Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

FORMULASI KRIM ANTIJERAWAT EKSTRAK AMPAS TEH HIJAU (Camellia sinensis L.) Karmilah Karmilah; Musdalipah Musdalipah
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ampas teh hijau (Camellia sinensis L.) merupakan salah satu bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai terapi pengobatan jerawat karena mengandung flavonoid, tanin dan alkaloid. Untuk mempermudah penggunaannya ekstrak dibuat dalam bentuk sediaan krim. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan krim antijerawat ekstrak ampas teh hijau dan mengetahui konsentrasi terbaik dari ekstrak ampas teh hijau yang dibutuhkan untuk membuat sediaan krim. Ekstraksi ampas teh hijau dilakukan dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 96% kemudian difraksinasi menggunakan pelarut air, n-heksan dan etil asetat. Fraksi etil asetat dipekatkan menggunakan rotary vacum evaporator. Evaluasi sediaan dilakukan pada 4 formula krim dengan variasi konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5% dan 1 formula sebagai blanko. Hasil uji organoleptik menunjukkan sediaan yang dibuat stabil, homogen, pH berkisar 6,39-6,91 dengan rata-rata nilai viskositas 150-220 dPa.S dan sediaan tidak menimbulkan iritasi. Hasil uji stabilitas (cycling test) menunjukkan ketiga formula tetap homogen, tidak mengalami inversi fase dengan tipe emulsi minyak dalam air, terjadi perubahan pH,  formula B dan C mengalami perubahan bentuk dari semi padat menjadi sedikit encer yang dipengaruhi oleh konsentrasi ekstrak yang lebih tinggi. Formula terbaik adalah formula A dengan menggunakan ekstrak 0,5%.
UJI DAYA HAMBAT SUPPOSITORIA VAGINA EKSTRAK DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) TERHADAP Candida albicans Selfyana Austin Tee; Musdalipah Musdalipah
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun sirih merupakan obat tradisional yang digunakan untuk mengatasi keputihan. Ekstrak daun sirih dibuat dalam bentuk suppositoria vagina agar mempermudah penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat suppositoria vagina ekstrak daun sirih hijau terhadap Candida albicans. Jenis penelitian adalah eksperimen yang terdiri atas lima perlakuan dengan tiga kali pengulangan. Penelitian dilakukan dengan metode RAL (Rancangan Acak Lengkap). Ekstrak daun sirih hijau diperoleh dari hasil maserasi. Formulasi dibuat menggunakan basis larut air yaitu gelatin tergliserinasi dengan konsentrasi ekstrak 25%, 30%, dan 35%. Evaluasi fisik yang dilakukan yaitu uji organoleptik, uji homogenitas, dan uji keseragaman bobot telah memenuhi syarat sediaan. Uji daya hambat suppositoria vagina ekstrak daun sirih hijau menggunakan metode Cylinder cup. Hasil penelitian menunjukkan suppositoria vagina ekstrak daun sirih hijau dengan konsentrasi 25%, 30% dan 35% memiliki daya hambat rata-rata sebesar 4,67 mm, 7,5 mm, dan 10,96 mm. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa data Fhitung (121,59) > Ftabel (3,48) dan dilakukan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) yang menunjukkan bahwa ketiga konsentrasi suppositoria vagina berbeda nyata dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.
IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEM (DRP) PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA KENDARI Musdalipah Musdalipah
Jurnal Kesehatan Vol 11 No 1 (2018): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v11i1.4908

Abstract

Urinary tract infection (UTI) is a disease in which the formation of microorganisms in large quantities in the urinary tract. In order to increase rational use of drugs, pharmacists have an important role in identifying and solving problems related to Drug Related Problem (DRP), both potential and actual. The purpose of this research is to identify Drug Related Problem (DRP) of Urinary Tract Infection (ISK) patient at Bhayangkara Kendari Hospital. This research used descriptive method with retroprospective-prospective data collection technique based on inclusion and exclusion criteria by recipe and patient medical record data. The data is analyzed descriptively and described in narrative form. The results showed that 34 patients were found Drug Related Problem (DRP) category of potential drug interactions as many as 15 patients (44.11%), Polypharmacy, dose interval and Drug side effects not foundABSTRAKInfeksi saluran kemih (ISK) adalah suatu penyakit yang dimana terbentuknya mikroorganisme dalam jumlah banyak di saluran kemih. Dalam rangka meningkatkan penggunaan obat yang rasional, farmasis memiliki peran penting terutama dalam mengidentifikasi serta memecahkan masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat atau Drug Related Problem (DRP) baik yang bersifat potensial maupun aktual. Tujuan penelitian ialah mengidentifikasi Drug Related Problem (DRP) pasien Infeksi Saluran Kemih (ISK) di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari. Jenis penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data secara retroprospektif–prospektif berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dengan melihat resep dan data rekam medik pasien. Data dianalis secara deskriptif dan dijabarkan dalam bentuk narasi. Hasil penelitian menunjukkan dari 34 pasien ditemukan Drug Related Problem (DRP) kategori adanya potensi Interaksi obat sebanyak 15 pasien (44,11%), Polifarmasi, Interval dosis dan Efek samping obat tidak ditemukan
PERBANDINGAN AKTIVITAS PENGHAMBATAN ENZIM TIROSINASE OLEH FRAKSI ETIL ASETAT DAUN PATIKALA (Etlingera elatior) DAN HIDROKUINON SECARA In Vitro Selfyana Austin Tee; Apriyanto Apriyanto; Musdalipah Musdalipah; Elfirah Elfirah
Jurnal Kesehatan Vol 13 No 1 (2020): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v13i1.10309

