Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Wana Lstari

Studi Pendahuluan Keanekaragaman Herpetofauna di Kampus Universitas Nusa Cendana Aini, Yusratul
Wana Lestari Vol 4 No 2 (2022): JURNAL KEHUTANAN
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v7i02.9581

Abstract

Kajian mengenai amfibi dan reptil yang ada di wilayah Nusa Tenggara Timur sangat berbeda dengan kajian mengenai amfibi dan reptile di wilayah Lesser Sunda walaupun wilayah NTT juga disebut sebagai Lesser Sunda Kecil. Lokasi penelitian berada di kampus Universitas Nusa Cendana (UNDANA) dan berada di Pulau Timor. Tujuan dari penelitian ini untuk memetakan keanekaragaman amfibi dan reptil di Kawasan NTT menggunakan Visual Encounter Survey yang digabungkan dengan Time search dengan batas waktu 2 jam pengamatan. Pengambilan data dilakukan pada malam hari di lokasi terestrial. Pengamatan akuatik dalam wilayah kampus UNDANA tidak memungkinkan untuk dilaksanakan. Total herpetofauna yang ditemukan pada survei ini yaitu sebanyak 7 jenis yang terdiri dari 3 jenis amfibi dan 4 jenis reptil yang teridentifikasi hingga tingkat jenis. Keanekaragaman herpetofauna secara umum tergolong kategori sedang dengan indeks kemerataan total menandakan bahwa kondisi komunitas herpetofauna di lokasi mendekati stabil. Walau pun sudah hampir mendekati stabil, menurut pendugaan Jacknife sebesar 10 jenis, masih sangat dimungkinkan pertambahan jenis amfibi dan reptil yang ditemukan dalam kampus Undana dengan penambahan titik pengamatan dan pengamat.
Studi Keanekaragaman Herpetofauna di Kota Kupang Aini, Yusratul
Wana Lestari Vol 5 No 1 (2023): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v7i01.11759

Abstract

Kajian mengenai amfibi dan reptile Nusa Tenggara Timur hingga saat ini belum mendapat perhatian dibalik fakta bahwa wilayah Nusa Tenggara Timur memiliki keunikan jenis tidak hanya reptile, namun juga amfibi. Kawasan Nusa Tenggara Timur yang terbagi menjadi pulau-pulau menajdikan adanya kemungkinan spesies di suatu pulau berbeda dengan pulau lainnya. Oleh karena itu studi ini merupakan penelitian dalam jangka Panjang untuk membukukan jenis amfibi dan reptile yang ada di Nusa Tenggara Timur. Total herpetofauna yang ditemukan pada survei ini yaitu sebanyak 7 jenis yang terdiri dari 5 jenis amfibi dan 2 jenis reptil yang teridentifikasi hingga tingkat jenis. Namun masih ada jenis amfibi yang hanya terdeteksi hingga level genus saja. Keanekaragaman herpetofauna secara umum tergolong kategori sedang dengan indeks kemerataan total menandakan bahwa kondisi komunitas herpetofauna di lokasi masih labil dan sebaran jenis tidak merata. Menurut pendugaan Jacknife masih bisa didapatkan spesies hingga memenuhi sebesar 9 jenis. sehingga masih sangat dimungkinkan pertambahan jenis amfibi dan reptil yang ditemukan dalam wilayah pengamatan dengan penambahan titik pengamatan dan pengamat.
Diversity of Herpetofauna in Cukunyinyi Mangrove Ecotourism Area, Pesawaran, Lampung Hasibuan, Mhd Muhajir; Sari, Nurika Arum; Dwiputra, Mohammad Ashari; Permana, Rizki Dimas; Rianingsih, Firma; Adirama, Alfian Zamzami; Witjaya, Oka Rani; Zamili, Abdi Oktarian; Nainggolan, Paolo M.; Aryawan, Adi; Purnomo, Ajis; Sudarsono, Bambang; Hamdani, Hamdani; Aini, Yusratul
Wana Lestari Vol 5 No 1 (2023): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v5i01.12574

