Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Petroleum Degradation by Bacteria Explored from Logending Mangrove Sediments Apriliani, Herlina; Pramono, Hendro; Oedjijono, Oedjijono; Widodo, Wimbuh Tri; Kristianto, Sonny; Putri, Rury Eryna; Unsunnidhal, Lalu
Biota Vol 12 No 1 (2026): Jurnal Biota 2026
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/biota.v12i1.29245

Abstract

Oil spills resulting from shipping activities, tanker-based oil transportation, and fuel oil usage can cause coastal pollution, particularly in sensitive ecosystems such as mangroves. More than 90% of petroleum consists of hydrocarbons with complex carbon chain structures, making them difficult to decompose. Biological remediation using microorganisms offers a promising alternative for pollution mitigation, as microbes can degrade petroleum components and oxidizing hydrocarbons. This study aimed to evaluate the petroleum-degrading ability of selected bacterial isolates obtained from mangrove sediments at Logending Beach. The research employed experimental and survey methods. The primary parameter measured was Total Petroleum Hydrocarbons (TPH), while supporting parameters included pH and bacterial population density. The study consisted of several stages, including bacterial isolation, screening, and evaluation of the petroleum degradation capacity of selected isolates. The results identified two potential bacterial isolates capable of degrading crude oil. Isolate LG62 exhibited a degradation efficiency of 71.40%, while isolate LG105 showed a degradation efficiency of 57.10%. Petroleum concentrations of 2% (v/v) and 5% (v/v) were degraded more effectively than higher concentrations. Overall, the two bacterial isolates (LG62 and LG105) from Logending mangrove sediments demonstrated significant potential as bioremediation agents for petroleum hydrocarbon contamination.
Etnofarmakologi Etnis Madura: Kajian Obat Herbal Tradisional untuk Pengobatan Gejala Tuberkulosis Kristianto, Sonny; Putri, Rury Eryna; Widodo, Wimbuh Tri
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2025.v12.i01.p4

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB) dan menyebar melalui udara. Selain relatif mahal dan akses terbatas, fenomena resistensi TBC terhadap obat menjadi hal umum di negara berkembang termasuk Indonesia. Di sisi lain, obat herbal tradisional Indonesia yang dikenal sebagai jamu telah digunakan sejak lama untuk mengobati gejala penyakit TBC. Suku Madura merupakan salah satu suku di Indonesia yang masih menggunakan tanaman herbal sebagai jamu tradisional. Penelitian ini mengeksplor jenis tanaman obat yang digunakan oleh etnis Madura untuk meramu jamu dan menduga kandungan senyawa aktif dalam jamu yang terlibat dalam pengobatan TBC. Pendekatan deskriptif-kualitatif berupa wawancara mendalam pada masyarakat lokal dilakukan untuk menemukan potensi obat dari etnis Madura serta prediksi aktivitas senyawa aktif untuk penanganan gejala penyakit kronis populer berupa TBC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara pemanfaatan tanaman obat sebagai jamu tradisional oleh etnis Madura masih mempertahankan budaya warisan leluhur dengan menggunakan peralatan tradisional yang terbuat dari tanah. Selain itu, sebagian besar tanaman obat yang dimanfaatkan oleh etnis Madura tergolong dalam famili Zingiberaceae yang memiliki beragam senyawa aktif dengan aktivitas antioksidan, antimikrob, antiinflamasi bahkan antitusif yang baik untuk mengurangi gejala TBC berupa demam dan batuk. Temuan etnofarmakologi ini menjembatani pengetahuan herbal lokal etnis Madura dengan kajian ilmiah modern, serta menunjukkan potensi jamu tradisional sebagai sumber kandidat terapi pendukung untuk penanganan gejala Tuberkulosis (TBC). Kata kunci: antimikroba, etnis Madura, jamu, senyawa aktif, TBC
Etnofarmakologi Etnis Madura: Kajian Obat Herbal Tradisional untuk Pengobatan Gejala Tuberkulosis Kristianto, Sonny; Putri, Rury Eryna; Widodo, Wimbuh Tri
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2025.v12.i01.p4

