Claim Missing Document
Check
Articles

Sang Penolak Bala Analogi Upacara Adat Kebo-Keboan Dari Banyuwangi, Jawa Timur Dalam Perancangan Busana Bergaya Exotic Dramatic Windari, Ni Kadek; Priatmaka, I Gusti Bagus; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2230

Abstract

Sang Penolak Bala sesuai dengan makna upacara adat Kebo-Keboan, merupakan sebuah tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh masyarakat Suku Osing dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kebo-keboan diambil dari kata dalam Bahasa Jawa yaitu 'Kebo', yang dalam Bahasa Indonesia artinya kerbau jadi-jadian. Upacara Adat Kebo-Keboan dilaksanakan setiap awal bulan Suro, sesuai penanggalan Jawa. Dilaksanakan oleh masyarakat dengan cara merias diri hingga menyerupai hewan kerbau. Upacara ini berkaitan dengan pertanian, karena merupakan wujud syukur atas hasil panen yang melimpah dan baik. Selain itu juga sebagai permintaan supaya tidak terserang hama, mendapatkan tanah yang subur dan panen yang melimpah. Dari makna upacara adat kebo-keboan tersebut penulis mendapatkan beberapa kata kunci yang diimplementasikan pada busana yang akan dibuat
Anting Yang Hilang: Analogi Tradisi Telingaan Aruu Suku Dayak Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Busana Ayuningrat, Luh Putu Diah; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2231

Abstract

Telingaan Aruu adalah tradisi memanjangkan telinga oleh orang-orang dari Suku Dayak. Tradisi memanjangkan telinga di kalangan Suku Dayak ini telah lama dilakukan secara turun temurun. Pemanjangan daun telinga ini biasanya menggunakan pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang dari tembaga yang bahasa kenyah di sebut "Belaong" . Dengan pemberat ini daun telinga akan terus memanjang hingga beberapa sentimeter. Namun tidak semua sub suku Dayak di Pulau Kalimantan puunya tradisi ini. Hanya beberapa kelompok saja yang mengenal budaya telinga panjang. Namun, hanya yang mendiami wilayah pedalaman, seperti masyarakat Dayak Kenyah, Dayak Bahau, Dayak Penan, Dayak Kelabit, Dayak Sa'ban, Dayak Kayaan, Dayak Taman, dan Dayak Punan menjadi inspirasi penulis dalam menciptakan karya Tugas Akhir yang digarap melalui proses penciptaan karya Frangipani. Melalui tahapan tersebut penulis dapat menciptakan karya melalui pendalaman tradisi kearifan lokal budaya Telingaan aruu yang kemudian diterapkan dalam tiga kategori busana, yakni busana ready to wear, busana deluxe, dan busana Couture. Karya busana tersebut akan digarap melalui pendekatan Analogi dengan gaya busana Spirituality Classic Twisted, yang diberi judul “Anting yang Hilang”
Perwujudan Busana Dengan Konsep Pemedal Agung Puri Semarajaya Klungkung Wiadnyani, Ni Komang; Priatmaka, I Gusti Bagus; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2242

Abstract

Ciri khas keunikan arsitektur Pemedal Agung Puri Semarajaya Klungkung menjadi ide pemantik penciptaan karya busana tugas akhir yang wujudkan menjadi koleksi busana dengan kesulitan bertahap yaitu, Ready to Wear, Ready to Wear Deluxe dan Semi Couture. Pemedal agung Puri Semarajaya diimplementasikan dengan teori analogi dan kata kunci terpilih yaitu, gapura, patung Portugis, batuan (batu bata dan batu padas), keketusan, serta murdha. Penciptaan karya busana ini menggunakan sepuluh tahapan penciptaan Frangipani yang di ambil dari disertasi Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016, yaitu dari ide pemantik (design brief), riset dan sumber (research and sourching), pengembangan desain, sampel (design development), sample, prototype and construction), dan produksi (production), bisnis (business). Hasil dari penciptaan ini diharapkan dapat menambah kepustakaan khususnya dalam bidang Fashion mengenai arsitektur peninggalan Pemedal Agung Puri Semarajaya yang diimplementasikan ke dalam wujud busana Spirituality dengan menggunakan nama brand Titik Awal dan strategi Business Model Canvas (BMC) dalam menjalankan usaha lebih terstruktur.
Heu Meni: Analogi Tanaman Santalum Album Linn Dalam Busana Buananda, Septalia Anglis; K. Tenaya, A.A. Ngurah Anom Mayun; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2243

