Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Analisis Faktor Risiko Dalam Penggunaan Pestisida Terhadap Keluhan Hipertensi Pada Petani Holtikurtura Di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu Setiawan, Anggi Bagus; Ningsih, Riyan; Elvira, Vivi Filia
Buletin Keslingmas Vol. 44 No. 1 (2025): BULETIN KESLINGMAS: VOL. 44 NO. 1 TAHUN 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v44i1.12812

Abstract

Peningkatan permintaan hasil hortikultura mendorong petani menggunakan pestisida kimia untuk mengendalikan hama. Namun, penggunaan yang tidak tepat, berlebihan, tanpa mengikuti aturan, dan tanpa APD menimbulkan risiko kesehatan, seperti hipertensi, serta mencemari lingkungan. Di Desa Jembayan, mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, dengan lonjakan penggunaan pestisida akibat ledakan hama dalam beberapa tahun terakhir.  Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional untuk menganalisis faktor risiko penggunaan pestisida terhadap hipertensi pada 50 petani hortikultura. Variabel yang diteliti meliputi jenis pestisida, frekuensi dan durasi penyemprotan, penggunaan APD, masa kerja, serta metode penyemprotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 74% petani tidak menggunakan APD sesuai standar. Faktor risiko signifikan terhadap hipertensi meliputi durasi penyemprotan lebih dari tiga jam (P = 0,00), masa kerja >10 tahun (P = 0,015), arah angin (P = 0,00), dan kebiasaan merokok (P = 0,00), sedangkan penggunaan APD yang memadai (P = 0,021) mengurangi risiko.  Mayoritas responden adalah laki-laki produktif dengan pendidikan atas, namun tingkat kepatuhan terhadap penggunaan APD masih rendah karena alasan ketidaknyamanan. Meskipun frekuensi penyemprotan rendah, durasi lama serta paparan pestisida akibat arah angin dan kebiasaan merokok meningkatkan risiko. Pestisida yang paling sering digunakan adalah fungisida dan insektisida, dengan sebagian besar petani memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun dan lahan kurang dari satu hektar. Oleh karena itu, diperlukan edukasi, penyediaan APD yang ergonomis, serta praktik pertanian aman untuk mengurangi dampak pestisida.
HIPERTI-KU: Program Edukasi dan Pendampingan Lansia Hipertensi di Dusun Rejo Sari Desa Karang Tunggal Kawasan Hutan Tropis Lembab Pangastiti, Aura Nurani; Sholihah, Firda Mar Atus; Putri, Salwa Az Zahra; Abigael, Marchya; Sari, Puspita Wulan; Juniandra, Muhamad Rifandi; Elvira, Vivi Filia
ABDIKESMAS MULAWARMAN : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol.5 No.2 (2025) : ABDIKESMAS MULAWARMAN
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/zk0m2487

Abstract

Hipertensi merupakan kondisi meningkatnya tekanan darah secara tidak normal yang berisiko menimbulkan berbagai gangguan pada sistem kardiovaskular, seperti serangan jantung, penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, serta komplikasi pada organ lain seperti ginjal yang dapat berujung pada gagal ginjal kronis dan kebutaan. Karena sering kali tidak menimbulkan gejala, hipertensi dikenal sebagai silent killer, yang bisa menyebabkan kematian mendadak tanpa disadari penderitanya. Sebagian besar individu tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi hingga melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, baik secara mandiri maupun melalui layanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit. Sebagai upaya peningkatan kesadaran dan pengendalian hipertensi, dilakukan kegiatan pembinaan dan pendampingan kepada masyarakat agar mampu mengelola kondisi ini secara aktif dan mandiri. Program HIPERTI-KU (Pengendalian Hipertensi untuk Karang Tunggal) diselenggarakan oleh tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman bekerja sama dengan mitra Posyandu Melati di Dusun Rejo Sari, Desa Karang Tunggal. Rangkaian kegiatan mencakup sosialisasi, penyuluhan “Tensi Ceria”, senam “Jantung Sehat”, pengingat minum obat melalui WhatsApp (OBATIN), serta pemeriksaan tekanan darah rutin melalui program POSI-TENSI SIMPEL. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara singkat dengan 25 responden. Hasil post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 39,4%.
An Assessment of Sanitation Facilities in Places of Worship in Samarinda City Fitrah, Muhammad Aidil; Rachmawati, Ayudhia; Elvira, Vivi Filia
Panakeia Journal of Epidemiology Vol. 2 No. 2 (2025): Panakeia Journal of Epidemiology
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ddgvwd10

