Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Keragaman Jenis Tumbuhan Invasif Kelurahan Jambula, Kota Ternate Provinsi Maluku Utara: Invasive Plant Species Diversity in Jambula Urban Village, Ternate City, North Maluku Province Nurjannah, Siti; Nahlunnisa, Hafizah; Adriani, Adriani; Ashari, Reyna; Darsono, Beti Septiana
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.43151

Abstract

ABSTRACT Biodiversity in Indonesia faces serious threats due to ecosystem degradation, climate change, and especially alien plant invasions. Invasive plant species can replace local vegetation, disrupt ecosystem balance, and trigger conflicts between humans and wildlife. This study aims to identify and analyze the diversity of invasive plant species in Jambula Urban Village, Ternate City, North Maluku Province as preliminary data for sustainable management of biological resources. The method used was purposive sampling combined with field exploration on open land and roadsides during January-March 2025. The results showed that there were 44 invasive plant species belonging to 21 families, with the dominance of the Asteraceae and Poaceae families. Some species such as Chromolaena odorata, Miconia crenata (Clidemia hirta), Lantana camara, and Mikania micrantha are included in the list of the 100 most invasive plants in the world. Identification analysis shows that 13 plant species are categorized as invasive according to three main sources: PermenLHK No P.94/2016, IUCNGISD, and a guidebook on invasive species in Indonesia. These results emphasize the importance of monitoring and managing invasive plants to preserve the ecosystem of Jambula Urban Village, Ternate City.   Keywords: diversity, invasive, Jambula Urban Village, plant   ABSTRAK Keanekaragaman hayati di Indonesia menghadapi ancaman serius akibat kerusakan ekosistem, perubahan iklim, dan terutama invasi tumbuhan asing. Jenis tumbuhan invasif dapat menggantikan vegetasi lokal, mengganggu keseimbangan ekosistem, dan memicu konflik antara manusia dan satwa liar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis keberagaman jenis tumbuhan invasif di Kelurahan Jambula, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara sebagai data awal pengelolaan sumber daya hayati secara berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dikombinasikan dengan eksplorasi lapangan pada lahan terbuka dan tepi jalan selama Januari–Maret 2025. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 44 jenis tumbuhan invasif yang tergolong dalam 21 famili, dengan dominasi dari famili Asteraceae dan Poaceae. Beberapa spesies seperti Chromolaena odorata, Miconia crenata (Clidemia hirta), Lantana camara, dan Mikania micrantha termasuk dalam daftar 100 tumbuhan paling invasif di dunia. Analisis identifikasi menunjukkan 13 jenis tumbuhan termasuk dalam kategori invasif menurut tiga sumber utama: PermenLHK No P.94/2016, IUCNGISD, dan buku panduan spesies invasif di Indonesia. Hasil ini menegaskan pentingnya pengawasan dan pengelolaan tumbuhan invasif guna menjaga kelestarian ekosistem di Kelurahan Jambula, Kota Ternate.   Kata kunci: invasif, keanekaragaman, Kelurahan Jambula, tumbuhan
Transformasi UMKM madu hutan menjadi wisata edukasi berkelanjutan: Pengembangan kampung wisata madu Provinsi Jambi Nahlunnisa, Hafizah; Ulfa, Maria; Rahmilija, Femei; Yandi, Wahyu Nazri; Mandala, Bakti
Jurnal Oase Nusantara Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Cipta Lebah Berkah (CLB) melalui merek Rumah Madu Hutan Jambi mengembangkan produksi madu berbasis koloni Apis dorsata di ekosistem gambut Danau Lamo, Muaro Jambi. Seiring meningkatnya minat terhadap wisata edukatif, CLB berpotensi mengembangkan desa edu-ekowisata berkelanjutan yang berfokus pada madu dan konservasi lebah. Namun, tantangan utama meliputi belum adanya perencanaan spasial terpadu, program wisata edukatif yang belum terstruktur, serta keterbatasan media interpretasi. Program pengabdian ini dilaksanakan selama delapan bulan melalui konsultasi dengan manajemen CLB dan observasi di dua lokasi, yaitu area budidaya madu di Danau Lamo dan outlet pemasaran di Kota Jambi. Kegiatan meliputi: (1) penyusunan rencana spasial Desa Wisata Madu; (2) perancangan program edu-wisata tematik bagi pelajar, masyarakat, dan keluarga; (3) pengembangan media interpretasi berupa booklet, leaflet, dan papan informasi; serta (4) penyusunan konsep kampanye sosial-lingkungan bersama LSM untuk mendorong produksi madu berkelanjutan dan kesadaran ekologi. Hasil menunjukkan bahwa lokasi budidaya potensial untuk pengalaman langsung proses madu, sedangkan outlet cocok untuk edukasi dan promosi. Perencanaan spasial dan media interpretasi memperkuat dasar pengembangan Desa Wisata Madu sebagai model “edu-ekowisata” yang menarik dan berkelanjutan. Kampanye sosial-lingkungan diharapkan meningkatkan identitas lokal, konservasi lebah dan ekosistem gambut, serta kesejahteraan masyarakat melalui usaha madu berkelanjutan.
Potensi tegakan hasil inventarisasi Hutan Tanaman Rakyat Desa Batu Jangkih Kabupaten Lombok Barat Nahlunnisa, Hafizah; Nizar, Wahyu Yuniati
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v7i2.10901

