Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Effect of Temperature on the Physiological Response of Enhalus acoroides Seedlings Nugraha, Aditya Hikmat; Anggraini, Rika; Desrica, Ramona; Hidayati, Jelita Rahma; Addini, Indri; Halim, Muhamad
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 28, No 3 (2023): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.28.3.251-259

Abstract

Increasing sea surface temperatures as an effect of global warming can affect the survival of marine organism, among these marine organisms is seagrass. Temperature is one factor that can determine seagrass's physiological response in maintaining its life, including in the early stages of life in seagrass seedlings. This research aims to study the effect of temperature on the physiological response of Enhalus acoroides seedlings such as growth rate, leaf tissue anatomy, and chlorophyll content. The method used was an experiment in the laboratory. The seagrass seedlings were grown in an aquarium with three sea water temperature treatments (28°C, 31°C and 35°C) for 8 weeks of maintenance. The choice of sea water temperature treatment of 28°C (A) as a control is the optimal temperature range for seagrass, the treatment temperature of 31°C (B) refers to previous study, i.e. the temperature in the area of origin of the seagrass meadow, and the treatment temperature of 35°C (C) is considered as an estimate of temperature under the scenario of. The growth rate and the average leaf length were more optimal with a high chlorophyll content found at a temperature treatment of 28°C. The highest anatomical size of leaf tissue in the upper and lower epidermis was observed at 31°C, while the most extensive mesophyll tissue was observed at 35°C. In this study, temperature significantly affected the growth rate, average leaf length, anatomical structure of mesophyll tissue, and chlorophyll content of the Enhalus acoroides seedlings.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK RUMPUT LAUT HALIMEDA sp. Hidayati, Jelita Rahma; Novajrati Ningsih, Dwi Putri; Hikmat Nugraha, Aditya
Marinade Vol 7 No 02 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Fisheries Product Technology Department, Faculty of Marine Science and Fisheries, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/hbbty294

Abstract

Rumput laut memiliki fungsi salah satunya sebagai antioksidan yang diperlukan oleh tubuh untuk menghambat radikal bebas. Antioksidan terbagi menjadi antioksidan sintetik dan alami. Akan tetapi, dalam jangka waktu yang panjang antioksidan sintetik bersifat karsinogenik sehingga dibutuhkan antioksidan alami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui senyawa bioaktif dan kekuatan aktivitas antioksidan dari ekstrak rumput laut Halimeda sp. dari Perairan Bintan, Kepulauan Riau. Penelitian dilakukan selama 5 bulan diawali dengan pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara penyisiran dari dari Perairan Teluk Bakau hingga ke Desa Pengudang. Ekstraksi dilakukan selama 2x24 jam menggunakan pelarut methanol. Analisis aktivitas antioksidan pada penelitian ini menggunakan metode DPPH dengan melakukan pengujian gelombang maksimum, waktu inkubasi, aktivitas antioksidan sampel dan kontrol positif (BHT). Kategori aktivitas antioksidan ditentukan dari nilai Inhibition concentration 50 . Selanjutnya, dilakukan analisis keberadaan senyawa bioaktif yaitu uji steroid & triterpenoid, uji saponin, dan uji tanin. Uji kandungan total fenol dan uji kandungan flavonoid masing-masing menggunakan larutan asam galat dan kuersetin sebagai larutan standar. Uji pigmen dan karotenoid menggunakan pelarut aseton dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang 663, 645 dan 480 nm. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak Halimeda sp. memiliki nilai  221.62 ppm dan tergolong kategori antioksidan sangat lemah. Ekstrak ini mengandung senyawa bioaktif yaitu senyawa steroid dan tanin. Kandungan total fenolat, kandungan total flavonoid, klorofil a, klorofil b dan karotenoid memiliki nilai 26.745 mg GAE/g sampel, 5.553 mg QE/g sampel, 3.130 mg/g, 4.169 mg/g, 5.944 µmol/g.
PENGELOLAAN PENELURAN PENYU SEBAGAI UPAYA KONSERVASI JENIS IKAN DI PULAU MANGKAI Sinaga, Ronald Raditya Kesatria; Irfansyah, Rahmat; Daniel, Nadia Amalina; Hanif, Andriyatno; Hidayati, Jelita Rahma
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 20, No 4 (2024): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.20.4.165-172

