Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Penapisan Fitokimia Dan Uji Efektivitas Antipiretik Ekstrak Etanol Daun Jarak Merah (Jatropha gossypiifolia L.) Terhadap Mencit Jantan (Mus musculus): Hendrawan Dwikarunia Datukramat1, Hamsidar Hasan2, Mahdalena Sy. Pakaya3, Fika Nuzul Ramadhani4, Multiani S. Latif 5 hasan, hamsidar; Pakaya, Mahdalena Sy.; Ramadhani, Fika Nuzul; Latif, Multiani S.; Datukramat, Hendrawan Dwikarunia
Journal of Pharmacology and Natural Products Vol. 1 No. 3 (2024): Volume 1, Nomor 3, Tahun 2024
Publisher : Jurnal Literasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70075/jpnp.v1i3.54

Abstract

Penggunaan tanaman obat sebagai antipiretik menjadi alternatif pengobatan selain obat kimia. Salah satu contohnya adalah Jarak Merah (Jatropha gossypiifolia L.), yang telah lama dimanfaatkan di beberapa negara, termasuk Indonesia, untuk mengatasi demam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol Jarak Merah (Jatropha gossypiifolia L.) dan untuk menentukan apakah ekstrak etanol Jarak Merah memiliki aktivitas sebagai antipiretik. Metode yang digunakan adalah maserasi dengan pelarut etanol 96%, dan skrining fitokimia dilakukan dengan uji warna menggunakan pereaksi tertentu. Kelompok 1 sebagai kontrol negatif diberi Na-CMC secara oral, sementara kelompok 2 sebagai kontrol positif diberi antipiretik parasetamol secara oral. Kelompok 3, 4, dan 5 masing-masing diinduksi dengan pepton 10% dan diberi ekstrak etanol daun Jarak Merah secara oral dengan dosis 150 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, dan 250 mg/kg BB. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun Jarak Merah mengandung senyawa flavonoid dan saponin. Uji efek antipiretik menunjukkan bahwa ekstrak dengan dosis 250 mg/kg BB memiliki efek penurunan suhu tubuh yang paling baik.
Isolasi dan Karakterisasi Mikroba Tanah Pantai Di kawasan Teluk Tomini Pakaya, Mahdalena Sy.; Akuba, Juliyanti; Tuloli, Teti Sutriyati; Latif, Multiani S.; pakaya, Handriansyah
Journal of Pharmacology and Natural Products Vol. 1 No. 2 (2024): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Jurnal Literasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70075/jpnp.v1i2.67

Abstract

Mikroba Tanah seperti bakteri, jamur, mikroalga, protozoa, serta mikrooganisme lainnya pada umumnya merupakan penentu kesuburan dan kesehatan tanah. Tanah Pantai mengandung bakteri dan jamur walaupun tidak sebanyak pada tanah lainnya, hal ini disebabkan karena kadar garam dan suhu yang tinggi, mikroba tanah telah diketahui memiliki beberapa manfaat yakni sebagai antibakteri, antijamur, dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi mikroba tanah pantai di kawasan teluk tomini. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi dengan menggunakan teknik direct plating untuk isolasi mikroba, pengamatan morfologi secara makroskopis dan mikroskopis untuk karakterisasi. Hasil karakterisasi didapatkan 11 isolat mikroba tanah pantai yakni BP1, BP 2, BB 1, BB2, BO 1, BO 2, JP 1, JP 2, JB 1, JB 2, JBO.
Isolasi, Karakterisasi Dan Uji Aktivitas Antioksidan Bakteri Endofit Dari Batang Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Pakaya, Mahdalena Sy.; Latif, Multiani S.; Maspeke, Khofifa Nurul Magfira
Journal of Pharmacology and Natural Products Vol. 1 No. 2 (2024): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Jurnal Literasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70075/jpnp.v1i2.86

Abstract

Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi. Senyawa antioksidan diperlukan sebagai penangkal untuk menghentikan radikal bebas. Radikal bebas adalah sekelompok zat kimia yang sangat reaktif karena memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Antioksidan dapat dihasilkan dari bakteri endofit yang bersimbiosis pada tumbuhan yang juga memiliki aktivitas antioksidan karena adanya pertukaran genetis dan hubungan evolusi yang panjang. Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) diketahui mengandung senyawa bioaktif dengan kadar antosianin yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Batang Bunga Rossella (Hibiscus sabdariffa L.) terdapat bakteri endofit, mengkarakterisasi dan untuk mengetahui isolat bakteri endofit pada Batang Bunga Rossella (Hibiscus sabdariffa L.) mempunyai aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi dan Laboratorium Kimia Analisis dengan menggunakan teknik tanam langsung untuk isolasi mikroba, pengamatan morfologi secara makroskopis dan mikroskopis untuk karakterisasi, dan teknik DPPH (2,2 diphenyl-1-picrylhydrazyl) untuk pengujian antioksidan. Hasil isolasi didapatkan 1 isolat bakteri endofit, dikarakterisasi didapatkan bakteri tersebut adalah bakteri gram positif berbentuk coccus dan hasil uji kualitatif aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa isolat tersebut tidak mengandung aktivitas antioksidan.
Biopotential of Gorontalo Hulu’u Fish (Giuris margaritacea) Albumin in a Novel Spray Gel Formulation for the Treatment of BurnWounds: In Vivo Evaluation in Rats Paneo, Mohamad Aprianto; Djuwarno, Endah Nurrohwinta; Habibie, Sitty Ainsyah; Thomas, Nurain; Latif, Multiani S.; Munafri, Nur Alifia Karina; Anasiru, Rayhan Firman
Science and Technology Indonesia Vol. 11 No. 2 (2026): April
Publisher : Research Center of Inorganic Materials and Coordination Complexes, FMIPA Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26554/sti.2026.11.2.389-404

Abstract

This study aimed to evaluate the efficacy of different concentrations of Hulu’u fish albumin-based spray gels in promoting wound healing in burn injuries in male white rats. The formulations included 10%, 15%, and 20% concentrations of Hulu’u fish albumin, which were compared to a commercial snakehead fish albumin gel (positive control) and a spray gel base without albumin (negative control). Wound diameter reduction was assessed over seven days. The results indicated a clear dose response relationship, with the 20% Hulu’u fish albumin formulation (F3) achieving the most significant reduction in wound diameter, averaging 1.57 mm (range: 1.5–1.6 mm), representing a 91.8% improvement compared to the negative control group, which showed an average reduction of 19.13 mm (range: 18.1–19.7 mm). The Positive Control (snakehead fish albumin gel) demonstrated a moderate reduction with an average of 6.97 mm (range: 6.6–7.6 mm). The 10% Hulu’u fish albumin (F1) and 15% Hulu’u fish albumin (F2) formulations showed moderate improvements, with average reductions of 4.73 mm (range: 4.4–5.1 mm) and 4.5 mm (range: 4.7–3.9 mm), respectively. These findings suggest that higher concentrations of Hulu’u fish albumin, particularly the 20% formulation, offer superior wound healing properties, outperforming both the negative control and the commercial snakehead fish albumin gel. The study highlights the potential of Hulu’u fish albumin as a novel bioactive compound for burn wound treatment and warrants further investigation for clinical applications.