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB) dan menyebar melalui udara. Selain relatif mahal dan akses terbatas, fenomena resistensi TBC terhadap obat menjadi hal umum di negara berkembang termasuk Indonesia. Di sisi lain, obat herbal tradisional Indonesia yang dikenal sebagai jamu telah digunakan sejak lama untuk mengobati gejala penyakit TBC. Suku Madura merupakan salah satu suku di Indonesia yang masih menggunakan tanaman herbal sebagai jamu tradisional. Penelitian ini mengeksplor jenis tanaman obat yang digunakan oleh etnis Madura untuk meramu jamu dan menduga kandungan senyawa aktif dalam jamu yang terlibat dalam pengobatan TBC. Pendekatan deskriptif-kualitatif berupa wawancara mendalam pada masyarakat lokal dilakukan untuk menemukan potensi obat dari etnis Madura serta prediksi aktivitas senyawa aktif untuk penanganan gejala penyakit kronis populer berupa TBC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara pemanfaatan tanaman obat sebagai jamu tradisional oleh etnis Madura masih mempertahankan budaya warisan leluhur dengan menggunakan peralatan tradisional yang terbuat dari tanah. Selain itu, sebagian besar tanaman obat yang dimanfaatkan oleh etnis Madura tergolong dalam famili Zingiberaceae yang memiliki beragam senyawa aktif dengan aktivitas antioksidan, antimikrob, antiinflamasi bahkan antitusif yang baik untuk mengurangi gejala TBC berupa demam dan batuk. Temuan etnofarmakologi ini menjembatani pengetahuan herbal lokal etnis Madura dengan kajian ilmiah modern, serta menunjukkan potensi jamu tradisional sebagai sumber kandidat terapi pendukung untuk penanganan gejala Tuberkulosis (TBC). Kata kunci: antimikroba, etnis Madura, jamu, senyawa aktif, TBC
Evaluasi Toksisitas Letal dari Kombinasi Antidepresan Fluoxetine dan Antihistamin Diphenhydramine: Sebuah Studi Kasus Maharani, Norika Aurelia; Aini, Anggun Qurrota; Putri, Rury Eryna; Kristianto, Sonny
JURNAL BIOSHELL Vol 15 No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/bio.v15i1.4699

Abstract

Kasus kematian yang disebabkan oleh penyalahgunaan dan overdosis obat, semakin marak terjadi. Beberapa di antara obat yang sering ditemukan pada TKP berasal dari golongan antihistamin OTC dan antidepresan. Seseorang yang berkemungkinan mengonsumsi kedua golongan obat tersebut, memiliki peningkatan risiko toksisitas letal yang disebabkan oleh interaksi antara kedua obat. Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang risiko kombinasi toksisitas yang disebabkan oleh interaksi antara kedua golongan obat tersebut dan untuk membahas risiko terjadinya kasus yang serupa di Indonesia. Metode penulisan artikel ini didasarkan pada studi dari kasus kematian akibat kombinasi toksisitas. Dari kasus yang dibahas, dapat diketahui bahwa interaksi antara antihistamin OTC diphenhydramine dan antidepresan fluoxetine menyebabkan peningkatan toksisitas obat secara fatal di dalam darah korban, yang mengarah pada kematian korban. Komplikasi lain yang dapat disebabkan oleh interaksi antara kedua obat tersebut adalah sindrom serotonin. Studi lebih lanjut mengenai komplikasi lain yang disebabkan oleh interaksi yang dapat berakibat fatal antara kedua obat yang telah dibahas dan obat lain yang memiliki kemiripan dengan kedua obat tersebut masih diperlukan.
Tinjauan Pustaka: Analisis Komposisi Rasa dalam Cairan Elektronik Menggunakan GC-MS dan Potensi Dampaknya terhadap Kesehatan Pernapasan Shalsa Septia Zulni; Mochammad Yuwono; Rury Eryna Putri; Aghnia Nabila; Rachmadi Azhar Fathoni
Acta Chimica Asiana Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : The Indonesian Chemical Society, Chapter Nusa Tenggara and The University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/aca.v9i1.260

Abstract

The use of electronic cigarettes (e-cigarettes) has increased substantially in recent years as an alternative to conventional tobacco smoking. E-liquids, the core component of these devices, are formulated with various flavoring chemicals to enhance user experience. However, these flavoring agents may pose potential health risks when inhaled. This study aims to systematically review the chemical constituents of e-liquid flavorings identified using Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS). A comprehensive literature search was conducted through PubMed, Google Scholar, and ScienceDirect databases, focusing on articles published within the past ten years. The analysis concentrated on identifying chemical compounds present in a range of e-liquid flavors, including vanilla, bubble gum, coffee, tobacco, strawberry, lemon, and cannabis. The findings indicate that e-liquids commonly contain compounds such as vanillin, ethyl maltol, cinnamaldehyde, benzaldehyde, and limonene. While these substances are generally recognized for their aromatic and flavor-enhancing properties, several have been associated with adverse respiratory effects. Upon heating, these flavoring compounds undergo thermal degradation, producing harmful carbonyl derivatives such as formaldehyde and acetaldehyde. Both compounds are classified as human carcinogens by the International Agency for Research on Cancer (IARC). Nicotine, frequently present in e-liquids, contributes to addictive behavior and is associated with increased risks of psychological disorders. Additionally, certain studies have reported the presence of diethyl phthalate, likely introduced through contamination from packaging materials. This review highlights the critical need for stricter regulation of flavoring agents in e-liquids to mitigate their potential toxicological impact. Standardized testing and safety evaluations should be mandated prior to product approval. Furthermore, more rigorous scientific investigations are required to assess the long-term health effects of chronic exposure to inhaled flavoring chemicals. The study also underscores the importance of raising public awareness regarding the potential dangers of vaping and supports the development of comprehensive policies to control the chemical composition of e-cigarette products.
Perawatan Luka Modern Dressing Film Transparant Dengan Gentamicin Sebagai Dressing Primer Pada Gangguan Integritas Jaringan Pasien Diabetes Melitus Tipe II Wita Pamelia; Rury Eryna Putri; Sapondra Wijaya; Indah Dewi Ridawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58036

