Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Effect of Temperature on the Physiological Response of Enhalus acoroides Seedlings Nugraha, Aditya Hikmat; Anggraini, Rika; Desrica, Ramona; Hidayati, Jelita Rahma; Addini, Indri; Halim, Muhamad
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 28, No 3 (2023): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.28.3.251-259

Abstract

Increasing sea surface temperatures as an effect of global warming can affect the survival of marine organism, among these marine organisms is seagrass. Temperature is one factor that can determine seagrass's physiological response in maintaining its life, including in the early stages of life in seagrass seedlings. This research aims to study the effect of temperature on the physiological response of Enhalus acoroides seedlings such as growth rate, leaf tissue anatomy, and chlorophyll content. The method used was an experiment in the laboratory. The seagrass seedlings were grown in an aquarium with three sea water temperature treatments (28°C, 31°C and 35°C) for 8 weeks of maintenance. The choice of sea water temperature treatment of 28°C (A) as a control is the optimal temperature range for seagrass, the treatment temperature of 31°C (B) refers to previous study, i.e. the temperature in the area of origin of the seagrass meadow, and the treatment temperature of 35°C (C) is considered as an estimate of temperature under the scenario of. The growth rate and the average leaf length were more optimal with a high chlorophyll content found at a temperature treatment of 28°C. The highest anatomical size of leaf tissue in the upper and lower epidermis was observed at 31°C, while the most extensive mesophyll tissue was observed at 35°C. In this study, temperature significantly affected the growth rate, average leaf length, anatomical structure of mesophyll tissue, and chlorophyll content of the Enhalus acoroides seedlings.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK RUMPUT LAUT HALIMEDA sp. Hidayati, Jelita Rahma; Novajrati Ningsih, Dwi Putri; Hikmat Nugraha, Aditya
Marinade Vol 7 No 02 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Fisheries Product Technology Department, Faculty of Marine Science and Fisheries, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/hbbty294

Abstract

Rumput laut memiliki fungsi salah satunya sebagai antioksidan yang diperlukan oleh tubuh untuk menghambat radikal bebas. Antioksidan terbagi menjadi antioksidan sintetik dan alami. Akan tetapi, dalam jangka waktu yang panjang antioksidan sintetik bersifat karsinogenik sehingga dibutuhkan antioksidan alami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui senyawa bioaktif dan kekuatan aktivitas antioksidan dari ekstrak rumput laut Halimeda sp. dari Perairan Bintan, Kepulauan Riau. Penelitian dilakukan selama 5 bulan diawali dengan pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara penyisiran dari dari Perairan Teluk Bakau hingga ke Desa Pengudang. Ekstraksi dilakukan selama 2x24 jam menggunakan pelarut methanol. Analisis aktivitas antioksidan pada penelitian ini menggunakan metode DPPH dengan melakukan pengujian gelombang maksimum, waktu inkubasi, aktivitas antioksidan sampel dan kontrol positif (BHT). Kategori aktivitas antioksidan ditentukan dari nilai Inhibition concentration 50 . Selanjutnya, dilakukan analisis keberadaan senyawa bioaktif yaitu uji steroid & triterpenoid, uji saponin, dan uji tanin. Uji kandungan total fenol dan uji kandungan flavonoid masing-masing menggunakan larutan asam galat dan kuersetin sebagai larutan standar. Uji pigmen dan karotenoid menggunakan pelarut aseton dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang 663, 645 dan 480 nm. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak Halimeda sp. memiliki nilai  221.62 ppm dan tergolong kategori antioksidan sangat lemah. Ekstrak ini mengandung senyawa bioaktif yaitu senyawa steroid dan tanin. Kandungan total fenolat, kandungan total flavonoid, klorofil a, klorofil b dan karotenoid memiliki nilai 26.745 mg GAE/g sampel, 5.553 mg QE/g sampel, 3.130 mg/g, 4.169 mg/g, 5.944 µmol/g.
PENGELOLAAN PENELURAN PENYU SEBAGAI UPAYA KONSERVASI JENIS IKAN DI PULAU MANGKAI Sinaga, Ronald Raditya Kesatria; Irfansyah, Rahmat; Daniel, Nadia Amalina; Hanif, Andriyatno; Hidayati, Jelita Rahma
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 20, No 4 (2024): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.20.4.165-172