Abstract

Kepulauan Anambas merupakan Kawasan konservasi yang dikelola sebagai upaya perlindungan dan pelestarian terhadap sumber daya ikan yang dilindungi, salah satunya penyu. Loka KKPN Pekanbaru melakukan monitoring penyu sebagai langkah konkret dalam menjaga populasi penyu agar tetap lestari serta untuk memperkuat penyusunan basis data penyu secara nasional. Lokasi pendaratan penyu yang dipilih sebagai titik monitoring adalah Pulau Mangkai yang merupakan pusat pelestarian penyu yang diinisiasi oleh LKKPN Pekanbaru. Kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan capaian monitoring penyu di Pulau Mangkai dan upaya kolaborasi konservasi penyu di Kawasan Konservasi Kepulauan Anambas. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan melakukan survei untuk mendapatkan data dan informasi yang dilakukan selama 12 bulan dengan total 365 hari monitoring selama tahun 2023. Hasil kegiatan monitoring menunjukan bahwa Pulau Mangkai menjadi tempat pendaratan penyu hijau dan penyu sisik sebanyak 828 kali pendaratan dengan jumlah peneluran hingga 713 sarang. Persentase penetasan dari sarang yang telah direlokasi adalah 82.19% dengan Hatching success 81.05%. Tukik yang hidup kemudian dirilis ke perairan dengan persentase perilisan tukik sebesar 98.62%. Keterlibatan stakeholder menjadi upaya yang penting dalam pengelolaan jenis ikan dilindungi di Kawasan Konservasi, dimana Kepulauan Anambas sebagai kawasan konservasi perairan sejak 2014 – 2023 bersama dengan multistakeholder telah berhasil menyelamatkan total 4813 sarang penyu dan merilis 312.919 ekor tukik di Pulau Mangkai, Pulau Pahat, Pulau Telukdalam dan Pulau Bawah.
Kerapatan dan Distribusi Lamun (Seagrass) di Perairan Senggarang, Kota Tanjungpinang Hartini, Yusma; Hidayati, Jelita Rahma; Idris, Fadhliyah
Akuatika Indonesia Vol 9, No 1 (2024): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v9i1.44721

