Qadir, Abdul
Departemen Agronomi Dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Bogor Agricultural University), Jl. Meranti, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Buletin Agrohorti

Kemunduran Benih Kedelai Akibat Pengusangan Cepat Menggunakan Alat IPB 77-1 MM dan Penyimpanan Alami Syarifa Mustika; Muhamad Rahmad Suhartanto; Abdul Qadir
Buletin Agrohorti Vol. 2 No. 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.091 KB) | DOI: 10.29244/agrob.2.1.1-10

Abstract

Kemunduran benih ditandai dengan penurunan vigor, viabilitas, dan peningkatan asam lemak bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penurunan viabilitas, vigor dan peningkatan asam lemak bebas benih kedelai Varietas Anjasmoro  dan Wilis antara benih yang telah diusangkan menggunakan Alat Pengusangan Cepat (APC) IPB 77-1 MM dengan penyimpanan alami dan untuk mengetahui hubungan antara viabilitas dan vigor dengan asam lemak bebas. Penelitian terdiri atas dua percobaan yaitu penyimpanan alami dan pengusangan. Penyimpanan alami terdiri atas 5 waktu penyimpanan yaitu 0, 2, 4, 6, 8 minggu dan pengusangan  terdiri atas 5 waktu pengusangan 0, 15, 30, 45, 60 menit. Hasil menunjukkan bahwa adanya kesesuaian (korelasi nyata) laju penurunan viabilitas dan vigor antara penyimpanan alami selama 8 minggu dengan pengusangan selama 60 menit, sedangkan pada asam lemak bebas tidak adanya kesesuaian (korelasi tidak nyata) antara penyimpanan alami selama 8 minggu (diasumsikan setelah penyimpanan selama 8 minggu terjadi peningkatan asam lemak bebas) dengan pengusangan selama 30 menit (Anjasmoro) dan 15 menit (Wilis). Viabilitas dan vigor dengan asam lemak bebas berkorelasi negatif, artinya semakin tinggi asam lemak bebas maka viabilitas dan vigor semakin rendah.
Pengujian Toleransi Genotipe Padi (Oryza sativa L) terhadap Salinitas pada Stadia Perkecambahan Donny Arzie; Abdul Qadir; Faiza Chairani Suwarno
Buletin Agrohorti Vol. 3 No. 3 (2015): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.446 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v3i3.15817

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode yang sederhana, cepat dan murah untuk menguji toleran garam dari genotipe padi pada tahap perkecambahan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Institut Pertanian Bogor dan Stasiun Percobaan Rice Research di Muara, Bogor pada Juni 2010 sampai Januari 2011. Berkecambah benih dilakukan di atas kertas merang dengan metode UKDdp menggunakan 4000 ppm NaCl selama 2 minggu adalah metode terbaik untuk membedakan varietas toleran dan rentan pada kondisi laboratorium. Metode ini mudah diaplikasikan, membutuhkan waktu yang singkat dan efisien dalam ruang. Sebanyak 40 genotipe padi kemudian diuji untuk toleransi salinitas dengan metode ini dan metode standar. Dalam metode standar, bibit berumur dua minggu ditransplantasikan ke media tanah salin dengan 4000 ppm NaCl selama 6 minggu di rumah kaca. Variabel persentase daun mati dapat untuk membedakan 7 genotipe padi toleran, 19 genotipe agak toleran, 14 genotipe agak rentan, dan 4 rentan. Lalan adalah genotipe yang paling rentan terhadap kondisi salin, diikuti oleh B11844-MR-23-4-6, B13133-9-MR-3-KY-2, dan B13136-3-MR-1-KY-5. Koefisien korelasi yang rendah antara variabel toleransi salinitas di laboratorium dan di rumah kaca, mungkin disebabkan oleh tahap pertumbuhan yang berbeda.
Pengolahan Tandan Benih Kelapa Sawit (Elaeis guiinensis Jacq) di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat, Sumatera Utara Benny Julyan; Abdul Qadir; . Supijatno
Buletin Agrohorti Vol. 5 No. 3 (2017): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.973 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v5i3.16482

