Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Neuro Critical Care Pada Tata Laksana Pasien Cedera Aksonal Difus Harijono, Bambang; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.427 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i3.175

Abstract

Cedera aksonal difus (Diffuse Axonal Injury / DAI) adalah keadaan penderita dengan kehilangan kesadaran, lebih dari 6 jam pada cedera otak traumatik berat dan tanpa lesi masa intrakranial. Berdasar lama kondisi koma pada pasien, DAI dibagi menjadi 3 kategori, kelas I (ringan), kelas II (sedang), kelas III (berat). Bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kemungkinan pasien akan mengalami cacat permanen dan tetap dalam kondisi vegetative. Peran Neuro Anestesi dan Critical Care adalah untuk menangani penderita, dimulai dari tempat kejadian trauma hingga perawatan neurointensif. Seorang wanita, umur 18 tahun, berat badan 50 kg, tinggi 165 cm. Mengalami kecelakaan sepeda motor, kemudian penderita pingsan mulai dari tempat kejadian sampai dibawa ke rumah sakit. Dilakukan monitoring tekanan intrakranial (ICP) dan perawatan cedera otak traumatik berat pada umumnya. Pada hari ke 4 setelah trauma, penderita mulai sadar, dapat diperintah dan dengan nilai Glasgow Outcomes Scale (GOS): 3 (cacat parah). DAI terjadi karena cedera otak berat setelah trauma sehingga menyebabkan penurunan kesadaran tanpa adanya lesi masa intrakranial maupun iskemik. Bermacam-macam teori dikemukakan mengenai terjadinya DAI. Penatalaksanaan DAI tidak ada yang khusus, dilaksanakan penanganan seperti pada cedera otak traumatik umumnya, hanya diperlukan pencegahan cedera sekunder dan mempertahankan tekanan intrakranial (ICP) dalam kondisi normal. Prognosa tergantung dari jenis DAI yang terjadi.The Role Of Neurocritical Care On Diffuse Axonal Injury Management Diffuse Axonal Injury (DAI) is a state of long-time unconsciousness, more than 6 hours in severe traumatic brain injury and without mass lesions of intracranial. According to how long the patient still in coma condition, DAI is divided into 3 categories, grade I (mild), grade II (moderate), grade III (severe). If this condition not addressed quickly and accurately, the patient may will get a permanent disability and still in a vegetative state condition. The importance of Neuro-anesthesiologist and Critical Care is to take care of the patient, from the trauma site until in the neurointensive care. A woman, 18 years old, weight 50 kg, height 165 cm. She had a motorcycle accident and unconscious from the trauma site until she got into the hospital. Intra Cranial Pressure (ICP) Monitoring and a treatment of traumatic brain injury in general was performes. On the 4th day after trauma, the patient began to understand the command that was given and the GOS (Glasgow Outcomes Scale) is 3 (severe disability). DAI occurs due to severe brain injury after trauma resulting in impairment of consciousness with the absence of intracranial mass lesions and also ischemia. The various theories bring to the surface regarding the occurrence of DAI. The management in DAI is nothing specials, it contains the treatment in traumatic brain injury in general, the prevention of secondary injury and maintain ICP in normal condition is essentials. The prognosis is depends on the type DAI that was occurs.
Komplikasi Mual Muntah Pascaoperasi Bedah Saraf Rahmatisa, Dimas; Rasman, Marsudi; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.17 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol8i1.202

