Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) are still health problems that are prioritized in achieving the Sustainable Development Goals (SDGs) in 2030. One of the efforts made to reduce MMR and IMR is to provide comprehensive midwifery care through a continuity of care (COC) approach. Providing midwifery care in continuity of care to Mrs. K starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn to family planning services. The method used in this report is a case study of one physiological pregnant woman in the second trimester conducted in the Pringapus Health Center working area on November 16, 2024 - May 11, 2025. Data were collected using the assessment format, KIA/KMS book and analyzed using the Varney 7-step midwifery management approach and SOAP documentation. Mrs. K, 27 years old, G2P1A0 with physiological pregnancy and hemoglobin level of 10.2 g/dl was given care from 15 weeks gestation to 30th day postpartum. Care included education about anemia, monitoring fetal growth and development, danger signs of pregnancy and childbirth, and preparation for delivery. The mother gave birth spontaneously at 40 weeks 2 days gestation with a baby boy weighing 3300 grams in good condition. During the postpartum period, education was provided on exclusive breastfeeding, wound care, danger signs, and nutrition. The newborn was visited until day 25 and showed good development. At the end of the postpartum period, the mother became a MAL family planning acceptor. There was no gap between the theory and practice of midwifery care. Continuity of care midwifery care has a positive impact on improving the health of mothers and babies and encouraging mothers to be more prepared and independent in undergoing pregnancy to postpartum. It is expected that health workers, especially midwives, continue to improve the quality of continuity of care services, and midwifery students can apply theory in practice to reduce MMR and IMR in Indonesia. Abstrak Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi permasalahan kesehatan yang menjadi prioritas dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2030. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunkan AKI dan AKB adalah dengan pemberian asuhan kebidanan secara komprehensif melalui pendekatan Continuity Of Care (COC). Memberikan asuhan kebidanan secara continuity of care pada Ny. K mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga pelayanan keluarga berencana. Metode yang digunakan dalam laporan ini adalah studi kasus (Case Study) terhadap satu orang ibu hamil fisiologis trimester II yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pringapus pada tanggal 16 November 2024 sampai 10 Mei 2025. Data dikumpulkan menggunakan format pengkajian, buku KIA/KMS dan dianalisis dengan pendekatan 7 langkah manajemen kebidanan Varney serta dokumentasi SOAP. Ny. K, 27 tahun, G2P1A0 dengan kehamilan fisiologis dan kadar hemoglobin 10,2 g/dl diberikan asuhan sejak usia kehamilan 15 minggu hingga masa nifas hari ke-30. Asuhan meliputi edukasi tentang anemia, pemantauan tumbuh kembang janin, tanda bahaya kehamilan dan persalinan, serta persiapan persalinan. Ibu melahirkan spontan pada 12 Mei 2025 di RS Ken Saras usia kehamilan 40 minggu 2 hari dengan bayi laki-laki BB 3.300 gram dalam kondisi baik. Selama masa nifas, dilakukan edukasi terkait ASI eksklusif, perawatan luka, tanda bahaya, dan pemenuhan nutrisi. Bayi baru lahir dilakukan kunjungan hingga hari ke-25 dan menunjukkan perkembangan baik. Pada akhir masa nifas, ibu menjadi akseptor KB MAL. Tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan praktik asuhan kebidanan. Asuhan kebidanan continuity of care memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesehatan ibu dan bayi serta mendorong ibu untuk lebih siap dan mandiri dalam menjalani masa kehamilan hingga pasca persalinan. Diharapkan tenaga kesehatan khususnya bidan terus meningkatkan kualitas pelayanan continuity of care, serta mahasiswa kebidanan dapat mengaplikasikan teori dalam praktik guna menurunkan AKI dan AKB di Indonesia.