Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Deiksis Persona dan Deiksis Sosial dalam Bahasa Bali Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 3 No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v3i2.130

Abstract

Penulisan artikel tentang deiksis persona dan deiksis sosial dalam bahasa Bali ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai deiksis persona dan deiksis sosial dalam bahasa Bali dan mendeskripsikan penggunaan deiksis persona dan deiksis sosial tersebut dalam peristiwa percakapan sehari-hari. Penyajian hasil dalam penulisan artikel ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Maksudnya, paparan hasil disajikan apa adanya sesuai gejala yang diamati secara objektif dan disampaikan secara naratif verbal (tanpa statistik). Sementara itu, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi atau metode simak berbantuan penggunaan catatan lapangan. Hasilnya menunjukkan bahwa nama generik telah menjadi bagian dari deiksis persona. Walaupun nama diri hanya ditujukan kepada pemilik nama tersebut, tetapi tetap dikatakan sebagai deiksis persona. Nama diri mengacu kepada penutur atau petutur dalam konteks tertentu. Tidak menutup kemungkinan bahwa ada nama diri yang sama dimiliki pula oleh orang lain sehingga acuan nama diri tersebut pun akan berubah sesuai konteksnya.
Implikatur Percakapan Guru dan Siswa dalam Aktivitas Belajar-Mengajar Bahasa Bali di Sekolah Dasar Negeri 5 Ulakan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.164

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk implikatur fungsi implikatur percakapan guru dan siswa pada pembelajaran Bahasa Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dua ancangan, yaitu (1) ancangan pragmatik dan (2) etnografi komunikasi.Sumber data dalam penelitian ini adalah (1) percakapan dalam interaksi atau percakapan antara guru dan siswa di kelas dalam pembelajaran Bahasa bali, (2) konteks tuturan yang diperoleh melalui pengamatan dan pencatatan lapangan secara langsung. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, simpulan yang ditarik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Konstruksi kebahasaan IP pada tuturan guru, yakni konstruksi kebahasaan IP direktif. Konstruksi kebahasaan IP direktif yang berfungsi untuk menasihati, memerintah, dan meminta atau memohon menggunakan tuturan yang bermodus deklaratif dan interogatif. Sementara itu, bentuk atau konstruksi kebahasaan IP pada tuturan siswa, yaitu konstruksi kebahasaan IP direktif, konstruksi kebahasaan IP asertif, dan konstruksi kebahasaan IP ekspresif. Konstruksi kebahasaan IP ekspresif yang digunakan untuk menyatakan menyindir dan mengejek juga menggunakan tuturan yang bermodus deklaratif. Jadi, konstruksi kebahasaan IP asertif, direktif, dan ekspresif pada tuturan siswa lebih banyak bermodus deklaratif. (2) Fungsi yang cenderung tampak pada tuturan siswa dalam aktivitas belajar-mengajar bahasa Bali adalah fungsi IP direktif, yakni meminta atau memohon. Hal itu dapat dimaknai bahwa siswa bersikap santun melalui pilihan bahasa yang tepat saat menyampaikan permohonan atau pun permintaan. Permohonan atau permintaan tersebut pada umumnya disampaikan oleh siswa kepada mitra tuturnya (guru) secara tidak langsung melalui berbagai bentuk tuturan, yang salah satunya melalui bentuk interogatif (tanya). Jadi, maksud meminta atau memohon tersebut terselubung pada pilihan bahasa bahasa yang digunakan penutur.
Logika dalam Berbahasa Indonesia (Suatu Tinjauan Filsafat Bahasa) Kadek Wirahyuni; Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v10i1.175

