Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PERAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGURANGI PERILAKU PROGRASTINASI AKADEMIK SISWA Semail, Lilioca Yulianti; Bulor, Rosa Mustika
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2485

Abstract

Academic procrastination is a common problem that negatively affects students’ achievement and learning well-being. Guidance and Counseling (GC) teachers play a strategic role in helping students overcome these challenges through preventive, curative, and developmental services. This study aims to analyze the roles and intervention strategies of GC teachers in reducing students’ academic procrastination. The study employs a qualitative research method using a literature review approach that synthesizes theories, previous empirical findings, and relevant counseling intervention models. The results indicate that learning information services, individual and group counseling, and behavioral approaches such as self-management effectively reduce procrastination tendencies. Moreover, collaboration between GC teachers, subject teachers, and parents strengthens the effectiveness of interventions. This study concludes that optimizing the role of GC teachers is essential for reducing academic procrastination and improving students’ learning outcomes.ABSTRAKPenundaan akademik merupakan masalah umum yang berdampak negatif terhadap prestasi dan kesejahteraan belajar siswa. Guru Bimbingan dan Konseling (GC) memainkan peran strategis dalam membantu siswa mengatasi tantangan ini melalui layanan preventif, kuratif, dan pengembangan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis peran dan strategi intervensi guru GC dalam mengurangi penundaan akademik siswa. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan tinjauan literatur yang mensintesis teori, temuan empiris sebelumnya, dan model intervensi konseling yang relevan. Hasil menunjukkan bahwa layanan informasi pembelajaran, konseling individu dan kelompok, serta pendekatan perilaku seperti manajemen diri secara efektif mengurangi kecenderungan menunda-nunda. Selain itu, kolaborasi antara guru GC, guru mata pelajaran, dan orang tua memperkuat efektivitas intervensi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mengoptimalkan peran guru GC sangat penting untuk mengurangi penundaan akademik dan meningkatkan hasil belajar siswa.
Trauma Healing Pasca Bencana Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki Pada Peserta Didik Sekolah Menengah Bulor, Rosa Mustika; Lio, Stefanus; Nagul , Wens
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/qyben759

Abstract

Kecamatan Wulanggitang di Kabupaten Flores Timur terdampak erupsi gunung berapi yang menimbulkan kerusakan sekolah, pengungsian warga, dan trauma psikologis pada peserta didik sehingga mengganggu proses belajar. SMK Negeri 1 dan SMP Negeri 1 Wulanggitang mengalami keterbatasan fasilitas dan peningkatan kecemasan, stres, serta kesulitan mengekspresikan emosi. Untuk mengatasi permasalahan ini, dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa program trauma healing yang bertujuan memulihkan stabilitas emosional, meningkatkan rasa aman, optimisme, dan kemampuan adaptasi sosial peserta didik agar pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif. Metode yang digunakan mencakup biblioterapi untuk membantu peserta didik mengenali dan mengekspresikan emosi melalui bacaan reflektif, terapi naratif untuk membangun pemaknaan positif dari pengalaman traumatis, serta play therapy untuk meningkatkan kerja sama, interaksi sosial, dan mengurangi kecemasan melalui permainan terstruktur. Hasil kegiatan menunjukkan penurunan kecemasan, peningkatan ekspresi emosi positif, partisipasi aktif dalam interaksi sosial, dan kesiapan belajar yang lebih baik. Program ini menegaskan pentingnya intervensi psikososial berbasis konteks dan jenjang pendidikan dalam pemulihan pascabencana.