Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

DESCRIPTIVE OF KNOWLEDGE LEVEL ON PARACETAMOL USE AND THE EFFECTIVENESS OF RECOVERY FROM PRIMARY CEPHALGIA AMONG MEDICAL STUDENTS Alifia, Khalisya; Kosasih, Robert
Journal of Pain, Headache and Vertigo Vol. 7 No. 1 (2026): March
Publisher : PERDOSNI (Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia Cabang Malang) - Indonesian Neurological Association Branch of Malang cooperated with Neurology Residency Program, Faculty of Medicine Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jphv.2026.007.01.01

Abstract

Primary cephalgia is a commonly experienced neurological condition, frequently self-managed by university students using over-the-counter medications such as paracetamol. While accessible and widely used, improper use of paracetamol—due to limited knowledge—can result in suboptimal symptom relief or serious adverse effects such as overdose and hepatotoxicity. This study aims to describe the level of knowledge regarding paracetamol use and its perceived effectiveness in alleviating primary cephalgia symptoms among medical students class of 2022 and 2024 at Tarumanagara University. This descriptive research utilized a cross-sectional design. Data were collected through a structured and validated questionnaire that assessed students’ knowledge about appropriate dosage, indications, side effects, and contraindications of paracetamol. To evaluate effectiveness, participants rated the intensity of their cephalgia before and after paracetamol intake using a standardized pain scale. The results revealed varied levels of knowledge across the respondents. While a considerable proportion of students demonstrated adequate knowledge—especially regarding dosage and indications—knowledge gaps were evident in understanding potential side effects and overdose risks. Furthermore, a statistically significant positive correlation was identified between higher knowledge scores and greater reported reduction in pain severity after paracetamol use. In conclusion, students with a stronger understanding of paracetamol usage experienced more effective relief of primary cephalgia symptoms. These findings underscore the necessity of targeted educational interventions that promote the rational and safe use of over-the-counter analgesics. Enhancing students’ pharmacological literacy is essential to improving therapeutic outcomes and minimizing the risks associated with self-medication practices.
Optimalisasi Kesadaran Kesehatan Metabolik melalui Pemeriksaan Profil Lipid di Kabupaten Lebak Kosasih, Robert; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Bryan Anna; Alvianto, Fidelia; Pratama, Aditya
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v2i4.615

Abstract

Dislipidemia merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang masih menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas tinggi secara global. Pemeriksaan profil lipid berbasis komunitas menjadi langkah strategis untuk deteksi dini dan edukasi kesehatan metabolik. Kegiatan ini bertujuan memperoleh gambaran status lipid masyarakat Kabupaten Lebak serta meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pencegahan penyakit kardiometabolik. Penelitian dilaksanakan pada 59 peserta dewasa menggunakan metode point-of-care testing (POCT) untuk menilai kadar kolesterol total, HDL, LDL, dan trigliserida. Hasil menunjukkan rerata kolesterol total 184,27 ± 32,78 mg/dL, trigliserida 186,42 ± 88,44 mg/dL, HDL 38,39 ± 11,67 mg/dL, dan LDL 110,5 ± 22,42 mg/dL. Sebanyak 35,6% responden berada pada kategori batas tinggi kolesterol total dan 40,7% memiliki kadar trigliserida di atas normal. Perempuan menunjukkan kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yang dapat dijelaskan oleh pengaruh hormonal, terutama penurunan estrogen pada fase perimenopause. Selain itu, kadar lipid cenderung meningkat pada usia >40 tahun akibat penurunan aktivitas enzim lipoprotein lipase dan reseptor LDL serta meningkatnya resistensi insulin. Temuan ini menegaskan pentingnya skrining profil lipid sebagai intervensi promotif–preventif untuk mendukung pengendalian faktor risiko metabolik di tingkat komunitas.
Skrining Indeks Massa Tubuh, Lemak Viseral, Lemak Subkutan, dan Massa Otot Rangka pada Karyawan Perkantoran di Kawasan Sudirman, Jakarta Kosasih, Robert; Santoso, Alexander Halim; Teguh, Stanislas Kotska Marvel Mayello; Lumintang, Valentino Gilbert; Khoto, Anthon Eka Prayoga
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/7p6pzp58

