Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Sanitasi Makanan Pada Rumah Makan Azzahrah, Annisa Nur; Elvira, Vivi Filia
Buletin Keslingmas Vol. 43 No. 1 (2024): BULETIN KESLINGMAS VOL. 43 NO. 1 TAHUN 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v43i1.10826

Abstract

Sanitasi makanan di rumah makan sangat penting untuk diperhatikan agar makanan dan minuman yang dihasilkan tetap bersih dan sehat serta terhindar dari kontaminasi bakteri yang ada disekitarnya. Rumah makan merupakan suatu tempat pengolahan makanan yang perlu memperhatikan tahapan 6 prinsip sanitasi makanan mulai dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan makanan jadi, pengangkutan makanan dan penyajian makanan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1096 Tahun 2011, hygiene sanitasi pangan adalah upaya menjaga, mempertahankan dan mengendalikan faktor pangan, penjamah, tempat dan peralatan yang akan digunakan pada saat pengolahan pangan yang dapat menimbulkan penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti penyakit diare, kolera dan hepatitis A. Oleh karena itu maka perlu dilaksanakan kegiatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) rumah makan yang dilaksanakan oleh UPTD Puskesmas Baru Tengah. Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan metode total sampling. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode langsung atau turun langsung ke lapangan dan metode tidak langsung atau menggunakan data sekunder mengenai hygiene sanitasi makanan rumah makan yang ada di Puskesmas Baru Tengah. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini ialah kuesioner. Hasil penelitian yang telah dilakukan ialah seluruh rumah makan yang ada di wilayah Puskesmas Baru Tengah telah memenuhi syarat dalam prinsip hygiene sanitasi makanan, namun terdapat beberapa aspek yang belum terpenuhi seperti penggunaan APD oleh penjamah makanan, penggunaan tempat pencucian peralatan dan penggunaan tempat sampah yang tidak tertutup. Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Lingkungan pada rumah makan bertujuan untuk mengetahui gambaran sanitasi makanan pada rumah makan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Baru Tengah.
Analisis Faktor Risiko Dalam Penggunaan Pestisida Terhadap Keluhan Hipertensi Pada Petani Holtikurtura Di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu Setiawan, Anggi Bagus; Ningsih, Riyan; Elvira, Vivi Filia
Buletin Keslingmas Vol. 44 No. 1 (2025): BULETIN KESLINGMAS: VOL. 44 NO. 1 TAHUN 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v44i1.12812

Abstract

Peningkatan permintaan hasil hortikultura mendorong petani menggunakan pestisida kimia untuk mengendalikan hama. Namun, penggunaan yang tidak tepat, berlebihan, tanpa mengikuti aturan, dan tanpa APD menimbulkan risiko kesehatan, seperti hipertensi, serta mencemari lingkungan. Di Desa Jembayan, mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, dengan lonjakan penggunaan pestisida akibat ledakan hama dalam beberapa tahun terakhir.  Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional untuk menganalisis faktor risiko penggunaan pestisida terhadap hipertensi pada 50 petani hortikultura. Variabel yang diteliti meliputi jenis pestisida, frekuensi dan durasi penyemprotan, penggunaan APD, masa kerja, serta metode penyemprotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 74% petani tidak menggunakan APD sesuai standar. Faktor risiko signifikan terhadap hipertensi meliputi durasi penyemprotan lebih dari tiga jam (P = 0,00), masa kerja >10 tahun (P = 0,015), arah angin (P = 0,00), dan kebiasaan merokok (P = 0,00), sedangkan penggunaan APD yang memadai (P = 0,021) mengurangi risiko.  Mayoritas responden adalah laki-laki produktif dengan pendidikan atas, namun tingkat kepatuhan terhadap penggunaan APD masih rendah karena alasan ketidaknyamanan. Meskipun frekuensi penyemprotan rendah, durasi lama serta paparan pestisida akibat arah angin dan kebiasaan merokok meningkatkan risiko. Pestisida yang paling sering digunakan adalah fungisida dan insektisida, dengan sebagian besar petani memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun dan lahan kurang dari satu hektar. Oleh karena itu, diperlukan edukasi, penyediaan APD yang ergonomis, serta praktik pertanian aman untuk mengurangi dampak pestisida.
HIPERTI-KU: Program Edukasi dan Pendampingan Lansia Hipertensi di Dusun Rejo Sari Desa Karang Tunggal Kawasan Hutan Tropis Lembab Pangastiti, Aura Nurani; Sholihah, Firda Mar Atus; Putri, Salwa Az Zahra; Abigael, Marchya; Sari, Puspita Wulan; Juniandra, Muhamad Rifandi; Elvira, Vivi Filia
ABDIKESMAS MULAWARMAN : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol.5 No.2 (2025) : ABDIKESMAS MULAWARMAN
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/zk0m2487