Abstract

Kepulauan Anambas merupakan Kawasan konservasi yang dikelola sebagai upaya perlindungan dan pelestarian terhadap sumber daya ikan yang dilindungi, salah satunya penyu. Loka KKPN Pekanbaru melakukan monitoring penyu sebagai langkah konkret dalam menjaga populasi penyu agar tetap lestari serta untuk memperkuat penyusunan basis data penyu secara nasional. Lokasi pendaratan penyu yang dipilih sebagai titik monitoring adalah Pulau Mangkai yang merupakan pusat pelestarian penyu yang diinisiasi oleh LKKPN Pekanbaru. Kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan capaian monitoring penyu di Pulau Mangkai dan upaya kolaborasi konservasi penyu di Kawasan Konservasi Kepulauan Anambas. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan melakukan survei untuk mendapatkan data dan informasi yang dilakukan selama 12 bulan dengan total 365 hari monitoring selama tahun 2023. Hasil kegiatan monitoring menunjukan bahwa Pulau Mangkai menjadi tempat pendaratan penyu hijau dan penyu sisik sebanyak 828 kali pendaratan dengan jumlah peneluran hingga 713 sarang. Persentase penetasan dari sarang yang telah direlokasi adalah 82.19% dengan Hatching success 81.05%. Tukik yang hidup kemudian dirilis ke perairan dengan persentase perilisan tukik sebesar 98.62%. Keterlibatan stakeholder menjadi upaya yang penting dalam pengelolaan jenis ikan dilindungi di Kawasan Konservasi, dimana Kepulauan Anambas sebagai kawasan konservasi perairan sejak 2014 – 2023 bersama dengan multistakeholder telah berhasil menyelamatkan total 4813 sarang penyu dan merilis 312.919 ekor tukik di Pulau Mangkai, Pulau Pahat, Pulau Telukdalam dan Pulau Bawah.
Kerapatan dan Distribusi Lamun (Seagrass) di Perairan Senggarang, Kota Tanjungpinang Hartini, Yusma; Hidayati, Jelita Rahma; Idris, Fadhliyah
Akuatika Indonesia Vol 9, No 1 (2024): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v9i1.44721

Abstract

Perairan Senggarang memiliki ekosistem lamun yang sempit, diperparah dengan adanya aktivitas antropogenik seperti, aktivitas nelayan, sandar sampan, perangkap ikan, dan pemanfaatan sebagai tempat tinggal masyarakat menyebabkan degradasi pada ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase tutupan, jenis-jenis lamun dan kerapatan pada jenis Enhalus acoroides sebagai data awal pengelolaan ekosistem lamun di Perairan Senggarang. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Juli 2022 di perairan Senggarang, Kota Tanjungpinang. Metode penelitian ini adalah purposive sampling dengan menggunakan line transek sepanjang 100 meter ke arah laut dengan menggunakan roll meter. Kami menggunakan tiga transek dengan jarak 50-meter antar transek. Adapun pengamatan kerapatan dan tutupan lamun dilakukan pada transek kuadrat berukuran 50 x 50  dari 0 sampai titik 100 meter atau sampai tidak ditemukannya lamun. Hasil pengamatan menunjukan suhu perairan berkisar antara 33,233,8, salinitas 29,330,7‰ pH 8,08,3, dan DO 7,27,5. Tutupan total tertinggi ditemukan pada stasiun 1 dengan rata-rata 23,23% yang didominasi oleh Thalassia hemprichii sebesar 12,33%. Adapun kerapatan Enhalus acoroides tertinggi ditemukan pada stasiun 3. Hasil menunjukkan padang lamun di perairan Senggarang tergolong miskin dan termasuk kedalam kategori jarang.
PENINGKATAN PEMAHAMAN MASYARAKAT MELALUI SOSIALISASI PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS OBSERVASI SAMPAH DI MANGROVE DOMPAK Idris, Fadhliyah; Hidayati, Jelita Rahma; Hayaty, Nurul; Koenawan, Chandra Joei; Yandri, Falmi; Kurniawan, Rika; Nugraha, Aditya Hikmat; Sadam, Sadam; Aditianda, Said Rully; Anjani, Poppy Yulia; Aulia, Hillyatul; Arifatin, Ilil; Achmadiyah, Soneta
Jurnal Pemberdayaan Maritim Vol 8 No 1 (2025): Journal of Maritime Empowerment
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Penjaminan Mutu, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jme.v8i1.7700

