Ken Siwi
Physiotherapy Bachelor Program, Faculty Of Health Sciences, Universitas Muhammadiyah Surabaya

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

OPTIMASI DOSIS RESISTANCE EXERCISE BERDASARKAN DIAGRAM HOLTEN UNTUK MANAJEMEN TERAPI LATIHAN OSTEOARTHRITIS LUTUT DI POLI REHABILITASI MEDIK RSUD HAJI PEMPROV JAWA TIMUR Siwi, Ken; Waritsu, Cakra; Rahayu, Rahayu; Widodo, Eko; Shihaniati, Shihaniati; Tridiantoro, Dedy; Fahruda, Ansarul; Kirana, Anisha Alsy
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.47493

Abstract

Osteoartritis (OA) di lutut menyebabkan lebih banyak kecacatan dengan keluhan utama keterbatasan gerakan dan aktivitas. Keluhan lain dari OA lutut, seperti nyeri, kaku dan otot lemah.: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh resistance exercise dengan 3 dosis yang berbeda yaitu LRE (Low Resistance Exercise), MRE (Moderate Resistance Exercise) dan HRE (High Resistance Exercise) serta menentukan dosis yang paling efektif dalam manajemen terapi latihan penderita osteoarthritis lutut untuk menurunkan nyeri, meningkatkan kemampuan fungsional, meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.: Penelitian ini dilakukan di poli rehabilitasi medik RSUD Haji Pemprov Jawa Timur dengan responden penderita osteoarthritis lutut sejumlah 28 orang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimental dengan rancangan penelitian post test only controlled group design. Responden terbagi menjadi empat kelompok yaitu kelompok kontrol, dan tiga kelompok perlakuan. Hasil Penelitian menunjukan bahwa pemberian latihan resistance exercise berdasarkan diagram holten terbukti berpengaruh pada manajemen nyeri, kekuatan otot dan ketahanan otot pada penderita osteoarthritis lutut. Keluhan nyeri didapati pada dosis high lebih efektif untuk menunrunkan keluhan nyeri. Pada kekuatan otot didapati dosis latihan high berpengaruh secara signifikan untuk meningkatkan kekuatan otot. Pada ketahanan otot didapati dosis latihan moderate berpengaruh secara signifikan untuk meningkatkan ketahanan otot.
Multicomponent Exercise Program (Mepfs) to Maintain the Quality of Life For Chemotherapy Patients: Systematic Literature Review Fahmi, Dzakiyatul; Siwi, Ken
Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram Vol. 15 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan YARSI Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chemotherapy is a therapy that is often used in cancer treatment, and causes many side effects of treatment symptoms and psychological stress. Various complementary therapy options can be chosen by chemotherapy patients to maintain quality of life and chemotherapy symptom management, one of which is using the Multicomponent Exercise Program (MEPFS) which needs to be developed to be applied to cancer patients with chemotherapy in Indonesia. The purpose of this study was to develop MEPFS therapy in cancer patients with chemotherapy. This quantitative study with the type of the review develops MEPFS therapy in chemotherapy patients. This study is part of the development of MEP therapy, using the Systematic Literature Review (SLR) method to translate, accumulate and synthesize the results of previous studies on MEP therapy that affect the quality of life of chemotherapy patients. The eligible criteria for this study were articles published in the indexed journal databases Pubmed, Sage and Science Direct, English, observational and experimental studies. Journals published in the period 2019-2023. From the search results, 220 articles were obtained from 3 journal databases, of which 786 articles were excluded because they were duplicated, did not comply with the inclusion and were not relevant so that there were 7 relevant articles and further translation processes were carried out. The analysis showed that the performance scale using ECOG-PS is a valid screening used (p 0.047) before chemotherapy patients undergo MEPFS exercise therapy with a minimum score of ECOG £1. Respondents who will undergo MEPFS therapy will combine aerobic exercise and weight training with a total duration of 40 minutes. The exercise consists of 3 phases with a composition of a warm-up phase (5 minutes), a main exercise phase (30 minutes) and a cool-down phase (5 minutes). The main exercise phase is divided into aerobic exercise (can be with a treadmill, walking or jogging on the spot) for 15 minutes, and weight training using dumbbells/theraband for 15 minutes. MEPFS therapy is recommended for cancer patients undergoing