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan logika dalam bahasa masyarakat, kaitan/hubungan antara fakta dan logika dalam berbahasa Indonesia, penggunaan kalimat efektif dalam kaitannya dengan logika berbahasa, dan salah nalar yang terjadi dalam berbahasa Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa Bahasa yang digunakan dalam masyarakat kadang kala tidak logis atau bahasa yamh mengandung ketidaknalaran. Kata ketidaknalaran mengandung pengertian adanya sesuatu yang tidak sesuai dengan nalar atau logika (logic). Ketidaklogisan atau kesalahnalaran itu tercermin dalam bahasa yang kita produksi dalam bentuk tutur. Ujaran atau tutur kita jadinya dapat mencerminkan cara kita berpikir, sehingga muncul ungkapan bahasa yang logis dan bahasa yang tidak logis. Bahasa ternyata tidak selalu tunduk kepada kebenaran fakta dan kebenaran penalaran secara logika. Di satu sisi bahasa harus tuntuk kepada logika dan di sisi lain bahasa tidak selamanya tunduk kepada logika. Penggunaan atau penataan kalimat juga berkaitan dengan logika. Kalau sebuah kalimat memiliki sebuah kata yang tidak berfungsi, kalimat tersebut disebut kalimat mubazir, dan dianggap tidak efektif. Adanya kata yang mubazir itu juga menyebabkan kalimat itu tidak benar dan tidak logis karena penutur tidak mengikuti alur penalaran yang benar. Ada beberapa corak berpikir salah atau salah nalar, yang dapat menghasilkan kalimat-kalimat yang tidak dapat diterima akal sehat atau tidak logis. Corak yang dapat menyebabkan salah nalar di antaranya adalah dalam wujud generalisasi atau stereotype.
Campur Kode dalam Komunikasi Antarpemandu Wisata di Candidasa Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v10i2.180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk dan faktor penyebab terjadinya campur kode oleh masyarakat Hindu yang bekerja sebagai pemandu wisata di daerah Candidasa. Data dikumpulkan melalui observasi dengan teknik perekaman dan pencatatan, serta wawancara. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan teknit interpretatif dan argumentatif sesuai data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga bentuk campur kode dalam komunikasi antarpemandu wisata di Candidasa, yakni campur kode bahasa Inggris dalam pemakaian bahasa Bali (campur kode ke luar), campur kode bahasa Indonesia dalam pemakaian bahasa Bali (campur kode ke dalam), campur kode campuran (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia) dalam pemakaian bahasa Bali. Ada tujuh faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode, yakni (1) tidak baiknya penguasaan bahasa di kawasan wisata Candidasa, baik penguasaan bahasa Bali, bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, (2) adanya niat untuk menambah gengsi, (3) ingin menunjukkan kebolehan, (4) pencarian jati diri, (5) kebiasaan, (6) ingin bersenda gurau (melucu) dan (7) kesantaian (ketidakformalan) situasi pembicaraan.
Penerapan Strategi Deep Dialogue and Critical Thingking Berbasis Reward untuk Meningkatkan Respons dan Hasil Belajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti I Wayan Putu Suastika; Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 12 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan respons dan hasil belajarPendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Siswa Kelas X Bahasa 2 Sekolah MenengahAtas Giri Natha Karangasem pada semester II tahun pelajaran 2018/2019. Dalam penelitianini, peneliti mengambil subjek kelas X Bahasa 2. Jumlah subjek penelitian adalah 23 siswa.Objek penelitian yang diambil meliputi respons dan hasil belajar Pendidikan Agama Hindudan Amlapura siswa kelas X Bahasa 2 Sekolah Menengah Atas Giri Natha Karangasempada semester 2 tahun pelajaran 2018/2019. Hasil analisis data menunjukkan bahwapenerapan model pembelajaran deep dialogue and critical thingking dapat meningkatkanrespons dan hasil belajar siswa. Dari respons siklus I, 117,12 dengan kategori positifkemudian meningkat ke siklus II menjadi 120,79 dengan kategori sangat positif. Rata-ratapra siklus 68,31, pada siklus I menjadi 69,34 dan 77,42 pada siklus II. Daya serap pra siklus39,13 % menjadi 69,78% pada siklus I dan 79,34% pada siklus II. Ketuntasan klasikal prasiklus 39,13 % menjadi 65,21% pada siklus I dan 91,30% pada siklus II. Berdasarkan hasiltersebut, maka dalam penelitian ini diajukan beberapa saran yakni : 1) kepada guru agarmenggunakan model pembelajaran Deep Dialogue and Critical Thingking (DDCT) sebagaialternatif model pembelajaran di kelas; 2) bagi peneliti lain lebih lanjut agarmemperhatikan kendala-kendala yang peneliti alami sebagai bahan pertimbangan untukpenyempurnaan proses maupun penelitian yang dilaksanakan.
Implementasi Pendekatan Kontekstual dengan Teknik Know-Want-Learned (KWL) dalam Penumbuhan Literasi Baca-Tulis Mahasiswa Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 12 No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v12i2.272

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengimplementasian pendekatan kontekstual dengan Teknik Know-Want-Learned (KWL) dalam penumbuhan literasi baca tulis mahasiswa. Mahasiswa yang dijadikan subjek penelitian adalah mahasiswa program studi Pendidikan Agama Hindu yang mengambil MKWU Bahasa Indonesia berjumlah 33 orang. Data dikumpulkan dengan metode observasi dan tes, selanjutnya dianalisis secara deksriptif kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah memiliki kemampuan literasi baca-tulis yang memadai dengan dukungan pendekatan kontekstual dengan teknik KWL dalam kegiatan pembelajaran. Dengan bukti-bukti sebagai berikut. Sejumlah 8 orang (24,24%) mahasiswa memiliki kemampuan literasi baca-tulis dengan kategori sangat baik, 20 orang (60,61%) dengan kategori baik, dan 5 orang (15,15%) dengan kategori cukup.
Strategi Komunikasi dalam Sosialisasi Upaya Penanggulangan Covid-19 melalui Pupuh Ni Kadek Juliantari; I Nyoman Subadra
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.288