Abstract

Perairan Senggarang memiliki ekosistem lamun yang sempit, diperparah dengan adanya aktivitas antropogenik seperti, aktivitas nelayan, sandar sampan, perangkap ikan, dan pemanfaatan sebagai tempat tinggal masyarakat menyebabkan degradasi pada ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase tutupan, jenis-jenis lamun dan kerapatan pada jenis Enhalus acoroides sebagai data awal pengelolaan ekosistem lamun di Perairan Senggarang. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Juli 2022 di perairan Senggarang, Kota Tanjungpinang. Metode penelitian ini adalah purposive sampling dengan menggunakan line transek sepanjang 100 meter ke arah laut dengan menggunakan roll meter. Kami menggunakan tiga transek dengan jarak 50-meter antar transek. Adapun pengamatan kerapatan dan tutupan lamun dilakukan pada transek kuadrat berukuran 50 x 50  dari 0 sampai titik 100 meter atau sampai tidak ditemukannya lamun. Hasil pengamatan menunjukan suhu perairan berkisar antara 33,233,8, salinitas 29,330,7‰ pH 8,08,3, dan DO 7,27,5. Tutupan total tertinggi ditemukan pada stasiun 1 dengan rata-rata 23,23% yang didominasi oleh Thalassia hemprichii sebesar 12,33%. Adapun kerapatan Enhalus acoroides tertinggi ditemukan pada stasiun 3. Hasil menunjukkan padang lamun di perairan Senggarang tergolong miskin dan termasuk kedalam kategori jarang.
Pertumbuhan, Tingkat Kelangsungan Hidup dan Stres Salinitas Litopenaeus Vannamei Melalui Pengkayaan Artemia dengan Alginat Yudiati, Ervia; Harahap, Akbar; Ridlo, Ali; Arifin, Zaenal; Hidayati, Jelita Rahma
Jurnal Intek Akuakultur Vol. 7 No. 1 (2023): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor penurunan produktivitas udang disebabkan oleh faktor lingkungan, termasuk salinitas dan kualitas pakan, sehingga perlu ditingkatkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian Artemia yang diperkaya alginat terhadap tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan dan ketahanan terhadap stres salinitas pada Post-Larva (PL)1 Litopenaeus vannamei. Pengkayaan Artemia dilakukan dengan proses perendaman selama satu jam. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan Kontrol (tanpa pengkayaan alginat) dan 3 perlakuan (pengkayaan Artemia sebanyak 10 ekor/mL/hari dengan alginat pada dosis 0 (kontrol), 400, 600, 800 ppm). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Pemeliharaan dengan pemberian pakan pengkayaan Artemia dilakukan selama 14 hari. Pertumbuhan panjang mutlak tertinggi diperoleh perlakuan yang diberi Artemia yang diperkaya alginat 600 ppm. Pertumbuhan mutlak berat diperoleh dari perlakuan Artemia dengan pengkayaan alginat 600 dan 800 ppm. Ketahanan stres salinitas tertinggi dengan kematian terlama diperoleh pada perlakuan yang diberi Artemia dengan pengkayaan alginat 400 ppm. Pemberian Artemia yang diperkaya alginat mampu meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan terhadap stres salinitas PL L. vannamei, namun tidak menunjukan pengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup.
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas Sinaga, Ronald Raditya Kesatria; Al-wira’i, Rifqi Maulid; Kurniawan, Fajar; Roni, Syofyan; Hidayati, Jelita Rahma
Akuatiklestari Vol 6 (2023): Jurnal Akuatiklestari - Edisi Khusus Seminar Nasional Perikanan Tangkap IX
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v6i.5010

Abstract

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem pada daerah tropis dan subtropis. Ekosistem ini terbentuk dari kegiatan biologis hewan karang yang hidup di dasar perairan laut dangkal. Komponen utama yang menyusun ekosistem ini adalah karang keras, sehingga tutupan karang keras dapat dijadikan sebagai indikator untuk menilai kesehatan terumbu karang. Selain itu, kondisi tutupan substrat dasar atau komponen bentik juga menjadi salah satu aspek penilaian kondisi kesehatan terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang di Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas. Penelitian dilakukan pada tahun 2021 pada 21 stasiun pengamatan di lokasi penelitian yang terdiri dari zona inti, pemanfaatan, perikanan berkelanjutan dan luar kawasan. Persentase tutupan karang dihitung menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dan analisis dilakukan dengan aplikasi CPCe. Hasil pengamatan menunjukkan adanya penempelan larva karang (Coral Recruitment) pada lokasi penelitian. Kategori tutupan bentik didominasi oleh Dead Coral with Algae (DCA) dengan persentase rata-rata yaitu 42,83%. Kondisi kesehatan terumbu karang menunjukkan terdapat empat stasiun dengan kategori baik (ANBC007, ANBC045, ANBC072 dan ANBC110), empat stasiun masuk dalam kategori buruk (ANBC003, ANBC010, ANBC069 dan ANBC122), sedangkan 13 stasiun lainnya masuk dalam kategori sedang. Kondisi kesehatan terumbu karang di Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas termasuk dalam kategori cukup/sedang, dengan persentase rata-rata tutupan karang keras hidup sebesar 37,83%.
Kandungan Senyawa Bioaktif dan Antioksidan Ekstrak Rumput Laut Merah Acanthophora sp. dari Perairan Pesisir Timur Pulau Bintan Asdi Wijaya; Jelita Rahma Hidayati; Aditya Hikmat Nugraha
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.40681

