Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Uji Toksisitas Akut dan Gambaran Histopatologi Hepar Mencit yang Diberi Ekstrak Terpurifikasi Daun Galing (Cayratia trifolia L. Domin) Yusuf, Muhammad Ilyas; Wulaisfan, Randa; Haswika, Haswika; Wahyuni, W
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.726 KB) | DOI: 10.33772/pharmauho.v4i1.4623

Abstract

Daun galing memiliki manfaat sebagai antidiabetik, hepatoprotektor, menurunkan kadar kolesterol dalam darah, meningkatkan kekebalan tubuh, sebagai antioksidan, antivirus, antibakteri dan antikanker. Keamanan adalah suatu syarat penting yang harus dimiliki suatu obat, oleh karena itu perlu dilakukan uji untuk mengetahui keamanan pemanfaatan daun galing perlu diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui LD50  ekstrak terpurifikasi daun galing  dan mengetahui gambaran histopatologi hepar mencit setelah pemberian ekstrak terfurifikasi daun galing. Penelitian ini adalah penelitian ekperimental, dengan rancangan  Post test only controlled group design yang terdiri dari 5 kelompok perlakuan, terdiri dari kelompok kontrol negatif yang diberi Na CMC 0,5% , kelompok perlakuan yang diberi ekstrak terpurifikasi daun galing 50 mg/kgBB, 500 mg/kgBB, 5.000 mg/kgBB dan 50.000 mg/kgBB, tiap kelompok perlakuan yang terdiri atas 4 ekor mencit . Hasil penelitian menunjukkan ekstrak terpurifikasi daun galing bersifat sangat toksik berdasarkan klasifikasi toksisitas dengan nilai LD50  499,9 mg/kgBB, dengan gambaran histopatologi hepar mencit pada kelompok perlakuan ekstrak dosis 5.000 dan 50.000 (mg/kgBB) menunjukkan adanya kerusakan sel hepar, sedangkan pada kelompok perlakuan dosis 50, 500 (mg/kgBB) dan kontrol negatif tidak mengalami kerusakan (nekrisis) sel hepar. Kata Kunci: Daun galing, purifikasi, histopatologi hepar, toksisitas, mencit
Antioxidant Potential of Organic Fraction of Turi Leaf Extract (Sesbania grandiflora L.) Using DPPH Reagent Wa Ode Sitti Musnina; Randa Wulaisfan; Jumriana Akhyar; Yonelian Yuyun
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v9i2.25291

Abstract

Background: White turi leaf (Sesbania grandiflora) is a plant from the Leguminosae family that isused as traditional medicine. Purpose(s): To determine the antioxidant potential of white turi leafextract (Sesbania grandiflora L) using DPPH reagent. Methods: White turi leaves (S. grandiflora)were extracted using maceration technique with ethanol the solvent. The ethanol extract wasfractionated using a liquid-liquid extraction using n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. In addition,phytochemical screening was also carried out on secundary metabolite compounds contained in theethanol extract, it’s organic fractions. Results: Ethanol extract obtained as much as 160 g (16%).Fractionation of 10 grams of ethanol extract obtained n-hexane fraction 2.9 g (29%); ethyl acetatefraction 0.8 g (8%); and ethanol fraction 6.1 g (61%). Phytochemical screening showed that theethanol extract and ethyl acetate fraction contained flavonoids, saponins, and tannins; the ethanolfraction contains terpenoids, flavonoids, saponins, and tannins; while the n-hexane fraction containstannin compounds. The antioxidant activity of the ethanol extract, ethyl acetate fraction, and ethanolfraction were tested using the DPPH radical scavenging method. The antioxidant activity assayshowed that the SC50 values of the ethanol extract, ethyl acetate fraction, and ethanol fraction were234.7; 66,244, and 106.755 ppm, vitamin C as a positif control with SC50 3,006 ppm. Conclusion:white turi leaf extract (S. grandiflora) has antioxidant activity less than 22-78 times than controlpositif, so it is not potential as an antioxidant.  
AKTIVITAS EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans PENYEBAB KARIES GIGI Musdalipah Musdalipah; Randa Wulaisfan
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v1i2.3769

