Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Resilient Personality Pada Remaja Yang Mengalami Konflik Keluarga Salmiati; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Ilmu Bimbingan dan Konseling Vol. 3 No. 1 (2026): BIKOLING - April
Publisher : CV. SINAR HOWUHOWU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70134/bikoling.v3i1.1426

Abstract

This research aims to describe resilient personality in adolescents experiencing family conflicts. The method used in this study is a qualitative approach with in-depth interview techniques on three adolescent respondents with different family conflict backgrounds. The research results show that the family conflicts experienced by the respondents include parental arguments, divorce, economic problems, and relationships with stepparents. These conflicts have psychological impacts such as feelings of anger, sadness, fear, difficulties in emotion regulation, and barriers in social relationships. Nevertheless, all respondents demonstrated the ability to endure and adapt through various coping strategies, such as avoiding conflicts, seeking social support, and calming themselves. Furthermore, this study found that each respondent has a different form of resilient personality, namely independence and self-confidence, future orientation, as well as emotion regulation skills and social responsibility. These findings indicate that family conflicts not only have negative impacts but can also serve as factors in shaping adolescents' psychological strengths. Therefore, it is important to understand the role of resilience in helping adolescents face family conflicts adaptively.
Pengalaman Masa Remaja Sebagai Faktor Pembentuk Kepribadian Pada Individu Dengan Bipolar Disorder Delvita Yandika Putri; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 1 (2026): April - Juni
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i1.1919

Abstract

This study aims to deeply understand the experiences of adolescence as a factor in shaping the personality of individuals with Bipolar Disorder. A qualitative approach with a phenomenological design was used to explore the meaning of the participants' subjective experiences. The three participants were two women and one man who had been diagnosed with Bipolar Disorder and were university students. Data collection techniques used semi-structured in-depth interviews and field notes. Data analysis was conducted through reflexive thematic analysis with the stages of data familiarization, coding, theme formation, review, definition, and writing. Data validity was maintained through source and time triangulation and member checking. The results identified four main themes: (1) stressful family relationship dynamics, (2) peer experiences that shape social relationship patterns, (3) unmanaged emotional turmoil, and (4) the process of meaning-making and self-adaptation. Findings indicate that adolescent experiences, particularly inconsistent parenting patterns, family conflict, and peer pressure, significantly contributed to shaping the participants' personalities, making them emotionally sensitive, wary of social relationships, yet resilient in the face of adversity.
Ketiadaan Peran Ayah (Fatherless) terhadap Perkembangan Kepribadian dan Regulasi Emosi Anak Rafi Alqifary; Sri Nurhayati Selian
HARAPAN: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Psikologi Vol. 3 No. 1 (2026): HARAPAN: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Psikologi
Publisher : Alpatih Harapan Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70115/harapan.v3i1.434

Abstract

This study aims to examine how the absence of a father figure (fatherlessness) influences children's personality development and emotional regulation. Fatherlessness has become an increasingly significant issue in contemporary family studies, as the father's role extends beyond economic support to include emotional guidance, socialization, and the formation of children's psychological well-being. The absence of paternal involvement may hinder children's ability to regulate emotions, establish healthy interpersonal relationships, and develop positive self-concepts. This research employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through in-depth semi-structured interviews with three participants who experienced fatherlessness during their developmental years. The collected data were analyzed using thematic analysis to identify recurring patterns, meanings, and experiences related to emotional regulation and personality development. The findings indicate that the absence of a father figure contributes to emotional instability, reduced self-confidence, weakened self-control, feelings of insecurity, and challenges in building meaningful social relationships. Participants also reported experiencing greater vulnerability to stress and difficulties in managing negative emotions. Nevertheless, the study reveals that these adverse effects can be mitigated through the presence of supportive substitute figures, such as mothers, grandparents, extended family members, teachers, or mentors, as well as positive social environments that provide emotional security and consistent guidance. The study concludes that a father's presence plays a crucial role in fostering healthy personality development and effective emotional regulation. However, supportive family and community environments can function as protective factors that help children adapt and develop resilience despite experiencing fatherlessness.
Ketangguhan Psikologis dan Perkembangan Kepribadian pada Ibu Tunggal Aishah; Sri Nurhayati Selian
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.2739