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi komunikasi dalam sosialisasi untuk menanggulangi penyebaran Covid-19 di masyarakat. Artikel ini ditulis dengan menggunakan pendekatan kualitatif jenis fenomenologi. Pendekatan kualitatif jenis fenomenologi adalah salah satu jenis pendekatan dalam penelitian atau kajian kualitatif yang menekankan pada gejala/fenomena kasuistik yang terjadi secara alamiah di masyarakat. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan, observasi, dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan pula secara kualitatif dengan teknik induksi dan argumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa literasi masyarakat terkait dengan Covid-19 masih mengalami bias kognitif sehingga perlu penyadaran masyarakat melalui berbagai strategi. Salah satunya adalah melalui penggunaan pupuh sebagai salah satu strategi penyosialisasian upaya penanggulangan Covid-19. Pupuh yang dominan digunakan adalah pupuh Ginada, Ginanti, dan Sinom. Melalui penggunaan pupuh tersebut, pesan terkait upaya penanggulangan Covid-19 dikemas dengan keratif dan dengan bahasa yang persuasif.
Strategi Penyelamatan Muka melalui Kesantunan Berbahasa dalam Komunikasi Umat Hindu di Karangasem Ni Kadek Juliantari
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to describe the manifestation of the politeness of the movement used as a salvation goal in the Hindu communication era in Karangasem, describing the communication strategy through politeness in Hindu communication in Karangasem, and describing efforts to maintain politeness in Hindu communication. The collected data were analyzed using the Miles and Huberman flow model, starting from data, data reduction, data presentation, and verification and conclusion reduction.The results in this study indicate that (1) face-saving strategy through language politeness in communication of Hindus in Karangasem is carried out through fulfillment of politeness maxim/conversation maxim (which includes wisdom maxim, generosity maxim, praise/appreciation maxim, maxim of humility, maxim of agreement/approval, and maxim of conciliation), avoidance of taboo words, use of euphemisms, and use of honorifics (forms of respect). (2) The use of advance rescue strategies through politeness in this language can have positive and negative implications for Hindus in Karangasem. The positive implication is the creation of living harmony in the community, mutual respect between people, avoiding social tensions that may occur in the context of society, strengthening the peaceful behavior of the brethren, preserving the concept of paras paros sarpanaya, and suppressing the occurrence of offense among communication actors. Meanwhile, the negative implications are the emergence of a culture of not being forthright in order to safeguard the feelings of others. (3) The efforts that can be done to maintain or advance this language politeness are the presence of a culture of good manners among Hindus in Karangasem, the existence of Awig-awig in the village which regulates the Sukerta Tata Pawongan, and the existence of Balinese language instructors entering the village in charge of fostering the community and village manners, as well as efforts to foster positive attitudes of speakers towards their language.
Penerapan Pendekatan Elaborasi Untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Hindu Dalam Menyusun Silabus Dan RPP Ni Kadek Juliantari
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru Pendidikan Agama Hindu dalam menyusun silabus dan RPP setelah diterapkan pendekatan elaborasi dalam proses pembinaan. Data dikumpulkan dengan observasi dengan cara mencermati atau mengamati silabus dan RPP yang disusun oleh guru setelah kegiatan pembinaan dengan pendekatan elaborasi dilaksanakan. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif sehingga diperoleh kategori kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP. Hasilnya menunjukkan bahwa bahwa persentase jumlah guru yang berkompeten dalam menyusun silabus mengalami peningkatan sebesar 22,22%; sedangkan persentase jumlah guru yang berkompeten dalam menyusun RPP mengalami 33,33%. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penerapan pendekatan elaborasi dapat meningkatkan kompetensi guru Pendidikan Agama Hindu dalam menyusun silabus dan RPP.
PARADIGMA ANALISIS WACANA DALAM MEMAHAMI TEKS DAN KONTEKS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN Ni Kadek Juliantari
ACARYA PUSTAKA Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ap.v3i1.12732

Abstract

Understanding the contents of the reading is achieved when appropriate paradigm of discourse analysis is used. Therefore, the mastery of the discourse analysis paradigm is very important to be mastered by the reader in order to understand the text and context of the discourse. Basically, there are three paradigms in discourse analysis, namely positivism-empirical (commonly called positivism), constructivism, and critical paradigm. Description about the discourse analysis paradigm is expected to be useful for students and teachers / lecturers who conduct study discourse analysis so that it can facilitate them in conducting discourse analysis by departing from one of these paradigms. Based on the view of the formalist (positivism-empirical paradigm), it is understandable that examining a discourse in principle is to examine the potential relationship between one sentence and another in relation to the syntax and semantics. From the functionalist's point of view (constructivism paradigm), discourse analysis is attempted as an analysis to uncover the meaning and meaning behind the discourse. Discourse analysis is an effort to reveal the hidden intent of the subject which expresses a statement by placing itself in the speaker's position with an interpretation that follows the structure of the speaker's meaning. Meanwhile, according to the critical paradigm, discourse is not understood solely as a study of language, although in the end, discourse analysis does use the language in the text to be analyzed. However, the language analyzed according to the paradigm of dialectical analysis is somewhat different from the study of language in the traditional linguistic sense. The language analyzed is not merely a description of the language aspect, but also relates it to the context. Keywords: paradigm, discourse analysis, text and context, reading