chemotherapy. ABSTRAK Kemoterapi merupakan salah satu terapi yang sering digunakan dalam pengobatan kanker, dan menimbulkan banyak efek samping gejala pengobatan dan stres psikologis. Berbagai pilihan terapi komplementer dapat dipilih oleh pasien kemoterapi untuk menjaga kualitas hidup dan manajemen gejala kemoterapi, salah satunya dengan menggunakan Multicomponent Exercise Program (MEPFS) yang perlu dikembangkan untuk diaplikasikan pada pasien kanker dengan kemoterapi di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan terapi  MEPFS pada pasien kanker dengan kemoterapi. Penelitian kuantitatif dengan metode SLR ini mengembangkan terapi MEPFS pada pasien kemoterapi. Penelitian ini merupakan bagian dari pengembangan terapi MEP, dengan menerjemahkan, mengumpulkan dan mensintesiskan hasil penelitian sebelumnya tentang terapi MEP yang mempengaruhi kualitas hidup pasien kemoterapi. Kriteria kelayakan penelitian adalah artikel yang dipublikasikan pada database jurnal terindeks Pubmed, Sage dan Science Direct, berbahasa Inggris, penelitian observasional dan eksperimental. Jurnal yang dipublikasikan pada periode 2019-2023. Dari hasil penelusuran diperoleh 220 artikel dari 3 database jurnal, yang mana 786 artikel dikeluarkan karena terduplikasi, tidak sesuai inklusi dan tidak relevan sehingga terdapat 7 artikel yang relevan dan dilakukan proses translasi lebih lanjut. Hasil analisis menunjukkan bahwa skala kinerja menggunakan ECOG-PS merupakan skrining yang valid digunakan (p 0,047) sebelum pasien kemoterapi menjalani terapi latihan MEPFS dengan skor minimal ECOG £1. Responden yang akan menjalani terapi MEPFS akan mengkombinasikan latihan aerobik dan latihan angkat beban dengan total durasi 40 menit. Latihan terdiri dari 3 fase dengan komposisi fase pemanasan (5 menit), fase latihan utama (30 menit) dan fase pendinginan (5 menit). Fase latihan utama dibagi menjadi latihan aerobik (dapat dengan treadmill, jalan kaki atau jogging di tempat) selama 15 menit, dan latihan angkat beban menggunakan dumbel/theraband selama 15 menit. Terapi MEPFS dianjurkan bagi pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Kemoterapi merupakan salah satu terapi yang sering digunakan dalam pengobatan kanker, dan menimbulkan banyak efek samping gejala pengobatan dan stres psikologis. Berbagai pilihan terapi komplementer dapat dipilih oleh pasien kemoterapi untuk menjaga kualitas hidup dan manajemen gejala kemoterapi, salah satunya dengan menggunakan Multicomponent Exercise Program (MEPFS) yang perlu dikembangkan untuk diaplikasikan pada pasien kanker dengan kemoterapi di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan terapi  MEPFS pada pasien kanker dengan kemoterapi. Penelitian kuantitatif dengan jenis scoping review ini mengembangkan terapi MEPFS pada pasien kemoterapi. Penelitian ini merupakan bagian dari pengembangan terapi MEP, dengan menggunakan metode scoping review untuk menerjemahkan, mengumpulkan dan mensintesiskan hasil penelitian sebelumnya tentang terapi MEP yang mempengaruhi kualitas hidup pasien kemoterapi. Kriteria inklusi penelitian ini adalah artikel yang dipublikasikan pada database jurnal terindeks Pubmed, Sage dan Science Direct, berbahasa Inggris, penelitian observasional dan eksperimental. Jurnal yang dipublikasikan pada periode 2019-2023. Dari hasil penelusuran diperoleh 220 artikel dari 3 database jurnal, yang mana 786 artikel dikeluarkan karena terduplikasi, tidak sesuai inklusi dan tidak relevan sehingga terdapat 7 artikel yang relevan dan dilakukan proses translasi lebih lanjut. Hasil analisis menunjukkan bahwa skala kinerja menggunakan ECOG-PS merupakan skrining yang valid digunakan (p 0,047) sebelum pasien kemoterapi menjalani terapi latihan MEPFS dengan skor minimal ECOG £1. Responden yang akan menjalani terapi MEPFS akan mengkombinasikan latihan aerobik dan latihan angkat beban dengan total durasi 40 menit. Latihan terdiri dari 3 fase dengan komposisi fase pemanasan (5 menit), fase latihan utama (30 menit) dan fase pendinginan (5 menit). Fase latihan utama dibagi menjadi latihan aerobik (dapat dengan treadmill, jalan kaki atau jogging di tempat) selama 15 menit, dan latihan angkat beban menggunakan dumbel/theraband selama 15 menit. Terapi MEPFS dianjurkan bagi pasien kanker yang menjalani kemoterapi.
PENATALAKSANAAN PROGRAM TERAPI FISIK DADA PADA KASUS PNEUMOTORAKS YANG DISEBABKAN OLEH TUBERKULOSIS PARU Siwi, Ken
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 1 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v1i1.12626