Abstract

Mual, dan muntah adalah termasuk diantara keluhan-keluhan paling sering terjadi, dan dapat timbul pada kasus anestesia umum, regional, atau lokal. Insiden muntah sekitar 30%, kejadian mual adalah sekitar 50%, dan sebagian dari pasien berisiko tinggi, angka postoperative nausea and vomitting (PONV) bisa mencapai 80%. Faktor risiko PONV paling besar adalah jenis kelamin wanita, diikuti oleh riwayat motion sickness dan usia, lalu penggunaan anestesia inhalasi, durasi anestesia, penggunaan opioid pasca operasi dan terakhir penggunaan N2O. Pada kasus operasi bedah saraf, khusunya pada pengangkatan tumor, terdapat beberapa bahaya yang dapat terjadi bila PONV ini tidak ditangani dengan baik. Pada pasien bedah saraf, secara umum, kita harus menjaga agar tekanan intra kranial tetap dalam batas normal, sehingga aliran darah otak, dan tekanan perfusi otak dapat terjaga dengan baik. Jika terjadi PONV, maka tekanan intraabdomen akan meningkat, dan tentunya akan juga berpengaruh kepada kenaikan tekanan intrakranial. Disamping itu, pasien pasca pengangkatan tumor, akan rentan terhadap terjadinya perdarahan ulang yang tadinya sudah berhenti saat selesai operasi. Perdarahan dapat terjadi pada tumor bed dan dapat menyebabkan komplikasi yang fatal. Dari berbagai penelitian mengenai PONV pada operasi bedah saraf, faktor lokasi operasi tidak terlalu banyak berpengaruh. Operasi infratentorial memiliki angka PONV yang lebih tinggi, dihubungkan dengan lebih lamanya durasi operasi.Postoperative Nausea and Vomiting (PONV) Complication after NeurosurgeryNausea, and vomiting are among the most common complaints, and may occur in the case of general, regional, or local anesthesia. The incidence of vomiting is about 30%, the incidence of nausea is about 50%, and some of the patients are at high risk, Postoperative nausea and vomitting (PONV) rate can reach 80%. The strongest predictor of PONV is female gender, followed by history of motion sickness, age, inhalation anesthetic drugs, postoperative opioid, and using of nitrous oxide. In neurosurgery patients, in general, we must keep the intra-cranial pressure within normal limits, so that the cerebral blood flow, and the cereberal perfussion pressure can be well preserved. If there is PONV, the intraabdominal pressure will increase, and will certainly also affect the intracranial pressure. In addition, patients post-tumor removal, will be vulnerable to the occurrence of re-bleeding that had been stopped when completed surgery. Bleeding can occur in tumor beds and can cause fatal complications. According to various studies on PONV in neurosurgical surgery, the location factor of the surgery did not have much effect. Infratentorial surgery has a higher PONV number, associated with longer duration of operation.
Penatalaksanaan Perioperatif Cedera Kepala Traumatik dengan Jalan Nafas Sulit Christanto, Sandhi; Saleh, Siti Chasnak; Oetoro, Bambang J.; Rahardjo, Sri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2348.497 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol3i1.129

Abstract

Cedera kepala traumatik merupakan masalah kesehatan utama, pemicu kecacatan dan kematian di seluruh dunia. Walaupun terdapat cara diagnosis dan penatalaksanaan yang semakin mutakhir, prognosis tetap jauh dari harapan. Disamping derajat keparahan cedera primer merupakan faktor utama yang menentukan luaran, cedera sekunder yang disebabkan oleh hipotensi, hipoksemia, hiperkarbia, hiperglikemia, hipoglikemia dan lain lain, yang timbul seiring waktu setelah cedera awal, menyebabkan kerusakan lebih lanjut dari jaringan otak, memperberat luaran pada cedera kepala traumatik. Penatalaksanaan cedera kepala saat ini difokuskan pada pencegahan dan pengelolaan cedera sekunder karena cedera sekunder dapat dihindari dan diterapi. Seorang laki-laki, 46 tahun berat badan 100 kg, tinggi badan 175 cm ditemukan di pinggir jalan dengan dugaan akibat kecelakaan lalu lintas, setelah resusitasi dan stabilisasi didapatkan jalan napas bebas, laju napas 1618 x/menit, tekanan darah 160/90 mmHg, laju nadi 75 x/menit, skor GCS E2M5V2, pemeriksaan pupil kiri reaktif 3 mm, kanan sulit dievaluasi karena terdapat hematoma, terdapat lateralisasi dengan bagian tubuh kanan terlihat lebih aktif. Hasil CT Scan menunjukkan perdarahan subdural frontotemporoparietal kanan, perdarahan intraserebral dengan volume 21,8 cc, perdarahan subarachnoid frontotemporal kanan, pergeseran garis tengah sebesar 1,13 cm ke kiri, fraktur temporal kanan serta edema serebri. Keputusan tindakan kraniotomi evakuasi perdarahan segera dilakukan demi keselamatan pasien. Penatalaksanaan cedera kepala pada periode perioperatif yang meliputi evaluasi cepat, resusitasi berkesinambungan (serebral maupun sistemik), intervensi pembedahan dini, penatalaksanaan terapi intensif, diharapkan dapat memberikan jalan keluar potensial yang mungkin dapat memperbaiki luaran dari pasien dengan cedera kepala.Perioperative Management of Traumatic Brain Injury with Difficult AirwayTraumatic brain injury is major public health problem and leading cause of death and disability worldwide. Despite the modern diagnosis and treatment pathways, the prognosis remains poor. While severity of primary injury is the major factor to determine the outcomes, the secondary injury caused by hypotension, hypoxemia hypercarbia, hyperglicemia, hypoglicemia and et cetera, thet develop overtime after the onset of injury may cause further damage to brain tissues and worsen the outcome. Traumatic brain injury management currently focuses on prevention and secondary injury, treatment, since secondary injury is largely preventable and treatable. A 46 years old male patient, weighted 100 kgs, height 175 cm was found on the street as the suspect of traffic accident. On examination no obstruction in the airway, respiratory rate was16?18 x/minute, blood pressure was 160/90 mmHg, heart rate was 75x/minute, GCS scale was E2M5V2. The cranial hemorrhage was found in the right frontotemporal, intracerebral (approximately 21,8 cc), cerebral edema, and the midline shift more than 1 cm were seen on brain CT-Scan examination. The decision of emergency craniotomy evacuation was immediately made to save the live of the patient. The management in perioperative period involving rapid evaluation, continued with resuscitation (cerebral and systemic), early surgical intervention intensive care management, may be a potential window that will improve the outcome of traumatic brain injury patients
Pengelolaan Perioperatif Anestesi pada Pasien dengan Pembedahan Hipofisis Surgery Harijono, Bambang; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.147 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i2.91

