Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP RETINOPATI DIABETIK Devita Nurul Ainiah, A.; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Purnama, Rahmiaty; Kurniawan, Iwan; Hidayati, Prema Hapsari
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27305

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronik yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah atau hiperglikemia, World Health Organization (WHO) melaporkan terdapat 422 juta orang secara global menderita DM hingga Mei 2020. DM dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti komplikasi nefropati, kardiovaskular, neulrologi, dan okular, dengan retinopati diabetikum (RD) sebagai komplikasi okular mikrovaskuler yang paling sering terjadi pada DM.Retinopati diabetik didefinisikan sebagai gangguan pada sirkulasi retina yang mengganggu pengiriman oksigen dan nutrisi ke retina, oleh karena itu, kerusakan pada sirkulasi retina dapat mempengaruhi penglihatan normal. Prevalensi RD secara global pada pasien diabetes dewasa dilaporkan sebesar 27% dan 4,8% dari seluruh kasus kebutaan. Tingkat pengetahuan tentang RD sebagai komplikasi pada mata di antara pasien diabetes merupakan faktor penting untuk diagnosis dini dan manajemen RD, Hal ini membantu pasien diabetes untuk melihat faktor risiko  dan memungkinkan mereka untuk mengembangkan sikap positif untuk melakukan skrining dini dan pengobatan tepat waktu. Selain itu, pengetahuan pasien terhadap RD juga dapat mencegah kemungkinan terjadinya gangguan penglihatan akibat penyakit ini. Kesadaran pasien akan RD akan menjadi kunci untuk perbaikan lebih lanjut dalam manajemen dan pencegahan RD.
LAPORAN KASUS : PENATALAKSANAAN TRAUMA BENDA ASING BUBUK MESIU PADA OKULAR AKIBAT LEDAKAN KOMPRESSOR KAPAL Zahra Shafanisa Oddang, Andi; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Arsal, Muhammad Yasin; Eka, Hasnah; Namirah, Hanna Aulia
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.28014

Abstract

Trauma mata adalah kerusakan jaringan mata, akibat adanya benda tajam, benturan benda tumpul, atau zat kimia yang mengenai mata. Trauma pada mata dapat diakibatkan oleh benda asing yang masuk yang dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur mata akibat reaksi peradangan dan infeksi serta dapat menganggu fungsi penglihatan. Sehingga, perlu segera dikenali dan dikeluarkan. Kami melaporkan seorang pria berusia 39 tahun yang menderita trauma benda asing berupa bubuk mesiu akibat ledakan kompresor kapal. Pasien dilakukan tindakan berupa ekstraksi benda asing dalam jaringan konjungtiva melalui reseksi konjungtiva seluruhnya dan ekstraksi benda asing pada kornea serta dilakukan pemasangan membran amnion. Setelah operasi, pasien diberikan obat tetes mata kombinasi Dexamethasone, Polimiksin B, serta Neomisin sulfat dan analgetik oral berupa Natrium Diklofenak 50 mg. Benda asing di mata adalah sesuatu yang masuk ke mata dari luar tubuh, seperti debu atau pecahan logam. Gejalanya termasuk sensasi tidak nyaman, perih, atau berpasir pada mata, mata merah dan gatal, serta ada riwayat sesuatu yang masuk ke mata. Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan injeksi konjungtival, tampaknya benda asing, dan edema kornea. Benda asing ini harus segera dikeluarkan, terutama jika disebabkan oleh bahan kimia. Penggunaan antibiotik topikal dan obat anti nyeri dapat diperlukan setelah pengangkatan benda asing. Kesimpulan dari laporan kasus ini adalah penatalaksanaan pada kasus benda asing pada mata sebaiknya sesegera mungkin dilakukan pengangkatan benda asing untuk mencegah terjadinya resiko infeksi dan kerusakan intraokuler, sehingga penting untuk melakukan penegakan diagnosa awal dalam hal ini anamnesa terpimpin dan pemeriksaan fisik.
Profil Anisometropia pada Orang Dewasa di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Tonang, Eka Uthami; Syawal, Sitti Rukiah; Amir, Suliati P.; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Aulia, Nur
Wal'afiat Hospital Journal Vol 5 No 1 (2024): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v5i1.128

Abstract

Anisometropia is an interocular asymmetric refractive condition and is caused by a significant difference in diopters between the right and left eyes. Anisometropia occurs when there is a difference in the refractive power of the two eyes. Classification of several levels of difference, namely 1) difference in refraction between the two eyes less than 1.5 D, where both eyes can still be used together with good fusion and stereoscopic, 2) difference in refraction between the two eyes 1.5 D to 3.0 D (the presence of cylindrical differences is more significant than spherical), and 3) the difference in refraction is more than 3.0 D. The high incidence of Anisometropia can be caused by a lack of community initiative in seeking health assistance to treat Anisometropia, or even prevent Anisometropia from getting worse. The aim of this study was to determine the characteristics of Anisometropia in adults at Ibnu Sina Hospital Makassar. This research is descriptive in nature. The population of this study was all Anisometropia patients registered at Ibnu Sina Hospital Makassar so that the research sample was obtained by total sampling, namely the entire study population of 20 patients. Sample acquisition was adjusted to the inclusion criteria, namely Anisometropia patients with complete medical record data. The data was processed using the univariate method so that the research results showed that the majority of Anisometropia patients at the eye clinic at Ibnu Sina Hospital Makassar were on average 18-25 years old (45%) and mostly occurred in women (60%) and most were students (40%). %) The incidence of Anisometropia is probably caused by excessive use of cellphone or laptop gadgets and at very close range.
Pengaruh Kehamilan Terhadap Dry Eye Syndrome di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Makassar Daenunu, Mohammad Aqsal; Hamsah, M.; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Nulanda, Mona; Aulia, Nur
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i1.7647

