Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Uji Efektivitas Konsentrasi Kacang Kedelai Sebagai Media Alternatif Terhadap Pertumbuhan Jamur Candida albicans Rahayu, Putry Shofiyani; Solikah, Monika Putri; Shafriani, Nazula Rahma
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i1.2720

Abstract

Candida albicans is a type of pathogen fungus that can cause opprtunistic infections, especially in individuals with low immune systems.The gold standard for Candida albicans identification is culture examination using Sabouraud Dextrose Agar (SDA) media, but this is relatively media are needed that are more economical, easily available, and able to support optimal fungal growth. This study aims to determine the effectiveness of soybean (Glycine max) concentration as an alternative media to replace SDA for the growth of Candida albicans. This research was conducted experimentally with a quantitative approach, using a variet of soybean concentrations (5%, 10%, 15%, and 20%) which were tested for growth macrocopically, microscopically (KOH 10% and LPCB), calcualtion of the number of colonies and concentration effectiveness. The results showed that soybean media supported the growth of Candida albicans, with 20%concentration giving effective results resembling growth on SDA media. Based on these results, soybean has the potential as an alternative medium with an economical price for Candida albicans fungal culture in microbiology laboratories.   Keywords: Candida albicans, soybean, alternative media, Sabouraud Dextrose Agar.  
Perbandingan Pemeriksaan Feses Metode Natif dengan Sedimentasi Menggunakan NaCl 0,9% dalam Mendeteksi Telur Cacing Soil Transmitted Helminth (STH) Khoerunnisa, Ica; Solikah, Monika Putri; Ismarwati, Ismarwati
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Soil transmitted helminth (STH) merupakan cacing parasit yang dapat menginfeksi manusia. Status kecacingan seseorang dapat dipastikan dengan menemukan telur cacing pada pemeriksaan laboratorium. Metode pemeriksaan feses dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya metode sedimentasi menggunakan NaCl 0,9% dan metode natif. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel feses positif sebanyak 15 sampel yang diperoleh dari UPT Laboratorium Kesehatan Daerah kota Magelang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Total sampling. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilik dan dilanjutkan dengan menggunakan uji Wilcoxon untuk mengetahui perbandingan metode natif dan metode sedimentasi menggunakan NaCl 0,9%. Hasil uji normalitas didapatkan nilai sebesar 0,000 dimana data tersebut dinyatakan tidak terdistribusi normal. Sedangkan pada uji Wilcoxon didapatkan hasil nilai p value sebesar 1,000 dimana nilai tersebut lebih besar dari pada a yaitu 0,05 jadi 1000 > 0,05 maka tidak terdapat perbandingan yang signifikan antara metode natif dan metode sedimentasi dalam mendeteksi telur cacing STH.
Hubungan Phbs Penyebab Tinea Unguium Pada Kuku Jari Kaki Petugas Kebersihan Universitas Aisyiyah Yogyakarta Aditia, Moh Rizki; Solikah, Monika Putri; Amalia, Arifiani Agustin
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut data dari American Academy of Dermatology (AAD) infeksi jamur lebih sering mempengaruhi kuku jari kaki dibandingkan kuku jari tangan. Lingkungan kerja merupakan tempat yang paling potensial mempengaruhi kesehatan pekerja, pekerjaan yang menggunakan alat pelindung diri yang kedap udara dengan pemakaian waktu yang cukup lama. Penggunaan sepatu dalam jangka waktu yang cukup lama di setiap harinya menjadi penyebab tumbuh dan berkembang biaknya jamur pada area kuku jari kaki, kondisi ini sering disebut dengan jamur dermatofitapenyebab Tinea Unguium pada kuku jari kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan PHBS dengan pertumbuhan jamur dermatofita penyebab Tinea Unguium pada kuku jari kaki petugas kebersihan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah total sampling dimana sampel didapatkan berjumlah 30 orang. Penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang kuat antara PHBS dengan kejadian infeksi Tine Unguium pada kuku jari kaki petugas kebersihan Universitas Aisyiyah Yogyakarta ditandai nilai hasil p-value 0.001 (p<0.05) dengan nilai korelasi koefisien -0.690. Terdapat berbagai jenis jamur lain pada kuku kaki petugas kebersihan Universitas Aisyiyah Yogyakarta antara lain Aspergillus sp. dan Trichophyton sp. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mempunyai hubungan kuat terhadap infeksi jamur Tinea Unguium. Semakin bersih seseorag maka terinfeksi jamur Tine Unguium semakin kecil
PERBANDINGAN KUALITAS HASIL PEMERIKSAAN TELUR CACING STH MENGGUNAKAN REAGEN EOSIN 2% DAN PEWARNA ALAMI UBI JALAR UNGU (IPOMEA BATATAS POIRET) Vera, Vera Sukmawati; Solikah, Monika Putri; Mu’awanah, Isnin Aulia Ulfah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32939