Abstract

Kegiatan penelitian dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Marihat, Sumatera Utara mulai dari bulan Februari sampai Juli 2011. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman tentang produksi benih dan untuk penelitian viabilitas benih berdasarkan tempat benih dalam tandan buah kelapa sawit. Data primer diperoleh dengan dua hal, berpartisipasi dalam empat Divisi SUS-BHT (Satuan Usaha Strategis - Bahan Tanaman) seperti Breeding, Pohon Induk, Produksi Benih dan Quality Control. Yang kedua adalah program penelitian tentang kelayakan tetrazolium dan uji benih berkecambah berdasarkan tempat benih dalam tandan buah. Pengolahan tandan bibit kelapa sawit terdiri dari memotong, fermentasi, membelah buah, mengupas, mematahkan dormansi, dan mengecambahkan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bagian terbaik untuk membuat benih yang baik adalah di bagian tengah tandan buah.
Penentuan Metode Pematahan Dormansi Benih Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) Aksesi Cilacap Nur Melasari; Tatiek Kartika Suharsi; Abdul Qadir
Buletin Agrohorti Vol. 6 No. 1 (2018): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.851 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v6i1.16824

Abstract

Kecipir merupakan tanaman yang mempunyai banyak manfaat dan berpotensi untuk dilestarikan. Karakteristik benih kecipir yang impermeabel terhadap air dan gas merupakan faktor yang diduga menyebabkan kecipir sulit untuk berkecambah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efektivitas metode pematahan dormansi dan pengaruhnya terhadap struktur benih kecipir. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB dan Laboratorium Silvikultur SEAMEO BIOTROP selama 6 bulan. Metode pematahan dormansi dengan perlakuan larutan asam kuat HNO3 5% selama 10 menit dengan nilai daya berkecambah 93.33% dan keserempakan tumbuh 86.67% merupakan nilai yang nyata lebih baik dibanding kontrol sehingga metode ini dapat meningkatkan persentase daya berkecambah dan keserempakan tumbuh benih kecipir. Perlakuan larutan asam kuat HNO3 10% selama 15 menit dengan nilai indeks vigor 56.67% merupakan perlakuan yang dapat meningkatkan persentase indeks vigor benih kecipir. Perlakuan suhu 50 0C selama 10 menit dengan nilai kecepatan tumbuh 14.79% etmal-1 merupakan perlakuan yang dapat meningkatkan kecepatan tumbuh dan menghasilkan kecambah dengan akar yang lebih panjang dibandingkan kontrol maupun perlakuan lain. Perlakuan amplas tidak dapat meningkatkan viabilitas maupun vigor benih, bahkan menimbulkan pertumbuhan cendawan yang menyebabkan kemunduran benih.
Uji Tetrazolium pada Benih Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) sebagai Tolok Ukur Viabilitas Lia Irma Fatmawati; Tatiek Kartika Suharsi; Abdul Qadir
Buletin Agrohorti Vol. 6 No. 2 (2018): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.197 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v6i2.19093

Abstract

Ketersediaan benih bermutu serta informasi mutu benih kecipir masih terbatas. Hal tersebut bisa diatasi melalui proses pengujian mutu benih. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh prosedur perlakuan pra test yang sesuai untuk pengujian tetrazolium benih kecipir, memperoleh metode pengusangan yang sesuai untuk benih kecipir, memperoleh pola pewarnaan pada embrio sebagai indikasi tidak langsung untuk mendeteksi viabilitas benih kecipir. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB pada bulan Agustus sampai Desember 2016. Percobaan pertama memperoleh waktu perendaman aquades yang efektif pada benih kecipir yaitu 24 jam, memperoleh konsentrasi tetrazolium yang efektif yaitu 0,3%, memperoleh waktu perendaman tetrazolium yang efektif yaitu dua jam. Percobaan kedua memperoleh metode pengusangan, yaitu pengusangan secara kimia dan dipilih 5 waktu penderaan yang menghasilkan viabilitas secara gradual yaitu 0x5, 2x5, 4x5, 6x5, dan 8x5 menit. Percobaan ketiga pola pewarnaan pada embrio benih kecipir belum bisa digunakan untuk mengevaluasi viabilitas benih kecipir karena diduga kriteria pola yang dibuat terlalu sempit.
Pertumbuhan dan Pembungaan Tanaman Koro Pedang (Canavalia ensiformis) pada Kondisi Ternaungi dan Kombinasi Pemupukan Berbeda Mutthiah Putri Saragih; Tatiek Kartika Suharsi; Abdul Qadir
Buletin Agrohorti Vol. 6 No. 3 (2018): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.038 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v6i3.21106