Abstract

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian ibu hamil yang mengalami dry eye syndrome saat kehamilan di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Kota Makassar, mengetahui karakteristik ibu hamil yang mengalami dry eye syndrome, dan menganalisa hubungan pengaruh kehamilan terhadap dry eye syndrome. Penelitian ini merupakan penelitian analitik (kuantitatif) dengan desain studi Cross-sectional, yaitu penelitian non eksperimental menggunakan data primer yang diteliti dalam satu waktu untuk mengetahui Pengaruh kehamilan terhadap Dry eye syndrome pada Ibu Hamil di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Kota Makassar. Oleh karena itu peneliti memilih desain studi cross sectional sebagai desain studipaling tepat digunakan dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden yang mengalami mata kering terdistribusi pada rentang usia 25-30 tahun (53.5%) dan rentang usia kehamilan 4-6 bulan (50.7%). Hal ini menunjukkan kecenderungan bahwa kelompok usia dan fase kehamilan tertentu memiliki risiko lebih tinggi terhadap kondisi mata kering. Analisis karakteristik responden berdasarkan usia menyoroti rentang usia 26-30 tahun sebagai kelompok dengan proporsi signifikan kasus mata kering ringan dan sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam tingkat keparahan mata kering di antara kelompok usia tertentu, dengan implikasi potensial terhadap strategi diagnosis dan pengelolaan. Penelitian ini mengidentifikasi bahwa rentang usia kehamilan 4-6 bulan memiliki jumlah responden yang signifikan (50.7%), sementara rentang usia kehamilan 7-9 bulan juga memiliki proporsi yang tinggi (49.3%). Hal ini menekankan pentingnya memahami hubungan antara fase kehamilan dan kemungkinan perkembangan mata kering, memberikan perspektif tambahan untuk diagnosis dan perawatan selama periode kehamilan tersebut.
Tingkat Pengetahuan Penderita Diabetes Melitus Dan Hipertensi Terhadap Faktor Risiko Terjadinya Kebutaan Di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Tahun 2023 – 2024 Ramadhan, Muh. Dwi Cahyo; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Hidayati, Prema Hapsari; Jabal Nur, Muhammad; Nursyamsi, Nursyamsi
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i2.9977

Abstract

Latar belakang : Retinopati akibat diabetes dan kerusakan pembuluh darah pada mata akibat hipertensi dapat menyebabkan kebutaan. WHO memperkirakan 4,8% dari 37 juta kasus kebutaan di seluruh dunia disebabkan oleh retinopati diabetik dan prevelensi retinopati hipertensi bervariasi antara  2% - 15%. Kurangnya pengetahuan mengenai perlunya pemeriksaan mata secara berkala menjadi penghalang utama untuk kepatuhan terhadap pemeriksaan mata rutin.  Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang tingkat pengetahuan penderita diabetes melitus dan hipertensi terhadap faktor risiko terjadinya kebutaan. Tujuan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan penderita diabetes melitus dan hipertensi terhadap faktor risiko terjadinya kebutaan di rumah sakit ibnu sina makassar. Metode : Penelitian deskriptif dengan menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Hasil : Pasien hipertensi dengan pengetahuan yang cukup sebanyak 13 responden (43,4%), tingkat pengetahuan baik sebanyak 10 responden (33,3%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 7 responden (23,3%). Pasien diabetes dengan pengetahuan yang cukup sebanyak 10 responden (45,5%), tingkat pengetahuan baik sebanyak 7 responden (31,8%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 5 responden (22,7%). Pasien diabetes melitus disertai hipertensi dengan pengetahuan yang kurang sebanyak 8 responden (50%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 5 responden (31,25%), dan tingkat pengetahuan baik sebanyak 3 responden (18,75%). Kesimpulan : Tingkat pengetahuan penderita diabetes melitus dan penderita hipertensi berada pada kategori cukup. Sedangkan tingkat pengetahuan penderita diabetes melitus disertai hipertensi pada kategori kurang.
Hubungan Durasi dan Lama Kerja Penjahit dengan Kejadian Kelelahan Mata Rahman, Annisa; Amir, Suliati P.; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Maharani, Ratih Natasya; Aulia, Nur
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.9999

