Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Pelestarian Obat Tradisional Dhandhanggulo melalui Pemanfaatan Bahan Alami Lokal sebagai Wujud Kearifan Lokal Safitri, Nabilah; Tamyiz, Muchammad; Ramadhanti, Rizqa Putri; Ittikhad, Muhammad Aliful; Ilmiyyah, Mazro’atul; Safara, Alfia Rohmah; Rahman, Annur
Nusantara Community Empowerment Review Vol. 4 No. 1 (2026): Nusantara Community Empowerment Review
Publisher : LPPM UNUSIDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55732/9swr4240

Abstract

Dhandhanggulo merupakan praktik pengobatan tradisional yang berdiri sejak tahun 2009 di Desa Prasung, Kabupaten Sidoarjo. Keberadaannya berawal dari kepedulian terhadap keterbatasan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan formal, sekaligus menjadi sarana pelestarian kearifan lokal. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan praktik pengobatan tradisional Dhandhanggulo, menelaah manfaat kesehatan, sosial, dan budaya, serta memotret nilai solidaritas yang tercermin dalam pelayanannya. Hasil observasi menunjukkan bahwa Dhandhanggulo mengintegrasikan layanan ramuan herbal dengan terapi tradisional, ditopang sepenuhnya oleh tenaga relawan tanpa imbalan. Bahan ramuan sebagian ditanam secara mandiri, sebagian lainnya diperoleh dari pasar. Sebelum pandemi Covid-19, praktik ini telah melayani ribuan pasien dari dalam dan luar Sidoarjo. Temuan ini menegaskan peran penting Dhandhanggulo tidak hanya sebagai alternatif layanan kesehatan, tetapi juga sebagai media pelestarian budaya dan penguatan solidaritas sosial. Dhandhanggulo is a traditional healing practice established in 2009 in Prasung Village, Sidoarjo Regency. Its existence stems from concern about the community's limited access to formal healthcare services, while also serving as a means of preserving local wisdom. This article aims to describe the traditional healing practice of Dhandhanggulo, examine its health, social, and cultural benefits, and capture the values ​​of solidarity reflected in its services. Observations indicate that Dhandhanggulo integrates herbal concoction services with traditional therapies, supported entirely by uncompensated volunteers. Some ingredients are grown locally, while others are obtained from the market. Prior to the Covid-19 pandemic, the practice served thousands of patients from within and outside Sidoarjo. These findings underscore Dhandhanggulo's crucial role not only as an alternative healthcare service but also as a medium for cultural preservation and strengthening social solidarity.
Hydrothermal synthesis of ZnFe2O4@g-C3N4 for enhanced adsorption-photocatalytic degradation of ciprofloxacin Fitri, Medya Ayunda; Tamyiz, Muchammad; Kuncoro, Eko Prasetyo; Nihaya, Mamlu’atul; Thom, Muhammad Abdul Basith Thom; Cahyani, Cindy Dwi; Alqostolani, Bahauddin
International Journal of Advances in Applied Sciences Vol 15, No 1: March 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijaas.v15.i1.pp313-321

Abstract

The persistence of antibiotic contaminants such as ciprofloxacin (CIP) in aquatic environments poses significant environmental and health risks, necessitating the development of efficient removal strategies. In this work, a zinc ferrite-anchored two-dimensional carbon nitride nanocomposite (ZF@2DCN) was synthesized via a simple calcination and hydrothermal approach to achieve synergistic adsorption–photocatalytic degradation of CIP under visible light. Structural and optical characterizations confirmed the successful formation of a ZF–2DCN heterojunction with high crystallinity, strong interfacial interactions, and enhanced visible-light absorption. The incorporation of ZF reduced the bandgap of 2DCN from 2.8 to 2.6 eV, promoting improved charge separation. Adsorption studies revealed rapid equilibrium within 30 min and multilayer adsorption on heterogeneous active sites, with a maximum adsorption capacity of 11.7 mg g-1. Under visible-light irradiation, ZF@2DCN achieved up to 81% CIP degradation within 60 min, exhibiting an apparent reaction rate approximately 2.5 times higher than that of pristine 2DCN. The enhanced performance is attributed to the strong synergy between adsorption-driven pollutant enrichment and photocatalytic degradation. Overall, ZF@2DCN shows strong potential as an efficient material for antibiotic removal in wastewater treatment.
Peran Internal Enablers dalam Transformasi Digital Pelaku Usaha Mikro di Wilayah Blankspot: Studi pada Dusun Kepetingan Sidoarjo Laily Muzdalifah; Muchammad Tamyiz; Muhammad Idham Kholiq; Risalul Ummah
eCo-Fin Vol. 8 No. 2 (2026): eCo-Fin
Publisher : Komunitas Dosen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32877/ef.v8i2.3905

Abstract

Transformasi digital telah menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing usaha mikro; namun, proses implementasinya belum merata, khususnya di daerah-daerah yang mengalami keterbatasan infrastruktur dan akses terhadap teknologi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis peran faktor pendukung internal dalam mendukung transformasi digital pelaku usaha mikro di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kabupaten Sidoarjo. Cakupan analisis meliputi strategi organisasi, kemampuan teknologi berkelanjutan, kontrol organisasi yang fleksibel, aksesibilitas terhadap kemitraan, proses bisnis, sumber daya manusia terampil, dan budaya organisasi. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif eksploratif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan 21 informan yang dipilih menggunakan purposive sampling dan diperluas lebih lanjut melalui teknik snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua dimensi faktor pendukung internal berkontribusi pada proses transformasi digital. Meskipun demikian, keterbatasan infrastruktur jaringan, tingkat keterampilan digital yang rendah, dan pemanfaatan media digital yang terbatas telah menghambat proses transformasi untuk mencapai hasil yang optimal. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis bahwa model Internal Enablers dapat diperluas dengan menunjukkan bahwa pada usaha mikro yang berada di wilayah blankspot, infrastruktur digital dan konektivitas berperan sebagai foundational enabler yang mendahului efektivitas faktor-faktor internal organisasi.