Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Pengalaman Mahasiswa dalam Menghadapi Stres Akademik dan Dampaknya terhadap Kualitas Tidur Akbar Racsanjani; Sri Nurhayati Selian
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/kdx35b60

Abstract

Mahasiswa adalah kelompok yang sedang mengalami fase peralihan menuju kedewasaan, di mana mereka menghadapi berbagai tuntutan akademik dan sosial yang rumit. Tugas yang menumpuk, tekanan saat ujian, dan harapan untuk mencapai prestasi akademik sering kali menyebabkan stres akademik yang dapat berpengaruh pada kesejahteraan mental. Stres akademik yang berlangsung lama tidak hanya berimbas pada keadaan emosional, tetapi juga memengaruhi aspek fisik seperti kualitas tidur. Masalah tidur yang muncul akibat stres dapat mengurangi konsentrasi, menurunkan daya kerja, dan memperburuk kinerja akademik mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi hubungan antara stres akademik dan kualitas tidur di kalangan mahasiswa psikologi, serta mengetahui cara mahasiswa mengelola tekanan akademik agar tidak memberikan dampak negatif pada pola tidur mereka. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam kepada tiga mahasiswa aktif dari Fakultas Psikologi yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk menemukan tema-tema yang muncul dari pengalaman yang dibagikan oleh partisipan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa stres akademik berpengaruh cukup besar terhadap kualitas tidur. Semakin tinggi tekanan akademik yang dirasakan, semakin buruk kualitas tidur yang dialami mahasiswa. Masalah tidur yang muncul mencakup kesulitan untuk tidur, tidur yang gelisah, serta rasa kelelahan setelah bangun. Mahasiswa menerapkan strategi koping yang adaptif seperti mendengarkan musik, menulis di jurnal, berbagi cerita dengan teman, dan melakukan meditasi ringan untuk mengatasi tekanan tersebut. Dukungan dari teman dan keluarga juga memiliki peranan penting dalam mengurangi stres akademik. Penelitian ini menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa dalam mengelola stres dan menerapkan pola tidur yang sehat sebagai langkah untuk menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik dan kesehatan mental.
Peran Budaya Organisasi Terhadap Kesehatan Mental pada Mahasiswa Angga Fernanda Putra; Sri Nurhayati Selian
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/9sqth338

Abstract

Kesehatan mental mahasiswa menjadi isu penting dalam dunia pendidikan tinggi karena berkaitan langsung dengan kemampuan akademik, sosial, dan emosional individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh budaya organisasi kampus terhadap kesehatan mental mahasiswa. Penelitian ini dilakukan untuk memahami bagaimana nilai, norma, dan pola interaksi dalam organisasi kampus membentuk kesejahteraan psikologis mahasiswa. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap tiga mahasiswa aktif yang terlibat dalam organisasi kemahasiswaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi yang menekankan solidaritas, komunikasi terbuka, dan kepemimpinan demokratis memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan mental mahasiswa dengan menciptakan lingkungan yang suportif dan inklusif. Namun, budaya hierarkis dan tekanan akademik sering memicu stres serta kelelahan psikologis. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang bagaimana dinamika sosial dalam organisasi mahasiswa dapat berfungsi sebagai faktor pelindung sekaligus risiko bagi kesehatan mental. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan bagi pihak universitas dalam mengembangkan budaya organisasi yang mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Studi Kualitatif tentang Persepsi Mahasiswa terhadap Gaya Mengajar Dosen dan Dampaknya terhadap Motivasi Belajar Surma Liza; Sri Nurhayati Selian
Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol. 3 No. 6 (2025): Desember : Jurnal Pendidikan Berkarakter
Publisher : LPPM Politeknik Pratama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/pendekar.v3i6.1571

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi mahasiswa terhadap gaya mengajar dosen serta pengaruhnya terhadap motivasi belajar di lingkungan perguruan tinggi. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini berupaya memahami bagaimana mahasiswa memaknai pengalaman belajarnya dan bagaimana perilaku mengajar dosen memengaruhi semangat serta keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa yang dipilih secara purposif berdasarkan pengalaman mereka terhadap berbagai gaya mengajar. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis tematik untuk menemukan pola makna dari narasi para partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya mengajar dosen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap motivasi belajar mahasiswa, terutama melalui aspek komunikasi, suasana kelas, dan umpan balik. Dosen yang menggunakan pendekatan interaktif dan empatik cenderung mampu menumbuhkan motivasi belajar yang lebih tinggi. Implikasi penelitian ini menekankan bahwa efektivitas mengajar tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga kemampuan dosen dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan memotivasi mahasiswa untuk aktif belajar.
Karakteristik Interaksi Sosial pada Individu dengan Tipe Kepribadian Sanguinis: Studi Kualitatif Yovan Bharagita Pratama; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Pendidikan, Kepelatihan, Olahraga, dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): Edisi Juni 2026
Publisher : FKIP UNSULTRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/sportika.v2i1.728