Abstract

Rumput laut merupakan tumbuhan tallophyta yang memiliki nilai ekonomis penting karena kandungan senyawa bioaktifnya. Rumput laut merah jenis Acanthophora sp. memiliki potensi sebagai antioksidan karena kandungan senyawa bioaktif yang beragam. Perairan pulau Bintan memiliki kelimpahan dan keanekaragaman rumput laut yang dipengaruhi oleh karakteristik air dan zona intertidal. Peneitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif dan menentukan aktivitas antioksidan ekstrak rumput laut merah Acanthophora sp. yang diperoleh dari perairan pesisir timur Pulau Bintan. Penelitian terdiri atas analisis kandungan senyawa bioaktif, kandungan total fenolat, kandungan total flavonoid, kandungan pigmen dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan kandungan senyawa bioaktif yang ditemukan yaitu senyawa steroid dan tanin. Kandungan total fenolat dan flavonoid sebesar 11 mg GAE/g sampel dan 0,217 mg QE/g sampel. Sedangkan kandungan pigmen klorofil a sebesar 0,6044 mg dan kandungan karotenoid sebesar 1,375 μmol. Ekstrak Acanthophora sp. memiliki aktivitas antioksidan DPPH dengan nilai IC50 sebesar 367,473 ppm dan tergolong antioksidan sangat lemah.
Estimasi Stok Karbon pada Tegakan Lamun Enhalus acoroides di Malang Rapat, Kabupaten Bintan Ayie Davila Lubis; Roseani Baiti Rohmah; Hilman Wiranata; Jelita Rahma Hidayati
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.46699

Abstract

Emisi karbon dioksida (CO2) telah meningkat di atmosfer menyebabkan peningkatan gas rumah kaca dan terjadinya pemanasan global. Salah satu metode penurunan emisi yaitu kemampuan organisme yang mampu menyerap CO2 melalui proses fotosintesis. Lamun merupakan organisme autotroph yang berpotensi sebagai penyerap dan penyimpan karbon, dimana lamun menyerap sebagian karbon untuk menghasilkan energi, dan lainnya disimpan sebagai biomassa. Penelitian estimasi stok atau simpanan karbon bertujuan untuk mengevaluasi dan mengestimasi karbon pada tegakan lamun, khususnya Enhalus acoroides, di Desa Malang Rapat, Kabupaten Bintan. Penelitian dilakukan mulai bulan April-Agustus 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini berupa metode line transect untuk pengambilan data lamun. Estimasi stok karbon pada lamun menggunakan metode LOI (Loss of Ignition). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 3 jenis lamun yaitu E. acoroides, Thalassia hemprichii, dan Cymodocea rotundata.  Persentase tutupan lamun tertinggi menunjukkan nilai 29,55% di stasiun 2 yang termasuk dalam kategori sedang, sedangkan kerapatan lamun jenis E. acoroides tertinggi menunjukkan nilai sebesar 193,09 tegakan/m2 dengan kategori sangat rapat di stasiun 3. Biomassa lamun diukur pada ketiga stasiun, dengan biomassa bawah substrat dominan lebih tinggi daripada biomassa atas substrat. Hasil analisis simpanan karbon biomassa atas maupun bawah substrat diketiga stasiun berkisar antara 4.368,81–19.661,83 gC/m2, dengan stasiun 3 menunjukkan nilai stok karbon tertinggi. Carbon dioxide (CO2) emissions have increased in the atmosphere, causing an increase in greenhouse gases and global warming. One method of reducing emissions is the ability of organisms to absorb CO2 through the process of photosynthesis. Seagrasses are autotroph organisms that have the potential to absorb and store carbon, where seagrasses absorb some carbon to produce energy, and others are stored as biomass. Carbon stock estimation research aims to evaluate and estimate carbon in seagrass stands, especially Enhalus acoroides, in Malang Rapat Village, Bintan Regency. The research was conducted from April-August 2024. The method used in this study was the line transect method for seagrass data collection. Estimation of carbon stock in seagrass using LOI (Loss of Ignition) method. Based on the results of the study, 3 types of seagrass were found, namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, and Cymodocea rotundata.  The highest percentage of seagrass cover showed a value of 29.55% at station 2 which was included in the medium category, while the highest density of seagrass species Enhalus acoroides showed a value of 193.09 stands/m2 with a very tight category at station 3. Seagrass biomass was measured at all three stations, with the dominant bottom substrate biomass higher than the top substrate biomass. The results of carbon stock analysis of both above and below substrate biomass at the three stations ranged from 4,368.81-19,661.83 gC/m2, with station 3 showing the highest carbon stock value.
Tingkat Keberhasilan Penetasan Telur Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) Di Pulau Mangkai Kepulauan Anambas Ronald Raditya Kesatria Sinaga; Andriyatno Hanif; Fajar Kurniawan; Syofyan Roni; Dominikus Yoeli Wilson Laia; Jelita Rahma Hidayati
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.38531