Abstract

Cendana merupakan salah satu aset negara dikarenakan kayu yang dihasilkan dapat bernilai sangat mahal. Disamping itu pula cendana menjadi pohon yang banyak diinginkan dari berbagai negara seperti contohnya Cina. Penciptaan karya busana ready to wear , deluxe dan semi haute couture ini ditujukkan untuk mewujudkan busana feminine romantic dengan Bunga Cendana sebagai ide penciptaan dan dilaksanakan bersamaan dengan program Studi/Projek Indenpenden bersama mitra GameLab Indonesia. Bunga Cendana diimplementasikan dengan teori analogi dan kata kunci terpilih yaitu: bunga, lonceng, tipis, merah,dan payung menggarpu. Metode penciptaan yang digunakan yaitu terdiri dari delapan tahapan penciptaan “Frangipani” Desain Fashion dari Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016 meliputi design brief, research and sourching, design development, sample, prototype, dummy, final collection, promoting, branding, sale, production business. Hasil penciptaan ini diharapkan dapat menambah kepustakaan khususnya dibidang fashion dengan teori analogi Bunga Cendana yang diimplementasikan ke dalam wujud busana feminine romantic
Ngale Tatanen: Metafora Tradisi Daerah Indramayu Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Busana Berkolaborasi Dengan PT Sangkara Indah Sejahtera Ariyanti, Ni Kadek Yunik; Pebryani, Nyoman Dewi; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Ngarot merupakan tradisi di desa Lelea, Indramayu, Jawa Barat sebagai ungkapan syukur masyarakat terhadap datangnya musim tanam padi. Tradisi ini diwariskan oleh Ki Kapol yang bertujuan untuk menjalin kondisi sosial yang harmonis dengan melibatkan generasi muda terutama dalam pergaulan. Melalui bertani, nilai-nilai dalam tradisi Ngarot diharapkan dapat membawa generasi muda kearah peragaulan yang sehat dan tetap melestarikan tradisi didesa mereka. Syarat pemuda dan pemudi yang mengikuti rangkaian tradisi ini adalah generasi yang masih menjaga kesucian mereka / masih perawan dan perjaka. Mitos yang diyakini oleh masyarakat Lelea, jika pemudi yang mengenakan mahkota bunga sudah tidak suci maka bunga tersebut akan layu dan tidak wangi. Tradisi ini selalu dilaksanakan setiap hari rabu antara bulan Oktober, November dan Desember karena akhir tahun memasuki musim penghujan karena membawa kesuburan. Penciptaan karya busana Tugas Akhir yang dilatarbelakangi oleh keinginan penulis dalam mengimplementasikan Tradisi Ngarot Lelea dengan mewujudkannya kedalam karya busana ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture dengan menggunakan teori pendekatan metafora. Kata kunci terpilih yaitu : bujang cuene, suci, persatuan, hujan, dan syukur. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya ini adalah sembilan penciptaan “Frangipani”design art fashion oleh Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016. Hasil penciptaan ini diharapkan dapat memperkenalkan tradisi Ngarot yang di visualisasi dengan karya busana Tugas Akhir ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture.
Luwang Watu Saka Bhumi ¬Janggala : Metafora Arsitektur Bangunan Pura Goa Giri Putri Dalam Penciptaan Karya Busana Bergaya Exotic Dramatic Desi Anjani, Ni Putu Ariska; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura Goa Giri Putri merupakan salah satu warisan budaya luhur Indonesia berwujud arsitektur bangunan bertempat di Desa Pakraman Suana, Nusa Penida, Klungkung, Bali. Pengambilan nama pura ini berawal dari lokasinya yang terletak di kaki bukit, dengan etimologi Giri artinya bukit/gunung, dan putri memiliki makna wanita atau keibuan. Dalam konsep ajaran Hindu, kata Putri memiliki sebuah makna