Abstract

This study aimed to identify and describe the characteristics of social interactions among individuals with sanguine personality types. A qualitative approach with a descriptive design was employed. Three research subjects were selected through purposive sampling based on sanguine personality criteria. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman model comprising data reduction, data display, and conclusion drawing  with validity ensured through source and technique triangulation. The findings indicate that sanguine individuals exhibit communicative, expressive, sociable, and adaptive characteristics in social interactions. They demonstrate strong abilities in initiating conversations, building new relationships, and sustaining meaningful social bonds, alongside effective emotional management skills. However, tendencies toward unstructured communication and trivial conversations were also noted. Personality, family environment, and peer circles were identified as key influencing factors. This study contributes a nuanced, empirically grounded portrait of sanguine social interaction patterns, offering a novel qualitative perspective that enriches personality-based approaches in social psychology research.
Tantangan dan Adaptasi Orang Tua dalam Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus Sany Salsabillah; Sri Nurhayati Selian
NAAFI: JURNAL ILMIAH MAHASISWA Vol. 2 No. 1 (2025): NAAFI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian (P3M) STKIP Majenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62387/naafi.v2i1.331

Abstract

This study aims to thoroughly analyze the various difficulties and coping strategies faced by parents when raising children with special needs (ABK). The primary rationale for this study is the increasing number of children with special needs in Indonesia and the complexity of parents' roles in supporting their development. This study employed a qualitative, descriptive phenomenological method involving three participants: parents of children with special needs in Banda Aceh City. Data were collected through interviews, direct observation, and document review, which were then processed using thematic analysis techniques. The results revealed that parents experience similar challenges, although their intensity varies depending on the age and severity of the child's condition. Furthermore, the parents' adaptations in this study were proactive and based on cultural values, enabling them to persevere despite significant challenges. These findings are expected to serve as a reference for the government, experts, and educational institutions in developing more effective support programs for families with children with special needs.
Pengalaman Remaja Broken Home Dalam Memaknai Pola Asuh Orangtua Dan Kesehatan Mental Annahdiati Nur; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 2 No. 3 (2025): Oktober - Desember
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana remaja dari keluarga broken home mengevaluasi gaya pengasuhan dan bagaimana hal tersebut memengaruhi kesehatan mental mereka. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif fenomenologis. Tiga remaja, berusia 15 hingga 18 tahun, yang pernah mengalami perpisahan orang tua dipilih untuk penelitian ini menggunakan metode seleksi bertujuan. Pendekatan analisis interaktif Miles dan Huberman digunakan untuk memeriksa data, yang dikumpulkan melalui observasi non-partisipan dan wawancara mendalam. Temuan studi membuktikan jika perpisahan orangtua menyebabkan perubahan pola asuh yang cenderung menjadi permisif atau otoriter. Remaja yang mendapatkan dukungan emosional, kasih sayang, dan komunikasi terbuka menunjukkan kestabilan emosi yang lebih baik. Sebaliknya, kurangnya dukungan emosional berdampak pada munculnya perasaan kesepian, kecemasan, dan kebingungan identitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas hubungan emosional dan komunikasi orangtua–anak lebih berpengaruh terhadap kesehatan mental remaja dibandingkan keutuhan struktur keluarga
From Self-Love to Self-Growth: Empowering Students to Recognize Their Potential at Witthayapanya Matthayom School, Thailand Nur Hasmalawati; Rizka Dara Vonna; Khafidhoh Khafidhoh; Khoiriyah Isni; Sri Nurhayati Selian; Devi Yanti; Hanna Amalia; Siti Farika; Shafiana Azra; Cut Risa Mutia; Iyulen Pebry Zuanny; Barmawi Barmawi; Juli Andriyani; Harri Santoso; Dinda Khairunnisa; Riva Nadia Putri
Jurnal Pengabdian UNDIKMA Vol. 7 No. 1 (2026): February
Publisher : LPPM Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jpu.v7i1.19220

Abstract

This community service program aims to enhance students’ self-awareness and personal development through self-love and self-growth approaches at Witthayapanya Matthayom School, Thailand. The program encourages students to recognize the importance of self-acceptance by identifying their strengths and weaknesses and developing a positive self-concept as a foundation for personal and career development. Students are also guided to foster self-growth through goal setting, self-improvement motivation, and the ability to realistically accept the process of personal change. The program is implemented through the delivery of educational materials and the application of Cognitive Restructuring (CR) techniques within a Cognitive Behavioral Therapy (CBT) framework. Program effectiveness is evaluated using a 10-item questionnaire measuring self-concept, self-love, and self-growth, administered on a 4-point Likert scale and developed through an Item Response Theory (IRT)–based adaptation of the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Descriptive statistical analyses, including frequencies, percentages, and means, are used to summarize students’ responses and are complemented by qualitative observations from discussions and reflective activities. The results indicate high levels of student engagement, as evidenced by enthusiasm, active participation, and experience sharing throughout the sessions. These positive responses reflect increased awareness of self-love, contributing to enhanced self-confidence, motivation, and engagement in positive daily activities. Furthermore, the program strengthens students’ self-growth, as demonstrated by increased motivation for self-improvement, clearer future-oriented goals, and a stronger commitment to becoming the best version of themselves. Overall, this education- and CBT-based program is empirically relevant to students’ developmental needs, strengthens self-concept, and supports sustainable personal development for future readiness.
Kontruksi Identitas Diri Mahasiswa Ambivert dalam Konteks Pergaulan Sebaya Melinda Varalisyah; Sri Nurhayati Selian
Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 (2026): Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/jipbs.v4i2.1698