Abstract

Pengelolaan perioperatif pada pasien yang menjalani pembedahan kelenjar hipofisis bervariasi sesuai dengan ukuran lesi hipofisis, jenis lesi, metode pembedahan yang digunakan serta fungsi endokrin yang ideal pra-pembedahan. Permasalahan tertentu pada kebanyakan pasien berhubungan dengan kondisi hipersekresi hormon primer serta komplikasi yang menyertainya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya metode yang terbaik untuk semua pasien yang menjalani proses pembedahan. Kelenjar hipofisis terletak didasar tulang tengkorak, didalam sella turcica, tepat dibelakang chiasma optica. Kelenjar ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu; pars anterior (adenohipofisis) dengan area 75% yang merupakan bagian paling besar, dan pars posterior (neurohipofisis) yang menyatu dengan hipotalamus. Kelenjar ini mensekresi hormon yang juga dikontrol oleh hipotalamus secara hormonal impuls nervus. Tumor hipofisis pada umumnya berasal dari daerah anterior hipofisis, bersifat jinak dan secara gambaran histologis menyerupai kelenjar hipofisis yang normal. Diperlukan adanya serangkaian pemeriksaan awal sebelum dilakukan tindakan bedah pada pasien. Pengelolaan anestesi pada saat proses pembedahan, disesuaikan dengan teknik pembedahan yang dilakukan. Hal lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah monitoring kondisi pascabedah pada neurointensive care yang terkait dengan komplikasi dan metode penggantian hormon sementara setelah tindakan bedah dilakukan. Pemahaman mengenai penilaian pra operasi, tata laksana intra operatif, komplikasi yang mungkin terjadi, teknik pembedahan dan cara-cara pencegahan komplikasi, merupakan dasar keberhasilan perawatan pasien perioperatif sehingga mencegah morbiditas dan mortalitas.Perioperative Management Anesthesia on Patients Undergoing PituitaryPerioperative management on patients undergoing pituitary surgery is varies according to the size of pituitary lesion, type of lesion, surgical method used and the ideal preoperative function of endocrine. Specific problems in most patients relate to primary hormonal hypersecretion conditions and its complications. It cause by the absence of best methods for all patients undergoing this kind of surgery. Pituitary glands lie on the floor of the skulls bone, in sella turcica, right behind the chiasma optica. This glands was divided into two parts, pars anterior (adenohypophyse), its about 75% which is the biggest part of it, and the pars posterior (neurohypophyse) that fused with hypothalamus. This gland secretes hormone that controlled impuls nervus by the hypothalamus. In general, pituitary tumor was came from pars anterior, benign adenoma and histoligically same with a normal glands. A series of initial evaluation is required before the surgery take to the patients. Anesthesia management in the surgery is adapted to its technique. The other things that is equally important is post operative monitoring in neurointensive care, according to complications and transient hormone replacement method after the surgery. The understanding of preoperative assessment, intraoperative management, potential complication, surgical methods and several ways to prevent complications are the fundamental for successful perioperative patients care to prevent morbidity and mortality.
Penatalaksanaan Anestesi Subarachnoid Hemoragik pada Ibu Hamil Mangastuti, Rebecca Sidhapramudita; Bisri, Dewi Yulianti; Oetoro, Bambang J.; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3477.908 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol5i1.63