Abstract

Onion (Allium ascalonicum L.) is one of the most commonly used spices other than as a cooking spice as well as traditional medicine. The use of red onions is restricted to the meat alone, while the skin contains many chemical compounds that can be used as antibacterials such as flavonoids, saponins, tannins, glycosides and steroids or triterpenoids regarded as waste. This study aims to determine the inhibition power of onion skin extract (Allium ascalonicum L.) on the growth of Streptococcus mutans bacteria. The type of research used was experimental research consisting of three treatments, two controls: positive control and negative control with three repetitions. This research is done by cylinder cup method. Onion skin extract was obtained from maceration using 96% ethanol solvent. The test sample in this study was made with concentrations of 10%, 20% and 30%. The results showed that onion skin extracts with concentrations of 10%, 20% and 30% had mean inhibitions of 1.33 mm, 2.12 mm and 2.51 mm. The result of ANOVA test showed that F count (205,098 > F table (3,478) so that BNT further test showed that there is real effect difference of onion skin extract on the growth of Streptococcus mutans bacteria. 
Cost Effectiveness Kombinasi Antihipertensi Candesartan-Bisoprolol dan Candesartan-Amlodipin Pada Pasien Rawat Jalan Penderita Hipertensi Eny Nurhikma; Randa Wulaisfan; Musdalipah Musdalipah
Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2019): Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta Kerja Sama KNPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.528 KB) | DOI: 10.33533/jpm.v13i2.1284

Abstract

Today, in various countries, especially in Indonesia, the cost of health services is increasing. Hypertension is a degenerative disease that requires health costs for a long time. Increasing costs due to increasing chronic diseases threaten access and quality of health services, by which it is necessary to find a solution to overcome the problem of health financing. One method used is to analyze the guidelines for hypertension therapy and drug classes in the pharmacoeconomic aspects, namely Cost Effectiveness Analysis. This study aims to analyze the effectiveness of antihypertensive combination therapy in hypertensive patients at Bhayangkara Hospital, Kendari in 2019. The research method is descriptive with cross sectional study design. The analysis conducted is the cost effectiveness analysis (CEA) performed by calculating direct medical costs, the effectiveness of therapy based on blood pressure that reaches the target and calculating the value of ACER (Average Cost Effectiveness Ratio) and ICER (Incremenal Cost Effectiveness Ratio). Data were collected prospectively which fulfilled the inclusion and exclusion criteria. The results showed the therapeutic effectiveness and the value of ACER obtained from 31 hypertensive patients were a combination of Candesartan – Bisoprolol  that was ACER value of 85.71% (2,314), and combination of Candesartan – Amlodipin of 70.58% (2,643). ICER value of 7,832 indicates that the price of drugs is more expensive but more effective therapy. 
EFEK LAKTAGOGUM EKSTRAK BIJI KETAPANG (Terminalia catappa L.) PADA TIKUS PUTIH BETINA GALUR WISTAR Nur Fitriana Muhammad Ali; Ikhsan Sidiq; Rini Nuriyanto; Randa Wulaisfan; Andi Nafisah Tendri Adjeng; La Ode Liaumin Azim
(Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat) Vol 7, No 3 (2022): JIMKesmas (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/jimkesmas.v7i3.30393