Abstract

Hipertensi merupakan kondisi meningkatnya tekanan darah secara tidak normal yang berisiko menimbulkan berbagai gangguan pada sistem kardiovaskular, seperti serangan jantung, penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, serta komplikasi pada organ lain seperti ginjal yang dapat berujung pada gagal ginjal kronis dan kebutaan. Karena sering kali tidak menimbulkan gejala, hipertensi dikenal sebagai silent killer, yang bisa menyebabkan kematian mendadak tanpa disadari penderitanya. Sebagian besar individu tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi hingga melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, baik secara mandiri maupun melalui layanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit. Sebagai upaya peningkatan kesadaran dan pengendalian hipertensi, dilakukan kegiatan pembinaan dan pendampingan kepada masyarakat agar mampu mengelola kondisi ini secara aktif dan mandiri. Program HIPERTI-KU (Pengendalian Hipertensi untuk Karang Tunggal) diselenggarakan oleh tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman bekerja sama dengan mitra Posyandu Melati di Dusun Rejo Sari, Desa Karang Tunggal. Rangkaian kegiatan mencakup sosialisasi, penyuluhan “Tensi Ceria”, senam “Jantung Sehat”, pengingat minum obat melalui WhatsApp (OBATIN), serta pemeriksaan tekanan darah rutin melalui program POSI-TENSI SIMPEL. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara singkat dengan 25 responden. Hasil post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 39,4%.
An Assessment of Sanitation Facilities in Places of Worship in Samarinda City Fitrah, Muhammad Aidil; Rachmawati, Ayudhia; Elvira, Vivi Filia
Panakeia Journal of Epidemiology Vol. 2 No. 2 (2025): Panakeia Journal of Epidemiology
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ddgvwd10

Abstract

Places of worship are intensively used public facilities, and inadequate environmental quality may heighten the risk of disease transmission. Monitoring of sanitation compliance in such facilities remains limited, particularly in densely populated residential areas with greater environmental vulnerability. This study aimed to describe environmental health conditions and sanitation facilities in places of worship situated in densely populated areas of Samarinda City, Indonesia. A descriptive observational design was applied using a sanitation assessment checklist covering location, building conditions, clean water, wastewater disposal, solid waste management, latrine conditions, ventilation, lighting, and worship facilities. A total of 20 worship places were evaluated, and data were analyzed descriptively using frequencies, percentages, and mean scores. Results showed that all sites (100%) achieved scores ≥7000, indicating compliance with sanitation requirements, with an average score of 12,535. Clean water availability, flooring, wall conditions, and ventilation were the best-performing aspects (100%). However, deficiencies were observed in lighting (80%), sealed wastewater channels (65%), and standardized temporary waste storage (50%). Overall, sanitation conditions were good, although improvements in lighting and waste management remain necessary.
Identifikasi Kandungan Bakteri Coliform Pada Air Es Batu Di Rumah Makan Sukma, Anggun Mutiara; Riyan Ningsih; Vivi Filia Elvira; Syamsir; Ayudhia Rachmawati
Buletin Keslingmas Vol. 44 No. 4 (2025): BULETIN KESLINGMAS: VOL. 44 NO. 4 TAHUN 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coliform bacteria are an indicator of contamination in foodstuffs that can cause waterborne diseases such as diarrhea. Ice cubes are homemade food products produced only from water in plastic bags and then frozen. The increased risk of ice cube contamination can occur from the manufacturing process to serving buyers. This study aims to identify the presence of Coliform bacteria in ice cubes sold in restaurants in Jalan Pramuka, Samarinda City. This study used descriptive quantitative methods and the Most Probable Number (MPN) method for the analysis of ice cube water samples. Samples were taken from 22 restaurants and analyzed at the East Kalimantan Regional Health UPTD laboratory. The results showed that 86.4% of restaurants did not meet sanitary hygiene standards, and more than 50% of ice cube samples tested had Coliform bacteria counts exceeding the threshold set by Permenkes No. 2 Year 2023. These findings indicate the potential for serious health risks to consumers. Conclusions and suggestions from this study should improve sanitation supervision in the ice cube production process as well as education to sellers regarding the importance of hygiene in maintaining food quality. This study is expected to serve as a reference for authorities in sanitation policy making and increase public awareness of health risks due to Coliform bacteria contamination.
PEMBERDAYAAN KARANG TARUNA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH ANORGANIK MELALUI BUDIDAYA SERAI PENGUSIR NYAMUK DI WILAYAH HUTAN TROPIS LEMBAB Pangastiti, Aura Nurani; Putri, Salwa Az Zahra; Sholihah, Firda Mar Atus; Abigael, Marchya; Juniandra, Muhamad Rifandi; Sari, Puspita Wulan; Elvira, Vivi Filia
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.33850