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami ketangguhan psikologis dan perkembangan kepribadian pada ibu tunggal dalam menghadapi tekanan kehidupan setelah perceraian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif partisipan secara mendalam. Subjek penelitian terdiri dari tiga orang ibu tunggal dengan latar belakang pekerjaan dan pengalaman hidup yang berbeda. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi terstruktur dan dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga partisipan mengalami tekanan psikologis, sosial, dan ekonomi akibat konflik rumah tangga seperti perselingkuhan, kekerasan verbal, kurangnya tanggung jawab pasangan, serta tekanan emosional berkepanjangan. Setelah menjadi ibu tunggal, partisipan menghadapi tantangan berupa kelelahan emosional, kesulitan ekonomi, dan perubahan hubungan sosial. Namun demikian, pengalaman hidup tersebut juga membentuk ketangguhan psikologis yang terlihat dari kemampuan bertahan, menyesuaikan diri, serta menjalankan tanggung jawab sebagai ibu secara mandiri. Anak menjadi sumber motivasi utama bagi seluruh partisipan untuk tetap bertahan dan melanjutkan kehidupan. Selain itu, dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan turut membantu proses adaptasi psikologis partisipan. Penelitian juga menunjukkan adanya perkembangan kepribadian setelah menjadi ibu tunggal, seperti meningkatnya kemandirian, kedewasaan emosional, kemampuan mengendalikan diri, rasa percaya diri, serta prinsip hidup yang lebih kuat. Dengan demikian, pengalaman hidup sebagai ibu tunggal tidak hanya menimbulkan tekanan psikologis, tetapi juga menjadi proses pembentukan ketangguhan dan kematangan kepribadian individu.
Trust Issue Pada Anak Perempuan yang Tumbuh dalam Kondisi Fatherless Desika Vatarisa; Sri Nurhayati Selian
HARAPAN: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Psikologi Vol. 2 No. 2 (2025): HARAPAN: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Psikologi
Publisher : Alpatih Harapan Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70115/harapan.v2i2.345

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pertanyaan mendasar mengenai bagaimana pengalaman anak perempuan yang tumbuh tanpa figur ayah (fatherless) memengaruhi kemampuan mereka dalam membangun kepercayaan terhadap orang lain. Ketiadaan figur ayah tidak hanya berdampak pada keseimbangan keluarga, tetapi juga pada pembentukan kepercayaan interpersonal dan stabilitas emosional anak perempuan di masa dewasa awal. Posisi peneliti dalam kajian ini adalah sebagai pengamat fenomenologis yang berupaya memahami pengalaman subjektif partisipan secara mendalam tanpa intervensi, guna mengungkap dinamika psikologis di balik munculnya trust issue. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan anak perempuan yang mengalami kondisi fatherless sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Analisis dilakukan secara tematik untuk menemukan pola pengalaman, faktor penyebab, dan dampak psikologis yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trust issue pada anak perempuan fatherless terbentuk melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh pengalaman kehilangan, rasa kecewa, dan minimnya figur kelekatan yang aman. Faktor utama yang memengaruhi munculnya trust issue meliputi kehilangan figur ayah, kualitas dukungan sosial, serta pengalaman relasi interpersonal setelah kehilangan. Dampaknya terlihat pada dua dimensi utama, yaitu sosial dan emosional, di mana individu menunjukkan perilaku tertutup, kesulitan membuka diri, serta kecenderungan menarik diri secara emosional. Penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan emosional yang konsisten dalam membantu perempuan fatherless merekonstruksi kepercayaan yang sehat terhadap diri sendiri dan orang lain.
Strategi Guru dalam Memberikan Intervensi kepada Anak dengan Disleksia Haekal Firza Maulyaneva; Sri Nurhayati Selian
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1298

Abstract

Anak dengan Gangguan Belajar Spesifik (Specific Learning Disorder), seperti disleksia, sering mengalami kesulitan persisten dalam keterampilan akademik dasar seperti membaca, yang dapat berdampak pada perkembangan belajar mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi masalah utama terkait hambatan akademik yang tepat bagi anak dengan disleksia. Sebagai solusi penyelesaian masalah, guru menerapkan strategi pembelajaran yang fleksibel dan dirancang khusus untuk membantu anak memahami materi sesuai dengan karakteristik kesulitan belajarnya. Bentuk intervensi ini meliputi penggunaan media pembelajaran visual, metode konkret, instruksi yang sederhana dan jelas, serta latihan yang dilakukan secara bertahap dan berulang. Selain itu, guru juga menjadikan asesmen sebagai dasar utama penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI) guna merancang pembelajaran yang adaptif. Hasil sementara penelitian menunjukkan bahwa langkah memecah materi pembelajaran menjadi bagian-bagian yang lebih kecil berhasil membantu anak memahami konsep secara konkret. Selain itu, penerapan pendekatan humanistik yang tidak hanya melihat keterbatasan anak, tetapi juga fokus pada potensi dan kekuatan mereka, sangat mendukung proses pembelajaran yang 85% lebih inklusif, responsif, dan berpusat pada peserta didik.
Stigma Masyarakat Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus Dan Dampaknya Terhadap Keberlangsungan Intervensi Dwi Hariyanto; Sri Nurhayati Selian
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 4 (2026): Agustus
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i4.2755