Abstract

Places of worship are intensively used public facilities, and inadequate environmental quality may heighten the risk of disease transmission. Monitoring of sanitation compliance in such facilities remains limited, particularly in densely populated residential areas with greater environmental vulnerability. This study aimed to describe environmental health conditions and sanitation facilities in places of worship situated in densely populated areas of Samarinda City, Indonesia. A descriptive observational design was applied using a sanitation assessment checklist covering location, building conditions, clean water, wastewater disposal, solid waste management, latrine conditions, ventilation, lighting, and worship facilities. A total of 20 worship places were evaluated, and data were analyzed descriptively using frequencies, percentages, and mean scores. Results showed that all sites (100%) achieved scores ≥7000, indicating compliance with sanitation requirements, with an average score of 12,535. Clean water availability, flooring, wall conditions, and ventilation were the best-performing aspects (100%). However, deficiencies were observed in lighting (80%), sealed wastewater channels (65%), and standardized temporary waste storage (50%). Overall, sanitation conditions were good, although improvements in lighting and waste management remain necessary.
Pelatihan Guru UKS se-Kota Samarinda untuk mewujudkan sekolah sehat mencetak generasi hebat Riyan Ningsih; Ayudhia Rachmawati; Syamsir Syamsir; Vivi Filia Elvira; Morrin Choirunnisa Thohira
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.34042

Abstract

AbstrakSekolah menjadi institusi pendidikan yang bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan siswa, baik secara fisik, mental, dan sosial. Namun, di Kota Samarinda, banyak sekolah dasar yang menghadapi berbagai tantangan, seperti fasilitas sanitasi yang tidak memadai, pengelolaan limbah yang buruk, dan kurangnya pendidikan kesehatan. Data menunjukkan bahwa dari 227 SD yang ada, hanya 8,37% yang meraih penghargaan adiwiyata, yang mana menunjukkan masih rendahnya optimalisasi program sekolah sehat berbasis lingkungan. Guru UKS memiliki peran strategis dalam membina perilaku hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas guru UKS melalui pelatihan terpadu yang mencakup peningkatan pengetahuan, keterampilan, serta rencana penyusunan rencana sekolah sehat yang aplikatif dan berkelanjutan. Mitra dalam kegiatan adalah Dinas Pendidikan Kota Samarinda dengan peserta 72 guru UKS dari SD Negeri dan Swasta, yang mengalami tantangan dalam aspek perencanaan program dan keterbatasan SDM yang terlatih. Pelaksanaan kegiatan melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan pelatihan (penyajian materi, pembagian booklet, dan diskusi), serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Materi yang diberikan meliputi konsep sekolah sehat, gizi seimbang, PHBS, kesehatan mental, dan mekanisme pelaporan kegiatan UKS. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta sebesar 27,55% setelah pelatihan (p-value 0,000, uji Wilcoxon). Kegiatan ini juga menghasilkan modul pelatihan, panduan pelaporan UKS, serta penandatanganan kerja sama (MOA dan IA) antara Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Mulawarman dan Dinas Pendidikan Kota Samarinda. Secara keseluruhan, kegiatan ini efektif meningkatkan kompetensi guru UKS dan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan sekolah yang sehat, aman, dan berkelanjutan, guna meningkatkan kuantitas sekolah dengan predikat adiwiyata. Kata kunci: sekolah sehat; Guru UKS; pelatihan; perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS); sekolah dasar Abstract Schools play a crucial role in fostering students’ physical, mental, and social health by providing supportive learning environments. In Samarinda, many elementary schools still face significant obstacles such as inadequate sanitation, poor waste management, and limited health education. Data show that only 8.37% of the 227 elementary schools have received the Adiwiyata award, reflecting the low optimization of environment-based healthy school programs. UKS (school health unit) teachers hold a strategic role in promoting clean and healthy behavior among students. To address these issues, a community engagement program was initiated to improve the capacity of UKS teachers through integrated training that enhances knowledge, skills, and the ability to develop sustainable school health action plans. Conducted in partnership with the Samarinda City Education Office, the program engaged 72 UKS teachers from public and private elementary schools, many of whom face challenges in planning and lack access to trained human resources. The program was carried out in three phases: preparation, training (including material presentation, booklet distribution, and discussion), and evaluation using pre- and post-tests. The training covered topics such as healthy school concepts, balanced nutrition, clean and healthy living behaviors (PHBS), mental health, and UKS reporting mechanisms. Evaluation results revealed a 27.55% increase in participant knowledge (p-value = 0.000, Wilcoxon test). The initiative also produced a training module, a UKS reporting guide, and a formal collaboration agreement (MOA and IA) between the Faculty of Public Health, Mulawarman University, and the Samarinda City Education Office. Overall, the program successfully enhanced teacher competence and promoted cross-sector collaboration to support the development of healthier, safer, and more sustainable schools, with the long-term goal of increasing Adiwiyata recognition. Keywords: healthy school; school health unit (UKS); teacher training; clean and healthy living behavior (PHBS); elementary school
Descriptive Study of Waste Management, Sanitation, and Environmental Factors Affecting Mosquito Breeding in Karang Tunggal Village Aura Nurani Pangastiti; Salwa Az Zahra Putri; Marchya Abigael; Firda Mar Atus; Muhamad Rifandi Juniandra; Puspita Wulan Sari; Vivi Filia Elvira
Mulawarman International Conference on Tropical Public Health Vol. 2 No. 2 (2025): The 4th MICTOPH
Publisher : Faculty of Public Health Mulawarman University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Environmental health in Rejo Sari Hamlet, Karang Tunggal Village, Tenggarong Seberang District, particularly in RT 05, 06, 07, and 17, remains suboptimal due to the accumulation of inorganic waste, the habit of burning garbage, and limited sanitation facilities such as proper latrines and drainage systems. This condition is exacerbated by the low utilization of mosquito- repellent plants, poor household ventilation, and high humidity that supports the breeding of Aedes aegyptimosquitoes, the vector of dengue fever. Objective : To identify and analyze the environmental health conditions in Karang Tunggal Village, Tenggarong Seberang District, focusing on waste management, sanitation, and environmental factors contributing to the risk of mosquito-borne diseases. Research Methods/ Implementation Methods : This study employed a descriptive survey method with both quantitative and qualitative approaches. Data were collected through direct environmental observations, interviews with residents and community leaders, and questionnaires related to waste management, sanitation facilities, and community hygiene behavior. The data were analyzed descriptively to obtain a comprehensive overview of the environmental health conditions. Results : The findings revealed the accumulation of inorganic waste due to the lack of waste collection facilities and inadequate household waste management. Sanitation conditions were also substandard, with poor ventilation and high humidity supporting mosquito breeding. Interviews showed that 81.7% of respondents still burned household waste, while 78.9% used window screens as a preventive measure against vector-borne diseases. Prior to the educational intervention, most residents were unfamiliar with the 5R concept; however, after the activity, knowledge and understanding of waste segregation and recycling practices improved significantly. Conclusion/Lesson Learned : Environmental health conditions in Karang Tunggal Village remain a significant concern, particularly in waste management and mosquito control. Focused interventions on improving sanitation facilities, enhancing community education on waste management, increasing household ventilation, and promoting the use of mosquito-repellent plants are essential to improve environmental quality and prevent disease transmission.
Hubungan Budaya Organisasi Berdasarkan Mckinsey 7S Framework dengan Kinerja Karyawan Unit Rekam Medis di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan Zahrah Nuraliyah; Sumarni; Vivi Filia Elvira; Eka Putri Rahayu; Chaerunnisa AR
Indonesian Journal of Hospital Administration Vol 9 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Alma Ata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijhaa.2026.9(1).62-73