Abstract

AbstrakTanaman ketapang (Terminalia catappa L.) di Indonesia hanya dikenal sebagai tanaman pelindung. Daun dan batang ketapang telah banyak dilaporkan bahwa terdapat kandungan senyawa alkaloid, tanin, saponin, terpenoid dan senyawa fenolik yang telah terbukti memiliki aktivitas laktagogum. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati aktivitas laktagogum yang ditimbulkan dari ekstrak biji ketapang pada hewan coba tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar yang terbagi dalam 5 kelompok perlakuan yang terdiri 2 induk tikus. Aktivitas laktagogum dievaluasi dengan menghitung bobot badan anak tikus putih yang induknya diberikan ekstrak biji ketapang dengan konsentrasi 10%, 20% dan 40% dengan kontrol positif pelancar ASI dan kontrol negatif Na-CMC. Pengamatan dilakukan setiap 2 hari sekali selama 10 hari masa menyusui pada anak tikus, diukur dengan Pertambahan Bobot Badan (PBB) selama periode perlakuan. Kelompok tikus dari konsentrasi 10% menunjukkan rata-rata bobot 15,5 (g/mL), konsentrasi 20% menunjukkan rata-rata bobot 15,7 (g/mL), konsentrasi 40 % menunjukkan rata-rata bobot 16,6 (g/mL) sedangkan kontrol positif menunjukkan rata-rata bobot 17,2 (g/mL) dan kontrol negatif 8,3 (g/mL). Dari hasil pemberian ekstrak biji ketapang menunjukkan peningkatan pertumbuhan anak tikus secara bertahap dari konsentrasi 10%,20% dan 40%. Kata Kunci : Biji Ketapang, Laktagogum, Berat Badan
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF EKSTRAK DAUN WALAY (MEISTERA CHINENSIS) ASAL SULAWESI TENGGARA Eny Nurhikma; Randa Wulaisfan; Musdalipah Musdalipah; Yulianti Fauziah; Nirwati Rusli
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I2.19864