Abstract

Stigma masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) masih menjadi permasalahan sosial yang dapat menghambat keberlangsungan intervensi yang dibutuhkan untuk mendukung perkembangan anak. Persepsi negatif masyarakat sering kali menimbulkan diskriminasi, pengucilan sosial, serta keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan dan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan stigma masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus serta menganalisis dampaknya terhadap keberlangsungan intervensi di Kota Sabang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri atas tiga orang, yaitu orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, Keuchik Gampong, dan seorang anggota masyarakat. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stigma negatif terhadap anak berkebutuhan khusus masih ditemukan dalam bentuk pelabelan sebagai beban keluarga, anggapan bahwa anak tidak mampu memperoleh pendidikan, serta keyakinan bahwa kondisi anak merupakan akibat kesalahan orang tua. Stigma tersebut menyebabkan orang tua mengalami rasa malu, menunda pemberian layanan pendidikan, membatasi interaksi sosial anak, serta mengurangi keberlangsungan intervensi yang diperlukan. Di sisi lain, upaya pemerintah gampong melalui sosialisasi, edukasi masyarakat, dan kebijakan yang mendukung pendidikan inklusif terbukti mulai mengubah persepsi masyarakat ke arah yang lebih positif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa stigma masyarakat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberlangsungan intervensi pada anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang berkelanjutan antara keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat untuk membangun lingkungan yang inklusif sehingga anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh intervensi secara optimal dan berkesinambungan.
KEPERCAYAAN DIRI DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI KEPRIBADIAN PADA SITUASI PRESENTASI KELAS Habibie Febri Arrafi; Sri Nurhayati Selian
As-Sulthan Journal of Education Vol. 3 No. 3 (2026): Mei
Publisher : As-Sulthan Journal of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine students' self-confidence in classroom presentations from a personality psychology perspective. This study used a descriptive qualitative method involving three students who actively participated in lectures and had presentation experience. Data were collected through interviews, observations, and documentation to obtain an in-depth picture of the students' experiences. The results showed that most students experienced high levels of anxiety and nervousness, especially during their first presentation in front of a class, characterized by physical symptoms such as a trembling voice and lack of eye contact. Student self-confidence was influenced by several key factors: mastery of the material, experience or frequency of presentations, and social support from lecturers and peers. Good mastery of the material was associated with increased self-efficacy, thereby reducing negative thoughts and fear. Furthermore, students employed various strategies such as independent practice, review of the material, presentation simulations, and relaxation techniques to manage anxiety. Therefore, self-confidence is not an innate ability but can be developed through practice, experience, and a positive and ongoing environmental support.
PENGALAMAN GURU DALAM MELAKUKAN ASSESMEN KOGNITIF PADA ANAK DENGAN DYSLEXIA Samir Abdul Azis; Sri Nurhayati Selian
JURNAL ILMIAH MAHASISWA Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry (In Progre
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.0001

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman guru dalam melakukan asesmen kognitif pada anak dengan Disleksia di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Banda Aceh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif untuk memahami secara mendalam praktik asesmen yang dilakukan guru dalam konteks pembelajaran sehari-hari. Partisipan penelitian terdiri dari tiga guru yang memiliki pengalaman langsung dalam mengajar dan melakukan asesmen terhadap siswa dengan disleksia. Pemilihan partisipan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pedoman semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari pengalaman partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asesmen kognitif dipahami guru sebagai proses berkelanjutan yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran melalui observasi, analisis kesalahan membaca, serta pengamatan terhadap perhatian dan pemrosesan informasi siswa. Guru menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan instrumen asesmen terstandar, minimnya pelatihan profesional, keterbatasan waktu, serta kesulitan dalam mengkomunikasikan hasil asesmen kepada orang tua. Untuk mengatasi kendala tersebut, guru mengembangkan berbagai strategi adaptif seperti observasi berulang, modifikasi tugas pembelajaran, serta kolaborasi dengan rekan sejawat. Hasil asesmen kemudian dimanfaatkan sebagai dasar dalam perencanaan pembelajaran individual dan komunikasi dengan orang tua untuk mendukung perkembangan belajar anak
Pengalaman Emosional Remaja dalam Kondisi Fatherless Nadiatul Hikmah; Sri Nurhayati Selian
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ath65n63

Abstract

The phenomenon of fatherlessness, or the absence of a father figure, is increasingly common in modern society, particularly due to divorce, death, or the father's emotional absence from the family. This condition has the potential to impact the emotional and personality development of adolescents. This study aims to deeply understand the emotional experiences of adolescents living without a father. This study used a qualitative phenomenological approach, with data obtained through interviews, observation, and documentation of three adolescents aged 15–16 in Banda Aceh. Data analysis employed the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana, which encompasses reduction, presentation, and conclusion drawing. The results indicate that adolescents experiencing fatherlessness not only experience social and academic impacts but also a variety of emotional impacts, ranging from withdrawal and anger to creative expression. Furthermore, fatherless adolescents rely on environmental protection and individual coping strategies. These findings demonstrate the importance of emotional family support and counseling services for orphaned adolescents to help them develop emotional balance, a positive self-concept, and resilience in facing the challenges of their psychological development.