Abstract

Pneumotoraks disebabkan oleh tuberkulosis paru merupakan suatu komplikasi. Keadaan ini terdapat pada proses pneumotoraks spontan sekunder dimana terjadi ruptur lesi paru yang terletak dekat permukaan pleura sehingga udara inspirasi memperoleh akses ke rongga pleura. Problem yang terjadi pada penderita pneumotoraks yang disebabkan oleh tuberkulosis paru diantaranya sesak nafas, penurunan mobilitas atau daya kembang dari sangkar toraks, postur yang buruk, pola nafas yang tidak normal dengan gerakan dada saat bernafas asimetris,  terjadi spasme pada otot-otot bantu pernafasan, terjadi penurunan kekuatan otot, serta penurunan endurance berupa penurunan toleransi aktivitas.Tindakan yang harus dilakukan oleh fisioterapi pada pasien yang mengalami pneumotoraks yang disebabkan oleh tuberkulosis paru adalah dengan memberikan program terapi fisik dada diantaranya breathing exercise dengan menggunakan teknik breathing control, purse-lip breathing, deep breathing, dan segmental breathing, serta latihan mobilisasi sangkar toraks. Selain terapi fisik dapat ditambahkan pula program latihan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien untuk menangani permasalahan yang dialami pasien, program yang dapat ditambahkan diantaranya massase pada otot-otot bantu pernafasan yang mengalami spasme, koreksi postur, latihan gerak aktif pada anggota gerak atas dan bawah, latihan  penguatan otot (strengthening) pada anggota gerak atas dan bawah , latihan endurance, serta edukasi pasien. Program latihan fisioterapi yang diberikan kepada pasien tersebut akan memberikan dampak yang baik bagi kesembuhan pasien dan dapat meningkatkan kemandirian pasien sehingga pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan semandiri mungkin.Hasil yang didapat setelah pasien melakukan program fisioterapi sebanyak 6 adalah pasien tidak lagi merasakan sesak nafas, terjadi peningkatan oksigenasi dan kapasitas fungsional paru, gerakan nafas dada sisi kiri dan kanan sudah lebih simetris, spasme pada otot sternocleidomastoideus, upper trapezius, dan pectoralis major berkurang, mobilitas sangkar toraks meningkat dimana sebelumnya selisih pada ketiga area yang diukur sebesar 2cm bertambah menjadi 3,5cm pada ketiga area tersebut tetapi nilai mobilitas sangkar toraks masih kurang dari angka normal yaitu 4-7cm, postur pasien menjadi lebih baik, tes faal paru sederhana meningkat dimana terdapat peningkatan hasil tes hitung yang sebelumnya pasien mampu menghitung hingga 20 menjadi hingga 23 tetapi nilai hasil hitung masih dibawah nilai normal 25, terdapat peningkatan penggunaan trifflo yang sebelumnya pasien hanya mampu menghisap sebanyak 5 kali hingga 2 bola terangkat selama 2 detik, kini pasien mampu menghisap sebanyak 10 kali hingga 2 bola terangkat dan bola ketiga sedikit terangkat selama 6 detik, serta tes indeks barthel menunjukan kemajuan dimana sebelumnya pasien hanya memiliki nilai total 15, kini pasien lebih mandiri dengan jumlah nilai 19 tetapi masih dalam kategori ketergantungan ringan.
STUDI KASUS : PROGRAM FISIOTERAPI PADA KASUS POST ORIF TOTAL HIP REPLACEMENT Kurniawan, Rizky; Siwi, Ken; Waritsu, Cakra; Romadhona, Nurul Faj'ri; Mansyah, Alika
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v3i1.17488