Abstract

Soil Transmitted Helminths (STH) cacing yang ditularkan melalui tanah adalah yang menginfeksi manusia ketika mereka menelan makanan yang tercemar dan menetaskan telurnya. Kecacingan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terus berlanjut di daerah tropis. Untuk mendiagnosis kecacingan, metode yang digunakan adalah metode slide atau langsung menggunakan pewarnaan eosin. Eosin, sebaliknya, mahal dan bersifat karsinogenik jika digunakan secara konsisten dari waktu ke waktu. Salah satu komponen alami yang dapat digunakan sebagai pengganti eosin adalah larutan ubi jalar ungu (Ipomea batatas poiret). Salah satu bentuk komponen flavonoid yang dikandung ubi jalar ungu adalah pigmen ungu. Warna ungu pada ubi jalar disebabkan oleh antosianin yang merupakan pigmen alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana 30 sediaan telur Soil Transmitted Helminth (STH) yang berbeda dipengaruhi oleh berbagai warna, larutan ubi jalar ungu (Ipomea batatas poiret), dan reagen eosin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan ubi jalar ungu dengan perbandingan 1:5 memberikan sediaan pewarnaan yang berkualitas tinggi untuk mewarnai telur cacing. Hal ini dikonfirmasi dengan membandingkan bidang penglihatan, mengamati dengan seksama telur-telur yang menyerap warna, dan memeriksanya di bawah mikroskop. Larutan ubi jalar ungu (Ipomea batatas poiret) terbukti efektif dalam mewarnai telur cacing yang ditularkan melalui tanah (STH).
GAMBARAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN MALARIA Plasmodium falciparum DI RUMAH SAKIT KASIH HERLINA TIMIKA PAPUA Sari, Mesi Puspita; Putri, Novita Eka; Solikah, Monika Putri
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32998

Abstract

Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium yang menyerang sel eritrosit. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jumlah trombosit pasien berdasarkan jenis Plasmodium falciparum, karakteristik berdasarkan usia, dan jenis kelamin di Rumah Sakit Kasih Herlina Timika Papua. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif non-eksperimen dengan jenis deskriptif observasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik Purposive Sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah trombosit pada pasien malaria Plasmodium falciparum 59,1% orang trombositopenia (<150.000/mm3) sedangkan 40,9% orang lainnya masuk dalam kategori normal (150.000 - 450.000/mm3). Berdasarkan umur jumlah trombosit normal yaitu terbanyak pada rentang usia dewasa 19-59 tahun dengan jumlah 27 orang (30,7%). Sedangkan dengan jumlah trombosit < normal terbanyak pada rentang usia dewasa 19-59 tahun dengan jumlah 38 orang (43,2%). Berdasarkan jenis kelamin pada pasien laki-laki lebih tinggi yaitu sejumlah 54,5%, sedangkan pada Perempuan 45,5%. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah jumlah trombosit pada pasien malaria Plasmodium falciparum terbanyak trombositopenia (<150.000/mm3). Umur jumlah terbanyak pada rentang usia dewasa 19-59 tahun. Jenis kelamin laki-laki terbanyak menderita Plasmodium falciparum 54,5% orang.
Hubungan Kadar Ureum dan Kreatinin dengan Elektrolit Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik Iziana, Wafda Vivid; Widyantara, Aji Bagus; Solikah, Monika Putri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 6 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i6.15997