Abstract

Subarachnoid hemorrhage (SAH) non traumatic pada wanita hamil, umumnya disebabkan oleh ruptur aneurisma atau arteriovenous malformation (AVM). Hipertensi pada pre eklampsi berat (PEB) dan eklampsi merupakan penyebab tersering. Gejala klinis SAH umumnya adalah nyeri kepala hebat, pandangan kabur, photofobia, mual, muntah, hingga penurunan kesadaran. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti computed tomography (CT-scan)/magnetic resonance imaging (MRI), computed tomographic angiography (CTA), magnetic resonance angiography (MRA), catheter angiography. Wanita hamil dengan aneurisma serebral menunjukkan perbaikan survival untuk ibu dan fetus bila clipping dilakukan setelah SAH dibandingkan dengan pengelolaan tanpa pembedahan. Reseksi AVM yang tidak pecah dapat ditunda sampai setelah melahirkan tanpa menunjukkan adanya peningkatan mortalitas ibu. Pertimbangan anestesi pada wanita hamil dengan SAH adalah keselamatan ibu dan fetus. Penurunan dari tekanan rerata ibu atau peningkatan resistensi vascular uterus akan menurunkan aliran darah uteroplasental sehingga menurunkan aliran darah umbilical yang akan membahayakan fetus. Pemberian cairan, manitol, tehnik hipotermi dan obat-obatan harus dipertimbangkan agar tidak membahayakan fetus. Pasca tindakan clipping aneurisma dilakukan triple H terapi yaitu hipertensi, hipervolemi dan hemodilusi. Prognosis ibu hamil dengan SAH sesuai dengan skala Hunt dan Hess. Makin rendah skala, makin rendah pula angka morbiditas dan mortalitas.Management Anesthesia for Pregnant Women with Subrachnoid HemorrhageNon traumatic subarachnoid hemorrhage (SAH) in pregnant women, generally caused by a ruptured aneurysm or arteriovenous malformation (AVM). Severe hypertension in pre eclampsia (PEB) and eclampsia are common causes. Clinical symptoms of SAH are severe headache, blurred vision, photofobia, nausea, vomiting, loss of consciousness. Diagnois is based on anamnesis, physical examination and computed tomography (CT scan) / magnetic resonance imaging (MRI), computed tomographic angiography (CTA), magnetic resonance angiography (MRA), catheter angiography. Pregnant women with cerebral aneurysms showed improved survival for both mother and fetus when clipping is done after SAH, compared with nonsurgical management. Unrupture AVM resection can be delayed until delivery, and not increased maternal mortality. Consideration of anesthesia in pregnant women with SAH is the safety of the mother and fetus. A decresase of pressure or increase in mean maternal vascullar resistance will decrease uteroplacental blood flow resulting in lower umbilical blood flow which would endanger the fetus. Fluid, mannitol, hypothermia techniques and preoperative, intraoperative and postoperative medicine should be considered, in order not to endanger the mother and fetus. Post aneurysma clipping, perfomed triple H therapy, hypertension, hipervolemik and hemodilution. The prognosis according to Hunt Hess scale, ie the lower the scale, the lower the rate of morbidity and mortality
Penatalaksanaan Pasien Cedera Kepala Berat dengan Evakuasi Perdarahan Subdural yang Tertunda Christanto, Sandhi; Suryono, Bambang; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2329.253 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol4i3.125