Abstract

Pendahuluan: Kelebihan lemak tubuh, khususnya lemak viseral, merupakan salah satu faktor risiko utama yang berhubungan dengan penyakit metabolik dan kardiovaskular. Indeks Massa Tubuh (IMT) sering digunakan sebagai indikator status gizi, namun tidak selalu mencerminkan distribusi lemak tubuh secara akurat. Oleh karena itu, pemeriksaan komposisi tubuh menjadi langkah penting dalam mendeteksi dini risiko kesehatan pada kelompok pekerja yang cenderung memiliki gaya hidup sedentari. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai status gizi dan komposisi tubuh karyawan perkantoran di kawasan Sudirman Jakarta melalui skrining IMT dan komposisi tubuh dengan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) yang terintegrasi dengan edukasi kesehatan. Metode: Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan pendekatan Plan–Do–Check–Action (PDCA). Pada tahap Plan, dilakukan persiapan meliputi koordinasi teknis, penyiapan alat ukur, serta penyusunan materi penyuluhan. Tahap Do mencakup pelaksanaan sesi edukasi kesehatan interaktif mengenai pentingnya gizi seimbang, risiko obesitas abdominal, dan peran massa otot dalam metabolisme tubuh. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan antropometri berupa pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), serta pengukuran komposisi tubuh menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Parameter yang diukur meliputi lemak tubuh total, lemak viseral, lemak subkutan, dan massa otot rangka. Pada tahap Check, hasil pengukuran dianalisis dan disampaikan secara individual kepada peserta, disertai konseling singkat mengenai strategi modifikasi gaya hidup sehat. Tahap Action dilakukan melalui evaluasi kegiatan berdasarkan tingkat partisipasi dan umpan balik peserta untuk menyusun rekomendasi keberlanjutan program edukasi kesehatan di tempat kerja. Hasil: Rata-rata IMT peserta berada pada kategori overweight dengan variasi dari kurus hingga obesitas. Sebagian besar peserta memiliki kadar lemak tubuh dan lemak viseral yang melebihi batas normal, sementara massa otot rangka relatif rendah. Kondisi ini memperlihatkan ketidakseimbangan komposisi tubuh yang berpotensi meningkatkan risiko sindrom metabolik. Temuan tersebut menegaskan bahwa skrining berbasis BIA mampu mengungkap risiko yang tidak terdeteksi hanya dengan IMT. Kesimpulan: Kegiatan skrining yang dipadukan dengan edukasi kesehatan terbukti efektif dalam memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai status gizi dan risiko kesehatan peserta. Program ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan di lingkungan kerja sebagai strategi promotif-preventif dalam menurunkan risiko penyakit metabolik serta meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
Pemeriksaan Kadar Asam Urat sebagai Skrining Hiperurisemia: Strategi Promotif dan Preventif dalam Menekan Risiko Gout Kosasih, Robert; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Bryan Anna; Andersan, Jonathan; Lo, Geoffrey Christian
Journal of Community Service and Society Empowerment Том 4 № 01 (2026): Journal of Community Service and Society Empowerment
Publisher : PT. Riset Press International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59653/jcsse.v4i01.2107

Abstract

Hyperuricemia is a metabolic health issue that often goes undetected early, despite its strong association with gout and other metabolic diseases. This community service program aimed to improve early detection of hyperuricemia through uric acid screening and to provide promotive and preventive education on risk factors and their management. Conducted at Asisi Church, South Jakarta, the program involved 99 elderly participants and applied a Plan-Do-Check-Action (PDCA) approach. Uric acid levels were measured using point-of-care testing (POCT) with capillary blood, accompanied by education on low-purine diets, physical activity, and adequate hydration. The mean uric acid level was 4.69 mg/dL (SD 1.39), with 9 participants (9.1%) identified as having hyperuricemia. Although most participants were within normal limits, the screening revealed previously undetected cases among older adults with metabolic risks. This activity enhanced health literacy and strengthened the role of community health cadres, demonstrating that community-based POCT screening is feasible for integration into primary care and posbindu programs as a sustainable strategy to prevent gout and metabolic diseases.
The Role of Diabetes Mellitus Panel on Kidney Function Decline in Elderly Population: Cross-Sectional Study Gunawan, Shirly; Kosasih, Robert; Firmansyah, Yohanes; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Bryan Anna; Bambang, Kresna; Pratomo, Farhan
Biomedical Journal of Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Vol 12, No 1, 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bji.v12i1.293

