Claim Missing Document
Check
Articles

YUMANA LAWU METAFORA LABUHAN ALIT DALAM BUSANA URBAN EDGY Ni Made Budiawati; K. Tenaya, A.A. Ngurah Anom Mayun; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4418

Abstract

Yumana Lawu disesuaikan dengan makna dari Tradisi Labuhan Alit yaitu upacara labuhan yang dilakukan ke Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta sebagai pelestarian tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhurnya. Penamaan upacara tersebut berkaitan dengan kegiatan yang dilaksanakan, yaitu: kata labuhan berasal dari kata dasar labuh yang berarti "dalam keadaan turun atau tergantung ke bawah seperti kelambu, tali jangkar, tirai, atau layar panggung". Labuhan Alit mengandung nilai kearifan lokal dan juga nilai filosofi yang menyangkut aspek-aspek penting dalam kehidupan manusia menjadi inspirasi penulis dalam menciptakan karya dengan proses penciptaan frangipani. Frangipani merupakan tahapan penciptaan karya diterapkan kedalam tiga kategori yaitu busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture. Menggunakan pendekatan metafora dengan gaya urban egdy yang merupakan penggabungan antara kesan klasik namun tetap elegan yang kemudian disimpulkan menjadi karya yang berjudul Yumana Lawu.
TEDHAK SITEN : SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA BUSANA JOYFULL Dewi, Ni Made Dhea Sasmitha; Pebryani, Nyoman Dewi; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4419

Abstract

Tedhak Sinten merupakan bagian dari adat dan tradisi masyarakat jawa, upacara ini dilakukan untuk anak yang baru pertama kali belajar berjalan atau menginjakkan pada tanah dan selalu ditunggu-tunggu oleh orang tua atau kerabat, tedak siten berasal dari dua kata "tedhak" berarti menampakkan kaki dan “siten” berasal dari kata "siti" yang berarti bumi, upacara ini dilakukan ketika seorang bayi berusia 7 bulan dan mulai belajar duduk dan berjalan di tanah. Melalui tradisi ini, saya ingin mewujudkan karya dalam balutan warna colorful dan pop-up, yang terinspirasi dari jadah 7 warna dalam prosesi tedha siten. Perpaduan dasar busana dengan warna putih, dan aksen-aksen tambahan busana dengan 6 warna lainnya, seperti merah, kuning, hijau, biru, jingga, dan ungu. Penambahan aksen-aksen bunga dengan menggunakan beberapa teknik, yang dimana terinspirasi dari kembang setaman dalam prosesi akhir tradisi tedhak siten. Desain busana yang loose dan terlihat santai dan nyaman digunakan. teknik-teknik yang akan digunakan dalam penambahan aksen-aksen pada busana tersebut antara lain, teknik lukis, teknik ombre dying, teknik slow stitching, dan teknik bakar. Serta adanya penambahan payet pada busana ready to wear deluxe dan adi busana.
GETIH PHALA METAFORA TRADISI PUKUL SAPU DALAM BUSANA EXOTIC DRAMATIC Swari, Ni Made Vina Nandita; Priatmaka, I Gusti Bagus; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4420

Abstract

Tradisi Pukul Sapu adalah tradisi suatu atraksi budaya berupa saling memukul badan hingga mengeluarkan darah anatar dua kelompok dengan menggunakan sapu lidi dari pohon enau. Tradisi upacara Pukul Sapu di negeri Morella sudah berlangsung lama dan selalu dilaksakan setiap hari ketujuh setelah hari raya Idul Fitri. Tradisi Pukul Sapu dipilih menjadi ide pemantik dalam penciptaan karya busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan couture dengan menerapkan style busana exotic dramatic yang memiliki ciri khas sangat kental dengan kebudayaan. Desain karya busana juga diwujudkan dengan 5 keyword atau kata kunci yang terpilih dengan metode penciptaan FRANGIPANI oleh Tjok Istri Ratna Cora: yaitu (1) Finding the brief idea, (2) Researching and sourcing of art fashion, (3) Narrating of art fashionidea by 2d or 3d visualization, (4)Making sample, dummy, and construction, (5) Interpreting of singularity art fashionwill be showed in the final collection, (6) Promoting and making a unique art fashion, (7) Navigating art fashionproduction by humanist capitalism method, (8) Introducing the art fashion business. (9) Navigating art fashion production by humanist capitalism method. (10) Introducing the Art Fashion Business
IRENG ING PURWA: ANALOGI TRADISI NYEPEG SAMPI SEBAGAI IDE PEMANTIK DALAM RANCANGAN BUSANA EDGY STYLE Rahayu, Ni Wayan Essya Putri; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4422