Abstract

Cedera kepala traumatik merupakan masalah kesehatan serius karena merupakan pemicu kematian di seluruh dunia. Sekitar 11,5 juta jiwa di Eropa dan Amerika Serikat mengalami cedera kepala tiap tahunnya. Perdarahan subdural akut (PSDA) adalah salah satu kelainan yang menyertai cedera kepala berat. Insidennya mencapai 1230% dari pasien yang masuk dengan cedera kepala berat. PSDA merupakan tantangan yang berat karena angka morbiditas dan mortalitasnya yang tinggi (5570%). Waktu antara trauma dan evakuasi perdarahan merupakan faktor paling penting dalam menentukan luaran pasien dengan PSDA. Interval waktu evakuasi lebih dari empat jam pascatrauma meningkatkan angka kematian sampai 85% dibandingkan bila dilakukan dibawah empat jam (30%). Disamping itu, penundaan tindakan evakuasi bekuan darah menambah pelik permasalahan yang ada. Laki-laki 29 tahun, 75 kg diagnosa cedera kepala berat, perdarahan subdural akut fronto-temporo-parietal kiri, dan direncanakan evakuasi hematoma segera. Setelah stabilisasi didapatkan jalan napas potensial obstruksi, tekanan darah 160170/90 mmHg, laju nadi 6570 x/menit irregular, GCS 112 , pupil anisokor 3mm/4mm, hemiparese kanan. Pasien diintubasi, pernapasan di kontrol dan dirawat sementara di ICU karena penundaan evakuasi hematoma. Operasi dilakukan setelah 7 jam pasca pasien tidak sadar. Interval waktu evakuasi lebih dari empat jam pascatrauma menyebabkan peningkatan angka kematian sampai 85% dibandingkan bila dilakukan dibawah empat jam (30%). Beberapa cara dapat dilakukan selama waktu penundaan evakuasi untuk mencegah herniasi sehingga klinisi memiliki harapan dalam pengelolaan PSDA yang mengalami penundaan evakuasi. Tujuan dari laporan kasus ini adalah membahas tindakan-tindakan tersebut dengan harapan mendapat masukan sehingga pengelolaan pasien cedera kepala dengan PSDA menjadi lebih baik.Severe Head Injury Management with Delayed Subdural HematomaTraumatic brain injury (TBI) is major health problem and leading cause of death worldwide. Approximately 1-1,5 milion people in Europe and United States suffered from TBI yearly. Acute subdural hematoma (ASDH) is commonly seen in severe TBI. The incidence of ASDH is between 12 to 30% with high morbidity and mortality rate (55-70%). Time to surgery is the most important factor that determined the outcome. Time to surgery more than 4 hours is associated with higher mortality rate (85%) compare to when the surgery is done within 4 hours (30%) from the onset of TBI. Furthermore, delayed in surgical clot removal may worsen the outcome. A 29 years old man, 75kgs, suffered from TBI with left fronto-temporo-parietal ASDH and was planned for emergency evacuation of subdural. The airway tended to suffer from obstruction, blood pressure 160-170/90 mmHg, heart rate was irregular around 65-70 bpm, GCS 1-1-2, pupil was anisokor 3mm/4mm, and right hemiparese was found. Patient.was then intubated, the ventilation was controlled and he was managed in the ICU because the operation was delayed. The operation was done after more than 7 hours since the neurological deterioration initiated. There are several methods may be conducted during the delay surgery time to prevent herniation, so phycisiant may regain better result on delayed ASDH surgery. This case report will discuss methods in managing patient with delayed evacuation of ASDH for a better outcome.
Anestesia untuk Corpus Callosotomy Harijono, Bambang; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.245 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i1.86

Abstract

Corpus Callosotomy sering dilakukan pada anak-anak dengan drop attacks atau atonic seizure,pada anak tersebut secara tiba-tiba tonus otot hilang/ lemas, yang akan menyebabkan anak jatuh kelantai saat berjalan. Juga dilakukan pada seseorang dengan kejang tonic-klonic menyeluruh yang tidak terkontrol dengan terapi obat-obatan, atau Grandmal epilepsi, atau dengan massive jerkingmovement. Seorang anak laki-laki, umur 2,5 tahun, dengan keluhan utama: kejang, 810 kali setiap hari, sejak penderita umur 4 bulan. Sudah mendapat terapi dari poliklinik syaraf, kejang hanya berkurang. Dipersiapkan operasi dengan pemeriksaan laboratorium lengkap, pemeriksaan penunjang, pemeriksaan EEG dan MRI. Dilakukan Corpus Callosotomy, post operasi dirawat di ICU selama 2 hari, kemudian pindah ruangan, dan selanjutnya pulang. Intensitas kejang berkurang. Penanganan pada penderita ini terdapat masalah khusus yaitu masalah anestesia pada anak-anak dan masalah neuroanestesia. Memerlukan persiapan operasi yang khusus sehingga dapat menentukan fokus epilepsI dengan tepat dan terapi operasi yang tepat pula.Anesthesia for Corpus CallosotomyCorpus callosotomy is most often performed for children with drop attacks, or atonic seizure, in which a sudden loss of muscle tone cuases the child fall to the floor. It also performed in people with uncontrolled generalized tonic-clonic, or grand mal, or with massive jerking movement. A 2.5 year-old boys for corpus callosotomy indicated for the treatment of intractable epilepsi. With chief complaint frequent seizure since 4 month old and frequent convulsion 810 time per day. Preparing pre operative must be complete including Electroencephalogram and Magnetic Resonance Image (MRI) for detection focal epilepsi. Post operative periode in ICU and than go to ward two day latter. Intensity of seizure decreased more than pre operative condition. Management this patient need serious attention, special cases for children anesthesia and neuroanesthesia. It also need to special prepare for this patient, until to found good outcome.
Penanganan Anestesi pada Ventriculo Peritoneal Shunt Cito e.c Hidrocephalus dengan Perdarahan Intraventricular Novitasari, Dian; Fuadi, Iwan; Saleh, Siti Chasnak; Wargahadibrata, A. Hmendra
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.506 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i3.55