Abstract

Mangrove are important coastal ecosystems that provide a variety of ecosystem services and ecological functions. These ecosystem services include natural barriers that protect coastal areas from cyclones, tsunamis, and erosion. Habitats for breeding, foraging, and nursery for various species of aquatic and tereterial species. The benefits provided by mangrove are contrast to the rate of degradation. Various parties have a responsibility to contribute to efforts to maintain a sustainable environment. Biodiversity has been globally recognised as one of the determining factors for the sustainability of an ecosystem. The study aims to assess the diversity of herpetofauna species in the Cukunyinyi Mangrove ecotourism area as an instrument of environmental monitoring. The method in this study was the Visual Encounter Survey (VES). The diversity of herpetofauna (H') observed in the area was 1.06 inside the Ecotourism Area and 0.56 outside the ecotourism area. The indices of species richness (Dmg) in each area were 1.24 and 0.72. The two regions have evenly distributed with an evenness value of more than 80%. No species protected under national regulation, two species whose trade was restricted internationally and included in the CITES Appendix II.
Pendeteksian Sebaran Kerapatan Vegetasi dan Suhu Permukaan Menggunakan Citra Landsat di Kabupaten Sabu Raijua Aini, Yusratul
Wana Lestari Vol 5 No 2 (2023): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v5i02.14372

Abstract

NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) merupakan salah satu cara untuk mendeteksi kerapatan vegetasi menggunakan band 5 dan 4 dari citra satelit Landsat 9. Sementara itu Land Surface Temperature merupakan salah satu cara untuk mendeteksi suhu permukaan suatu wilayah menggunakan band thermal pada citra Landsat 9. Kerapatan vegetasi dan suhu permukaan merupakan informasi penting yang saling berkaitan terkait dengan perubahan tutupan lahan dan perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sebaran nilai indeks vegetasi dan suhu permukaan pada tahun 2023 serta korelasi antara suhu permukaan dengan indeks vegetasi yang terdapat di Kabupaten Sabu Raijua. Analisis yang digunakan yaitu analisis spasial dengan melakukan perbandingan antara informasi spasial penggunaan lahan dengan data sebaran kelas kerapatan vegetasi dan kelas suhu permukaan. Analisis dilakukan untuk data citra bulan Oktober 2023 yang masih tergolong pada musim kemarau di wilayah Provinsi NTT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NDVI pada kabupaten Sabu Raijua memiliki rentang nilai -0.15 hingga 0.44 yang menandakan sebaran nilai ini termasuk kategori non vegetasi hingga vegetasi tinggi. Nilai indeks vegetasi dominan berada pada kategori vegetasi rendah sebesar 59%. Sementara hasil nilai Land Surface Temperature (suhu permukaan) menunjukkan nilai 17oC hingga 37oC pada bulan Oktober 2023 pada semua tipe tutupan lahan. Nilai LST dan NDVI tersebut berkorelasi secara terbalik.
Kepadatan Populasi Tokek Rumah Gekko gecko (Linnaeus, 1758) di Kelurahan Nangameting dan Kelurahan Waioti Kecamatan Alok Timur Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur Aini, Yusratul; Sili, Martinus Raya; Styaningrum, Yeni Tris; Megita, Debby; Suheri, Heri; Mahmud, Arief; Suwandana, Endan
Wana Lestari Vol 5 No 2 (2023): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v5i02.14378