Abstract

Latar belakang : Arthroplasty merupakan prosedur bedah penggantian sendi (joint replacement) untuk mengembalikan fungsi sendi yang telah menurun. Arthroplasty pada regio ekstremitas bawah yang sering dilakukan adalah Total Hip Replacement (THR) dan Total Knee Replacement (TKR), Osteoarthritis merupakan penyebab terbanyak penyakit sendi sehingga sering dilakukan THR dan TKR. Tujuan : Untuk mengetahui penatalaksanaan Fisioterapi pada pasien dengan post op Total Hip Replacement.  Metode : Metode penelitian yang digunakan pada studi kali ini dengan menggunakan case study. Case study dilakukan dikota Jakarta pada seorang pasien yang memperoleh pelayanan fisioterapi mandiri bernama Ny.W, berusia 46 tahun dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga dengan kondisi total hip replacement. Hasil : Setelah diberikan intervensi fisioterapi pada didapatkan evaluasi berupa adanya peningkatan kemampuan fungsional pasien antara sebelum dilakukannya operasi dengan setelah dilakukannya operasi. Dan meningkatkan kepercayaan diri pasien untuk mampu berjalan mandiri.
PROGRAM FISIOTERAPI PADA KASUS ISCHIALGIA BILATERAL ET CAUSA SPONDYLOLISTHESIS Kurniawan, Rizky; Siwi, Ken; Abdullah, Khabib; Gerhanawati, Ifa; Arafiq, Mutiara Firdaus
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v3i1.17547

Abstract

Latar belakang : Ischialgia (sciatica) adalah sindrom yang ditandai dengan nyeri yang menyebar dari punggung ke bokong dan anggota gerak bawah. Beberapa nyeri punggung terkait dengan nyeri akar saraf. Pasien umumnya mengeluh nyeri dan mengalami  keterbatasan aktivitas fungsional. Modalitas Microwave diathermy (MWD) dan terapi latihan dapat membantu mengatasi keluhan tersebut. Tujuan : Untuk mengetahui efektivitas Microwave diathermy (MWD) dan terapi latihan dalam pengurangan nyeri serta meningkatkan kemampuan fungsional pasien. Metode : Metode penelitian yang digunakan pada studi kali ini dengan menggunakan case study. Case study dilakukan dengan pelayanan fisioterapi mandiri di kota Jakarta pada seorang pasien bernama Ny. P, 67 tahun dengan diagnosa medis Ischialgia Bilateral et causa Spondylolisthesis. Hasil : Setelah diberikan intervensi fisioterapi didapatkan Microwave Diathermy (MWD) dan terapi latihan William Flexion Exercise dapat mengurangi keluhan pada pasien Ischialgia.
PROGRAM FISIOTERAPI PADA KASUS POST ORIF 1/3 PROKSIMAL HUMERUS Siwi, Ken; Kurniawan, Rizky; Putri, Fadma; Swandari, Atik; Wibisono, Muhammad Rizqi
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v3i1.17617

Abstract

Latar belakang : Fraktur ekstremitas atas sering terjadi dan menyerang semua kelompok umur. Pada orang dewasa muda, fraktur ekstremitas atas biasanya oleh trauma seperti kecelakaan kendaraan bermotor, sedangkan pada orang dewasa yang lebih tua dengan perubahan osteoporosis, fraktur ini biasanya terjadi karena bertahan dari jatuh. Modalitas yang diberikan pada kondisi ini yaitu Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan Terapi Latihan untuk mengoptimalkan kapasitas fisik dan fungsional pasien. Tujuan : Untuk mengetahui efektivitas TENS dan terapi latihan dalam penanganan fisioterapi pada kasus post orif 1/3 proksimal humerus. Metode : Metode penelitian yang digunakan pada studi kali ini dengan menggunakan studi kasus. Studi kasus dilakukan Studi kasus dilakukan pada pasien pelayanan fisioterapi mandiri di kota Surabaya bernama Tn.R, berusia 27 tahun dengan kondisi post ORIF fraktur 1/3 proksimal humerus Hasil : Setelah dilakukan program fisioterapi didapatkan hasil terdapat penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot, LGS, dan fungsional indeks dari sendi bahu.
PENGARUH LATIHAN PENGUATAN ABDUKTOR HIP TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA WANITA DENGAN OSTEOARTHRITIS LUTUT Wicaksono, Martinus Bagus Eko; Swandari, Atik; Siwi, Ken
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v2i2.19676