Abstract

Unit Rekam Medis merupakan unit strategis yang mengelola dokumentasi medis dan sistem informasi kesehatan rumah sakit. Studi pendahuluan di Unit Rekam Medis Rumah Sakit Pertamina Balikpapan menemukan fenomena kontradiktif dimana tingkat multitasking mencapai 81% (kategori tinggi) namun beban kerja hanya 33,4% (kategori rendah hingga sedang). Kondisi ini berbeda dengan kondisi umum di pelayanan kesehatan dimana multitasking tinggi umumnya diikuti peningkatan beban kerja yang signifikan. Gap ini mengindikasikan peran budaya organisasi yang perlu dikaji. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan budaya organisasi berdasarkan McKinsey 7S Framework dengan kinerja karyawan Unit Rekam Medis di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan tahun 2025. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh karyawan Unit Rekam Medis berjumlah 47 orang dengan sampel 47 karyawan melalui teknik total sampling. Analisis data menggunakan uji Fisher's Exact Test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan dari tujuh dimensi budaya organisasi, dimensi system (p-value = 0,043) dan shared value (p-value = 0,021) memiliki hubungan signifikan dengan kinerja karyawan, sedangkan dimensi structure, skill, style, staff, dan strategy tidak menunjukkan hubungan signifikan (p-value > 0,05). Disimpulkan bahwa dimensi system dan shared value memiliki hubungan signifikan dengan kinerja karyawan. Disarankan kepada manajemen untuk memperkuat sistem kerja dan nilai bersama guna meningkatkan kinerja Unit Rekam Medis.
Faktor Fisik Lingkungan dan Perilaku Merokok sebagai Prediktor Sick Building Syndrome Pada Pegawai di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur Syafira Fitri; Vivi Filia Elvira; Dewi Novita Hardianti; Ayudhia Rachmawati; Masithah Masithah
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 26 No 1 (2026): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulo.v26i1.2145