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses konstruksi identitas diri mahasiswa dengan kepribadian ambivert dalam konteks pergaulan sebaya di lingkungan kampus. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif individu dalam memaknai interaksi sosial yang mereka jalani. Partisipan penelitian terdiri dari tiga mahasiswa yang memiliki karakteristik ambivert, dipilih melalui teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi identitas diri mahasiswa ambivert ditandai oleh fleksibilitas dalam berperilaku sosial, kesadaran terhadap energi sosial, serta kemampuan refleksi diri. Selain itu, pergaulan sebaya berperan sebagai ruang penting dalam proses pembentukan identitas melalui dukungan sosial, interaksi, dan pengalaman bersama. Mahasiswa ambivert mampu menyeimbangkan kebutuhan untuk bersosialisasi dan kebutuhan akan waktu pribadi. Dengan demikian, identitas diri terbentuk secara dinamis melalui interaksi antara faktor internal dan eksternal. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami dinamika identitas diri mahasiswa ambivert dalam konteks sosial kampus.
Explorasi Karakteristik Kepribadian Plegmatis Pada Mahasiswa dalam Kehidupan Akademik Ageng Yosicha Andini; Sri Nurhayati Selian
World Health Digital Journal Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/wolgitj.v2i2.82

Abstract

Kepribadian merupakan salah satu aspek fundamental dalam diri individu yang berperan penting dalam membentuk pola pikir, sikap, serta perilaku seseorang dalam berbagai situasi, termasuk dalam konteks pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik kepribadian plegmatis pada mahasiswa dalam kehidupan pendidikan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif eksploratif. Tiga responden penelitian dipilih melalui teknik purposive sampling, yaitu mahasiswa yang memiliki kecenderungan kepribadian plegmatis, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kepribadian plegmatis memiliki karakteristik utama berupa sikap tenang, stabil secara emosional, sabar, serta cenderung menghindari konflik. Dalam konteks akademik, mereka menunjukkan pola belajar yang stabil namun cenderung pasif dalam partisipasi kelas dan kurang memiliki inisiatif dalam mengeksplorasi materi pembelajaran. Meskipun demikian, mereka memiliki kemampuan adaptasi sosial yang baik dan mampu menjaga hubungan interpersonal yang harmonis di lingkungan pendidikan. Dengan demikian, kepribadian plegmatis berperan penting dalam membentuk perilaku mahasiswa dalam kehidupan pendidikan, baik sebagai faktor pendukung maupun penghambat, sehingga diperlukan pendekatan pembelajaran yang adaptif dan inklusif untuk mengoptimalkan potensi mahasiswa sesuai dengan karakteristik kepribadiannya
Makna Kesendirian (Solitude) pada Mahasiswa Generasi Z: Studi Fenomenologis Devika Arianti; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Ilmiah Penalaran dan Penelitian Mahasiswa Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Mahasiswa Juni 2026
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/jurnalmahasiswa.v8i2.1711

Abstract

Kesendirian ( kesendirian ) merupakan pengalaman umum yang dialami siswa Generasi Z di tengah kebutuhan akademik, perkembangan teknologi digital, dan dinamika kehidupan sosial. Meskipun sering dikaitkan dengan kesetaraan, kesendirian juga dapat dianggap sebagai pengalaman yang memberikan manfaat psikologis bagi individu. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna kesendirian pada mahasiswa Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Partisipan penelitian berjumlah tiga mahasiswa Generasi Z berusia 19–22 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling . Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan empat tema utama, yaitu kesendirian sebagai ruang refleksi dan mengenal diri, kesendirian sebagai strategi mengelola tekanan dan emosi, kesendirian sebagai bentuk perawatan diri ( self-care ), serta dinamika kesendirian antara kenyamanan dan keseimbangan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kesendirian lebih banyak dimaknai sebagai pengalaman yang positif karena memberikan kesempatan untuk memperoleh ketenangan, memahami diri, dan memulihkan energi. Namun, dalam kondisi tertentu kesendirian juga dapat menimbulkan kecemasan dan kecenderungan berpikir berlebihan. Dengan demikian, kesendirian merupakan pengalaman yang bersifat dinamis dan memiliki peran penting dalam kesejahteraan psikologis siswa Generasi Z.