Abstract

Latar belakang:  Penderita OA lutut pada umumnya mengalami nyeri dan kekakuan pada sendi lutut. Biomekanik saat berjalan dipercaya menjadi salah satu faktor pencetus nyeri pada penderita OA lutut, dimana modifikasi biomekanika penting untuk dilakukan dan salah satunya memperkuat otot abduktor hip. Tujuan:  Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan penguatan otot abduktor hip terhadap penurunan nyeri pada wanita dengan OA lutut Metode: Penelitian ini menggunakan one group with control design dengan subjek wanita OA berjumlah 10 orang. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 subjek dan melakukan intervensi selama 15 sesi pertemuan atau 3 kali dalam seminggu selama 5 minggu serta dosis yang telah ditentukan. Kelompok I mendapatkan latihan penguatan otot abduktor dan terapi standar dari tempat praktik fisioterapi surabaya, kelompok II merupakan kelompok kontrol yang mendapatkan terapi standar dari tempat praktik fisioterapi surabaya meliputi latihan penguatan otot quadricep dan TENS. Alat ukur nyeri yang digunakan NPRS (numerical pain rating scale). Hasil uji analisis statistik menggunakan Wilcoxon .Hasil: hasil uji analisis statistik kedua kelompok berbeda bermakna, namun kelompok 1 lebih besar terjadi penurunan nyeri lutut Kesimpulan: Terdapat pengaruh latihan  penguatan otot abduktor hip terhadap penurunan nyeri pada wanita dengan OA Lutut.
KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN ANALISA NYERI OTOT PADA PENYINTAS COVID-19 Siwi, Ken; Sameeh Abu Hilail, Hamzah
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v3i1.21727

Abstract

Latar Belakang : Sejak wabah pandemi Covid-19 telah terjadi ledakan kasus infeksi di seluruh dunia yang signifikan dan memiliki efek sistemik pada berbagai organ-organ tubuh termasuk otot. Kerusakan otot yang dapat terjadi pada pasien Covid-19 mencakup berbagai tingkat keparahan, dari nyeri otot ringan hingga kondisi miopati yang parah. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik individu dan analisa nyeri otot pada penyintas Covid-19. Metode : penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah penyintas Covid-19 yang memiliki keluhan nyeri otot dibeberapa bagian tubuhnya sejak terkonfirmasi Covid-19 hingga sudah sembuh dengan jumlah sampel sebanyak 456 orang yang berada di Indonesia dan Palestina. Pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan data primer melalui kuesioner google form yang bisa diakses dan diisi oleh responden. Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan Microsoft Office Excel untuk melihat distribusi penyakit penyerta, gejala, tingkat keparahan dari lokasi isolasi, kelemahan tubuh, timbulnya nyeri dan kebiasaan olahraga. Hasil : Penyintas Covid-19 yang memiliki keluhan nyeri otot pada beberapa bagian tubuhnya sebagian besar masuk dalam kategori berat badan berlebih dan tidak memiliki penyakit penyerta. Pada saat terkonfirmasi positif Covid-19 sebagian besar responden bergejala dan melakukan isolasi mandiri dirumah. Pasca sembuh dari Covid-19 sebagian besar responden merasakan tubuhnya menjadi melemah serta mudah lelah, dan didapati bahwa hampir seluruh responden tidak rajin melakukan olahraga. Kesimpulan : Terdapat berbagai karakteristik penyintas Covid-19 dengan keluhan nyeri otot.
ANALISIS EFEKTIVITAS HUKUM KEWENANGAN FISIOTERAPI DALAM PELAYANAN HOME CARE Handayani, Yuniar; Siwi, Ken
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v3i1.21729