Abstract

Sick Building Syndrome (SBS) is a group of health complaints caused by poor indoor air quality and commonly affects office workers. This study aimed to analyze the effect of humidity, lighting intensity, PM₁₀ concentration, and smoking behavior on SBS symptoms among employees of the East Kalimantan Provincial Health Office. This research was conducted in 2025 using an analytic observational design with a cross-sectional approach. The population consisted of 128 employees selected using total sampling. Data were collected through direct measurement using hygrometer, lux meter, and particulate matter monitor, along with structured questionnaires for SBS symptoms and smoking behavior. The questionnaire was adapted from the US EPA BASE Study instrument (US EPA, 1998) with adequate validity and reliability (Cronbach's alpha >0.7). Data were analyzed using univariate, chi-square test, and binary logistic regression. The results showed that 52.3% of respondents experienced SBS symptoms. PM₁₀ concentration significantly affected SBS occurrence (p = 0.029; OR = 3.263; 95% CI = 1.131–9.418), while humidity, lighting intensity, and smoking behavior were not significant. PM₁₀ was identified as the dominant factor influencing SBS. Priority interventions including HEPA filter installation, 5R K3 program, and intensive cleaning are recommended to reduce PM₁₀ concentration and lower the risk of SBS in office environments.
Analisis Pajanan PM10 dan PM2,5 terhadap Gangguan Pernapasan pada Pekerja Sektor Informal Industri Tahu di Kelurahan Selili Alfina Rahma Adila; Ayudhia Rachmawati; Masithah Masithah; Vivi Filia Elvira; Syamsir Syamsir
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.2.105-115.2026

Abstract

Industri tahu sektor informal yang menggunakan bahan bakar kayu berpotensi menghasilkan partikulat PM10 dan PM2,5 dalam konsentrasi tinggi di lingkungan kerja. Kondisi ini menurunkan kualitas udara pada ruang produksi semi-indoor sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pajanan PM10 dan PM2,5 terhadap gangguan pernapasan pada pekerja industri tahu di Kelurahan Selili. Metode yang digunakan adalah Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) melalui pengukuran konsentrasi particulate matter menggunakan alat Dust Detector, serta wawancara menggunakan kuesioner St. George’s Respiratory Questionnaire (SGRQ) untuk menilai gangguan pernapasan. Selain itu, dilakukan perhitungan intake, Risk Quotient (RQ), dan analisis manajemen risiko. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi PM10 sebesar 1,054 mg/m³ dan PM2,5 sebesar 0,333 mg/m³ pada 21 titik. Seluruh responden memiliki nilai RQ > 1 dengan rata-rata RQ PM10 sebesar 9,190 dan PM2,5 sebesar 2,258, yang menunjukkan pajanan melebihi batas aman. Kesimpulan penelitian ini adalah pajanan PM10 dan PM2,5 berada pada tingkat berisiko dan berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan. Disarankan pengendalian melalui penambahan ventilasi (exhaust fan), penggunaan masker N95, serta bahan bakar lebih ramah lingkungan, disertai edukasi dan pengawasan rutin untuk meningkatkan keselamatan kerja.
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Pajanan CO2 Pada Pekerja TPAS Manggar Kota Balikpapan Vivi Filia Elvira; Morrin Choirunnisa Thohira; Ayudhia Rachmawati; Muhammad Aidil Fitrah; Syamsir Syamsir; Akhmad Dzikri
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.2.123-133.2026

Abstract

Paparan karbon dioksida (CO2) di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) berpotensi menimbulkan gangguan fisiologis pada pekerja akibat akumulasi gas dari dekomposisi sampah organik. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko kesehatan lingkungan akibat paparan CO2 pada pekerja TPAS Manggar, Kota Balikpapan, menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian analitik observasional ini melibatkan 40 pekerja. Konsentrasi CO2 diukur menggunakan metode direct reading/real-time monitoring, disertai pengukuran faktor meteorologis dan respons fisiologis pekerja. Analisis risiko dilakukan melalui perhitungan Risk Quotient (RQ), sedangkan hubungan kategori intake dengan temperatur, frekuensi napas, kadar oksigen, dan denyut jantung dianalisis menggunakan uji chi-square dan independent t-test. Hasil menunjukkan konsentrasi CO2 meningkat dari 380 ppm menjadi 430 ppm pada kondisi kecepatan angin rendah (1,94 m/s), suhu 29–31°C, dan kelembaban tinggi (75–85%). Nilai RQ real-time (0,076), 10 tahun (0,426), dan 20 tahun (0,776) masih berada pada kategori aman (RQ<1), sedangkan RQ 30 tahun (1,126) menunjukkan potensi risiko kesehatan non-karsinogenik akibat paparan jangka panjang. Frekuensi napas memiliki hubungan bermakna dengan kategori intake. Paparan CO2 di TPAS Manggar berpotensi meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang sehingga diperlukan pemantauan kualitas udara, penggunaan APD, pengaturan waktu kerja, dan edukasi kesehatan kerja.