Abstract

Introduction. Chronic kidney disease (CKD) is a major public health issue, particularly among the elderly, where metabolic disturbances accelerate renal decline. Diabetes mellitus contributes to kidney dysfunction through insulin resistance and altered glycemic control. This study investigates the relationship between diabetes-related parameters—fasting blood glucose, HbA1c, fasting insulin, HOMA-IR, and kidney function, as measured by estimated glomerular filtration rate (eGFR) in an elderly population. Methods. A cross-sectional analytic study was conducted among 82 elderly residents of Bina Bhakti Nursing Home. Venous blood samples were collected to assess fasting blood glucose, HbA1c, fasting insulin, and HOMA-IR. Kidney function was estimated using the CKD-EPI equation. Results. Age showed a significant negative correlation with eGFR (r = –0.266, p = 0.016), indicating age-related renal decline. HOMA-IR (r = 0.247, p = 0.025) and fasting insulin (r = 0.224, p = 0.043) demonstrated weak but significant positive correlations with eGFR. Conversely, fasting glucose (r = 0.055, p = 0.623) and HbA1c (r = 0.029, p = 0.795) had negligible, non-significant correlations with eGFR, suggesting limited predictive value for renal impairment. Insulin growth factor exhibited a weak, non-significant negative correlation (r = –0.104, p = 0.355). Conclusion. Age remains a key determinant of declining kidney function in the elderly. Insulin resistance markers showed mild but unexpected associations, warranting further longitudinal studies to confirm these findings and explore underlying mechanisms.
HUBUNGAN KADAR INSULIN PUASA DENGAN KADAR GULA DARAH PUASA DAN KENDALI HBA1C PADA KELOMPOK LANSIA Gunawan, Shirly; Kosasih, Robert; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Dean Ascha; Kurniawan, Joshua; Satyanegara, William Gilbert
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 2 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/237m8209

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan penyebab utama morbiditas global, dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama pada populasi lansia. Pengukuran gula darah puasa (GDP) dan HbA1c sering digunakan untuk mengevaluasi kontrol glikemik, namun memiliki keterbatasan dalam mencerminkan dinamika sekresi dan sensitivitas insulin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar insulin puasa dengan GDP dan HbA1c terutama pada populasi lansia. Metode: Desain studi penelitian ini adalah potong lintang pada 41 lansia di Panti Santa Anna pada November 2023. Analisis statistik menggunakan uji Spearman. Hasil: Analisa korelasi Spearman-rho antara kadar insulin puasa dengan kadar gula darah puasa menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna antara kadar insulin puasa dengan kadar gula darah puasa, namun penelusuran secara klinis menunjukkan korelasi positif lemah (p: 0,329, r: 0.156). Kadar insulin puasa terhadap kadar HbA1c juga menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna, namun secara klinis berkorelasi positif lemah (p: 0,256, r: 0,182). Kesimpulan: Penelitian ini ingin melihat korelasi positif secara klinis antara kadar insulin puasa dan parameter metabolik diabetes, yang dapat tersamarkan oleh mekanisme kompensasi resistensi insulin serta proses inflamasi dan gangguan metabolik. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungan sebab-akibat antara kedua parameter tersebut dengan kadar insulin puasa secara mendalam sehingga dapat mengoptimalkan target pengobatan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
ANALISIS DETERMINAN KEJADIAN DROP OUT PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUKUL KECAMATAN MUKOK Yuniasih, Septi; Kosasih, Robert
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 2 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/9yw1es28

Abstract

Tuberkulosis (TBC) paru masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan angka kematian yang tinggi setiap tahun. Meskipun program pengobatan TBC telah tersedia di fasilitas kesehatan primer, fenomena pasien yang tidak menyelesaikan terapi (drop out) tetap menjadi tantangan besar dalam mencapai keberhasilan pengobatan. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan resistensi obat dan memperpanjang transmisi penyakit di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kejadian drop out pengobatan TBC paru di wilayah kerja Puskesmas Kedukul, Kecamatan Mukok. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 13 responden yang pernah menjalani pengobatan TBC paru. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Variabel yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jarak rumah, dukungan keluarga, efek samping obat, status merokok, dan peran pengawas minum obat (PMO). Terdapat hubungan signifikan antara variabel usia (p = 0,005), jenis kelamin (p = 0,007), jarak rumah (p = 0,032), dukungan keluarga (p = 0,032), efek samping obat (p = 0,021), dan status merokok (p = 0,032) terhadap kejadian drop out. Faktor usia lanjut, jenis kelamin, lokasi tempat tinggal jauh dari puskesmas, kurangnya dukungan keluarga, perokok aktif, serta efek samping ringan yang tidak ditangani dengan baik, berkontribusi terhadap meningkatnya risiko drop out. Intervensi berbasis komunitas dan pendekatan edukatif perlu diperkuat untuk menurunkan angka drop out.