Abstract

Abstrak: Sampah anorganik merupakan limbah rumah tangga yang sulit terurai dan berkontribusi besar terhadap pencemaran lingkungan. Tanaman yang dapat dibudidayakan dalam media tanam daur ulang adalah serai (Cymbopogon citratus), yang dikenal mengandung senyawa sitronelal berfungsi sebagai pengusir nyamuk secara alami, termasuk nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit demam berdarah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pengelolaan lingkungan berbasis tanaman. Dengan adanya kegiatan ini di harapkan menambah hardskill dan soft skill yang di miliki oleh masyarakat, hard skill yang dimiliki keterampilan mengolah tanaman serai agar bisa di manfaatkan sebagai alat pengusir nyamuk. Sedangkan soft skill yang dimiliki masyarakat yaitu memiliki pemahaman baru mengenai penanganan dan pengusiran nyamuk Aedes aegypti. Metode yang digunakan adalah metode edukasi berbasis pemberdayaan masyarakat yang melibatkan pendekatan partisipatif melalui penyuluhan dan praktik langsung kepada mitra yaitu karang taruna desa dengan responden sebanyak 25 orang. Evaluasi pelaksanaan dilakukan melalui pre-post test kepada peserta untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta terhadap pengelolaan sampah dan upaya pengendalian penyakit tular vektor. Diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan pengetahuan peserta sebesar 14,28% terhadap materi yang diberikan, khususnya dalam hal pemahaman jenis sampah, dampaknya, serta metode pengelolaannya.Abstract: Inorganic waste is household waste that is difficult to decompose and contributes significantly to environmental pollution. Plants that can be cultivated in recycled planting media are lemongrass (Cymbopogon citratus), which is known to contain citronellal compounds that function as a natural mosquito repellent, including the Aedes aegypti mosquito as a vector of dengue fever. This activity aims to improve public health through plant-based environmental management. This activity is expected to increase the hard skills possessed by the community, namely the skill of processing lemongrass plants so that they can be used as a mosquito repellent. Meanwhile, the soft skills that the community has are having a new understanding regarding the handling and extermination of the Aedes aegypti mosquito. The method used is a community empowerment-based education method that involves a participatory approach through counseling and direct practice to partners, namely the village youth organization with 25 respondents. Evaluation of the implementation was carried out through a pre-posttest to participants to determine the level of knowledge of participants regarding waste management and efforts to control vector-borne diseases. The results showed that there was a 14.28% increase in participants' knowledge regarding the material provided, especially in terms of understanding the types of waste, their impacts, and management methods.
Pelatihan Guru UKS se-Kota Samarinda untuk mewujudkan sekolah sehat mencetak generasi hebat Riyan Ningsih; Ayudhia Rachmawati; Syamsir Syamsir; Vivi Filia Elvira; Morrin Choirunnisa Thohira
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.34042

