsky's constructivism theory which states that knowledge is constructed by individuals through interactions in their socio-cultural environment. To achieve this goal, this study uses a quantitative method with an ex post facto type. The population and sample of this study were all 127 students of the History Education study program at Surabaya State University who were selected through a saturated sampling technique. Data collection was carried out using a questionnaire instrument. The results of the data analysis indicate that there is an influence of the oral history interview project on students' historical awareness and historical empathy based on a sig value <0.05. The magnitude of this influence is indicated by the R Square value of 0.51 and 0.55 which when converted into percentage form is 51% and 55%.