simbolis bagi kekuatan/kesaktian Tuhan yang memiliki sifat keibuan atau kewanitaan (Dunia, Dharma, 2007:3). Goa Giri Putri merupakan tempat bersemayamnya kekuatan/kesaktian Tuhan dalam manifestasinya sebagai Hyang Giri Putri sakti dalam wujudnya sebagai Siwa. Arsitektur Bangunan Pura Goa Giri Putri dipilih sebagai ide pemantik untuk memenuhi tugas akhir penciptaan tiga jenis koleksi busana yaitu busana Ready to Wear, Ready to Wear Deluxe, dan Semi Couture yang dikemas dengan pengungkapan metafora bergaya exotic dramatic yang mengacu pada lima kata kunci terpilih yaitu, Goa, Stalaktit, Karang Bhoma, Tri Hita Karana, dan Magis. Proses penciptaan karya busana berlandaskan metodologi penciptaan desain oleh Tjok Ratna Cora, yaitu “FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion” (Frangipani, Tahapan-tahapan rahasia dari Seni Fashion). FRANGIPANI terdiri dari sepuluh tahapan proses perancangan desain fashion berdasarkan identitas budaya Bali. Melalui penciptaan tiga koleksi karya busana ini, penulis secara tidak langsung ikut serta berperan dalam upaya pelestarian warisan budaya Indonesia yang ditujukan melalui bentuk busana fashion.
Makecel –Kecelan :Tradisi Siat Yeh Sebagai Ide Dalam Penciptaan Busana Cahyani, A.A. Ayu Arista Dwi; K. Tenaya, Anak Agung Ngurah Anom Mayun; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan busana bergaya busana neo medival ,casual yang terinspirasi dari sebuah tradisi yang berasa dari Desa Teba, Jimbaran Bali. Tradisi siat yeh ini merupakan sebuah tradisi yang dilaksana kan setiap 1 tahun sekali tepat nya pada saat satu hari setelah hari raya nyepi tepat nya saat ngembak geni yang dimana setiap warga desa Teba, Jimbaran,dimana saat pagi hari para ibu –ibu akan berkumpul di banjar, menuju pura untuk melakukan ngembak tirta , upacara ngembak tirta ini diyakini warga desa Teba sebagai meminta air sebagai ucapan rasa syukur karena warga di desa Teba sudah memulai kehidupan yang baru di tahun baru sehingga harapan di tahun baru ini menjadi tahun yang lebih baik serta rasa syukur atas hasil dari alam yaitu hasil nelayan , petani garam serta petani rumput laut. Ngembak tirta ini memiliki makna dimana kegiatan ini dilakukan sebagai meminta air sebagai 2 sumber air yang ada di seputaran Desa Teba yaitu air payau dan air segara setelah upacara ngembak tirta ini , 2 sumber air akan di pertemukan di depan perempatan banjar Teba sebagai tempat berlangsung nya perang air tersebut , kemudia para warga Desa Teba akan berpecah menjadi 2 kubu untuk memulai peperangan alat peprangan yang digunkanadalah sibuh pepeg yang mana alat ini terbuat dari bahan alam yang terbuat datu tempurung kelapa dan bgian batang nya terbuat dari batang pohon daun dadap. Ide dari busana ini nantinya diharpakan dapat menambah referensi kepertustakaan mengenai tradisi siat yeh Jimbaran serta busana ini dapat memperkenalkna tradisi siat yeh dan di kenal masyarakat luas sehingga orang – orang lebih tertarik untuk mengenal dan menjaga tradisi agar tetap berjalan.
Analogi Mandra Kandarpa : Tradisi Fang Sheng Sebagai Inspirasi Penciptaan Busana The Soul Searches Ambara Dewi, Luh Kadek Sintha; K. Tenaya, A.A. Ngurah Anom Mayun; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Fang Sheng adalah tradisi Tionghoa, keunikan pada tradisi fang sheng ini terdapat pada prosesi upacara atau ritual yang dilakukan. Keunikan pada tradisi fang sheng ini yang dimana ada kegiatan prosesi ritual yaitu pelepasan makhluk hidup kea lam bebas dan salah satunya yaitu pelepasan burung. Menurut ajaran Buddha, dijelaskannya manusia harus menyayangi makhluk hidup termasuk hewan. Tradisi Fang