Abstract

Keberadaan hutan tanaman rakyat diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat terutama dalam hal ekonomi. Pendugaan potensi tegakan pada hutan tanaman rakyat perlu dilakukan agar masyarakat dapat menduga potensi nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan dari hutan tanaman rakyat tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi tegakan dan potensi pemanfaatan oleh masyarakat di hutan tanaman rakyat Desa Batu Jangkih, Lombok Barat, serta menduga nilai ekonomi dari potensi kayu tersebut. Inventarisasi dilakukan dengan metode Systematic Strip Sampling dengan cara sensus atau cruissing 100%. Hasil analisis diperoleh data bahwa potensi tegakan sebanyak 6027 individu pohon yang terdiri dari jenis gmelina, mahoni, dan jati, dengan tingkat kerapatan sebesar 47.03 individu per hektar, total volume pohon sebesar 694.41 m3. Potensi nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan dari pemanenan kayu sebesar Rp 273,140,850 dari total volume pohon siap panen sebesar 383.02 m3. Sedangkan hasil hutan bukan kayu dapat dimanfaatkan dari nilai ekonomi pemanenan jenis tanaman tumpeng sari yaitu kunyit, jahe, lengkuas, cabe jawa, sereh, dan rumput pakan ternak 
Estimasi Cadangan Karbon di Hutan Tanaman Rakyat Desa Batu Jangkih Kabupaten Lombok Tengah Nahlunnisa, Hafizah; Yuniati Nizar, Wahyu; Dinanty, Fawwaz; Yandi, Wahyu Nazri; Susanti, Amelia Dwi
Jurnal Ilmu Ilmu Kehutanan Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jiik.9.2.%p

Abstract

This study aimed to estimate the carbon stock in community plantation forests in Batu Jangkih Village, Central Lombok Regency. Data collection was conducted through field observations using the systematic strip sampling method and analyzed with allometric equations specific to each tree species. The stand consisted of mahogany (Swietenia macrophylla), gmelina (Gmelina arborea), and teak (Tectona grandis), with a total of 6,919 individuals and an average density of 52 trees per hectare. The results showed that gmelina had the largest stand volume (7.05 m³/ha), followed by teak (2.36 m³/ha) and mahogany (1.21 m³/ha). Biomass and carbon stock estimations indicated that gmelina stored the highest amount of carbon (3,565.71 tons/ha), while mahogany and teak stored 1,361.79 tons/ha and 1,302.83 tons/ha, respectively. In total, the community plantation forest stored 81,131.35 tons of carbon or 6,230.33 tons/ha. This study demonstrates that stand volume and carbon storage potential are influenced not only by the number of individuals but also by growth rate and morphological characteristics of each tree species. The community plantation forest in Batu Jangkih Village plays an important role in climate change mitigation while also providing economic benefits to local communities.
Optimalisasi Potensi Air Tanah Sebagai Sumber Daya Berkelanjutan Untuk Mendukung Kegiatan Sosial-Ekonomi Masyarakat Di Desa Tantan Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi Arista Yulanda, Yudi; Sucitra Amin, Sarwo; Heltria, Septy; Nahlunnisa, Hafizah; Dinanty, Fawwaz; Abel Azzahra; Meta Dinda Pangaribuan
Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan
Publisher : Program Studi Kehutanan, Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/962kyw27