Abstract

Perdarahan intraventrikular akibat perluasan perdarahan subarahnoid ke ruang intraventrikel atau akibat perdarahan intraserebral menyebabkan hidrosefalus merupakan prediktor independent prognosis yang buruk pada stroke hemoragik. Kondisi hidrosefalus dengan perdarahan intraventrikular membutuhkan Ventriculo Peritoneal (VP) Shunt segera untuk menghindari defisit neurologis permanen bahkan kematian. Pasien seorang laki-laki dewasa (56 tahun) dengan bb 75 kg, dengan hipertensi kronis dan penurunan kesadaran disertai hipertensi intrakranial dengan CT Scan menunjukkan adanya hidrosefalus disertai perdarahan intraventrikular luas. Dilakukan anestesi dengan kombinasi anestesia intravena menggunakan propofol, dexmedetomidine - sevofluran 1 MAC dapat menjadi pilihan dalam operasi bedah saraf. Tindakan VP Shunt segera pada pasien ini merupakan tindakan yang bersifat life saving dengan managemen anestesi yang baik memberikan outcome yang baik.Anesthesia Management for Emergency Ventriculo Peritoneal Shunt ec Hydrocephalus with Intraventricular HemorrhageIntraventricular hemorrhage due to the expansion of subarachnoid hemorrhage due to space intraventricular or intracerebral hemorrhage cause hydrocephalus is an independent predictor of poor prognosis in hemorrhagic stroke. Hydrocephalus condition with intraventricular hemorrhage requiring ventriculo peritoneal (VP) shunt immediately to avoid permanent neurological deficits and even death. In this case report will discuss the management of anaesthesia in emergency VP Shunt for a patient with chronic hypertension, history of loss of consciousness accompanied by intracranial hypertension and CT scan result showed the existence of intra-ventricular hemorrhage with hydrocephalus wide. The combination of intravenous anesthesia using propofol, dexmedetomidine - 1 MAC sevoflurane may be an option in the operation of neurosurgery. VP Shunt immediate action in these patients is an act that is life saving with good anesthetic management provides a good outcome.
Tatalaksana Anestesi Pada Pendarahan Intraserebral Spontan/Non Trauma Satriyanto, M. Dwi; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.165 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i4.194