Sheng merupakan wujud cinta pada alam dan hewan. Biasanya ketika hari besar keagamaan atau ketika keinginan terwujud, akan dilakukan pelepasan hewan le alam liar. Fang Sheng memiliki pengertian yang berarti melepaskan makhluk hidup ke habitatnya masing-masing. Tujuannya, agar hewan-hewan itu dapat merasakan kembali kehidupan alam bebas dan bahagia karena tidak dikurung. Serta memberikan kesempatan terus hidup kepada makhluk lain. Fang Sheng warisan budaya sebagai perayaan dan rasa syukur masyarakat berketurunan Tionghoa. Kearifan lokal budaya Tradisi Fang Sheng menjadi inspirasi penulis dalam menciptakan karya Tugas Akhir yang digarap melalui proses penciptaan karya Frangipani. Melalui tahapan tersebut penulis dapat menciptakan karya melalui pendalaman tradisi kearifan lokal budaya. Karya busana menggunakan pendekatan analogi dengan trend busana the soul searches dengan judul “MANDRA KANDARPA”
Keunikan Tradisi Panen Pelestarian Budaya Gawai Dayak Sebagai Identitas Pribumi Dewi, Melda Fransiska; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upacara Adat Gawai Suku Dayak merupakan warisan turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur kepada Jubata, Sang Pencipta, berasal dari Kalimantan Barat, Kabupaten Sanggau. Busana ready to wear, ready to wear deluxe dan haute couture ini diciptakan dengan tujuan menggabungkan tradisi Gawai Dayak dengan sentuhan Edgy. Perwujudan karya busana menggunakan teori metafora dan kata kunci terpilih seperti Rasa syukur, Kehormatan, Persatuan, Bebas, dan Kejayaan diterapkan dalam implementasi tradisi Gawai Dayak dalam busana ini. Metode penciptaan yang digunakan terdiri dari delapan tahapan penciptaan "Frangipani" Desain Fashion oleh Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana tahun 2016, yang meliputi design brief, research and sourcing, design development, sample, prototype, dummy, final collection, promoting, branding, sale, dan production business. Dengan adanya penciptaan ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih mendalam pada literatur mode, dengan menghadirkan harmonisasi antara teori metafora tradisi Gawai Dayak dan gaya busana Edgy.
Sulukat Perwujudan Busana dengan Konsep Tradisi Magobag-Gobagan dan Toya Daha di Desa Pakraman Sala, Kecamatan Susut Kabupaten Bangli Ni Kadek Noviani; Priatmaka, I Gusti Bagus; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Magobag-gobagan dan Toya Daha dilaksanakan rutin 210 hari sekali saat Hari Raya Galungan pada Buda Kliwon Dunggulan, bermakna sebagai simbolis mempererat hubungan antar-krama dan melepas kangen setelah sekian bulan jarang bertemu. Tradisi Magobag-gobagan dan Toya Daha merupakan suatu tradisi melukat yang dilakukan oleh seluruh krama Desa Pakraman Sala. Tradisi ini unik dengan berbagai tahapan ritual salah satunya, para pria dan wanita dipisah dan dijadikan suatu kelompok. Ritual selanjutnya merupakan melemparkan bunga pacah merah dan putih serta menghayutkan canang yang berisi lilin menyala. Sampai pada puncaknya yaitu Magobag-gobagan yang artinya cipratan, krama saling siram dengan air yang diambil menggunakan batok kelapa. Oleh karena itu penulis ingin memperkenalkan tradisi magobag-gobagan dan toya daha kepada masyarakat luas melalui penciptaan busana modest dan dipadukan dengan trend joyfull. Penciptaan busana ini mempergunakan teori Frangipani, The Secret Steps of Art Fashion oleh Ratna Cora merupakan tahapan penciptaan busana. Penciptaan karya busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture dengan gaya ungkap analogi. Hasil dari penciptaan busana ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang fashion.