Abstract

Etlingera is one of the genus Zingiberacea which consists of 150 - 200 species in the world, and there are 48 species that grow in Sulawesi and 14 species of which are scattered in Sulawesi. Patikala (Etlingera elatior) has a bioactive compound in the form of flavonoids. Withdrawal of flavonoid compounds in plants is carried out using ethyl acetate solvents. One of the enzymes in the body is the tyrosinase enzyme. The tyrosinase enzyme is the main pathway in the pigmentation process, causing melanin pigment. This study aims to compare the inhibitory activity of the tyrosinase enzyme in the paticala fraction of ethyl acetate (Etlingera elatior) and hydroquinone in vitro. The research method used was a quasi experimental consisting of the treatment group and the control group with measurements made after the treatment was given (posttest only design with non equivalent group). Concentration of ethyl acetate fraction of patikala leaves used were 7.8125 µg / mL, 15,625 µg / mL, 31.25 µg / mL, 62.5 and 125 µg / mL with positive control of hydroquinone, respectively. Based on the results obtained, Inhibitory activity of the tyrosinase enzyme by the paticala leaf ethyl acetate fraction with a concentration of 125 μg. The inhibitory activity of the tyrosinase enzyme by both samples increased with increasing concentration
Identifikasi senyawa saponin ekstrak etil asetat gonad landak laut (diadema setosum l.) Dan efektivitas antihiperkolesterol terhadap mencit balb/c hiperkolesterolemia Karmilah .; Reymon .; Muhammad Azdar Setiawan; Evi Apriani Arifin; Musdalipah .
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.857 KB)

Abstract

ABSTRAK Gonad landak laut merupakan bagian organ dalam landak laut (Diadema setosum L.) yang diketahuimengandung senyawa metabolit alkaloid, saponin, steroid, dan triterpenoid. Saponin diketahui memilikiefek sebagai antihiperkolesterolemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya senyawa saponinpada ekstrak etil asetat gonad landak laut dan efektivitas sebagai antihiperkolesterol terhadap hewan ujimencit Balb/C yang mengalami hiperkolesterolemia. Identifikasi senyawa saponin menggunakan metodePre-experimental design dengan model one-shot case study yaitu uji reaksi warna dan uji KromatografiLapis Tipis (KLT). Uji efektivitas antihiperkolesterolemia menggunakan metode Pree and post test withcontrol group design yaitu semua mencit yang telah diukur kadar kolesterol awal (K0) dan kadar kolesterolsetelah pemberian MDTL dan PTU (K1), dikelompokan 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit (5 kali pengulangan). Semua kelompok diberi perlakuan ekstrak gonad landak laut dengan dosis 40mg/kg bb, 50 mg/kg bb, 60 mg/kg bb untuk kelompok 1, 2, dan 3, kelompok 4 diberi suspensi simvastatin10 mg/kg bb (K+), dan kelompok 5 diberi suspensi Na.CMC0.5 % (K-). Stelah 1 minggu perlakuan, diukurkadar kolesterol akhir (K2). Hasil identifikasi senyawa saponin menunjukan ekstrak gonad landak lautpositif terdeteksi senyawa saponin steroid. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak adanya perbedaanyang signifikan antara ketiga kelompok perlakuan dengan nilai probabilitas rata-rata diatas 0,05 sehinggaefektivitas penurunan kadar kolesterol dimulai pada dosis 40 mg/Kgbb.. Kata kunci : Saponin, Gonat Landak Laut, Antihiperkolesterol
PEMANFAATAN DAUN TAWALOHO SEBAGAI MAKANAN SEHAT DALAM SEDIAAN BISKUIT UNTUK MASYARAKAT MEKAR BARU SULAWESI TENGGARA Musdalipah Musdalipah; Eny Nurhikma; Suhikma Sofyan; Nirwati Rusli; Nursaadah Daud; Lilis Yusriani; Syamsu Alam
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 5, No 4 (2021): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.787 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v5i4.5132