Abstract

Pendarahan Intraserebral (PIS) adalah ekstravasasi darah yang masuk kedalam parenkim otak, yang dapat berkembang ke ruang ventrikel dan subarahnoid, terjadi spontan dan bukan disebabkan oleh trauma (non traumatis) dan salah satu penyebab tersering pada pasien yang dirawat di unit perawatan kritis saraf. Kejadian PIS 10-15% dari semua stroke dengan angka kematian tertinggi tingkat dari subtipe stroke dan diperkirakan 60% tidak bertahan lebih dari satu tahun. Kasus: Laki-laki 18 tahun, datang dengan keluhan penurunan kesadaran setelah sebelumnya merasakan lemas pada anggota gerak kanan yang terjadi tiba-tiba saat mengendarai kendaraan. Pada pemeriksaan didapatkan kesadaran GCS E3M5V2 dengan hemodinamik cukup stabil, dan terdapat hemiplegi dextra. Pasien dirawat di perawatan intensif selama 4 hari, karena kesadaran menurun GCS E2M4V2 maka dilakukan MSCt ulangan, ditemukan adanya PIS bertambah (kurang lebih 30cc) dibandingkan dengan MSCt sebelumnya dan midline shift lebih dari 5mm. Diputuskan untuk dilakukan tindakan kraniotomi evakuasi segera dengan pemeriksaan penunjang yang cukup. Diskusi: Tindakan kraniotomi evakuasi pada pasien PIS menjadi tantangan bagi seorang anestesi, sehingga diperlukan pengetahuan akan patofisiologi, mortalitas PIS dan tindakan anestesi yang harus dipersiapkan dan dikerjakan dengan tepat.Anesthesia Management In Intra Cerebral Hemorrhage Spontaneous/Non TraumaticIntracerebral hemorrhage (ICH) is the extravasations of blood into the brain parenchyma, which may develop into ventricular and subarachnoid space, there was spontaneous and not caused by trauma (non-traumatic), and one of the most common cause in patients treated in the neurological critical care unit. ICH represents perhaps 1015% of all strokes with the highest mortality rates of stroke subtypes and about 60% of patients with ICH do not survive beyond one year Case: Men 18 years, came with complaints of loss of consciousness after feeling weakness on the right limb that occurs suddenly while driving a vehicle. On examination of consciousness obtained GCS E3M5V2 with hemodynamic was stable, there right hemiplegic. Patients treated in intensive care for 4 (four) days, because of decreased consciousness GCS E2M4V2 then performed MSCt test, found the existence of ICH (approximately 30cc) compared with the previous MSCt and the midline shift was more than 5mm. It was decided to evacuate immediately craniotomy action with adequate investigation. Discussion: Procedure of craniotomy evacuation in ICH patients be a challenge for an anesthesiologist, so knowledge of the pathophysiology, mortality ICH and anesthetic procedure that should be prepared and done properly.
Manajemen Anestesi Stroke Perioperatif Permatasari, Endah; Bisri, Dewi Yulianti; Saleh, Siti Chasnak; Wargahadibrata, A. Hmendra
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.857 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol7i1.29

Abstract

Stroke perioperatif merupakan suatu kejadian katastropik yang meningkatkan mortalitas dan morbiditas, terutama pada usia di atas 65 tahun. Stroke perioperatif merupakan suatu momok (kejadian yang tidak diharapkan) bagi keluarga dan rekan sejawat yang merawat. Stroke perioperatif dapat bersifat iskemik atau hemoragik yang terjadi selama masa intraoperatif hingga 30 hari pascaoperasi. Faktor risiko terjadinya stroke perioperatif diantaranya adalah: usia lanjut, riwayat stroke dan Transient Ischemic Attack (TIA) sebelumnya, atrial fibrilasi, kelainan pembuluh darah dan metabolik. Umumnya stroke perioperatif tidak terjadi selama masa pembedahan atau saat pulih sadar, tetapi terjadi dalam 24 jam pertama pascabedah. Penanganan stroke perioperatif membutuhkan manajemen yang menyeluruh dan suatu kerjasama tim yang baik. Walaupun kejadiannya tidak banyak namun membutuhkan penanganan tepat karena tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi serta mengakibatkan lama perawatan memanjang. Identifikasi awal pasien dan manajemen terpadu lintas keilmuan harus dilakukan untuk mencegah luaran yang buruk setelah terjadinya stroke perioperatif.Anesthetic Management of Perioperative StrokePerioperative stroke can be a catastrophic outcome for surgical patients and is associated with increased morbidity and mortality, especially in the age above 65. A perioperative stroke is an unexpected event for families and caring colleagues. A perioperative stroke may be an ischemic or haemorrhagic disorder that occurs intraoperatively or up to 30 days postoperatively. Risk factors for perioperative stroke include elderly, history of previous stroke and transient ischemic attack (TIA), atrial fibrillation, vascular and metabolic disorder. Most perioperative stroke generally does not occur during the intraoperative period or soon after recovering period but within the first 24 hours. Handling perioperative stroke requires a thorough management and a good teamwork. Perioperative stroke can be devastating, as they not only result in death but also prolong the length of hospital stay, increasing cost and greater likelihood of discharge to long term care facilities. Although the incidence is not much but this requires appropriate treatment because of high morbidity and mortality and also result in prolong length of hospital stay. Early identification and expeditious management involving a multidisciplinary approach is the key to avoid a poor outcome following perioperative stroke.