Abstract

Permasalahan sampah laut di kawasan pesisir, termasuk ekosistem mangrove di Dompak, semakin memprihatinkan dengan dominasi sampah plastik dan keberadaan mikroplastik. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah mendorong perlunya kegiatan sosialisasi yang terarah dan berbasis data lapangan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat melalui sosialisasi pengelolaan sampah sekaligus melakukan observasi jenis sampah di ekosistem mangrove Dompak. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi dengan pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pemahaman masyarakat, serta pengamatan langsung komposisi sampah ukuran makro dan mikro di lokasi penelitian. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara nilai pre test dan post test, sedangkan uji N-Gain menghasilkan peningkatan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan sampah sebesar 66,67% pada kategori sedang. Observasi lapangan memperlihatkan bahwa sampah plastik mendominasi hingga 80% dari total komposisi sampah makro, sedangkan mikroplastik yang terdeteksi pada sedimen didominasi oleh tipe film sebesar 85%. Temuan ini mengindikasikan bahwa sosialisasi yang dilakukan efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan sampah, namun pencemaran plastik di ekosistem mangrove Dompak masih tinggi sehingga memerlukan tindak lanjut berupa aksi nyata dan penguatan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Pertumbuhan, Tingkat Kelangsungan Hidup dan Stres Salinitas Litopenaeus Vannamei Melalui Pengkayaan Artemia dengan Alginat Yudiati, Ervia; Harahap, Akbar; Ridlo, Ali; Arifin, Zaenal; Hidayati, Jelita Rahma
Jurnal Intek Akuakultur Vol. 7 No. 1 (2023): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor penurunan produktivitas udang disebabkan oleh faktor lingkungan, termasuk salinitas dan kualitas pakan, sehingga perlu ditingkatkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian Artemia yang diperkaya alginat terhadap tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan dan ketahanan terhadap stres salinitas pada Post-Larva (PL)1 Litopenaeus vannamei. Pengkayaan Artemia dilakukan dengan proses perendaman selama satu jam. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan Kontrol (tanpa pengkayaan alginat) dan 3 perlakuan (pengkayaan Artemia sebanyak 10 ekor/mL/hari dengan alginat pada dosis 0 (kontrol), 400, 600, 800 ppm). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Pemeliharaan dengan pemberian pakan pengkayaan Artemia dilakukan selama 14 hari. Pertumbuhan panjang mutlak tertinggi diperoleh perlakuan yang diberi Artemia yang diperkaya alginat 600 ppm. Pertumbuhan mutlak berat diperoleh dari perlakuan Artemia dengan pengkayaan alginat 600 dan 800 ppm. Ketahanan stres salinitas tertinggi dengan kematian terlama diperoleh pada perlakuan yang diberi Artemia dengan pengkayaan alginat 400 ppm. Pemberian Artemia yang diperkaya alginat mampu meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan terhadap stres salinitas PL L. vannamei, namun tidak menunjukan pengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup.
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas Sinaga, Ronald Raditya Kesatria; Al-wira’i, Rifqi Maulid; Kurniawan, Fajar; Roni, Syofyan; Hidayati, Jelita Rahma
Akuatiklestari Vol 6 (2023): Jurnal Akuatiklestari - Edisi Khusus Seminar Nasional Perikanan Tangkap IX
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v6i.5010

Abstract

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem pada daerah tropis dan subtropis. Ekosistem ini terbentuk dari kegiatan biologis hewan karang yang hidup di dasar perairan laut dangkal. Komponen utama yang menyusun ekosistem ini adalah karang keras, sehingga tutupan karang keras dapat dijadikan sebagai indikator untuk menilai kesehatan terumbu karang. Selain itu, kondisi tutupan substrat dasar atau komponen bentik juga menjadi salah satu aspek penilaian kondisi kesehatan terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang di Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas. Penelitian dilakukan pada tahun 2021 pada 21 stasiun pengamatan di lokasi penelitian yang terdiri dari zona inti, pemanfaatan, perikanan berkelanjutan dan luar kawasan. Persentase tutupan karang dihitung menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dan analisis dilakukan dengan aplikasi CPCe. Hasil pengamatan menunjukkan adanya penempelan larva karang (Coral Recruitment) pada lokasi penelitian. Kategori tutupan bentik didominasi oleh Dead Coral with Algae (DCA) dengan persentase rata-rata yaitu 42,83%. Kondisi kesehatan terumbu karang menunjukkan terdapat empat stasiun dengan kategori baik (ANBC007, ANBC045, ANBC072 dan ANBC110), empat stasiun masuk dalam kategori buruk (ANBC003, ANBC010, ANBC069 dan ANBC122), sedangkan 13 stasiun lainnya masuk dalam kategori sedang. Kondisi kesehatan terumbu karang di Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas termasuk dalam kategori cukup/sedang, dengan persentase rata-rata tutupan karang keras hidup sebesar 37,83%.
Estimasi Stok Karbon pada Tegakan Lamun Enhalus acoroides di Malang Rapat, Kabupaten Bintan Ayie Davila Lubis; Roseani Baiti Rohmah; Hilman Wiranata; Jelita Rahma Hidayati
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.46699