Abstract

Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara durasi kerja perhari dengan kejadian kelelahan mata pada penjahit, serta untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara lama kerja dengan kejadian kelelahan mata pada penjahit. Peneliti menggunakan metode analitik observasional dan desain cross sectional. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa dari 32 pekerja penjahit terdapat 18 pekerja penjahit yang lama kerjanya >8 jam sehari dengan 15 pekerja penjahit mengalami keluhan kelelahan mata dan 3 tidak ada mengalami keluhan kelelahan mata sedangkan 14 pekerja penjahit yang memiliki lama kerja ≤8 jam dengan 4 pekerja penjahit mengalami keluhan kelelahan mata dan 10 tidak mengalami keluhan kelelahan mata. Hasil analisis dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p value 0,002 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara durasi kerja dengan keluhan kelelahan mata. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 19 orang yang memiliki masa kerja > 5 jam dengan 16 orang yang memiliki kelelahan mata dan 3 orang yang tidak memiliki kelelahan mata sedangkan 13 orang yang memiliki masa kerja ≤5 jam dengan 3 orang yang memiliki kelelahan mata dan 10 orang yang tidak memiliki kelelahan mata. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara durasi kerja dengan kejadian kelelahan mata pada penjahit dibuktikan dengan nilai p = 0,002. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara masa kerja dengan kejadian kelelahan mata pada penjahit dibuktikan dengan nilai p = <0,001. Berdasarkan penelitian didapatkan 20 orang yang memiliki usia >40 tahun dengan 16 orang yang memiliki kelelahan mata (80,0%) dan 4 orang yang tidak memiliki kelelahan mata (20,0%) sedangkan 12 orang yang memiliki masa kerja <40 tahun dengan 3 orang yang memiliki kelelahan mata (25,0%) dan 9 orang yang tidak memiliki kelelahan mata (75,0%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara usia dengan kejadian kelelahan mata pada penjahit dibuktikan dengan nilai p = 0,006.
Karakteristik Penyakit Compound Miop Astigmat di Klinik Mata JEC Orbita Makassar Periode 2022.4-2024.4 Usman, Adinda Zahra; Nurmadilla, Nesyana; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Amir, Suliati P.; Maharani, Ratih Natasha
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 25, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v25i1.5739

Abstract

This study aimed to determine the characteristics of compound myop astigmatism disease at the JEC Orbita Makassar Eye Clinic. The design of this study was cross-sectional and samples were taken from medical record for the period April 2022.4 – 2024.4. The results showed that the majority of compound myop astigmatism sufferers were women of productive age between 17 and 25 years and were students and housewives (IRT). Prolonged screen exposure (computer vision syndrome) is the most likely risk factor for compound myopic astigmatism suffered by patients.
THE RELATIONSHIP BETWEEN SCREEN TIME AND NUTRITIONAL STATUS IN STUDENTS OF THE FACULTY OF MEDICINE, MUSLIM UNIVERSITY OF INDONESIA CLASS OF 2021 M., Andi Nurdina; Nurmadilla, Nesyana; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Namirah, Hanna Aulia; Safitri, Asrini
HEARTY Vol 13 No 6 (2025): DESEMBER
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v13i6.18663

Abstract

Screen time refers to the duration a person spends looking at electronic device screens, such as cell phones, computers, tablets, or televisions. High screen time can influence various aspects of life, including energy intake, physical activity, and nutritional status. This study aims to explore the relationship between screen time and nutritional status among students of the Faculty of Medicine, Muslim University of Indonesia (UMI) class of 2021. Using an observational cross-sectional design, the study involved students as respondents. Results indicated that 51% of students had sufficient screen time, while 49% had normal nutritional status. Data analysis using the chi-square test yielded a p-value of 0.118, suggesting no significant relationship between screen time and nutritional status (p > 0.05). Although screen time is often linked to lifestyle changes, such as reduced physical activity or unhealthy eating, this study concludes that it does not directly impact nutritional status in this population. The findings may serve as a foundation for future research that considers additional factors influencing nutritional status.
KARAKTERISTIK PENDERITA GLAUKOMA DI JEC-ORBITA MAKASSAR PERIODE 2022-2023 Hairunisa, Hairunisa; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Christina, Lidya Paulina
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.51910

Abstract

Glaukoma adalah suatu kondisi peningkatan tekanan intraokular di mata yang dapat berlanjut menjadi kehilangan penglihatan. Hal ini menyebabkan tampaknya optic nerve head yang khas pada pemeriksaan funduskopi dan kehilangan penglihatan progresif. Glaukoma adalah penyebab utama kebutaan global kedua setelah katarak. Menurut penyebabnya glaukoma dibagi menjadi glaukoma primer dan sekunder. Glaukoma primer terjadi karena sebab yang belum di ketahui akan tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang dapat memicu terjadinya glaukoma. Penelitian ini menggunakan metode Literatur Review, dilakukan dengan kegiatan pengumpulan data dengan menggunakan penelusuran jurnal pada Google Scholar, PubMed, Gale dan akses pencarian literatur lainnya yang berhubungan dengan topik penelitian menggunakan kata kunci yang dipilih yakni: Penderita, Glaukoma. Penelitian ini menggunakan 9 jurnal nasional dan 1 jurnal internasional.