Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Comparative Analysis of Growth Models for Lettuce (Lactuca sativa) in a Plant Factory under Red-Blue LED Treatment Putra, Guyup Mahardhian Dwi; De Side, Gagassage Nanaluih; Setiawati, Diah Ajeng; Kurniati, Nia
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol. 14 No. 4 (2025): August 2025
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtepl.v14i4.1452-1464

Abstract

The growth of lettuce (Lactuca sativa) in controlled environments such as Plant Factories is highly influenced by lighting, particularly under red-blue (RB) LED treatment. Accurate growth prediction models are essential for optimizing yield. This study compared four models linear, polynomial, logistic, and Gompertz to determine the best predictor of leaf area expansion. Leaf area measurements over 30 days were analyzed using Easy Leaf Area software. Results showed that the Gompertz model consistently outperformed others with the lowest Mean Absolute Percentage Error (MAPE) of 14.55% (slow), 39.51% (medium), and 29.13% (high), and the highest R² values of 0.99 across all growth categories. In contrast, linear and polynomial models exhibited extremely high MAPE values, exceeding 300% in most cases. The study concludes that the Gompertz model is the most accurate and biologically realistic for modeling lettuce growth in Plant Factory systems, offering robust predictive capability for sustainable precision agriculture.
MODIFIKASI IKLIM MIKRO DENGAN OTOMATISASI SISTEM IRIGASI TETES PADA TANAMAN SELEDRI (Apium Graveolens A) Dewi, Endang Purnama; Sumarsono, Joko; Abdullah, Sirajuddin Haji; Priyati, Asih; Amaliah, Wenny; Dwi Putra, Guyup Mahardhian; De Side, Gagassage Nanaluih
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 28 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jtpa.28.2.162-172.2024

Abstract

Seledri atau Apium graveolens sudah sangat dikenal pemanfaatannya oleh masyarakat luas. Daun tanaman tersebut dikonsumsi sebagai lalapan dan penghias hidangan. Bijinya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyedap. Selain itu, ekstrak minyak seledri juga dapat digunakan sebagai obat.Penanaman seledri di areal lahan terbuka mengalami beberapa kendala diantaranya seledri merupakan varietas tanaman semusim yang sensitif terhadap kebutuhan air yang memiliki kondisi jenuh air dan kurang air. Pemberian air yang berlebihan atau kekurangan dapat membuat pertumbuhan tanaman seledri tidak optimal. Penerapan mikrokontroler pada sistem irigasi dapat memungkinkan dalam mengontrol pemberian air secara otomatis berdasarkan perintah yang diberikan. Selain masalah pemberian air, Perubahan iklim, suhu ekstrem, atau cuaca tidak stabil juga menjadi kendala tanaman seledri di lahan. Seledri lebih baik tumbuh pada suhu yang lebih sejuk, dan suhu ekstrem dapat mempengaruhi produksi tanaman. Pada lahan terbuka modifikasi iklim mikro dilakukan dengan memberikan mulsa sebagai penutup permukaan lahan sehingga mampu memberikan karakteristik yang berbeda terhadap unsur-unsur iklim mikro, yang meliputi, kelengasan tanah, suhu tanah, serta suhu dan kelembapan udara. Penelitian ini menunjukkan bahwa otomatisasi irigasi tetes dapat berfungsi dengan baik. Alat ini mampu membaca suhu udara (°C), kelembapan udara (%), dan suhu tanah (°C) menggunakan sensor SHT10 dan DS18b20. Data hasil pembacaan sensor dan kondisi servo berhasil disimpan secara real time oleh data logger RTC DS3231 dalam format file .csv. Semua data dan aktivitas alat dapat dimonitor melalui MQTT Dashboard. Kelengasan tanah tertinggi terdapat pada tanah dengan menggunakan mulsa jerami yaitu sebesar 32% pada pukul 18:4:9 sore hari, Suhu tanah tertinggi terjadi pada perlakuan tanpa mulsa pada pukul 12:00 di siang hari sebesar 33.5 oC, diikuti suhu tanah pada perlakuan mulsa plastik sebesar 32 oC dan suhu tanah pada perlakuan dengan mulsa jerami sebesar 29,6 oC. Suhu udara yang diperoleh pada penelitian adalah  25,93 ˚C dengan kelembapan 79,72 %. Dari hasil yang diperoleh di lapangan, seledri bisa tumbuh dengan optimal pada rentang suhu dan kelembapan tersebut.
Implementasi Teknologi Tepat Guna Insinerator dalam Pengelolaan Sampah Pertanian dan Domestik di Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat Joko Sumarsono; Amuddin; De Side, Gagassage Nanaluih; Endang Purnama Dewi
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 9 No 1 (2026): Januari - Maret 2026
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v9i1.14421

Abstract

Pakuan Village, Narmada Sub-district, West Lombok Regency, is an agrarian area with continuously growing tourism potential; however, it still faces serious challenges in managing agricultural and domestic waste. The common practices of uncontrolled disposal and open burning pose risks of environmental pollution, health problems, and a decline in the attractiveness of the village as a tourism destination. This community service activity aimed to enhance local community capacity in waste management through operational training on the use of an incinerator as an appropriate technology. The activities comprised an initial survey, educational sessions on waste characteristics and potential, hands-on training in incinerator operation, as well as mentoring and evaluation. The target participants were members of the Pakuan Village waste management team. The results demonstrated a significant improvement in participants’ understanding and skills in identifying waste types, applying standard operating procedures, and operating the incinerator safely and in an environmentally friendly manner. Evaluation results indicated that 90% of participants were categorized as having good to very good understanding of the operation and maintenance of the equipment. The implementation of the incinerator effectively reduced waste volume, minimized pollution risks, and supported environmental cleanliness in the village. Overall, this activity contributed to strengthening environmental awareness, empowering the community, and supporting the development of Pakuan Village as a sustainable agrarian and tourism village.