Abstract

Emisi karbon dioksida (CO2) telah meningkat di atmosfer menyebabkan peningkatan gas rumah kaca dan terjadinya pemanasan global. Salah satu metode penurunan emisi yaitu kemampuan organisme yang mampu menyerap CO2 melalui proses fotosintesis. Lamun merupakan organisme autotroph yang berpotensi sebagai penyerap dan penyimpan karbon, dimana lamun menyerap sebagian karbon untuk menghasilkan energi, dan lainnya disimpan sebagai biomassa. Penelitian estimasi stok atau simpanan karbon bertujuan untuk mengevaluasi dan mengestimasi karbon pada tegakan lamun, khususnya Enhalus acoroides, di Desa Malang Rapat, Kabupaten Bintan. Penelitian dilakukan mulai bulan April-Agustus 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini berupa metode line transect untuk pengambilan data lamun. Estimasi stok karbon pada lamun menggunakan metode LOI (Loss of Ignition). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 3 jenis lamun yaitu E. acoroides, Thalassia hemprichii, dan Cymodocea rotundata.  Persentase tutupan lamun tertinggi menunjukkan nilai 29,55% di stasiun 2 yang termasuk dalam kategori sedang, sedangkan kerapatan lamun jenis E. acoroides tertinggi menunjukkan nilai sebesar 193,09 tegakan/m2 dengan kategori sangat rapat di stasiun 3. Biomassa lamun diukur pada ketiga stasiun, dengan biomassa bawah substrat dominan lebih tinggi daripada biomassa atas substrat. Hasil analisis simpanan karbon biomassa atas maupun bawah substrat diketiga stasiun berkisar antara 4.368,81–19.661,83 gC/m2, dengan stasiun 3 menunjukkan nilai stok karbon tertinggi. Carbon dioxide (CO2) emissions have increased in the atmosphere, causing an increase in greenhouse gases and global warming. One method of reducing emissions is the ability of organisms to absorb CO2 through the process of photosynthesis. Seagrasses are autotroph organisms that have the potential to absorb and store carbon, where seagrasses absorb some carbon to produce energy, and others are stored as biomass. Carbon stock estimation research aims to evaluate and estimate carbon in seagrass stands, especially Enhalus acoroides, in Malang Rapat Village, Bintan Regency. The research was conducted from April-August 2024. The method used in this study was the line transect method for seagrass data collection. Estimation of carbon stock in seagrass using LOI (Loss of Ignition) method. Based on the results of the study, 3 types of seagrass were found, namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, and Cymodocea rotundata.  The highest percentage of seagrass cover showed a value of 29.55% at station 2 which was included in the medium category, while the highest density of seagrass species Enhalus acoroides showed a value of 193.09 stands/m2 with a very tight category at station 3. Seagrass biomass was measured at all three stations, with the dominant bottom substrate biomass higher than the top substrate biomass. The results of carbon stock analysis of both above and below substrate biomass at the three stations ranged from 4,368.81-19,661.83 gC/m2, with station 3 showing the highest carbon stock value.
Empowering the Anambas Islands Community Through Waste Education and the Potential of Utilizing Mangrove Waste into Bioplastics Hidayati, Jelita Rahma; Febrianto, Try; Susanti, Susanti; Sinaga, Ronald Raditya Kesatria; Laia, Dominikus Yoeli Wilson; Alifiya, Rosyita; Handoko, Eddy; Murwanto, Murwanto; Anggraini, Rika; Nugraha, Aditya Hikmat; Arifatin, Ilil; Aditianda, Said Rully; Anjani, Poppy Yulia; Aulia, Hilyatul; Achmadiah, Soneta
Jurnal IPTEK Bagi Masyarakat Vol 5 No 3 (2026)
Publisher : Ali Institute of Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55537/j-ibm.v5i3.1605

Abstract

Waste, particularly plastic, poses a serious threat to coastal ecosystems in the Anambas Islands, Riau Islands Province. This community service program collaborated with LKKPN Pekabaru and Yayasan Jaga Mangkai aimed to enhance environmental literacy, raise awareness on waste management, and introduce the potential of mangrove waste (Bruguiera gymnorhiza) as raw material for environmentally friendly bioplastic. The methods included educational sessions, interactive discussions, coastal clean-up activities, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. The results revealed that from 407.1 kg, 69% of the collected waste consisted of non-plastic categories. Laboratory tests on mangrove waste indicated the presence of active compounds with potential for bioplastic production. Questionnaire evaluation showed a significant improvement in community understanding, with average scores exceeding 50% in aspects of waste knowledge, bioplastic innovation, and attitudes toward environmental management. In conclusion, the program effectively increased ecological awareness and highlighted the potential for local innovation based on coastal resources. Nevertheless, follow-up programs are necessary to ensure that improved knowledge is transformed into sustainable daily practices in waste management.