Abstract

Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting, namun ketersediaannya masih menjadi permasalahan serius di wilayah pedesaan, termasuk Desa Tantan, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi. Desa ini belum mendapatkan layanan PDAM dan masyarakat masih bergantung pada sumur gali yang kerap mengalami kekeringan serta kualitas air yang kurang layak.egiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi kedalaman air tanah menggunakan metode geolistrik konfigurasi Schlumberger. Pelaksanaan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu persiapan (survei awal dan koordinasi dengan mitra), pelaksanaan (pengambilan data geolistrik serta diskusi dengan masyarakat), dan tindak lanjut (sosialisasi hasil, pendampingan, dan penyusunan peta potensi air tanah). Efektivitas sosialisasi diukur menggunakan analisis N-gain melalui pretest dan posttest terhadap peserta. Hasil menunjukkan rata-rata pemahaman masyarakat meningkat dari kategori rendah menjadi sedang hingga tinggi, dengan nilai rata-rata N-gain sebesar 0,517 (kategori sedang). kegiatan menghasilkan peta kedalaman air tanah sebagai dasar pembangunan sumur bor produktif, dan juga memperkuat kemandirian desa dalam mengelola sumber daya air untuk mendukung kebutuhan sosial-ekonomi secara berkelanjutan. Kata Kunci: air bersih, metode geolistrik, akuifer, N-gain, Desa Tantan
POTENSI KEANEKARAGAMAN SATWA LIAR (MAMALIA DAN REPTIL) DI KAWASAN HUTAN TAMAN WISATA ALAM KERANDANGAN Emilianus Yodi Kebu; Lalu Suhirsan Masrilurrahman; Hafizah Nahlunnisa
Jurnal Silva Samalas Vol. 3 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v3i1.3684

Abstract

Potensi keanekaragaman hayati Satwa liar (Mamalia dan Reptil) di Taman Wisata Alam (TWA) Kerandangan merupakan potensi yang bersifat komplek dan harus dilestarikan oleh karena itu Fokus penelitian ini adalah untuk mengkaji jenis satwa, indeks keanekaragaman jenis satwa liar mamalia dan reptil, serta Bagaimana kepadatan satwa mamalia dan reptil di Kawasan Hutan TWA Kerandangan. Dalam Karya Tulis ilmiah ini menggunakan Metode kajian pustaka dan Studi Lapangan dan teknik analisis data berdasarkan perbandingan indeks Dominansi. Penulis dapat menyimpulkan bahwa Kelompok mamalia (Lutung Trachypithecus auratus, famili Cercopithecidae yang di temukan dari ke 3 jalur seperti Monyet abu- abu Macaca Fascicularis, Tikus pohon ,Rattus tiomanicus, Dan Musang, Paradoxurus,  Kelompok reptil (Ular ada dua jenis ular di temukan yaitu jenis Sibynophis dan Trimerusus insularis , Tokek Gekko Gecko, Kadal  Lacetillia , Dan Biawak air dan biawak pohon  Varanus Salvator dan Varanus Macraei dan Indeks keanekaragaman jenis pada jalur 1=1,641 yaitu kategori sedang ,pada jalur 2 =1,431 kategori sedang dan pada jalur 3 =1,267 kategori sedang Kepadatan satwa dari ke 3 jalur mamalia dan reptil adalah 2,431.
Tata Kelola Berkelanjutan Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio melalui Sinergi Kelembagaan dan Kearifan Lokal: Sustainable Governance of the Datuk Rangkayo Mulio Customary Forest through Institutional Synergy and Local Wisdom Rahmilija, Femei; Mandala, Bakti; Yandi, Wahyu Nazri; Nahlunnisa, Hafizah; Darsono, Beti Septiana
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.57578

Abstract

ABSTRACT Customary forests play a strategic role in biodiversity conservation and climate change mitigation through indigenous community-based governance. However, studies integrating institutional governance and local wisdom in customary forest management remain limited. This study examines the governance system and implementation of local wisdom in the Datuk Rangkayo Mulio Customary Forest, Dusun Baru Pelepat, Jambi. A qualitative exploratory approach with common-pool resources institutional analysis was employed. The findings reveal a hybrid institutional arrangement combining genealogical customary institutions that maintain social legitimacy with modern functional institutions (LPHA and KUPS) responsible for technical and administrative management. Governance is supported by four pillars of local wisdom: access control, ecological harvesting standards, community-based economic instruments, and restorative customary sanctions. Forest management has shifted from passive conservation to benefit-based conservation through environmental services, non-timber forest products, ecotourism, and the Dondang Kayu tree adoption program. This governance model balances biodiversity conservation and community welfare while supporting climate change mitigation, highlighting the importance of strengthening indigenous community capacity for sustainable customary forest governance.   Keywords: customary forest, governance, local wisdom, benefit-based conservation, Jambi.   ABSTRAK Hutan adat memiliki peran strategis dalam konservasi keanekaragaman hayati dan mitigasi perubahan iklim melalui tata kelola oleh masyarakat hukum adat. Namun, kajian yang mengintegrasikan tata kelola kelembagaan dan kearifan lokal dalam pengelolaan hutan adat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengkaji sistem tata kelola dan implementasi kearifan lokal pada Hutan Adat Datuk Rangkayo Mulio di Dusun Baru Pelepat, Jambi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan analisis institusi common-pool resources. Hasil penelitian menunjukkan adanya sinergi kelembagaan hibrida antara struktur adat genealogis yang menjaga legitimasi sosial dan lembaga fungsional modern (LPHA dan KUPS) yang mengelola aspek teknis dan administratif. Tata kelola hutan bertumpu pada empat pilar kearifan lokal, yaitu pengendalian akses, standar ekologis pemanfaatan hutan, instrumen ekonomi berbasis komunitas, dan sanksi adat restoratif. Pengelolaan hutan telah bertransformasi dari konservasi pasif menjadi konservasi berbasis manfaat melalui pengembangan jasa lingkungan, hasil hutan bukan kayu, ekowisata, dan program adopsi pohon (Dondang Kayu). Model tata kelola ini mampu menyeimbangkan perlindungan biodiversitas dan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim, sehingga penguatan kapasitas masyarakat hukum adat menjadi faktor penting bagi keberlanjutan pengelolaan hutan adat.   Kata kunci: hutan adat, tata kelola, kearifan lokal, konservasi berbasis manfaat, Jambi.
Inventarisasi Spesies Tumbuhan Asing dan Potensi Pemanfaatannya di Areal Nilai Konservasi Tinggi Perkebunan Kelapa Sawit Provinsi Riau: Inventory of Alien Plant Species and Their Potential Utilization in High Conservation Value (HCV) Areas of Oil Palm Plantations in Riau Province Nahlunnisa, Hafizah; Dwi Susanti, Amelia; Nurjannah, Siti
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.58192