Abstract

Penyu adalah biota yang termasuk kategori hewan dilindungi, karena memiliki tingkat keterancaman punah yang tinggi dari faktor alami maupun antropogenik. Penyu menghabiskan hidupnya di laut lepas dan pergi ke daratan untuk bertelur pada setiap musimnya. Keberhasilan penetasan telur penyu menjadi hal yang penting sebagai upaya untuk menambah populasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberhasilan daya tetas telur penyu hijau (Chelonia mydas) serta penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di Pulau Mangkai Kabupaten Kepulauan Anambas. Penelitian dilakukan pada tahun 2022 di bagian utara (Pantai Empung) dan selatan Pulau Mangkai (Pantai Pantai Suit, Pantai Skanji dan Pantai Teluk Kado). Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan pada kondisi pantai pendaratan, jumlah sarang, jumlah telur, probabilitas dan frekuensi penyu bertelur, persentase telur menetas, hatching success dan persentase tukik hidup dan rilis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua jenis penyu yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang melakukan pendaratan di Pulau Mangkai. Probabilitas penyu bertelur terjadi selama 8 bulan dan probabilitas tertinggi didapat pada bulan Juni (100 %). Terdapat 615 sarang semi alami dan 4 sarang alami, di mana jumlah sarang tertinggi berada pada bulan Juni dengan total 164 sarang dari jenis penyu hijau. Jumlah telur yang ditemukan sebanyak 55.916 butir dan total telur yang menetas sebanyak 48.864 telur penyu. Rata-rata persentase hatching success didapatkan sebesar 86.27%, rata-rata persentase tukik hidup dan rilis sebesar 99.2%. Total tukik hidup dan yang berhasil dirilis di Pulau Mangkai sebanyak 48.276 ekor.  Sea turtles are one of the protected biota species because they have a high level of endangerment from both natural and anthropogenic factors. Turtles spend their lives on the high seas and go ashore to lay their eggs every season. The success of hatching turtle eggs is essential to increase their population. This study analyzes the hatching success rates of green sea turtles (Chelonia mydas) and hawksbill sea turtles (Eretmochelys imbricata) on Mangkai Island, Anambas Islands Regency. The research was conducted in 2022 in the northern (Empung Beach) and southern parts of Mangkai Island (Suit Beach, Skanji Beach, and Teluk Kado Beach). The research was conducted by observing the conditions of the number of nests, the number of eggs, the probability and frequency of turtle laying eggs, the percentage of hatching eggs, hatching success, and the rate of live and released hatchlings. The results showed that two types of turtles, namely the green sea turtle (Chelonia mydas) and the hawksbill sea turtle (Eretmochelys imbricata), landed on Mangkai Island. The probability of laying eggs occurs for eight months, and the highest probability is obtained in June (100%). There were 615 semi-natural nests and 4 natural nests, where the highest number was in June, with a total of 164 nests of green sea turtles. The number of eggs found was 55,916, and 48,864 turtle eggs were hatched. The average percentage of hatching success was 86.27%, and the average percentage of live and released hatchlings was 99.2%. The total number of live and successfully released hatchlings on Mangkai Island was 48,276.
Struktur Komunitas Mangrove di Pulau Mapur Utara Kabupaten Bintan Oktalistiana; Rika Anggraini; Jelita Rahma Hidayati
JURNAL ENGGANO Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.11.1.36-47