Abstract

Kebutuhan masyarakat yang tinggi terhadap kedelai, sedangkan produktivitas kedelai di Indonesia yang rendah, mengharuskan Indonesia mengimpor kedelai dalam jumlah besar. Beberapa komoditi yang berpotensi  menjadi pendamping  kedelai,  diantaranya  koro  pedang.  Kandungan  protein  yang tinggi  dan kemampuan tumbuh pada kondisi ternaungi menjadi segi positif dari koro pedang. Penelitian tentang tingkat naungan  yang  dapat  ditolerir  tanaman  koro  pedang  didukung  kombinasi  pempukan yang  baik,  perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik pertumbuhan dan pembungaan tanaman koro pedang pada kondisi ternaungai dan mendapatkan informasi mengenai pemupukan terbaik. Penelitian dilaksanakan di Desa Purwasari, Dramaga, Bogor pada bulan Mei hingga November 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terbagi dengan tiga ulangan. Naungan sebagai petak utama yang terdiri dari tanpa naungan, naungan 10% dan naungan 20%. Kombinasi pemupukan sebagai anak petak terdiri dari urea 50 kg ha-1+SP-36 100 kg ha-1+KCl 75 kg ha-1, pupuk organik dan urea 25 kg ha-1+SP-36 50 kg ha-1 +KCl 37,5 kg ha-1+ pupuk organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naungan 10% menghasilkan tanaman dengan tinggi tanaman 18,35 cm dan 94,80 cm, jumlah daun trifoliate 11,75 helai, jumlah cabang 2,47 cabang, jumlah infloresen per tanaman 21,54 infloresen dan jumlah kuncup bunga per infloresen 1 kuncup bunga.  Pemupukan terbaik untuk tanaman koro pedang adalah 25 kg ha-1 urea + 50 kg ha-1 SP-36 + 37,5 kg ha-1 KCl + pupuk organik.
Perlakuan Hidrasi-Dehidrasi terhadap Vigor Dua Lot Benih Kacang Bambara (Vigna subterranean L. Verdc.) Tiarlinda Situmorang; Abdul Qadir; Maryati Sari
Buletin Agrohorti Vol. 11 No. 1 (2023): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v11i1.46578

Abstract

Ketersediaan benih yang berkualitas merupakan hal yang penting dalam peningkatan produktivitas kacang Bambara, namun terdapat kendala dalam proses penyediannya salah satunya yaitu deteriorasi (kemunduran) pada benih yang telah mengalami penyimpanan. Hidrasi-dehidrasi merupakan salah satu metode yang diharapkan dapat meningkatkan vigor dan viabilitas benih. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh hidrasi-dehidrasi sebagai perlakuan invigorasi terhadap vigor dan viabilitas dua lot benih kacang bambara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Agustus 2019 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikutura, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdir atas 2 faktor. Faktor pertama yaitu benih bambara lanras Tasikmalaya yang terdiri atas 2 taraf. Taraf pertama yaitu lot 1 dipanen Maret 2019, lot 2 dipanen Oktober 2017. Faktor kedua yaitu hidrasi-dehidrasi terdiri atas 5 taraf, yaitu kontrol, perendaman dalam air selama 12 jam lalu dikeringkan 4 jam pada suhu 28-30 oC, perendaman dalam air selama 12 jam lalu dikeringkan 4 jam pada suhu 38-40 oC, perendaman dalam air selama 12 jam+aerator lalu dikeringkan 4 jam pada suhu 28–30 oC, perendaman dalam air selama 12 jam+aerator lalu dikeringkan 4 jam pada suhu 38-40 oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan hidrasi-dehidrasi mampu memperbaiki vigor benih secara nyata yang ditunjukkan oleh indeks vigor yang meningkat dari 2% menjadi 27% dan kecepatan tumbuh meningkat dari 9% KN etmal-1 menjadi 11% KN etmal-1pada taraf perlakuan perendaman dalam air selama 12 jam lalu dikeringkan 4 jam dengan suhu 38-40 oC. Kata kunci: kemunduran, perendaman, bermutu, deteriorasi benih, aerator