Abstract

ABSTRACT The presence of alien plant species in High Conservation Value (HCV) areas of oil palm plantations has dual implications, posing potential threats to biodiversity while also providing ecological and economic benefits. This study aimed to inventory alien plant species occurring in HCV areas in Riau Province and identify their potential uses. The study was conducted through a reanalysis of primary vegetation inventory data collected from three HCV areas within oil palm plantations in Riau Province using a single-plot sampling method. Alien plant species were identified by referring to the Regulation of the Indonesian Ministry of Environment and Forestry No. P.94/2016, the Global Invasive Species Database, and A Guide Book to Invasive Plant Species in Indonesia. Information on their ecological functions and economic values was obtained through a literature review. The results identified 14 alien plant species belonging to nine families, with Asteraceae being the most dominant family (36%). Non-forest riparian HCV areas contained the highest proportion of alien plant species (34,4%), whereas no alien species were recorded in sialang forest patches. Ten species (76,9%) were found to provide important ecological functions, including ground cover, erosion control, soil fertility enhancement, forage for livestock and wildlife, and sources of botanical pesticides. All identified species also exhibited economic potential, particularly as medicinal plants, food resources, livestock forage, botanical pesticides, and timber resources. These findings suggest that the management of alien plant species in HCV areas should adopt a risk-based adaptive approach that considers the invasiveness, ecological functions, and economic value of each species.   Keywords: alien plants, biodiversity, high conservation value, invasive plants, oil palm plantations   ABSTRAK Keberadaan tumbuhan asing pada areal Nilai Konservasi Tinggi (NKT) perkebunan kelapa sawit memiliki implikasi ganda, yaitu berpotensi mengancam keanekaragaman hayati sekaligus memberikan manfaat ekologis dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan menginventarisasi spesies tumbuhan asing pada kawasan NKT di Provinsi Riau serta mengidentifikasi potensi pemanfaatannya. Penelitian dilakukan melalui reanalisis data primer hasil inventarisasi vegetasi pada tiga areal NKT perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau yang dikumpulkan menggunakan metode petak tunggal. Identifikasi spesies asing dilakukan melalui pencocokan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94 Tahun 2016, Global Invasive Species Database, dan A Guide Book to Invasive Plant Species in Indonesia, sedangkan informasi mengenai peran ekologis dan ekonomi diperoleh melalui kajian pustaka. Hasil penelitian mengidentifikasi 14 spesies tumbuhan asing dari sembilan famili, dengan famili Asteraceae sebagai kelompok terbanyak (36%). Areal NKT berupa sempadan sungai non-hutan memiliki proporsi tumbuhan asing tertinggi (34,4%), sedangkan kawasan hutan kepungan sialang tidak ditemukan spesies asing. Sebanyak 10 spesies (76,9%) memiliki peran ekologis sebagai penutup tanah, pengendali erosi, penyubur tanah, sumber pakan ternak dan satwa liar, serta biopestisida nabati. Seluruh spesies yang teridentifikasi juga memiliki potensi pemanfaatan ekonomi, terutama sebagai tanaman obat, pangan, pakan ternak, pestisida nabati, dan bahan baku kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan tumbuhan asing di kawasan NKT perlu menerapkan pendekatan adaptif berbasis risiko dengan mempertimbangkan tingkat invasivitas, fungsi ekologis, dan nilai ekonomi masing-masing spesies.   Kata kunci: keanekaragaman hayati, nilai konservasi tinggi, perkebunan kelapa sawit, tumbuhan asing, tumbuhan invasif