Abstract

Rancangan busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture dengan ide pemantik Tradisi Nyepeg Sampi menggunakan metodelogi Tjok Istri Ratna C.S. FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion (FRANGIPANI, Tahapan Rahasia dari Seni Mode). Filosofi, prosesi, sarana dan prasarana pelaksanaan tradisi nyepeg sampi akan dianalogikan kedalam bahasa fashion pada penciptaan karya busana edgy style. Tradisi nyepeg sampi merupakan serangkaian upacara usaba kaulu di Desa Adat Asak, Karangasem tradisi nyepeg sampi yang tergolong dalam Upacara Butha Yadnya. Pelaksanaan tradisi nyepeg sampi dilakukan dengan menjadikan sapi sebagai korban suci, dan ditebas oleh sekaa teruna. Tradisi nyepeg sampi dilaksanakan pada sasih kaulu yaitu bulan Januari atau Februari. Pelaksanaan tradisi nyepeg sampi pada saat Usaba Kaulu umumnya dilaksanakan sepenuhnya oleh Sekaa Teruna Deha, mulai dari persiapan sarana upacara, susunan acara, hingga pendanaan ditanggungjawabi sepenuhnya oleh Sekaa Teruna Deha Desa Adat Asak, khususnya sekaa teruna-nya. Tujuan pelaksanaan Tradisi nyepeg sampi yaitu agar tercapai kehidupan yang dianugrahi keseimbangan, kemakmuran, keselamatan, dan kebahagiaan lahir-batin bagi masyarakat Desa Asak.
“Samadhi Parama” Analogi Arsitektur Goa Garba Desa Pejeng Kelod Sebagai Pemantik Rancangan Busana Edgy Gothic Style Widania, Putu Iga; Ruspawati, Ida Ayu Wimba; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 5 No. 2 (2025): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v5i2.6046

Abstract

Arsitektur Goa Garba merupakan situs peninggalan bersejarah pada abad ke 12 Masehi di daerah aliran Sungai (DAS) Pakerisan berfungsi sebagai tempat pemujaan dan pertapaan. Pembangunan ceruk-ceruk pertapaan pada masa itu lebih menekankan pada daerah tepian Sungai karena Sungai Pakerisan merupakan daerah sumber aliran Sungai utama yang harus dijaga kesuciannya. Visual bangunan yang tampak kokoh memiliki konsep Pembangunan Bali yaitu sake pat dan konsep bebaturan. Kata Goa Garba memiliki arti yaitu “Goa” berarti pintu dan “Garba” berarti Perut atau kandungan. Goa Garba memiliki berbagai relief disekitarnya seperti ukiran aksara kuno Kadiri Kwadrat, artefak kendi air dan patung kala, serta bekas pijakan tapak kaki milik Ki Patih Kebo Iwa. Area pertapaan Goa Garba juga terdapat patithaan suci yang mengalir dari atas tebing menuju ke bawah. Fungsi patirthaan sebagai tempat pemandian pada jaman Kerajaan. Arsitektur Goa Garba menjadi inspirasi dalam penciptaan karya busana tugas akhir yang berjudul “Samadhi Parama”. Visual dan fungsi goa garba akan dianalogikan menjadi sebuah karya busana dengan style edgy gothic.
DESIGNING CHILDREN'S PARTY WEAR MADE FROM TRADITIONAL ENDEK TEXTILES Diantari, Ni Kadek Yuni; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya; Rahayu, Made Tiartini Muda
Proceeding Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference Vol. 4 (2024): Proceedings Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/bbwp.v4i1.598

Abstract

The children's fashion industry in Indonesia has great potential but is still dominated by imported products. This constraint is the trigger for this research that aims to explore children's clothing that is high quality, comfortable to wear and utilizes traditional Balinese fabric, Endek, as well as an effort to introduce culture from an early age. The process of making children's clothing is designed through the five main stages of the Frangipani method which consists of: idea development, research, aesthetic element analysis, design sketch, and production. Making quality children's clothing requires several criteria including safety, comfort, durability, size accuracy, and cultural sensitivity to be the main focus in design development. Endek fabric was chosen as the catalyzing idea in the design of children's party wear. Endek fabric is the most common and desirable fabric in Bali because of its motif design development. Endek fabric as part of the ikat woven fabric requires special attention in the process of processing it into clothing to maintain the quality and structure of the fabric. The addition of elements such as lining and interfacing is done to increase the comfort of the clothing. This research shows that children's fashion with Endek fabric can fulfill the criteria of modern children's fashion but is able to maintain cultural values. This research provides reference and insight for children's fashion industry players in creating products that collaborate traditional aspects and modern demands so that they can compete globally.