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan mengetahui struktur komunitas mangrove di Pulau Mapur Utara Kabupaten Bintan. Penentuan stasiun menggunakan metode purposive sampling dengan tiga stasiun plot pengamatan. Pengambilan data mangrove menggunakan metode transek kuadran, dengan melakukan penarikan transek garis sepanjang ditemukan ekosistem mangrove, garis transek ditarik dari arah laut menuju darat dengan plot berukuran 10 x 10m untuk pohon, 5 x 5m untuk pancang, 1 x 1m untuk semai. Komposisi jenis yang ditemukan terdapat 6 jenis yaitu, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Xylocarpus granatum, Bruguiera gymnorrhiza dan Ceriops decandra. Hasil kerapatan yang diperoleh mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 201 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa mangrove ketiga stasiun di Pulau Mapur Utara mempunyai standar tingkat kepadatan vegetasi mangrove atau kategori yang berbeda. Stasiun 1 memiliki nilai 1550 ind/Ha termasuk kriteria baik (sangat padat), pada stasiun 2 nilainya 1717 ind/Ha termasuk kriteria baik (sangat padat), dan pada stasiun 3 nilainya 1083 ind/Ha termasuk kriteria baik (sedang). Pada stasiun 1,2, dan 3 jenis yang paling mendominasi yaitu Rhizophora sp. Berdasarkan hasil INP di Pulau Mapur Utara dapat dilihat bahwa jenis Rhizophora sp. sangat mendominasi dan tersebar merata hampir di seluruh area ekosistem mangrove. Kata kunci: Mangrove, Komposisi jenis, Pulau Mapur Utara
Co-Authors Abidin Nur II Addini, Indri Adi Santoso Aditya Hikmat Nugraha Agung Dhamar Syakti Al-wira’i, Rifqi Maulid Ali Ridlo Andriyatno Hanif Arief Pratomo Arumning T. Fauziah Asdi Wijaya Ayie Davila Lubis Ayu, Inna Puspa Beginer Subhan Carolline Desrainy Nababan Chandra Joei Koenawan Daniel, Nadia Amalina Delianis Pringgenies Dermawati Sihite Desrica, Ramona Diah Alviana Diah Tri OktaviyantI Dominikus Yoeli Wilson Laia Dominikus Yoeli Wilson Laia Dony Apdillah Eddy Handoko Eny Heriyati Ervia Yudiati Ervia Yudiati Esty Kurniawati Fadhliyah Idris Fajar Kurniawan Fajar Kurniawan Falmi Yandri Fanny Iriany Ginzel Febrianti Lestari halim, muhamad Hanif, Andriyatno Harahap, Akbar Hartini, Yusma Hillyatul Aulia Hilman Wiranata Hilyatul Aulia Ilil Arifatin Ilil Arifatin Irfansyah, Rahmat Ita Karlina Johannes Hutabarat Kelvin Imaniar Yoenky Laia, Dominikus Yoeli Wilson Mila Safitri Rizfa Mostafa Imhmed Ighwerb Muhammad Fajri Muhammad Salauddin Ramadhan Djarod Muhammad Syaifudien Bahry Murwanto Murwanto Novajrati Ningsih, Dwi Putri Nuril Azhar Nuril Azhar Nurul Hati Nurul Hayaty Oktalistiana Poppy Yulia Anjani Poppy Yulia Anjani Rabia Alghazeer Retno Hartati Rika Anggraini Rika Angraeni Rika Kurniawan Rini Pramesti Ronald Raditya Kesatria Sinaga Ronald Raditya Kesatria Sinaga Roni, Syofyan Roseani Baiti Rohmah Rosyita Alifiya Rudhi Pribadi Rustadi Rustadi Sadam Sadam Said Rully Aditianda Said Rully Aditianda Sinaga, Ronald Raditya Kesatria Soneta Achmadiah Soneta Achmadiyah Susanti Susanti Syofyan Roni Try Febrianto Widianingsih Widianingsih Zaenal Arifin Zaenal Arifin Zaenal Arifin Zaneb M. Ben Mansur