Abstract

AbstrakSekolah menjadi institusi pendidikan yang bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan siswa, baik secara fisik, mental, dan sosial. Namun, di Kota Samarinda, banyak sekolah dasar yang menghadapi berbagai tantangan, seperti fasilitas sanitasi yang tidak memadai, pengelolaan limbah yang buruk, dan kurangnya pendidikan kesehatan. Data menunjukkan bahwa dari 227 SD yang ada, hanya 8,37% yang meraih penghargaan adiwiyata, yang mana menunjukkan masih rendahnya optimalisasi program sekolah sehat berbasis lingkungan. Guru UKS memiliki peran strategis dalam membina perilaku hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas guru UKS melalui pelatihan terpadu yang mencakup peningkatan pengetahuan, keterampilan, serta rencana penyusunan rencana sekolah sehat yang aplikatif dan berkelanjutan. Mitra dalam kegiatan adalah Dinas Pendidikan Kota Samarinda dengan peserta 72 guru UKS dari SD Negeri dan Swasta, yang mengalami tantangan dalam aspek perencanaan program dan keterbatasan SDM yang terlatih. Pelaksanaan kegiatan melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan pelatihan (penyajian materi, pembagian booklet, dan diskusi), serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Materi yang diberikan meliputi konsep sekolah sehat, gizi seimbang, PHBS, kesehatan mental, dan mekanisme pelaporan kegiatan UKS. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta sebesar 27,55% setelah pelatihan (p-value 0,000, uji Wilcoxon). Kegiatan ini juga menghasilkan modul pelatihan, panduan pelaporan UKS, serta penandatanganan kerja sama (MOA dan IA) antara Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Mulawarman dan Dinas Pendidikan Kota Samarinda. Secara keseluruhan, kegiatan ini efektif meningkatkan kompetensi guru UKS dan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan sekolah yang sehat, aman, dan berkelanjutan, guna meningkatkan kuantitas sekolah dengan predikat adiwiyata. Kata kunci: sekolah sehat; Guru UKS; pelatihan; perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS); sekolah dasar Abstract Schools play a crucial role in fostering students’ physical, mental, and social health by providing supportive learning environments. In Samarinda, many elementary schools still face significant obstacles such as inadequate sanitation, poor waste management, and limited health education. Data show that only 8.37% of the 227 elementary schools have received the Adiwiyata award, reflecting the low optimization of environment-based healthy school programs. UKS (school health unit) teachers hold a strategic role in promoting clean and healthy behavior among students. To address these issues, a community engagement program was initiated to improve the capacity of UKS teachers through integrated training that enhances knowledge, skills, and the ability to develop sustainable school health action plans. Conducted in partnership with the Samarinda City Education Office, the program engaged 72 UKS teachers from public and private elementary schools, many of whom face challenges in planning and lack access to trained human resources. The program was carried out in three phases: preparation, training (including material presentation, booklet distribution, and discussion), and evaluation using pre- and post-tests. The training covered topics such as healthy school concepts, balanced nutrition, clean and healthy living behaviors (PHBS), mental health, and UKS reporting mechanisms. Evaluation results revealed a 27.55% increase in participant knowledge (p-value = 0.000, Wilcoxon test). The initiative also produced a training module, a UKS reporting guide, and a formal collaboration agreement (MOA and IA) between the Faculty of Public Health, Mulawarman University, and the Samarinda City Education Office. Overall, the program successfully enhanced teacher competence and promoted cross-sector collaboration to support the development of healthier, safer, and more sustainable schools, with the long-term goal of increasing Adiwiyata recognition. Keywords: healthy school; school health unit (UKS); teacher training; clean and healthy living behavior (PHBS); elementary school
Descriptive Study of Waste Management, Sanitation, and Environmental Factors Affecting Mosquito Breeding in Karang Tunggal Village Aura Nurani Pangastiti; Salwa Az Zahra Putri; Marchya Abigael; Firda Mar Atus; Muhamad Rifandi Juniandra; Puspita Wulan Sari; Vivi Filia Elvira
Mulawarman International Conference on Tropical Public Health Vol. 2 No. 2 (2025): The 4th MICTOPH
Publisher : Faculty of Public Health Mulawarman University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Environmental health in Rejo Sari Hamlet, Karang Tunggal Village, Tenggarong Seberang District, particularly in RT 05, 06, 07, and 17, remains suboptimal due to the accumulation of inorganic waste, the habit of burning garbage, and limited sanitation facilities such as proper latrines and drainage systems. This condition is exacerbated by the low utilization of mosquito- repellent plants, poor household ventilation, and high humidity that supports the breeding of Aedes aegyptimosquitoes, the vector of dengue fever. Objective : To identify and analyze the environmental health conditions in Karang Tunggal Village, Tenggarong Seberang District, focusing on waste management, sanitation, and environmental factors contributing to the risk of mosquito-borne diseases. Research Methods/ Implementation Methods : This study employed a descriptive survey method with both quantitative and qualitative approaches. Data were collected through direct environmental observations, interviews with residents and community leaders, and questionnaires related to waste management, sanitation facilities, and community hygiene behavior. The data were analyzed descriptively to obtain a comprehensive overview of the environmental health conditions. Results : The findings revealed the accumulation of inorganic waste due to the lack of waste collection facilities and inadequate household waste management. Sanitation conditions were also substandard, with poor ventilation and high humidity supporting mosquito breeding. Interviews showed that 81.7% of respondents still burned household waste, while 78.9% used window screens as a preventive measure against vector-borne diseases. Prior to the educational intervention, most residents were unfamiliar with the 5R concept; however, after the activity, knowledge and understanding of waste segregation and recycling practices improved significantly. Conclusion/Lesson Learned : Environmental health conditions in Karang Tunggal Village remain a significant concern, particularly in waste management and mosquito control. Focused interventions on improving sanitation facilities, enhancing community education on waste management, increasing household ventilation, and promoting the use of mosquito-repellent plants are essential to improve environmental quality and prevent disease transmission.