Abstract

Status Gekko gecko yang rencananya akan diusulkan kenaikannya dari non-Apendiks menjadi Apendiks II CITES akibat maraknya perburuan tokek di masyarakat, menyebabkan jumlah tokek di alam bebas semakin berkurang. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai populasi tokek rumah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kerapatan populasi tokek rumah khususnya di Kelurahan Nangameting dan Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan menggunakan metode wawancara dan pengamatan langsung. Luas area penelitian 23,11 ha dengan jumlah sampel sebanyaak 211 rumah dan 39 orang responden. Hasil penelitian dan analisis melalui wawancara dan pengamatan langsung secara berturut-turut menunjukkan terdapat 63 individu tokek di Kelurahan Nangameting (kepadatan rata-rata populasi nya sebanyak 7,03 individu/ha) dan 18 individu tokek di Kelurahan Waioti (2 individu/ha). Berdasarkan hasil perhitungan ekstrapolasi, populasi tokek rumah di Kecamatan Alok Timur adalah 11.024,96 individu. Data ini diharapkan menjadi dasar dalam upaya pengelolaan/pengendalian peredaran dan perdagangan satwa liar khususnya tokek rumah di wilayah Flores, Indonesia.
Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Perkecambahan Benih Ampuh (Eucalyptus europhylla S. T. Blake) Seran, Yoriana Maria; Riwu Kaho, Ludji Michael; Mau, Astin Elise; Aini, Yusratul
Wana Lestari Vol 6 No 1 (2024): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v6i01.15384

Abstract

Salah satu persebaran alami tanaman Ampupu (Eucalyptus urophylla S.T.Blake) di NTT yang masih mendominasi adalah Hutan Lindung Mutis Timau, akan tetapi tanaman Ampupu tidak mengalami regenerasi alami yang disebabkan oleh pengembalaan liar dan kebakaran hutan oleh masyarakat. Salah satu cara untuk menunjang pertumbuhan tanaman Ampupu adalah dengan menggunakan media tanam yang tepat seperti penambahan bahan pembenah tanah berupa arang sekam dan kotoran sapi pada tanah bekas kebakaran yang juga merupakan tanah bekas pengembalaan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam terhadap perkecambahan benih Ampupu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perbandingan komposisi media tanam yang digunakan (M0) tanah bekas kebakaran yang juga merupakan tanah bekas pengembalaan ternak 100% (kontrol) 10 kg, (M1) tanah kontrol 50% + pupuk kandang sapi 50%, (M2) tanah kontrol 50% + arang sekam 50%, (M3) tanah kontrol 50% + pupuk kandang sapi 25% + arang sekam 25%, (M4) tanah kontrol 50% + tanah 50%, (M5) tanah kontrol 50% + tanah 25% + pupuk kandang sapi 25%, (M6) tanah kontrol 50% + tanah 25% + arang sekam 25%, (M7) tanah kontrol 25% + tanah 25% + pupuk kandang sapi 25% + arang sekam 25%. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase perkecambahan yang menggunakan campuran bahan organik pupuk kandang sapi dan arang sekam yang ditambahkan pada tanah bekas kebakaran yang juga merupkan tanah bekas pengembalaan ternak memiliki rata-rata nilai daya kecambah sebesar 84,33%, indeks kecepatan berkecambah sebesar 4,39 dan nilai perkecambah sebesar 0,53%.
Identifikasi Faktor Penyebab Terjadinya Konflik Satwa dengan Masyarakat Desa Penyangga di Taman Nasional Kelimutu Bekalani, Fandham Junior; Pramatana, Fadlan; Aini, Yusratul
Wana Lestari Vol 7 No 2 (2025): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v7i2.24913

Abstract

This study aims to identify the factors and impacts that cause conflicts between wildlife and communities in buffer zones in Kelimutu National Park, analyze community perceptions, and determine the types of wildlife that often cause disturbances. Conflicts between wildlife and humans are increasing because wild animals often damage agricultural land and cause economic losses. The research was conducted in six buffer zone villages through purposive sampling of 93 respondents. Data were collected through interviews and observations and then analyzed descriptively and using a Likert scale. The results showed that the factors causing conflict were triggered by the degree of wild animals' preference for certain types of plants and forest encroachment. The impact experienced by the community was economic losses due to animals damaging their agricultural crops. The types of animals include wild boars (Sus scrofa), long-tailed macaques (Macaca fasciularis), porcupines (Erinaceinae), large rats (Bandicota bengalensis), and civets (Paradoxurus hemaphroditus). The entire community has a positive perception of the existence of these animals for the balance of a sustainable ecosystem.