Abstract

Abstrak: Daun tawaloho, atau daun kedondong hutan digunakan masyarakat Mekar Baru untuk menambah cita rasa pada masakan. Daun kedondong hutan tumbuh di sebagian pekarangan rumah masyarakat. Informasi terkait kandungan kimia dan farmakologi pada tumbuhan belum banyak diketahui oleh masyarakat. Daun kedondong hutan memiliki aktivitas antioksidan, antidiabetes, antihipertensi, anticancer dan antikolesterol. Tujuan kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu pengabdian kepada masyarakat dalam rangka pemanfaatan daun tawaloho sebagai biskuit makanan sehat. Metode kegiatan dilakukan dengan sosialisasi pembuatan biskuit tawaloho pada 50 orang masyarakat Mekar Baru. Adanya pandemik covid 19, kegiatan dilakukan secara terbatas pada beberapa rumah warga yang cukup luas. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan pemberian kuesioner tentang cita rasa biskuit meliputi uji organoleptik dan uji kesukaan (bau dan warna), kerenyahan, dan kekerasan biskuit. Hasil kegiatan menunjukkan masyarakat Mekar Baru sangat antusias mengikuti pembuatan biskuit tawaloho. Hasil pengujian organoleptik sediaan biskuit menunjukkan berwarna kuning kecoklatan dengan aroma bau khas susu, rasa khas biskuit dan berbentuk padat. Uji kesukaan pada biskuit menunjukkan rasa suka (90%) dan tidak suka (10%). Uji kerenyahan menunjukkan rasa renyah (94%) dan tidak renyah (6%). Pada uji kekerasan menunjukkan rasa keras pada biskuit (0%) dan lembut dikonsumsi (100%). Hasil kegiatan memberikan wawasan dan pengetahuan baru bagi masyarakat tentang cara pengolahan daun tawaloho dalam sediaan biskuit yang dapat dijadikan makanan sehat.Abstract:  Tawaloho leaves or forest kedondong leaves are used by the Mekar Baru community to add flavor to dishes. The leaves of the forest kedondong grow partly in the yards of people's homes. Information related to chemical and pharmacology in plants is not widely known by the public. Forest kedondong leaves have antioxidant, antidiabetic, antihypertensive, anticancer and anticholesterol activities. This goal is carried out as one of the community services in the context of utilizing tawaloho leaves as healthy food biscuits. The method of activity was carried out by socializing the making of tawaloho biscuits to 50 people from the Mekar Baru community. Due to the COVID-19 pandemic, the activities carried out are limited to a number of residents' houses which are quite large. The evaluation was done by giving a questionnaire about biscuits taste including organoleptic and preference tests (smell and color), crunchiness, and hardness of biscuits. The results of the activity showed that the people of Mekar Baru were very enthusiastic in participating in the making of tawaloho biscuits. The results of organoleptic testing of biscuit preparations showed a brownish yellow color with a distinctive smell of milk, a distinctive taste of biscuits, and a solid form. The liking test on biscuits showed likes (90%) and dislikes (10%). The crispness test showed crunchy (94%) and not crunchy (6%). In the hardness test, the biscuits tasted hard (0%) and soft (100%). The results of the activity are new insights and knowledge for the community about how to process tawaloho leaves in biscuit preparations that can be used as healthy food.
AKTIVITAS EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans PENYEBAB KARIES GIGI Musdalipah Musdalipah; Randa Wulaisfan
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v1i2.3769

Abstract

Onion (Allium ascalonicum L.) is one of the most commonly used spices other than as a cooking spice as well as traditional medicine. The use of red onions is restricted to the meat alone, while the skin contains many chemical compounds that can be used as antibacterials such as flavonoids, saponins, tannins, glycosides and steroids or triterpenoids regarded as waste. This study aims to determine the inhibition power of onion skin extract (Allium ascalonicum L.) on the growth of Streptococcus mutans bacteria. The type of research used was experimental research consisting of three treatments, two controls: positive control and negative control with three repetitions. This research is done by cylinder cup method. Onion skin extract was obtained from maceration using 96% ethanol solvent. The test sample in this study was made with concentrations of 10%, 20% and 30%. The results showed that onion skin extracts with concentrations of 10%, 20% and 30% had mean inhibitions of 1.33 mm, 2.12 mm and 2.51 mm. The result of ANOVA test showed that F count (205,098 > F table (3,478) so that BNT further test showed that there is real effect difference of onion skin extract on the growth of Streptococcus mutans bacteria. 
Cost Effectiveness Kombinasi Antihipertensi Candesartan-Bisoprolol dan Candesartan-Amlodipin Pada Pasien Rawat Jalan Penderita Hipertensi Eny Nurhikma; Randa Wulaisfan; Musdalipah Musdalipah
Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2019): Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta Kerja Sama KNPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.528 KB) | DOI: 10.33533/jpm.v13i2.1284