Abstract

Diabetes melitus tipe II merupakan penyakit kronis yang dapat menimbulkan komplikasi berupa luka diabetik yang berisiko menyebabkan infeksi, gangguan integritas jaringan, dan amputasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas perawatan luka menggunakan modern dressing film transparan dengan gentamicin sebagai dressing primer pada pasien diabetes melitus tipe II. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif pada dua pasien dengan luka diabetik . Intervensi dilakukan selama dua minggu melalui empat kali kunjungan yang meliputi pembersihan luka menggunakan NaCl 0,9%, pemberian salep gentamisin, dan pemasangan modern dressing film transparan. Evaluasi penyembuhan luka dilakukan menggunakan Bates-Jensen Wound Assessment Tool. Hasil penelitian menunjukkan pada Ny. T ukuran luka menurun dari 1,5 × 1 cm menjadi 0,5 × 0,4 cm dengan skor BWAT turun dari 17 menjadi 13. Pada Ny. S ukuran luka menurun dari 4 × 1 cm menjadi 3 × 0,5 cm dengan skor BWAT turun dari 18 menjadi 14. Disimpulkan bahwa modern dressing film transparan dengan gentamicin efektif mendukung penyembuhan luka diabetik pada pasien diabetes melitus tipe II.
PANDANGAN DIAGNOSTIK DAN MEDIKOLEGAL TENTANG PROLAPSUS UTEROVAGINAL SEBAGAI DUGAAN KASUS PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP ANAK: DIAGNOSTIC AND MEDICO LEGAL PERSPECTIVES ON UTEROVAGINAL PROLAPSE AS A SUSPECTED OF CHILD SEXUAL ABUSE Syafira Nurfajri Istiqomah; Ahmad Yudianto; Duta Nurdibyanandaru; Rury Eryna Putri; Wahyuni Dyah Parmasari
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1239

Abstract

Uterovaginal prolapse (UVP) in children is a rare condition that can pose diagnostic challenges, particularly in clinical and forensic contexts. This study aims to evaluate, through a literature review, whether Uterovaginal prolapse can be considered a potential indicator of child sexual abuse or is instead a pathological condition that requires careful differentiation. The method used was a literature review involving a search of 30 databases. From the search results, a number of relevant articles were identified. Through a selection process based on inclusion and exclusion criteria, seven scientific articles were selected for further analysis. Several reports in the literature emphasize the importance of a comprehensive evaluation because the similarity of these symptoms can lead to bias in both clinical and forensic interpretations. These findings indicate that Uterovaginal prolapse may be indicative of child sexual abuse, as it shares clinical similarities with certain conditions, underscoring the importance of differential diagnosis. Therefore, physicians, particularly those in the forensic field, must conduct a comprehensive evaluation to distinguish between pathological conditions and potential sexual abuse. The development of clear clinical guidelines and interdisciplinary collaboration between medical professionals and law enforcement are crucial for improving diagnostic accuracy and preventing inappropriate legal consequences. AbstrakProlaps uterovaginal (UVP) pada anak merupakan kondisi langka yang dapat menimbulkan tantangan diagnostik, terutama dalam konteks klinis dan forensik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah UVP dapat menjadi dugaan dari child sexual abuse atau justru merupakan kondisi patologis yang perlu dibedakan secara hati-hati, melalui tinjauan literatur. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan penelusuran pada 30 basis data. Dari hasil penelusuran, diperoleh sejumlah artikel yang relevan, melalui proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 7 artikel ilmiah dipilih untuk dianalisis lebih lanjut. Beberapa laporan dalam literatur menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh karena kesamaan gejala tersebut dapat menimbulkan bias dalam interpretasi klinis maupun forensik. Temuan ini menunjukkan bahwa Prolaps uterovaginal dapat menjadi dugaan child sexual abuse, karena di beberapa kondisi memiliki kemiripan klinis sehingga pentingnya diagnosis banding. Oleh karena itu, dokter, khususnya dalam bidang forensik, perlu melakukan evaluasi yang komprehensif untuk membedakan antara kondisi patologis dan kemungkinan kekerasan seksual. Pengembangan pedoman klinis yang jelas serta kerja sama interdisipliner antara tenaga medis dan penegak hukum sangat penting untuk meningkatkan akurasi diagnostik dan mencegah dampak hukum yang tidak tepat.