Abstract

Latar Belakang : Kewenangan fisioterapi dalam pelayanan Home Care merupakan fondasi penting untuk memberikan pelayanan yang efektif dan berkelanjutan. Meskipun beberapa regulasi dan undang-undang telah ada, tantangan nyata muncul dalam memastikan bahwa kewenangan fisioterapi dapat diimplementasikan secara efektif di konteks Home Care. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis menyeluruh terhadap efektivitas hukum yang mengatur kewenangan fisioterapi dalam pelayanan Home Care. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode pendekatan yuridis sosiologis. Penelitian ini dilaksanakan di Palembang dan Surabaya dengan jumlah responden sebanyak 25 fisioterapis yang melakukan pelayanan homecare. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisioner kemudian dianalisa dengan distribusi frekuensi analisis. Hasil : Hasil penelitian ini dapat diinterpresentasikan bahwa sebagian besar responden menyatakan efektivitas hukum pelaksanaan kewenangan fisioterapis adalah efektif. Kesimpulan : Efektivitas hukum pelaksanaan kewenangan fisioterapis dalam pelayanan homecare di Surabaya dan Palembang adalah efektif. Hal ini dapat dibuktikan dengan indikator-indikator sebagai berikut: 1) Efektifnya pelaksanaan assesmen fisioterapi. 2) Efektifnya pelaksanaan diagnosis fisioterapi. 3) Efektifnya pelaksanaan perencanaan intervensi fisioterapi. 4) Efektifnya pelaksanaan intervensi fisioterapi. 5) Efektifnya pelaksanaan evaluasi fisioterapi.
PENGARUH MODALITAS TENS DAN PELVIC TILTING EXERCISE TERHADAP PENURUNAN NYERI PUNGGUNG BAWAH Gerhanawati, Ifa; Siwi, Ken
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v3i1.21737

Abstract

Latar Belakang : Low Back Pain dapat menurunkan tingkat produktivitas kerja, 80% dari populasi dunia pernah mengalami Low back pain, terutama usia 30 sampai 50 tahun. Amerika Serikat mengeluarkan dana sebesar 15 juta dolar per tahun untuk mengatasi problematik nyeri akibat Low Back Pain. Penyebab Low back Pain sangat banyak di antaranya adalah trauma. Trauma yang menyebabkan pergeseran tulang vertebra lumbal ke arah depan yang disebut Spondylolithesis akan menyebabkan seseorang mengeluh nyeri dalam menggerakan punggungnya yang mengalami trauma juga dapat menimbulkan spasme otot punggung bawah dan keterbatasan gerak sendi lumbosakral.Dengan mengurangi nyeri dan spasme otot lumbal dapat membuat tubuh lebih mudah dalam melakukan suatu gerakan dengan nyaman dan mencegah cedera serta meningkatkan lingkup gerak sendi.pemberian Tens dan latihan pelvic tilting. Tujuan : Membuktikan pengaruh pemberian TENS dan latihan pelvic tilting terhadap penurunan nyeri otot punggung bawah. nyeri punggung bawah di ukur dengan VAS(visual analog scale). Metode : penelitian eksperimental lapangan subyek wanita usia 30-50 tahun. menggunakan rancangan pre test – post test grup design. Variabel penelitian ini menggunkan variabel bebas dengan latihan knee to chest dan pelvic tilting, sedangkan variabel terikat yaitu nyeri lumbal. Hasil : uji bebas kelompok 1 VAS (p=0,007) MST (p=0,007), Kelompok 2 VAS (p=0,017) MST (p=0,002), Kelompok 3 VAS (p=0,000) MST (p=0,005), uji beda antar kelompok K1-K2 VAS (p=0,516) MST (p=0,600), K1-K3 VAS (p=0,011) MST (p=0,056), K2-K3 VAS (p=0,003) MST (P=0,014). Kesimpulan : Dari ketiga kelompok tersebut hasil yang diperoleh bahwa untuk kelompok dengan aplikasi TENS latihan pelvic tilting sangat berpengaruh dibandingkan dengan melakukan salah satu saja latihan gerakan tersebut.