Abstract

Masker gel peel off merupakan salah satu jenis masker praktis yang bermanfaat untuk merawat kulit wajah, melembabkan kulit serta membersihkan, dan memberi nutrisi sehingga kulit menjadi lebih bersih. Daun walay (Meistera chinensis) merupakan salah satu tumbuhan termaksud dalam famili Zingiberacea yang memiliki kandungan kimia yaitu senyawa alkaloid, terpenoid, flavonoid, fenol, tanin, steroid dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun Walay dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan masker gel peel off yang memenuhi syarat evaluasi fisik dan uji stabilitas sediaan. Ekstraksi daun Walay dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol ekstrak daun Walay diformulasi ke dalam tiga formula yaitu formula F1 konsentrasi 1%, F2 konsentrasi 3%, dan F3 konsentrasi 5%. Uji evaluasi fisik terhadap sediaan dilakukan dengan beberapa parameter pengujian yaitu uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji waktu mengering, uji iritasi dan uji cycling test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun Walay pada konsentrasi 1%, 3% dan 5% dapat dibuat dalam bentuk sediaan masker gel peel off  dan  memenuhi syarat evaluasi fisik sediaan, namun tidak stabil pada pengujian cycling test uji organoleptik bentuk sediaan dan uji daya sebar.
Pemberdayaan Kader Posyandu Tentang Swamedikasi dengan Edukasi GEMA CERMAT Menggunakan Metode CBIA (Cara Belajar Insan Aktif) di Puskesmas Lepo-Lepo Kendari Musdalipah Musdalipah; Eny Nurhikma; Reymon Reymon; Randa Wulaisfan; Esti Badia; Nirwati Rusli; Karmilah Karmilah; Selfyana Austin Tee; Muhammad Syaiful Saehu; Anisa Arfan
Jurnal Abdi dan Dedikasi kepada Masyarakat Indonesia Vol 1 No 1 (2023): NADIKAMI: Januari 2023
Publisher : POLITEKNIK BINA HUSADA KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Swamedikasi merupakan salah satu pengobatan alternatif untuk mengatasi gejala penyakit tanpa resep dokter dan pertolongan dari tenaga kesehatan. Pada pelaksanaannya swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya. Salah satu metode alternatif dalam melakukan swamedikasi melalui edukasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GEMA CERMAT). Dalam upaya memaksimalkan GEMA CERMAT, kader kesehatan berperan untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait penggunaan obat. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan kader posyandu tentang swamedikasi dengan edukasi GEMA CERMAT menggunakan metode CBIA (cara belajar insan aktif) di wilayah kerja puskesmas Lepo-lepo, Kendari. Kader posyandu yang aktif yang diseleksi menggunakan metode Purposive Sampling sebanyak 30 orang. Alat yang digunakan berupa angket (kuesioner) dan paket obat sebagai alat peraga. Hasil kegiatan memperlihatkan bahwa pengetahuan kader posyandu pada saat pretest di Puskesmas Lepo-lepo sebesar 12,27 (61,3 %) dengan kategori cukup dan pada saat post test sebesar 17,03 (85,2 %) dengan kategori baik. Hasil analisis statistik menggunakan Paired samples test diperoleh nilai p = 0,000 < 0,05 bahwa ada perbedaan yang bermakna antara hasil pretest dengan posttest dalam edukasi GEMA CERMAT pada kader posyandu.
Pelatihan Pembuatan Biskuit dari Daun Kedondong Hutan (Spondias pinnata (Linn. F.) Kurz) Sebagai Cemilan Antidiabetes pada Masyarakat Desa Kasumewuho Musdalipah Musdalipah; Murtafia Murtafia; Eny Nurhikma; Nur Saadah Daud; Nirwati Rusli; Agung Wibawa Mahatva Yodha; Reymon Reymon; Randa Wulaisfan; Syamsu Alam
Jurnal Abdi dan Dedikasi kepada Masyarakat Indonesia Vol 1 No 2 (2023): NADIKAMI: Juli 2023
Publisher : POLITEKNIK BINA HUSADA KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun kedondong hutan merupakan salah satu tanaman herbal untuk mengobati penyakit diare, rematik, demam dan diabetes. Secara empiris daun kedondong hutan digunakan masyarakat Desa Kasumewuho sebagai bahan tambahan untuk menambah cita rasa pada masakan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat LPPM Politeknik Bina Husada bertujuan dalam rangka pemanfaatan daun kedondong hutan untuk dijadikan cemilan antidiabetes di desa Kasumewuho. Potensi pengembangan biskuit kedondong hutan sebagai makanan alternatif memiliki peluang untuk dijadikan cemilan yang sangat baik untuk kesehatan yang bisa dikonsumsi oleh semua kalangan usia. Metode kegiatan dilakukan dengan sosialisasi pembuatan biskuit daun kedondong hutan pada masyarakat desa Kasumewuho sebanyak 22 orang. Kegiatan dilakukan dimulai dari pemanenan, sortasi basah, sortasi kering, pengeringan, pemotongan dan penyerbukan daun kedondong hutan. Daun kedondong hutan dibuat dengan 3 (tiga) konsentrasi yaitu A (1 g), B (3 g), dan C (5 g) dan selanjutnya dilakukan pengujian organoleptik meliputi warna, bau, rasa dan bentuk sediaan. Hasil kegiatan menunjukkan masyarakat Desa Kasumewuho memiliki antusias yang tinggi mengikuti kegiatan ini. Hasil pengujian organoleptik menunjukkan biskuit A berwarna kuning, B (kuning kehijauan), C (coklat kehijauan). Dari segi rasa biskuit A, B, C memiliki bau khas susu. Uji kesukaan menunjukkan biskuit A(33%), B(70%), C(17%). Pada uji kerenyahan menunjukkan rasa renyah 100% pada biskuit A, B, C. Pada uji kekerasan menunjukkan biskuit A, B, C memiliki tekstur yang keras (0%) dan lembut dikonsumsi (100%) pada biskuit A, B, C. Biskuit daun kedondong hutan dapat diformulasikan dalam bentuk biskuit sebagai cemilan antidiabetes serta mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif.
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF EKSTRAK DAUN WALAY (MEISTERA CHINENSIS) ASAL SULAWESI TENGGARA Eny Nurhikma; Randa Wulaisfan; Musdalipah; Yulianti Fauziah; Nirwati Rusli; Nur Saadah Daud
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v10i2.339