Abstract

Today, in various countries, especially in Indonesia, the cost of health services is increasing. Hypertension is a degenerative disease that requires health costs for a long time. Increasing costs due to increasing chronic diseases threaten access and quality of health services, by which it is necessary to find a solution to overcome the problem of health financing. One method used is to analyze the guidelines for hypertension therapy and drug classes in the pharmacoeconomic aspects, namely Cost Effectiveness Analysis. This study aims to analyze the effectiveness of antihypertensive combination therapy in hypertensive patients at Bhayangkara Hospital, Kendari in 2019. The research method is descriptive with cross sectional study design. The analysis conducted is the cost effectiveness analysis (CEA) performed by calculating direct medical costs, the effectiveness of therapy based on blood pressure that reaches the target and calculating the value of ACER (Average Cost Effectiveness Ratio) and ICER (Incremenal Cost Effectiveness Ratio). Data were collected prospectively which fulfilled the inclusion and exclusion criteria. The results showed the therapeutic effectiveness and the value of ACER obtained from 31 hypertensive patients were a combination of Candesartan – Bisoprolol  that was ACER value of 85.71% (2,314), and combination of Candesartan – Amlodipin of 70.58% (2,643). ICER value of 7,832 indicates that the price of drugs is more expensive but more effective therapy. 
Uji Daya Hambat Antibakteri Fungi Endofit Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Muhammad Azdar Setiawan; Musdalipah Musdalipah
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 4 No. 1 (2018): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi STIKES Mandala Waluya Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v4i1.24

Abstract

Karies gigi atau dikenal dengan gigi berlubang merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi akibat bakteri S. mutans. Salah satu tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. mutans yang telah banyak diteliti adalah daun beluntas. Usaha untuk mengurangi eksploitasi alam adalah dengan mengisolasi jamur endofit pada bagian tanaman yang dapat memproduksi senyawa aktif. Jamur endofit merupakan jamur yang hidup pada sistem jaringan tanaman yang tidak menyebabkan gejala penyakit pada tanaman inangnya serta dapat menghasilkan senyawa metabolit sekunder seperti antibakteri, antivirus, antifungi dan sebagainya. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui seberapa besar daya hambat jamur endofit daun beluntas terhadap pertumbuhan bakteri S. mutans. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Paper disk. Hasil penelitian diperoleh 2 isolat jamur endofit daun beluntas yaitu jamur endofit putih dan jamur endofit hitam. Jamur endofit putih menghasilkan zona hambat terhadap bakteri S. mutans rata-rata 10% = 1,15 mm, 20% = 1,51 mm, 30% = 2,55 mm, kontol positif sebesar 1,28 mm dan kontrol negatif tidak memberikan zona hambat. Sedangkan jamur endofit hitam daun beluntas tidak memberikan zona hambat.
Optimasi Formula Lotion Tabir Surya Ekstrak Kulit Buah Naga Super Merah (Hylocereus costaricensis) Menggunakan Metode Desain D-Optimal Nur Saadah Daud; Musdalipah Musdalipah; Idayati Idayati
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 5, No 2 (2018): J Sains Farm Klin 5(2), Agustus 2018
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.043 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.5.2.72-77.2018

Abstract

Paparan sinar matahari yang berlebihan dan berlangsung lama dapat menyebabkan eritema dan kulit terbakar, penuaan dini dan kanker kulit. Salah satu bentuk sediaan kosmetik yang dapat digunakan untuk melindungi kulit adalah lotion yang mengandung zat aktif tabir surya. Ekstrak kulit buah naga super merah adalah bahan alam yang memiliki efek antioksidan dan tabir surya.Optimasi formula lotion tabir surya dilakukan menggunakan metode D-Optimal dengan 2 faktor yaitu ekstrak kulit buah naga super merah sebagai bahan aktif dengan range konsentrasi 9-12% dan natrium alginat 3-6% sebagai peningkat viskositas. Nilai SPF, viskositas dan daya sebar ditetapkan sebagai respon. Lotion yang dihasilkan berwarna coklat, berbentuk semi padat khas lotion, homogen, beraroma khas minyak mawar, pH sesuai syarat SNI dengan tipe emulsi minyak dalam air (M/A).Hasil respon yang diperoleh dari 11 formula menghasilkan  nilai SPF dengan range 6,64 – 14,12, nilai viskositas 10,333 – 13,000 cP yang memenuhi standar SNI, dan nilai daya sebar 6,52 – 7,92 cm. Formula optimum hasil prediksi D-Optimal menggunakan perangkat lunak Design Expert® 7.1.5 ditetapkan konsentrasi ekstrak 12% dan natrium alginat 3%. Peningkatan konsentrasi ekstrak dan Na. alginat menunjukkan tidak berpengaruh signifikan terhadap ketiga respon.