Abstract

Chronic kidney failure is a progressive condition characterized by a decline in the glomerular filtration rate, which eventually affects electrolyte levels in the body. This imbalance often leads to serious complications in patients. This study aims to identify the relationship between urea and creatinine levels with electrolyte levels in patients suffering from chronic kidney failure. To achieve this, the research utilized a literature review method by gathering data from two main databases: PubMed and Google Scholar. The literature search was conducted by considering studies relevant within a specified time frame. The analysis of several reviewed journals revealed that urea levels in chronic kidney failure patients ranged from 122.5 to 165.7 mg/dL. Meanwhile, creatinine levels varied between 3.9 and 12.6 mg/dL. Additionally, sodium electrolyte levels showed an increase, ranging from 134.5 to 136.8 mmol/L. On the other hand, potassium levels ranged from 4.4 to 5.6 mmol/L, which remained within normal limits for some patients. Chloride levels were also relatively stable, with a range of 100 to 107.1 mmol/L. Based on the review of this literature, it is concluded that there is a significant increase in urea, creatinine, and sodium levels in patients with chronic kidney failure, while potassium and chloride levels tend to remain within normal ranges. Recommendations for future research include exploring other variables that may influence electrolytes and other biochemical parameters in patients with chronic kidney failure, in order to gain a more comprehensive understanding of this condition and its management.
Perbandingn Jumlah Eritrosit, Trombosit Mode Whole Blood dan Prediluted Menggunakan Hematology Analyzer Murtitono, Murtitono; Astuti, Tri Dyah; Solikah, Monika Putri
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan Perintis
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33653/jkp.v11i1.1062

Abstract

Pemeriksaan laboratorium yang sering digunakan dalam menunjang diagnosis salah satunya pemerksaan eritrosit dan trombosit. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan dengan metode otomatis hematology analyzer. Alat ini memiliki 2 mode yaitu whole blood dan prediluted. Mode whole blood digunakan ketika sampel darah yang digunakan minimal 1 mL dan mode prediluted digunakan minimal sampel 20 µL (kesulitan dalam pengambilan sampel). Tujuan penelitian untuk membandingkan jumlah eritrosit, trombosit mode whole blood dan prediluted menggunakan hematology analyzer. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dan sampel penelitian ini yaitu pasien yang melakukan pemeriksaan darah lengkap di Puskesmas Pengasih II. Sampel dilakukan pemeriksaan menggunakan kedua mode, kemudian data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada parameter eritrosit didapatkan nilai rata rata mode whole blood dan prediluted yaitu 4,5577 dan 4,2397. Nilai sig uji paired t-test yaitu 0,00 (<0,05). Pada parameter trombosit didapatkan nilai rata rata mode whole blood dan prediluted yaitu 291700 dan 278133,33. Nilai sig uji paired t-test yaitu 0,01 (<0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara jumlah sel eritrosit, trombosit mode whole blood dan prediluted, namun tidak mempengaruhi interpretasi hasil pemeriksaan.
Pengaruh Waktu Inkubasi Pada Sediaan Terhadap Jumlah Telur Cacing Soil Transmitted Helminths yang Terdeteksi dengan Metode Kato Katz Ibrahim, Indah Pratiwi; Putri, Novita Eka; Solikah, Monika Putri
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i2.2830

Abstract

Soil-transmitted helminth (STH) infections remain a public health concern in tropical regions with poor sanitation. The Kato-Katz method isrecommended by the World Health Organization (WHO) for detecting helminth eggs due to its efficiency and sensitivity in both field and laboratory settings. One of the technical factors that may influence egg morphology visibility on the slide is incubation time. This study aimed to determine the effect of incubation time variation (20, 30, and 40 minutes) in a refrigerator on the number of STH eggs detected using the Kato-Katz method. This research applied an experimental design with a quantitative approach. Positive STH fecal samples were incubated at three time intervals and examined microscopically. Observations were recorded in Eggs Per Gram (EPG) and analyzed using the Shapiro-Wilk test, One-Way ANOVA, and Bonferroni post-hoc test. The average EPG increased with longer incubation times: 140.00 (20 minutes), 162.22 (30 minutes), and 262.22 (40 minutes). ANOVA showed a significant difference between groups (p = 0.000), and the Bonferroni test confirmed significant differences involving the 40-minute group. These findings indicate that 40 minutes of incubation is the most optimal duration for maximizing STH egg detection using the Kato-Katz method.   Keywords: Feces, Kato-Katz, Soil-Transmitted Helminths, Helminth Eggs, Incubation Time.