Abstract

Masker gel peel off merupakan salah satu jenis masker praktis yang bermanfaat untuk merawat kulit wajah, melembabkan kulit serta membersihkan, dan memberi nutrisi sehingga kulit menjadi lebih bersih. Daun walay (Meistera chinensis) merupakan salah satu tumbuhan termaksud dalam famili Zingiberacea yang memiliki kandungan kimia yaitu senyawa alkaloid, terpenoid, flavonoid, fenol, tanin, steroid dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun Walay dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan masker gel peel off yang memenuhi syarat evaluasi fisik dan uji stabilitas sediaan. Ekstraksi daun Walay dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol ekstrak daun Walay diformulasi ke dalam tiga formula yaitu formula F1 konsentrasi 1%, F2 konsentrasi 3%, dan F3 konsentrasi 5%. Uji evaluasi fisik terhadap sediaan dilakukan dengan beberapa parameter pengujian yaitu uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji waktu mengering, uji iritasi dan uji cycling test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun Walay pada konsentrasi 1%, 3% dan 5% dapat dibuat dalam bentuk sediaan masker gel peel off dan memenuhi syarat evaluasi fisik sediaan, namun tidak stabil pada pengujian cycling test uji organoleptik bentuk sediaan dan uji daya sebar.
Standarisasi Ekstrak Rimpang Wundu Watu (Alpinia monopleura) dan Aktivitasnya sebagai Antiinflamasi Secara In Vitro Musdalipah Musdalipah; Agung Wibawa Mahatva Yodha; Muh. Azdar Setiawan; Selfyana Austin Tee; Reymon Reymon; Randa Wulaisfan; Muh. Arnas; Lisa Wulansari Siregar; Eny Nurhikma; Yulianti Fauziah
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.414

Abstract

Tanaman Alpinia, khususnya Alpinia monopleura, merupakan tanaman endemik yang dapat ditemukan dengan mudah di Sulawesi Tenggara, sebarannya luas dan melimpah. Tanaman ini merupakan tanaman endemik dan dikenal dengan nama wundu watu. Secara empiris, rimpang wundu watu digunakan untuk mengurangi pegal-pegal dan sebagai bumbu masakan. Studi pendahuluan pada minyak atsiri daun dan buah wundu watu menunjukkan sifat antibakteri, antioksidan dan antiinflamasi. Komposisi dan studi farmakologi tanaman ini belum diketahui sepenuhnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan standarisasi untuk menjamin mutu dan keamanan esktrak dan khasiatnya sebagai antiinflamasi. Tujuan penelitian ialah melakukan standarisasi ekstrak wundu watu (Alpinia monopleura) dengan parameter spesifik dan non spesifik sesuai persyaratan Farmakope Indonesia serta aktivitas antiinflamasinya terhadap penghambatan denaturasi protein. Jenis penelitian ialah eksperimen. Rimpang wundu watu di ekstraksi dengan pelarut metanol menggunakan metode maserasi. Hasil penelitian menunjukkan standarisasi dengan parameter spesifik diperoleh yaitu berbentuk ekstrak kental, berwarna coklat, dan berbau khas, senyawa larut air yaitu 6,7%, senyawa larut metanol yaitu 10,35%. Kandungan metabolit sekunder positif mengandung senyawa alkaloid, flavanoid, saponin, tanin dan steroid. Pada parameter non spesifik diperoleh susut pengeringan 68,30%, kadar air 23%, kadar abu  total 11,94%, kadar abu tidak larut asam 0,327% dan cemaran logam Pb 0,00076 mg/L, logam Cd 0,00052 mg/L, dan logam Hg 0,00062 mg/L. Ekstrak etanol rimpang Alpinia menopleura memiliki aktivitas antiinflamasi dengan nilai IC50 sebesar 8.47 mg/L dan natrium diklofenak (kontrol) dengan nilai IC50 sebesar 8,46 mg/L. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan standarisasi ekstrak rimpang wundu watu secara spesifik dan non spesifik memenuhi persyaratan sesuai Farmakope Herbal Indonesia serta memiliki khasiat sebagai antiinflamasi.